Dilemma

Dilemma
8. Perbincangan


__ADS_3

" Malam semuanya. Maaf pesawat nya delay jadi... " Sebuah suara terdengar ceria diikuti gerakan tubuh sang pemilik menghampiri Pandu.


"Selamat kak. Maaf aku ada bisnis jadi tertunda karena itu. Tak dapat menghadiri acara pernikahan mu. " Lelaki itu memeluk Pandu kuat dan dibalas Pandu dengan tepukan dipunggung nya.


"Papa. Halo om Ardiyansyah. " Sapa nya ceria memeluk mereka berganti lalu sang mama. "I miss you pretty. " Serunya ceria saat memeluk ibunya. "Kakak yang cantik. " Serunya dan lalu kakak iparnya dan keponakan tak lupa ia sapa dan peluk juga cium.


"Ada apa kenapa tegang? Apa kalian tak merindukan aku? " Candanya dan tatapan mata nya terhenti pada Andien Wibisono.


"Apa kabar mu? Kau terlihat hebat seperti biasa. Tanpa ada beban padamu. " Andien Wiguna menatap adik ipar nya dengan tajam.


Arjuna Wibisono terdiam senyuman nya hilang seketika. "Apa kau tak ingat dengan Renata Cahyadi? Mereka meminta ku menerangkan itu. " Kata Andien sambil memakan makanannya.


Arjuna Wibisono menelan ludahnya. " Cerita saja mereka ingin mengetahui hal itu. " Lanjut nya tak menghiraukan sekitar nya.


"Dia gadis taruhan teman-teman ku sekampus. " Ujarnya pelan. "Saya tak mendengar nya. Tuan Arjuna Wibisono. " Kata Andien Wiguna. " Ulang Andien dengan tegas.


" Aku dan teman-teman bertaruh. Rafael, Daffa dan Steven bertaruh memikat siapa saja yang masuk kantin kampus pertama. "


" Dan kebetulan yang masuk adalah Renata, Andien dan Arin. Waktu itu tidak direncanakan hanya membunuh kebosanan saja. " Arjuna menjelaskan dengan nada suara sedang dan menatap Andien.


" Dan yang kalah bertaruh aku. Maaf kan aku. " Kata Arjuna. Andien berdiri dengan tertawa kecil. "Maaf? Semudah itu? Tanyanya sinis lalu ia membanting serbet makannya.


" Lalu bagaimana dengan waktu yang ia lewati di rumah sakit karena depresi karena ulah mu?" Tanyanya lantang.


"Asal kau tahu saja aku membenci mu dan orang-orang kaya seperti kalian yang dengan mudah nya memojokkan dan mempermainkan orang tanpa peduli perasaan kami. Kau pikir kami batu? " Dengan kasar ia keluar dari sana dan berlalu.


"Aku sungguh kecewa padamu. Kau menghancurkan apa yang aku rintis. Sekarang aku mengerti kenapa ia selalu bersikap waspada padaku." Pandu berkata sambil menatap sang adik.


"Bisa jelas kan pada kami Arjuna Wibisono? " Tanya Arifin Wibisono sang ayah menatap putranya dengan rasa kecewa.

__ADS_1


"Seperti yang ku katakan tadi Papa. Itu terjadi begitu saja tanpa kami pikirkan efeknya. " Arjuna di bimbing kakak iparnya Raditya untuk duduk. Lelaki itu nampak muram.


"Kami tidak melakukan pelecehan seksual atau semacam itu. Hanya pertaruhan memikat hati saja. " Terang nya.


"Aku memutuskan untuk berpisah dengan nya mendadak karena memang itu aturan nya. Dan kebetulan permohonan kuliah di Jerman sudah di setujui. Aku pergi begitu saja tak mengindahkan dia mencari aku terus meminta penjelasan. "


"Seusai itu aku tak tahu dan tak mengetahui hal itu. Aku baru mengetahui sesuai liburan sekolah Jerman dan semua sudah terlanjur dan terlambat. "


"Renata sudah pindah dan menghilang. Aku sudah mencari informasi namun nihil. Dia depresi karena terlalu mencintai ku. "


"Dan ia memiliki syndrom seperti itu dan memang bukan salahku sepenuhnya. Namun jika aku menjelaskan baik-baik mungkin ini tak terjadi. Maafkan aku, aku mengecewakan semuanya. " Arjuna Wibisono menundukkan wajahnya lesu.


"Aku tahu kisah mu itu dari Alexander namun ia tak mengatakan bahwa itu kamu. Jadi itu sebabnya kalian tak mau berinteraksi seperti dulu? " Tanya Donny Ardiyansyah.


Lagi-lagi Arjuna hanya menundukkan wajahnya. "Jadi itu sebabnya Alexander tak mau mampir? " Gumam Sari Wibisono.


"Semua sudah terjadi kau harus meminta maaf padanya dan menjalin komunikasi yang baik. Lakukan yang terbaik untuk itu. " Kata. Arifin Wibisono menatap putranya.


Di kamar. Andien Wiguna hanya terdiam di balkon kamar. Pandu Wibisono hanya menatap nya diam.


Di meja makan suasananya menjadi suram. "Alexander juga tahu aku lebih menyukai Andien Wiguna mama. Dia mendengar pembicaraan ku dengan Rafael saat di perpustakaan. "


" Dia mencekikku memberikan peringatan untuk menjauh. Dan meninggalkan mereka dan tak menyakiti orang-orang. Yakni Andien ataupun Renata cahyadi."


"Dia melakukan hal yang benar. " Dengus Ardiyansyah melihat Arjuna Wibisono. "Putramu sungguh ceroboh. " Sindir Ardiyansyah.


"Setidaknya Pandu mampu mencari istri solehah. " Balas Arifin Wibisono tak mau kalah. "Ck." Pria itu berdecak sebal. Semuanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.


Keesokan harinya Andien Wiguna melakukan kegiatan seperti biasa. Bangun pagi dan menyiapkan sarapan pagi.

__ADS_1


"Nyonya muda jangan biar kami." Belumlah selesai ia bicara disela Andien.


"Tuan kalian makan masakan aku. Kalian bantu saja supaya lebih cepat. " Ke-tiga nya mengangguk pelan.


Menu sarapan pagi adalah nasi uduk, Ayam kremes dan gorengan tempe tahu. Ada bubur kacang hijau dan cakue. Selesai memasak Andien pergi ke atas berpapasan dengan Arjuna yang selesai joging.


Wanita itu hanya diam saja tak melihat nya. Arjuna Wibisono hanya menghela nafas melihat nya. Pandu baru selesai berpakaian dan ia memberikan dasi pada Andien.


Ia pun memasang nya dengan diam dan usai tugasnya Andien di rengkuh dalam pelukan nya. "Terimakasih. Morning kiss sayang." Bisiknya sambil tersenyum.


Andien Wiguna setengah berlari menghindari suaminya. Pandu hanya tersenyum melihat tingkahnya. Dia pun mengambil jas nya dan turun ke bawah.


Bertemu Mamanya di ujung tangga hendak turun ke bawah. "Aku kesiangan Mama kepikiran masalah adikmu. " Omelnya sambil berjalan beriringan.


"Siapa yang masak ? " Tanya Sari Wibisono tertegun melihat menu di meja. "Nyonya muda. Katanya Perintah Tuan Pandu kalau makan Nyonya yang masak. " Jelas pelayan.


"Ada apa ma? " Muncul Arifin Wibisono langsung duduk diikuti Pandu dan Sari. Mereka mengambil piring yang dan mengisinya. Kemudian muncul Raditya dan istrinya dan Andien.


Andien memilih kacang hijau dan kue mangkok sebagai sarapan. "Wah menu nusantara. Sejak kapan menu mama berubah? " Ujar Alena Wibisono menatap ibunya.


"Isteriku yang masak. Tolong jangan dilihat bentuknya. " Sela Pandu menatap kakaknya. Alena membulat matanya. " Ini nasi uduk yang enak. Wah. Adikku jago masak. " Puji nya.


"Dia jago dalam segala hal. Bahkan mematahkan hati orang juga. " Arjuna Wibisono duduk dengan wajah masih ditekuk.


"Untuk kasus tertentu harus keras dan tegas bahkan membunuh jika perlu. " Sahut Andien tanpa menoleh dan ekspresi tenang memakan makanannya.


"Jika kau sudah memiliki pasangan maka berikan dia kesempatan dan biarkan dia mencintaimu." Kata nya tak mau kalah.


"Aku sudah mencoba. Tapi kau mana tahu? Kau kan tak pernah di buang. " Jawab nya ketus. "Diamlah Arjuna! Kami sudah saling mengerti dan melengkapi. Jangan karena egomu kau mencerai beraikan keluarga. " Pandu menatap sengit pada adiknya. "Dalam hidup ku aku tak pernah kalah. Ingat itu! " Tegasnya.

__ADS_1


__ADS_2