Dilemma

Dilemma
19. Diam-diam cemburu


__ADS_3

Pandu, Arifin dan Sari duduk di ruang makan sementara hidangannya sudah di tata rapi. Andien masuk bersama Arjuna dan mengambil duduk ditempat nya.


"Ehem.. Sepertinya seru kalian mengobrol. Tadi Papa tak sengaja melihat kalian di bangku belakang. " Arifin mencoba mencairkan suasana. Melihat wajah Pandu yang datar.


Sari mengambilkan makanan untuk suaminya lalu disusul Pandu mengambil untuk nya da Andien. "Enak ya? " Tanya Pandu saat Andien belum habis makan kembang gula.


"Mau? " Tanya Andien menatapnya dan hendak menyuapi nya namun tak jadi karena hanya tipuan. Andien memasukkan itu ke mulut nya sendiri.


Yang lain tergelak melihat tingkah lakunya dan Pandu yang sedikit kesal menarik tengkuknya dan mengambil paksa dengan menciumnya. "Rasanya manis. Aku suka. " Gumam nya seusai melepaskan tautan nya.


Arifin berdeham melepas kecanggungan dan Sari menunduk malu, tak disangka putra nya yang mirip kulkas bisa berbuat seperti ini.


"Kenapa kau menunjukkan bucin mu pada jones? Kau bermaksud menyindir ku? " Tukas Arjuna ketus.


"Makanya cari dan nikmati hari mu dengan nya! " Jawab Pandu dengan nada dingin dan menatapnya tajam. "Ck." Arjuna berdecak sambil makan makanannya.


Suasananya menjadi kaku lagi dan Andien hanya terdiam, merasakan tak nyaman karena ulah suaminya.


Keesokannya Andien mengikuti mitranya meninjau proyek karena itu ia mengenakan flatshoes, celana jeans hitam denim dan kemeja putih. Rambutnya ia sanggul dengan pemanis jepit rambut ala Korea.


"Bu Andien semuanya sesuai dengan planning dan bahan-bahan nya tersedia hingga bulan depan. " Jelas pengawas pembangunan.


" Bagus. Kuantitas harus dipertahankan dan jangan lupa memberi pe semangat bagi orang-orang yang terlibat proyek. Hubungi saya jika ada masalah. " Ujar Andien mereka mengangguk dan mereka berjalan memasuki bangunan berikutnya.


Mereka ada disisi resort yang sebagian bangunan direnovasi dan yang disisi lainnya masih beroperasi dan diantaranya. Dan Andien tak mengetahui jika Pandu ada disana bersama seorang wanita cantik.

__ADS_1


Saat ini Pandu bersama Camelia, karena wanita itu terus menerus menelpon dan mengirimkan pesan ke ponsel nya.


Niatnya ia akan menegaskan bahwa ia sudah berkeluarga dan ingin memutuskan hubungan mereka dimasa lalu. Andien berjalan masuk ke resto bersama dengan orang-orang yang menemani dia di proyek tersebut.


Senyuman itu hilang saat melihat Pandu menggenggam tangan Camelia. Ya, Andien mengenalnya. Panas hati menyeruak dan ia masih tersenyum pada orang-orang sekeliling nya. Mereka berbincang ringan dan bercanda.


Pandu berdiri mengangkat telpon dan melangkah pergi. Kebetulan area duduk mereka tak jauh dan Camelia mendekati nya.


"Andien, wow. Kau masih saja dikelilingi cowok berdebu dan berkeringat. Oh, ya aku tahu kau pecinta olahraga " Sejenis itu! " bukan? " Sindir Camelia dengan nada sinis.


"Ada apa tuan Putri apa yang membuat mu tak berkenan? " Andien berdiri dan mensejajarkan dihadapan Camelia.


" Ck. Kau masih saja seperti dulu murahan dan menggoda para lelaki. Tak tahu malu! Ah, sayang kau sudah selesai? Dia tunangan aku. CEO dan putra pemilik... "Belum selesai Camelia bicara Andien menyela.


" Tunangan? Sangat aneh! Kapan kau bertunangan?" Andien menatap Pandu tajam. "Ini sungguh aneh tak kau lihat cincin kami yang berpasangan? " Andien langsung meraih tangan Pandu yang dirangkul lengannya oleh Camelia.


Berbalik untuk mengambil tas nya namun Camelia bermaksud menyerangnya namun ia dengan lincah membalikkan badan dan mencengkeram tangannya Camelia dan memelintir nya.


"Kau lupa berurusan dengan siapa? Dulu mungkin aku diam karena kau main belakang dan mengintimidasi orang terdekat ku. Tapi tidak sekarang. Berkat kau juga mereka meninggalkan aku sendiri, Terima kasih untuk itu! " Ujar nya ketus lalu menghempaskan tubuh Camelia ke samping hingga terdorong dan membentur kursi.


Beberapa pengunjung melihat kegaduhan itu. "Cuci anggota tubuh mu yang bersinggungan dengan nya. Aku tak sudi berurusan dengan sampah. " Ucap nya pada Pandu.


Lelaki itu hanya terpaku karena shock yang ia tahu istrinya lemah lembut dan pemalu namun sekarang seperti pribadi yang lain. Asing dimatanya dan sungguh ia terpukau dibuat nya apalagi dandanannya ala kaum muda enerjik.


Andien mengambil tisu dan membasuh nya seolah-olah ia tangannya kotor dan mengambil tas nya. "Maaf Tuan-tuan saya ingat ada yang harus saya kerjakan di kantor. Kita makan siangnya kita tunda lain hari. Aku janji akan mentraktir. Maaf. " Andien memberikan hormat secara sopan dan formal.

__ADS_1


Pergi meninggalkan mereka semua nya. Pandu hendak melangkah namun dicegah Camelia. "Bagaimana dengan kita? " Tanya nya manja.


"Aku sudah menikah dan mengatakan itu dulu. Dan aku menemui mu hanya akan memperjelas nya. Kenapa kau membuat kegaduhan? " Sahut Pandu sengit.


Ia pun melangkah meninggalkan Camelia yang malu dan penuh amarah. Lelaki itu ingin menyusul Andien namun kalah cepat Andien sudah meninggalkan tempat itu dengan mobilnya.


Andien sudah kesal dalam mengendarai ia sesekali memukul stir mobil nya. "Brengsek! " Makian demi makian ia tunjukkan pada lelaki itu yang menyematkan namanya menjadi Nyonya Wibisono.


Pandu menerima pesan dari Wildan mengingat kan tentang pertemuan dengan para investor dan rapat dengan para stafnya terkait proyek yang digarap kali ini.


Pikiran nya kacau melihat ekspresi sang istri yang menahan amarah dan cara menangani Camelia. Sepertinya ia belum mengenal nya lebih jauh. Yang ia tahu adalah sisi lembut dan cinta nya saja.


"Apakah ini yang menyebabkan MEREKA tertarik padanya? Aku bisa gila jika memikirkan nya! " Pandu meruntuki sikapnya tadi yang seperti patung tak berkutik karena ketahuan selingkuh.


Padahal ia hanya ingin memperjelas hubungan mereka. Tak akan seperti dulu lagi karena ia sudah menikah dan tak akan berpaling dari istrinya yang sudah dia cintai.


Wildan mengernyit melihat Pandu melaluinya dengan ekspresi muram dan linglung. "Kau baik-baik saja? " Tanyanya sejenak setelah Pandu duduk di singgasana nya.


"Aku bertemu dengan Andien. Dia tadi berangkat lebih pagi karena harus meninjau proyek dibeberapa tempat. Dan ia memergoki kami. " Kata Pandu perlahan.


"Biar ku tebak! Pasti dia cemburu dan berteriak dan berakhir seperti drama televisi. " Sahut Wildan. Pandu menggelengkan perlahan.


"Dia seperti anak kuliahan, enerjik, cantik. Dan ia mampu membalas perkataan Camelia dengan pedas. Satu lagi. Dia memiliki ilmu bela diri. " Jelas Pandu.


"Ia bergerak pelan dan memutar kemudian menangkap tangan Camelia yang hendak menyakiti nya. Dan memelintir nya lalu menghempaskan ke lantai. Bisa kau bayangkan? " Ujar Pandu menjelaskan.

__ADS_1


"Wow.. Sayang aku tak disana melihatnya. Pasti seru! " Celetuknya dan Pandu memukul nya dengan berkas di mejanya karena kesal. Lelaki itu hanya meringis menatap si Bos yang galau.


__ADS_2