
"Omong kosong macam apa lagi, ini?"
Lagi, Gaby mendapatkan perlakuan kurang mengenakan setelah sebelumnya menceritakan bagaimana dirinya dan Nabil bertemu.
"Pah, dengerin dulu, biarin Gaby cerita sampe selesai." Ujar Mamah Adzril mencoba menengahi.
"Gab, dengan segela kerendahan hati gue, gue mohon maaf banget... cerita loe terlalu diluar nalar otak manusia pada umumnya. Jujur, gue ngerasa iba sama keadaan loe sekarang, tapi buat percaya kalo anak yang loe kandung ini anak Nabil, otak gue terlalu sempit berfikir sejauh itu. meskipun cerita loe tentang pertama gue ketemu dengan Ve, dan gimana awal Ve kenal dengan Nabil dan Key, itu bener, tapi jujur..." Tutur Adzril yang mencoba berfikir ribuan kali atas segala kemungkinan yang terjadi pada Gaby.
"Tentang gimana gue mati, tragis banget sumpah! dan gue bukan orang sebodoh itu yang rela mati cuma gara gara sekor Veran..."
"Heh! mulutnya, apa maksud loe se-ekor?" Potong Ve dengan membekap mulut Adzril yang dengan lancarnya menganggap Ve seperti hewan.
"Yalagian dia ngadi - ngadi, orang bodoh mana yang mau pertaruhin nyawanya cuma buat cewek gajelas kayak loe, Ve?" ujar Adzril dengan kini menahan teriakannya karena tangannya yang menempel keras di perut samping Adzril.
Sedangkan di sisi lain...
"Weeh, Bil." Ujar Key tiba - tiba ketika dirinya dan Nabil kini sama sama dalam posisi duduk diatas ranjangnya yang bersebelahan.
"Gue?" tanya Nabil yang melihat sekelilingnya untuk memastikan siapa orang yang Key maksud.
"Ya, elo... setan! gak ada nama Nabil lagi di kamar ini kecuali loe doang." Balas Key malas.
"Kita kenal?" tanya Nabil kembali yang kini sukses membuat Key menghela nafas kasarnya.
"Gue manggil nyokap loe aja dengan panggilan mamah, ya jelas kita kenal lah, setan!" balas Key yang semakin emosi, namun dirinya tahan.
"gue aja nggak tau nyokap gue yang mana." Balas Nabil kembali acuh seolah tanpa beban apapun setelah mengatakan hal itu.
"Bil, jujur banget dah... gak asik tau gak loe kalo tiba - tiba lupa sama Gaby." Ujar Key yang membuat Nabil kini mengerenyitkan dahinya heran.
"Emang Gaby siapa sih? trus nama loe siapa? gue harus manggil loe siapa? Abang kah?" Kini Keynal sudah berada diambang emosinya yang siap meledak.
"Sumpah ya Bil, gue ngerasa gue kembali disaat kita ketemu pertama kalinya di SMA dulu." ujar Key yang memang seperti inilah Nabil ketika dirinya bertemu orang yang tidak ia kenal.
"Kita sedeket apa sih? Kita...." Ujar Nabil yang kini mengalihkan tatapannya dari Key. "Kita nggak homo kan..."
"Anjing... bangsat.... setan... najis banget, bangsat!!!!!" Keluar lah kata - kata mutiara dari mulut Key sebelum Nabil menyelesaikan kalimatnya yang menurutnya sangat menjijikan itu.
"Se-nggak laku nya gue, gak akan pernah gue belok!" Lanjut Key yang kini siap melempar bantal yang sedari tadi ia peluk.
"Syukur lah, kalo gitu. gue cuma takut kalo ternyata kita menyalahi kodrat kita." Ujar Nabil dengan watadosnya.
"Tapi serius Bil, Loe harus inget siapa Gaby, dan janji apa yang loe ucapin sebelum loe masuk pintu keluar itu." Ujar Key yang kini mulai serius.
"Sepenting apa sih Gaby di mata gue, Key? Gue bahkan merasa asing banget denger nama Gaby." Tanya Nabil yang kini menatap Key dengan serius.
"Kalo gue bilang, Gaby lagi ngandung anak loe, apa bisa loe jadiin jawaban seberapa penting Gaby dikehidupan loe?" ujar Key yang sukses membuat Nabil membulatkan matanya.
"JANGAN BILANG KALO DIA ISTRI..."
"Nggak, dia bukan istri loe, bahkan dia masih kelas satu SMA, sedangkan Kita harusnya udah lulus sekitar tiga bulan yang lalu, dan..." tiba - tiba terbesit satu memori di kepala Key, namun semakin ia lihat, semakin hilang pula ingatan itu.
"Dan apa?" tanya Nabil yang penasaran apa yang akan Key ucapkan.
"Gue kayaknya inget sesuatu, tapi gue gak tahu apa itu." Ujar Key yang kini telah kembali sepenuhnya hilang tentang apa yang Key ingat sebelumnya.
"Loe aja nggak inget semuanya, gimana gue bisa percaya semua ucapan loe!" Ujar Nabil dengan kini merubah posisinya menjadi tertidur menyamping menghadap Key.
"Seenggaknya gue inget saat saat terakhir kita ada di dunia ilusi yang sebelumnya kita masuki." Ujar Key yang juga sama merubah posisinya menjadi tiduran menghadap langi - langit kamarnya.
"Kenapa gue hilang semua ingatan gue, sedangkan loe nggak, Key? Apa yang buat kita ada disini sebenernya, trus berapa lama kita nggak sadarin diri kita?" Tanya Nabil yang kini juga menghadap langit - langit kamarnya.
"Yang gue inget, gue koma karena digebukin dalam penjara karena balapan dan buat abang loe meninggal, Bil. Trus loe kecelakaan tepat setelah tujuh harinya kakak loe meninggal, tapi kenapa Adzril masih ada disini, itu yang buat gue bingung Bil, apa bukan itu yang buat kita ada disini?" Ujar Key yang membuat Nabil mengerenyitkan dahinya.
"Kuncinya, jangan pernah benci dia."
__ADS_1
"Arrgghhhhh..." Erang Nabil setelah satu kalimat itu melintas dalam fikirannya tiba - tiba.
"Loe kenapa?" Tanya Key khawatir dan hendak menghampiri Nabil, namun Nabil menahannya.
"Gue nggak apa - apa. gue ngerasa denger sesuatu yang nggak asing, tapi gue gak tau kalimat apa yang gue denger." Ujar Nabil yang membuat Key sedikit tersenyum, mungkin cara mengobati Nabil, bisa dengan mengingatkannya apa saja yang terjadi saat keduanya berada di Knowhere.
"Key, Nabil? Kalian kenapa?" tanya Adzril dengan raut paniknya disusul Erna dan Ve dibelakngnya, sedangkan kedua orang tua Keynal dan Ayah Nabil tengah mengisi perutnya di kantin rumah sakit.
"Nggak apa - apa, gue cuma sedikit pusing." Ujar Nabil dengan tersenyum mengartikan bahwa semuanya baik - baik saja.
"Nabil?" sapa Ve dengan menghampiri Nabil dan duduk diselah antara tempat tidur Nabil dan Key.
"Kak... gue boleh tanya sesuatu?" tanya Key dengan menatap Adzril.
"Apa?" Balas Adzril dengan kini menghampiri Key diikuti mamahnya yang langsung duduk diserbang kursi yang Ve duduki. sedngkan.
"Kenapa loe masih hidup? Bukannya gue sama Nabil koma setelah tujuh hari..."
"Ngomong gitu lagi gue nggak akan segan - sagan buat bikin koma lagi, Key!" Balas Adzril yang langsung membuat Key terdiam.
"Loe mau tau kenapa loe bisa koma?" tanya Adzril yang diangguki Key.
"Semuanya gara - gara si bangsat Nando, Key. apa loe inget siapa Nando?" tanya Adzril yang lagi dan lagi dijawab anggukan oleh Key.
Yang Key ingat adalah, Nando itu seorang siswa yang satu sekolah dengannya dan Nabil, dan pernah ribut dengannya dan Nabil, hingga memancing kemarahan Adzril hingga datang ke sekolahnya bersama Ve.
"Loe inget Ve pernah ngehajar Nando dihadapan kepsek kalian?" tanya Adzril lagi, dan masih hanya dijawab anggukan oleh Key, sedangakan Nabil sendiri bingung apa yang tengah seseorang yang katanya saudara kembar dan sahabatnya.
"Trus, apa loe inget di hari kelulusan loe, Nando sama gengnya nehajar kalian habis - habisan disaat kalian lagi ngerayaain perpisahan kalian dengan coret - coret pilox di seragam kalian?" Barulah Key menatap heran pada Adzril, mengapa hal ini tak sama sekali ia ingat.
"Kenapa? loe nggak ingat?" tanya Adzril yang membuat Key menatap Adzril dengan terheran.
"Loe beneran mau taruhan diatas lintasan sama gue cuma buat dapetin Veranda?"tanya Adzril yang sukses membuat Key merasa dejavu akan kalimat lintasan yangAdzril ucapkan.
"Nggak semua yang Gaby ceritain ke kita itu beneran terjadi Key, dan gue fikir, apa yang terjadi sama Gaby, juga terjadi sama kalian saat kalian berada di dunia ilusi yang kalian ciptain. Gue tanya, apa masuk akal, Veranda jadi punya dua peran yang berbeda? dimana Ve yang jadi sahabat loe dana seseorang bernama Naomi? dan Veranda yang sebenarnya hanya ilusi loe? hm?" tutur Adzril yang sontak membuat Key tersadar, benar kata Adzril, siapa Naomi yang sebenarnya tak ia kenal, atau mungkinkah sebenarnya Key kenal dengan seseorang bernama Naomi, hingga ia pernah hadir dalam dunia ilusinya.
"diem loe kuntet!" Potong Adzril dengan menatap Nabil.
"Kontat kontet, daripada loe cebol." Entah bagaimana Nabil bisa mengucapkan kalimat itu.
"Loe... loe inget semua?" Kaget Adzril, bahkan Ve dan Bu Erna pun terkejut ketika Nabil mengucapkan kalimat itu, diaman ini adalah kalimat sanggahan yang selalu Nabil ucapkan ketika Adzrl memanggilnya dengan sebutan kuntet.
"inget apa? gue aja nggak tau kenapa gue bisa ngomong kayak gitu." Balas Nabil yang kini kembali terduduk diatas rnjangnya.
"Itu kalimat balasan yang selalu kamu pake saat kakak kamu ngeledek kamu dengan kata kuntet, sayang." ucap Bu Erna dengan mengelus kepala Nabil.
"Loe yang namanya Gaby?" tanya Nabil dengan menunjuk Ve. "Gapapa deh, gue bakal berusaha sekuat mungkin buat inget semuanya kalo bentukan Gaby nya kayak gini."
"Enak aja loe, gue setengah mampus ya buat dapetin dia." Protaes Adzril yang langsung merangkul Ve dengan posesif.
"Trus mana yang namanya Gaby, emang ada apaan sih, sepenting apa gue harus inget sama Gaby, sampe - sampe nih orang frik maksa buat gue inget sama Gaby." Tanya Nabil dengan diakhiri dengan menatap Key.
"Bisa bisanya gue dibilan frik!" Protes Key dengan menatap tajam pada Nabil.
"Dia lagi periksa kandungannya, dan kamu mau yah di tes DNA, biar kita yakin kalo Gaby beneran lagi ngandung anak kamu." Ujar Erna dengan masih mengelus kepala Nabil.
"Oh God! Dia beneran lagi hamil?" benak Nabil dengan perasaan berkecamuknya
"Apa ini mamah Nabil?" Tanya Nabil dengan menatap Erna dengan tulus.
"Iya, Nabil. Ini mamah. Nggak apa - apa kamu nggak inget semuanya, dengan kamu sembuh, mamah sudah sangat bersyukur." Ujar Erna dengan memeluk salah satu putra kesayangnnya.
"Lalu ini? kakak ipar Nabil?" kini Nabil menatap Ve yang kini menatap terkejut akan ucapan Nabil.
"Calon..." Ucap Adzril dengan singkat padat dan Jelas.
__ADS_1
"Oh... baru calon, berarti masih bisa yah gue tikung?" tanya Nabil dengan menatap Adzril dengan watadosnya.
"Sianjir... Udah bener berarti mendingan loe Koma, nyushin gue aja loe!" Ujar Adzril yang tentu saja hanya bercanda.
"Alah... sok -sokan nyuruh gue koma, nih ye... gue yakin pasti loe selalu nangis kejer tiap malam sambil nanyain kapan gue bangun..."
Degh...
Lagi Nabil merasa spontan mengatakan hal yang entah darimana datangnya Nabil bisa mengucapkan kalimat itu.
"Gue curiga deh, loe pura - pura amnesia yah biar nggak dinikahin sama Gaby?" Tanya Key dengan tatapan menyelidiknya.
"Gue aja nggak tau kenapa gue bis ngomong kayak gitu..."
"Tapi apa yang loe bilang bener koq, ikatan batin antara loe sama Adzril emng kuat, sampe loe tau kalo tiap malem Adzril nangis dan nanyain kapan loe bakal bangun, apalagi seminggu ini setelah dokter nyaranin buat ngelepasin semua alat bantu loe." Tutur Ve yang sukses membuat Adzril bungkam, dan memang sesayang itulah Adzril pada kembarannya satu ini.
"Lagian, andaipun beneran gue yang udah rusak masa depan dia, gue bakal tanggung jawab koq, gue bakal nikahin dia, walaupun gue gak tau gimana dia bisa hamil sama gue? Kecuali kalo emang bukan gue yang udah rusak masa depan dia." ujar Nabil dengan menatap Key.
"Apa kamu mau nikahin orang yang hamil dari satu bulan yang lalu, sedangkan kamu koma selama tiga bulan, yang berarti, dia hamil ketika kamu koma?" tanya Ayah Adril dan Nabil yang barusaja masuk bersama Gaby.
"Berarti bukan gue dong yang hamilin dia?" tanya Nabil dengan menatap Adzril.
"Ya gue fikir juga gitu. tapi kita mending Tes DNA aja. biar semuanya jelas." Ujar Adzril dengan menatap Nabil.
"Loe mending jujur deh, biar gak usah ada tes DNA segala macem, dia bukan anak gue kan?" Tanya Nabil yang sukses membuat Gaby menatap tak percaya apadanya.
"Ap..."
"Jangan - jangan itu anak hasil persekutuan loe sama dunia goib kali, trus loe bingung buat jelasin ke orang tua loe, dan akhirnya loe ngarang cerita biar loe bisa...."
"Woy, Bil!" Potong Key yang cukup muak melihat Nabil dengan ucapannya yang tentu saja menyakiti hati Gaby.
"Maaf kalo saya mengganggu waktu kalian, dan maksih Nabil udah nyadarin Gaby, kalo Gaby salah selama ini." Lirih Gaby yang tak bisa lagi membendung airmatanya.
"Gila sih bil, harus banget loe ngomong kayak gitu sama gadis sebatang kara yang datang kesini cuma buat nyari ayah yang dia kandung? Sakit emang otak loe, kelamaan tidur." Ujar Adzril yang langsung berlari mengejar Gaby.
"Kecewa gue sama loe, Bil! ini beneran Nabil yang gue kenal ketika awal kenal sama loe di SMA dulu. Kalo ngomong asal ceplos aja nggak mikir sama sekali." Ujar Key yang kini memunggungi Nabil.
"Salah gue dimana sih? boleh dong gue berasumsi atas apa yang gue liat?" Tanya Nabil dengan kesal.
"Itu bukan asumsi bangsat, jatohny loe nuduh dia dan ngerendahin harga diri dia, loe denger gue baik - baik, ya. gue bakal nikahin Gaby dan tanggung jawab atas apa yang terjadi sama Dia, gue kasih waktu loe sebulan, kalo loe masih bertahan sama asumsi loe itu, satu saat, ketika loe nggak sadar dalam waktu sebulan, jangan harap gue bakal lepasin Gaby buat orang berengsek kayak loe!" Ujar Key yang sebenarnya sedikit menggertak hati Nabil, namun terlalu besar Egonya hingga ia mengabaikan rasa ketidak relaannya jika Key melakukan apa yang ia ucapkan sebelumnya.
Jauh dilubuk hatinya, sebenarnya Nabil sedikit menyesal atas perkataannya, namun entah bagaimana Nabil bisa mengabaikan perasaan itu, ataukah mungkin niat Nabil untuk merebut Veranda dari kakanya sendiri itu bukan hanya sekedar gurauannya.
"Sudah, Cukup! Keynal Nabil! kalian baru aja sadar, kalian belum sembuh total, gak usah berdebat buat hal yang nggak penting sama - sekali kayak gini." Ujar Erna menengahi perdebatan diantara keduanya.
"Tapi papah setuju pada Nabil, lagian andaikan itu anak Nabil, Papah nggak akan ngerestuin kalian berdua. Papah nggak akan ngebiarin Nabil ngelangkahin kakaknya gitu aja. kalopun Nabil harus menikah, Adzril dan Ve harus nikah duluan." Ujar Ayah Nabil dengan tegasnya.
"Tapi pah, Seenggaknya Nabil tunggu hasil DNA nya keluar, baru Nabil boleh berasumsi macam - macam tentang Gaby." Ujar Erna yang sedikit kasihan pada Gaby.
"Mah, Pah! udah cukup yah... kita selesein masalah ini dengan kepala dingin yah. Nabil, mau yah Tes DNA." Ujar Ve yang entah mengapa dengan mudahnya menyetujui permintaan Ve.
"Jika memang, DNA Nabil Cocok dengan anak Gaby, Ve siap dinikahin dalam waktu dekat ini, lagian Ve Yakin, mamah ve pasti setuju setuju aja sama keinginan Ve." Ujar Ve yang berhasil menengahi perdebatan antara kedua orang tua Nabil.
"Lalu kuliah kamu gimana sayang? Adzril aja belum punya apa - apa buat hidup mandiri sama kamu." Ujar Erna dengan kini menatap Ve.
"Ve sama Adzril masih bisa kuliah koq walaupun udah menikah. Mamah tenang aja."
"Loe ngebet banget sih pengen gue nikah sama Gaby? Loe takut yah kalo gue bisa tiba - tiba sayang sama loe, dan rebut loe dari Adzril?" Tanya Adzril tiba - tiba.
"Nabil, jaga jaga bicara kamu!" Bentak Erna.
"Nggak, gue tau koq walaupun loe hilang ingatan, ikatan antara loe sama Adzril sangat kuat. gue yakin, loe nggak akan pernah bisa rebut apapun yang udah jadi milik Adzril." Tutur Ve dengan tersenym.
"Gue nggak bisa bantah kalimat loe yang itu, Ve!" Ujar Nabil pasrah dan membenarkan ucapan Ve.
__ADS_1
TBC