
Semua yang duduk duduk bersama pasangannya masing-masing. Tanpa ada percakapan menyantap hidangan yang di sajikan.
Mata Aris melirik menu di hadapan Arsha yang sederhana. "Kak, aku mau dong sayur ketela itu kayaknya enak! " Seru Aris. Semuanya menatap Aris. Terlebih Arsha yang merah padam. Anisa hanya menunduk.
"Mana sayur? Kita menunya serba di panggang, ayam, daging, sosis juga sayur.. " Sahut Arya matanya memindai meja mereka makan. Dan tepat di depan Arsha ia melihat mangkok berukuran sedang dengan kuah santan juga ada bacem tahu.
Mata Arya menyipit, " kau membeli nya atau itu masakan dia? " Selidik Arya. Arsha mencebikkan mulut kesal menatap Aris yang usil. "Dia masak sedikit tadi. Aku minta sedikit. " Jawab Arsha.
"Kalau begitu minggu depan Anisa yang masak dengan Kinanti. " Kata Andien menengahi putranya yang berdebat.
"Mhn.. Kelamaan Bunda. Aku pingin sayur nya. " Rajuk Aris. "Kau tak boleh... Lo kak, mau dibawa kemana? " Arsha belum selesai bicara Arya dengan santainya mengangkat sayur tinggal separuh itu.
Bukan hanya itu dia memakannya dengan centong sayur sebagai sendok berjalan ke tempat duduknya, tak lupa ia mencomot tahu bacem itu. "Enak, Anisa. Besuk boleh di adu dengan masakan Kinanti. " Komentar nya saat duduk kembali.
"Yah.. Aku enggak dapat. Kak Arsha, Kak Arya curang. " Rengek Aris. "Mengadu juga percuma ini mau mangkoknya? " Jawab Arya ketus. Yang lain tertawa. Kinanti hanya menepuk paha suaminya.
"Nanti malam sayang jika ingin itu. " Bisik Arya namun suara seperti orang mengobrol tentu saja membuat Kinanti malu. Karena canda sang suami. "Enggak yang pengantin juga yang lagi pedekate sama sadisnya bikin jonera ( jomblo ngenes merana) ". Sindir Aris.
Semuanya tergelak menghabiskan hari di sore itu menjadi suka cita. Mereka bersama-sama berbagi cerita. Terlebih Andien banyak bertanya seputar kehamilan Anisa. Apakah dia mengalami fase yang sulit saat melaluinya.
" Si kecil benar imut dan menggemaskan. Dia begitu ceria dan aktif. Aku melihat vidio nya saat menyanyi. Sungguh aku sangat suka. " Andien mengatakan pendapat nya.
"Dia sangat semangat sejak di kandungan, Alhamdulillah, dia tak mengalami gangguan atau ngidam yang berlebihan. Sewajarnya saja. " Ucap Anisa.
"Mira dan suaminya yang banyak membantu aku. Dan banyak kemudahan saat itu." Jawab Anisa walaupun dia tersenyum, namun semuanya melihat sepintas ia ingat sesuatu dan berubah sendu.
Arsha menggenggamnya memberi semangat. "Kami ingin kau dan Arsha segera meresmikan hubungan kalian. Dan kami tak keberatan dengan ada bidadari cilik ini. Kami ingin kau dan Arsha terikat dengan hubungan halal. Mencegah fitnah juga tudingan keluarga nya" Jelas Arjuna.
__ADS_1
"Tapi saya sudah pernah menikah. Apakah Anda tidak berkeberatan atasnya? " Tanya Anisa ragu.
"Selama Arsha nyaman dan menyukai dan mencintai mu. Kami hanya tinggal memberi ucapan restu. Dan harapan kami Arsha akan menjadi pelindung dan menjadi imam yang baik. " Jelas Arjuna.
"Kau di terima di keluarga besar kami, tak ada intrik atau modus tersembunyi. Jangan khawatir! " Lanjut Arya.
"Terimakasih untuk semuanya. " Anisa terharu di tempat ia duduk bahkan ia menitikan air mata kala mendengar penjelasan dari keluarga.
Semuanya tersenyum bahagia melanjutkan makan bersama. Dan Aris mengalihkan dengan cerita humoris. "Istirahat di sini saja tak usah pulang. Kasian si kecil dia keletihan sehingga tertidur. " Kata Andien.
"Aku sudah menyuruh pelayan membersihkan kamar tamu agar dia dapat beristirahat di sana Ma. " Sahut Arsha.
"Terimakasih." Anisa menatap tak berdaya melihat ketulusannya. Keluarga besar Wibisono yang terkenal. Semuanya murah hati dan baik menerima nya.
Arsha yang ia kenal secara tak sengaja melalui putrinya ternyata putra kolongmerat. Dia hanya menduga Arsha hanya dari keluarga menengah saja.
"Dia memang seperti ini jika tidur. Selalu memegangi benda di sekitarnya. " Daddy.. I love you. " Gumamnya. Arsha hanya tersenyum mendengarnya.
"Dia menggemaskan rasanya ingin selalu di sampingmu. " Gumam Arsha yang tak sadar melepaskan sepatu dan naik di ranjang merebahkan diri di samping si kecil.
"Ayo tidur! Jangan pikir apapun. Istirahat lah! " Titah Arsha. Anisa menatap lelaki itu horor bagaimana bisa dengan santai aja dia menyuruhnya tidur bersama? Mereka bahkan belum resmi suami istri.
"Tidur Anisa. Sudah malam. " Sekali lagi Arsha mengulang perintah nya. Anisa melepaskan flatshoes dan naik ke atas ranjang. Jadi gadis itu sebagai pembatas mereka. Hati wanita itu berdetak kencang menatap lelaki itu yang sudah memejamkan mata.
***
Aris memasuki rumah pergerakannya terhenti saat hendak menuju ke dapur saat melihat Arsha mengendap keluar dari ruang tamu. Mereka saling berpandangan.
__ADS_1
Di sisi lain Arya juga melihat Arsha juga dari anak tangga. "Kakak." Arsha menelan ludah menatap Arya, Aris juga melihat ekspresi muka Arya tak bersahabat turun menatap lelaki itu.
Saat berpapasan "Siapkan semuanya. Minggu ini kau harus menikah." Kata Arya sambil lalu tanpa melirik nya. Aris hanya menepuk bahu kakaknya. "Semangat. Nampaknya kakak akan marah jika kau menunda-nunda. " Sambung Aris.
Arsha malu dan kesal karena menuruti keinginan untuk bersama ia bersitegang lagi dengan kakaknya. Walaupun mereka tak melakukan apa-apa, tapi ini seperti pencuri yang tertangkap basah.
Mereka melangsungkan pernikahan dua pekan sesudah pertemuan itu. Karena ada masa idah buat Anisa. Dan semua dilangsungkan secara pribadi di rumah mewah itu.
Arsha hanya mengundang atasannya dan beberapa rekannya, juga tetangga Anisa saja. Karena lelaki itu tak begitu mempersoalkan soal pesta. Yang penting ada saksi jika dia adalah suami sah Anisa.
Dan wanita itu sudah ada di lindungan Nya. Sehingga keluarga mantannya tak lagi berani untuk mengusiknya.
Aris juga memperkenalkan teman wanita nya ke keluarga. Seorang gadis sederhana tak berbeda dengan Anisa ataupun Kinanti.
Suasana haru prosesi akad nikah karena Anisa sudah tak memiliki keluarga dan kerabat. Hanya memiliki sahabatnya Mira. Yang seperti keluarga nya sendiri.
"Ini seperti mimpi. Aku seperti bermimpi tentang indah hari ini. " Gumam Anisa. Arsha menghampiri istri nya dan membelai wajahnya, wanita itu masih dalam balutan kebaya pengantin.
"Mimpi buruk mu sudah berakhir sekarang ini adalah mimpi indah mu. Dan yang ada hanyalah senyuman mu dan putri kita. Dan mungkin akan bertambah lagi anggota keluarga kecil kita nanti nya. " Bisik Arsha.
Anisa memeluk tubuh suaminya dengan hari yang membuncah di dadanya. "Jika Allah berkenan berapa anak kita asal kau ada dia sisiku. " Jawab Anisa lirih.
Arsha mengambil hiasan sanggul istri nya sambil merapalkan doa. Anisa hanya terdiam membiarkan Arsha melepaskan hiasan di kepala. Bahkan sanggul nya juga.
"Kita mandi bareng saja langsung. " Bisik nya dan Anisa memekik terkejut karena ulah nya. Dan mereka sudah berakhir di kamar mandi, selayaknya pengantin baru dengan segala rutinitas mereka.
(Makasih, ya. Sudah stay di karya aku. Semoga nanti aku akan kasih cerita yang lebih bagus lagi. Maaf jika sering kali terlambat kirim. karya aku lainnya ada yang bernama RIZNU. karena lupa email dan pasword di tambah ponsel eror jadi ada dua karya aku RIZNU dan SUMI YATI. Terimakasih sekali lagi buat semua pembaca ku yang setia. Semoga sehat selalu dan diberikan kemudian dalam segalanya, amiin. 🙏)
__ADS_1