
"Knowhwere itu, katanya dunia dimana kita lagi dititik alam bawah sadar kita, dimana nggak semua orang bisa masuk dengan sembarangan, hanya orang - orang tertentu yang disa masuk di dunia ini. Lebih tepatnya seperti dunia ilusi yang tanpa sengaja kita ciptain" Tutur Nabil tanpa menatap Key sama sekali, seolah bertentangan dengan fikirannya, Key tiba - tiba yang awalnya acuh akan penuturan Nabil, tiba - tiba kini ia tertarik akan bahasan Nabil akan dunia Knowherel yang ia maksud.
~
"Gue inget semuanya, Dzril!" gumam Key dengan tatapan yang masih kosong.
"Tentu, loe harus inget, karena inilah dunia nyata yang saat ini loe tinggali, Key!" Ujar Adzril yang kini masih diepan Key namun sedikit berjarak.
"Loe tau, Gue inget semuanya, gue... semuanya Dzril, semuanya... dan gue nggak pernah benci loe, Dzril! loe sahabat gue! gue minta maaf..." Tutur Key yang awalnya menggebu dan nafas tak beraturan, namun akhirnya Key seolah tak berdaya memebendung tangisannya dan luruh ke aspal basah yang sebelumnya disirami air hujan.
"Gue, nggak pernah mau, dan sedikitpun nggak ad niat gue buat bunuh loe, Dzril... maafin gue, loe selalu jadi sahabat gue, kapanpun itu. gue minta maaf." Lirih Key yang kini berlutut dilantai seolah bersujud meminta maaf pada orang dihadapannya yang kini juga menangis menatap Key.
"Key, gue sangat mencintai Veranda, begitupun loe, gue tau loe dari awal mencintainya. tapi, gue lebih rela untuk veranda hidup dan bahagia sama loe, kenapa loe harus ikut gue key? kenapa?" tanya Adzril yang kini menangis disertai kembali turunnya hujan, seolah mengerti perasaan kedua sahabat yang kini tengah saling menangisi satu sama lain.
"Maafin gue, Dzril... maafin gue!" lirih Key yang seolah tidak lagi memiliki kalimat sealin kata maaf.
"Gue relain hidup gue berakhir, agar kalian bisa saling bersama, dan bahagia tanpa adanya Gue. dengan bodohnya, disini, dijalan ini, dengan begitu bodohnya, loe, sia - siain nyawa loe buat nyusulin gue yang udah tenang disana, di dunia pararel yang kita buat dahulu, gue emang akan dan selalu nunggu loe, tapi nggak secepat itu loe bisa nyusul gue." Tutur adzril dengan kini juga bercucuran air mata memandang Key.
"Terlalu cepat seratus tahun buat loe bisa susul gue disana Key, sampe gue cari segala cara buat bisa kembaliin loe agar bisa balik lagi keini, dan akhirnya ada cara, tapi gue harus relain belahan jiwa gue yang lain buat ikut masuk dan jemput loe di dunia Gue, Key!" tutur Adzril yang membuat Key bangkit dan menatap nya dengan cepat.
"Nabil!" Gumam Key dengan menatap khawatir pada Key.
"Ya... gue harus korbanin orang yang begitu gue jaga, gue sayangi, dan nggak ada lagi yang paling gue utamain dari dia, adik gue sendiri, kembaran gue, jiwa gue yang masih utuh, gue harus bawa dia pada sebuah kecelakaan, supaya buat dia kritis, agar gue bisa bantu loe keluar dari dunia gue, dan jaga Veranda buat gue." tutur Adzril.
"Liat Gue! Gue, Adzrilia Putra!" Ucap Adzril dan kembali sebuah Cahaya yang sangat menyilaukan membawa Key dan Adzril kesebuah tempat.
Setelah sampai, Key sedikit dengan sedikit membuka matanya dan kini hatinya semakin terohok setelah matanya telah dengan sempurnya terbuka, melihat betapa pilunya seorang gadis yang bgitu ia cintai tengah menangisi jasad tak berdayanya sendiri yang dipenuhi dengan luka yang sudah kering dan selang serta peralatan lainnya.
"Kamu kapan bangun, sayang? aku disini nunggu kamu! apa setelah Adzril pergi, kamu dengan egoisnya mau pergi juga ninggalin aku sendiri disini?" lirih gadis itu yang tak lain adalah Ve yang tengah menggengam erat tangan Key yang dipenuhi dengan peralatan dokter.
"Itu, kalimat yang selalu buat loe nangis tiba - tiba. gue gak tau, kekuatan apa yang selalu menghubungkan antara loe sama Veranda." ujar adzril, key hanya bisa dengan lirih menatap Ve yang kini memeluk dan menangisi tubuh tak berdaya Keynal.
"Kita balik, semakin loe dekat dengan tubuh loe yang masih hidup, semakin dekat loe dengan ajal." Ujar Adzril dengan kembali menatap dalam mata Key dan kembali menyebutkan namanya.
"Apa yang harus gue lakuin, Dzril? gue begitu sangat menyayangi Veranda, begitupun terhadap loe, sahabat gue!" tanya Key yang kini tengah kembali di taman dunia pararel yang sebenarnya di bentuk Key dan Adzril dahulu.
__ADS_1
"Nggak ada yang bisa loe lakuin, udah gue bilang. gue pun nggak bisa lakuin apa - apa buat bantu loe kembali. sebenranya, alat - alat yang terpasang di tubuh loe itu, hanya akan loe buat bertahan di sini lebih lama lagi. tubuh loe kini, hanya sebuah mayat yang masih bernafas." tutur Adzril dengan kembali duduk di bangku yang ada di belakangnya dan diikuti Key yang kini resah.
"Hanya Nabil dan Gaby yang bisa bawa loe ke dunia nyata, Key. Cuma mereka harapan loe satu - satunya. hanya saja ini nggak akan mudah. ngeliat gimana Nabil begitu sayang dan jaga Gaby, gue ragu buat lakuin ini ke mereka." Ujar Adzril yang sebelumnya menatap Key dengan yakin, namun berakhir dengan tertunduk lemah.
"Sebenernya, siapa Gaby disini Dzril? apa dia juaga seperti kita?" tanya Key yang kini tersadar akan orang asing yang selama ini berdada di sampingnya.
"Nggak, Gaby nggak sama seperti kita. Dia hidup Key, di nggak sekarat, hanya saja jika terjadi sesuatu pada Gaby yang disini, maka hal itu akan terjadi juga pada Gaby yang di dunia nyata, saat dia bisa ketemu sama kalian, itu saat dia bermimpi. Bagi gaby, ini adalah dunia mimpi yang nggak bisa ia kendaliin." Tutur Adzril.
"Ve juga?" tanya Key dengan ragu.
"Nggak, ve hanya halusinasi loe yang masih hidup, yang bisa loe bawa dari alam bawah sadar loe. dia hadir karena dia begitu melekat dalam fikiran loe. begitupun gue, saat loe benar - benar gue udah nggak ada dalam ingatan hidup loe, gue nggak akan pernah hadir di depan loe disini, Key." tutur Adzril
"Berapa lama gue disini, dzril? Berapa lama gue ninggalin Ve?" Tanya Key yang kini menatap Adzril dengan cemas.
"Sekitar tiga minggu." jawab Adzril yang membuat kekhawatiran Key semakin bertambah. "Dan jika seminggu lebih lama lagi loe sama Nabil disini, gue nggak bisa mastiin, kalian bisa balik apa nggak. Dan Gaby, dia nggak akan kita liat ;agi disini, dia nggaka akan ngerasain apa - apa, dan nganggep ini cuma mimpi bagi dia."
"Dan selama tiga minggu itu pula, Gaby mengalami mimpi yang sama setiap harinya?" tanya Key yang hanya di jawab anggukan Adzril.
"Apa kuncinya akan sesulit kita misahin Nabil sama Gaby? apa loe karena loe nggak rel..."
"Gaby..."
~
Dilain tempat dimana seorang gadis tengah berada di sebuah taman dengan segenggam ponsel di tangannya terlihat bingung akan apa yang ia lihat di layar ponselnya.
"Dia siapa sih sebenernya? yatuhan... jika mimpi ini nyata tolong berikan pertanda dan izinkan aku memiliki dia selamanya, namun jika ini hanya sekedar bunga tidur, cukup tuhan, hamba enggan jatuh terlalu dalam akan pesonanya." Ucap gadis itu dalam hati.
Dengan hembusan nafas lelahnya, gadis itu beranjak meninggalkan tempat itu dengan mengadahkan wajahnya seolah bersedih.
"Apa aku benar - benar jatuh cinta pada orang yang bahkan aku nggak tau siapa dirinya?" ucapnya tanpa sadar.
Dengan langkah gontai gadis itu mulai berjalan meninggalkan tempat itu yang tanpa sadar ternyata seorang gadis berparas bidadari tengah berjalan kearahnya dangan fokus yang sama - sama teralihkan fikirannya masing - masing, hingga keduanya tak sengaja saling bertabrakan.
"Ah..."
__ADS_1
"Aw..."
ringis keduanya yang sama - sama terjatuh dan dengan spontan langsung saling menatap satu sama lain.
"ma... maaf."
"Ok... what!?" kaget salah satu dari mereka.
"loe... l...lo...?" Gugupnya kembali dengan menunjuk gadis baerparas bidadari itu dengan raut terkejutnya.
"Ya? Kita Kenal?" tanya gadis itu yang malah terheran atas kegugupan gadis di depannya yang kini membantunya berdiri.
~
Malam menjelang, terlihat Adzril baru saja membuka pintu utama rumah nya, dengan wajah kusutnya, Adzril menghampiri Nabil yang terlihat tengah membaca sebuah buku dengan posisi berbaring di sofa ruang tamu rumahnya.
"Ngapain loe, nggak tidur?" Tanya Adzril seperti biasanya.
"Nggak ngantuk, loe dari mana?ngedate ama Key nya lama amat?" Tanya Nabil tanpa merubah fokusnya.
"Abis ngapelin Gab..."
"Kak!" pekik Nabil yang kini menatap tajam pada Adzril, sedangkan Adzril hanya tersenyum dan mengacak rambutnya.
"Gue nggak mungkin macem - macemin belahan jiwa loe, karena itu sama saja nyakitin diri gue sendiri." Ucap Adzril dan beranjak dari duduknya.
"Kak..." Panggil Nabil menggantung, Nabil menatap bertanya padanya. "Sebenernya ada yang mau gue obrolin sama loe, nggak terlalu penting emang."
"Tentang?" tanya Adzril memotong kalimat Nabil tanpa bergeming sedikitpun.
"Bunda..." Ujar Nabil ragu. sesuai prediksi, Adzril menyipitkan matanya menatap aneh pada Nabil.
"Gue udah bilang, kita udah bah..."
"Iya Nabil tau, tapi kapan, Kak? Nabil tau, kita sering bahas ini, tapi kapan? kapan Kak?"
__ADS_1
Tbc