Dilemma

Dilemma
14. Goyah


__ADS_3

"Karena apa yang terjadi tidak dapat diulang lagi. Aku seorang suami dan akan menjadi ayah nantinya dan kuharap kau juga demikian. " Pandu mencoba menenangkan hati Camelia.


"Aku tak bisa. Aku tak terima. Kaulah satu-satunya yang ku cinta. Sampai selama nya akan begitu. " Ucap Camelia lagi. Pandu hanya menatapnya datar.


Beberapa saat lalu ia melunak namun ia ingat watak egois nya kembali ke ekspresi semula. "Tak perduli kau sudah menikah kita belum ada kata putus jadi.."


Pandu menatap nya dan meraih fotonya dan meletakkan kembali ke tempat semula serta berkata. "Tak peduli apa yang kau rasa dan maumu. Kenyataan kita tak bersama, kesalahan mu kau lebih mementingkan diri sendiri dari pada kebersamaan kita. "


"Sudah tiga tahun kau pergi, tanpa kabar tanpa kata sepatah pun. Dan kau kembali mengatakan kita belum putus. Atas dasar apa kau katakan itu? " Dengan ekspresi muka datar dan tatapan mata dinginnya ke arah Camelia.


"Keluar dan jangan kembali. Kau bukan siapa-siapa bagiku. Lebih baik kau tata hidupmu sendiri dan jangan pernah menampakkan diri di hadapan ku. "


Camelia menatap nya tak percaya, ia shock dia pikir lelaki itu akan menunggu nya. Karena sikapnya yang memuja dan perhatian nya selama mereka bersama. Lelaki itu berubah jadi asing di mata Camelia.


Wildan hanya bisa menatap prihatin, dia mengatahui bagaimana kisah cinta mereka. Dan sekarang posisinya telah tergantikan oleh Andien. Wanita cantik berkepribadian sederhana dan pintar memikat hati semuanya yang disekitarnya.


Camelia keluar didampingi oleh asisten Wildan. Wanita cantik itu berjalan tanpa semangat menyusuri koridor kantor milik keluarga Wibisono.


Sepeninggalnya Camelia Wildan pun turut keluar dari ruangan Pandu dengan membawa berkasnya yang sudah diperiksa dan ditandatangani oleh Pandu.


Sedangkan Pandu duduk membelakangi mejanya menatap langit biru diluar lewat jendela kaca ruangan nya. Lelaki itu termenung memikirkan Camelia.


Bohong jika dia tak tergerak hatinya, lelaki itu sudah berkomitmen maka ia pun harus menepati nya. Ia sengaja menikah dengan wanita lain karena ibunya tak menyukai Camelia. Namun ia mulai mencintai istrinya terlebih banyak hal kelebihan dalam kepribadian nya yang sederhana. Berbanding terbalik dengan Camelia yang glamour dan angkuh serta egois.


"Apa yang kulakukan sudah benar dan sudah semestinya. " Gumamnya pada dirinya sendiri.


Dilain tempat. Andien baru saja keluar dari resto dan baru akan meraih handle pintu mobil sebuah tangan menariknya hingga ia memutar dan membentur dada bidang.

__ADS_1


"Alexander." Serunya terkejut saat menengadah dan menatapnya. "Apa kabar mu? " Tanyanya dengan menatap iris hitam yang menyempit.


"Baik. Aku merindukan mu. " Bisik Andien. Dan sekejab lelaki itu memeluk nya dan mencium puncaknya beberapa kali.


"Pacarmu bisa cemburu jika kau melakukan itu. " Hardik nya dengan melotot saat pelukannya terlepas.


"Kau tahu... Aku sungguh tak perduli. " Jawabnya dengan tersenyum. "Ck." Andien hanya berdecak melirik nya sesaat. Mereka tertawa bersama.


Andien bersandar di mobilnya dan Alexander berdiri merapat tangannya bertumpu pada mobil tepat disisi Andien dan sedikit mencondongkan diri. Sepintas terlihat keintiman mereka.


"Selamat atas pernikahannya. Maaf aku belum datang menyalami kalian. Akan ku kirimkan kadonya. " Ucap Alexander. "Terserah kamu. " Jawab Andien santai.


"Kau mengikuti tender Ansula? " Tanya Alexander. "Iya, kami hanya temu janji makan siang bersama. Dan rencananya minggu depan adalah pertemuan resminya. " Sahut Andien.


"Semoga berhasil. " Jawab Alexander bergumam seraya menatap nya. "Berhenti lah. Aku tak nyaman terus kau perlakukan aku seperti ini. " Kata Andien lirih. "Aku tak perduli orang lain bicara apa. Yang penting kau tak mengacuhkan aku. " Sahutnya.


Mereka berbincang tentang pekerjaan dalam posisi yang sama. Andien yang berdiri menundukkan wajahnya dan dekat degan tubuh Alexander yang berdiri di dekatnya seolah mereka sedang berkencan. Karena sesekali Alexander menata rambut panjang wanita itu.


Momen itu di abadikan seseorang di sudut Resto. Di kantor. Pandu baru selesai makan siang di ruangannya. Triing. Bunyi notifikasi ponsel nya berbunyi. Matanya melebar menatap foto-foto Andien yang bersama dengan seorang pria.


Tak diketahui siapa lelaki itu yang jelas mereka terlihat intim. Pandu tersulut emosi nya. "Siapa dia? Beraninya!" Gumam Pandu. Wildan masuk tak lama setelah ia menerima SMS itu, melihat bos nya yang suram Wildan ragu sejenak.


"Ada apa? " Tanyanya. "Pertemuan proyek Ansula diadakan besuk dan dua jam lagi ada meeting. Ini berkas yang harus diperiksa. Dan yang ini tentang proyek Ansula dan bahan yang dibahas meeting nanti. " Hati-hati Wildan memberikan datanya.


Ekspresi muka Pandu sungguh membuat Wildan ragu dan ia yakin sesuatu mempengaruhi moodbooster sang bos. Dan ia yakin 💯% pasti bersangkutan dengan Nyonya Wibisono.


Siang itu di ruangan utama. Suasana meeting mencekam semuanya tak berani bicara. Dan hanya dapat menunduk tanpa bergerak. Brak. Berkas ditangannya melayang ke udara dan Kertas-kertas berhamburan turun ke lantai.

__ADS_1


"Apa ini hasil laporan yang kau katakan kerja maksimal? Hanya itu? " Tanyanya dengan nada sinis dan ekspresi muka dinginnya. Sementara tangannya mengetuk meja seolah-olah memilah mangsanya.


Striing. Notifikasi SMS masuk. Keringat dingin membanjiri semuanya yang menghadiri rapat tersebut.


"Orang mana yang beraninya tidak menonaktifkan ponsel. Cari mati saja. " Itulah yang dipikirkan semuanya. Kepala Pandu menoleh dan memandang ponselnya.


Wildan melirik nya sekilas, ada garis samar melengkung dibibirnya. "Aku tak salah melihat kan? " Pikir nya. Pandu tersenyum tipis saat Andien mengirimkan pesan.


"Aku membuat bento di pantry kantor. Aku kirimkan lewat kurir untuk mu. " Tak lupa foto barang dan emot berlambang hati dia lampirkan. Hati Pandu menghangat kala membacanya.


"Rapat ditunda. Besuk jam 8 pagi aku ingin laporan ulang. Bubar! " Lelaki itu berdiri berjalan meninggalkan ruangan. Diikuti Wildan dibelakangnya. Semuanya bernafas lega.


Pandu berjalan ke ruangan nya dan melihat dua sekretaris nya berkumpul melihat kotak putih di atas meja. Mereka tak memperhatikan sang Bos yang berjalan mendekati mereka.


"Ck. Siapa yang mengirimkan nya? Ini imut banget jika dimakan. " Larissa berdecak kagum melihat paket makanan itu.


"Yang jelas pengirimannya sangat kreatif dan penuh cinta. Apa mungkin Nyonya Bos yang kirim? " Komen Inge.


"Aku tak tahu. Lagi Bos juga merahasiakan wajahnya. Dan instagram nya hanya ada gambar simbolik saja. Seperti buku nikah. Sepasang tangan. Ikh. Aku kan penasaran seperti apa cantiknya dia? " Larissa menggerutu sambil melipat ke-dua tangannya.


"Ya suka-suka dia dong. Mungkin takut di taksir sama temen-temen nya yang player? " Sahut Inge.


"Benar tuh. Kaya asisten Wildan. Kan ganteng berduit masih juga tak beristri. " Celetuk Larissa.


"Bos pasti cemas banyak pembinor disekitar nya. Tapi aku suka bento nya. " Inge menatapnya dengan menjilati bibir nya.


"Tahan air liur mu menetes tuh! Pasti istrinya yang kirim. Dulu kan tak ada kasus beginian. " Hardik Larissa.

__ADS_1


"Enak ya? Suka? " Tanya Pandu pelan. "Banget." Jawab keduanya bersama. Sejenak mereka terhenyak dan menoleh. Pandu menatap keduanya dengan tersenyum. Tapi keduanya merasakan seperti akan di tebas dengan tatapan matanya yang tajam seperti laser.


Pandu mengambil alih kotak itu dan masuk kedalam ruangan nya. Dan mereka meringis menatap Wildan yang geleng-geleng kepalanya kesal menjadi obyek pembicaraan mereka.


__ADS_2