Dilemma

Dilemma
36. Awal yang baru


__ADS_3

Tiga bulan seusai kunjungan ke lapas. Arjuna mengajak kedua putranya berkunjung ke pemakaman. "Kenapa kita kemari Ayah? " Arjuna menangkap raut wajahnya Arya yang tidak bersahabat.


Menghela nafas berpura-pura tak melihat dan tersenyum sedang mengabaikan nya. "Kita akan mengunjungi mereka. Lihatlah makam tak ubah seperti rumah sakit. Semuanya berbaring di sana menunggu datangnya kerabat terdekat atau kenalan untuk menjenguk. "


Arjuna keluar dari mobilnya saat mobilnya terparkir di depan pemakaman umum. Menggiring kedua putranya ke dalam pemakaman umum itu. " Kakak aku datang. Membawa ke dua putra kita. Aku akan berusaha menjadi ayah yang baik bagi mereka. "


"Aku membencinya. Kenapa kau datang? Jika hanya membawa masalah untuk kami. " Arya menyela perkataan Arjuna. Lelaki itu memandang putra nya tak berkedip.


"Pergilah sejauh nya bawa dia bersamamu! Kenapa kau tinggalkan kotoran itu pada kami! Jangan harap aku memaafkan semuanya! " Arya membalikkan badan dan matanya bertabrakan dengan mata Arsha. Anak kecil itu langsung menundukkan wajah.


Arya berlalu pergi menuju mobilnya yang terparkir di luar pemakaman. "Jangan sedih. Kakak hanya sedang sedikit kesal. " Ucap Arjuna memberikan semangat putra kecilnya. "Papa Mama tenang saja Arsha baik-baik saja.


Kami selalu bersama dalam segala hal yang kami kerjakan. Aku akan berbuat dan berusaha untuk yang terbaik. " Ucap Arsha. "Kalian jangan khawatir. Mereka menjaga aku baik. Juga Bunda. Kakek dan Nenek. Jangan khawatir kak Arya hanya sedikit kesal saja. "


Keduanya kembali ke tempat Arya. Dan mereka bertiga hanya terdiam hingga tiba di kediaman Wibisono.


Arya langsung saja melewati semua orang yang duduk di ruang tengah yang berhadapan dengan tangga rumah. Tanpa menolehkan kepalanya apalagi menyapa. Raut wajahnya nampak kelam, Arifin menatap Arjuna dan Arsha.


"Assalamu'alaikum, kakak hanya lelah kek. Maaf, saya ijin ke kamar. Permisi. " Arsha menyuarakan agar kakaknya terhindar dari masalah. "Walaikumsalam. Pergilah, beristirahat! " Jawab Arifin. Arsha mengikuti kakaknya menuju kamar nya sendiri. Yang letaknya bersebelahan dengan kamar Arya.

__ADS_1


"Ada masalah? " Tanya Arifin Arjuna menggelengkan kepala duduk bersama ayah dan ibunya. Sari menuang teh untuk nya. "Arjuna, jangan kau paksakan Arya untuk menerima saudara nya jika dia keberatan akan kehadiran nya. " Sari berkata dengan memberikan minuman nya.


"Ma.. Kau mengetahuinya? " Tanya Arya sendu. "Seorang ibu peka akan putra nya. Dan jangan cemas akan semuanya. Lambat laun ia akan mengerti. Mama melihat Arsha juga banyak berubah. " Lanjut Sari menatap putranya.


Arifin hanya terdiam mendengarkan pembicaraan mereka. Di kamar, Arsha menangis tersedu setelah mengunci kamar nya. "Maafkan aku kak. Aku akan berusaha untuk menjauhkan diri dari mu. Aku tahu kau membenci aku terlebih Mama Papa. Maaf. " gumamnya duduk di lantai bersandar di pinggir ranjang.


Di kamar Arya hanya duduk dengan muka datar nya. Menggambarkan sesuatu di buku gambar nya. Ia tertarik menggambar sejak kecil. Karena itu Arjuna membelikan perlengkapan alat gambar komplit. Setiap gambar yang di buatnya selalu di letakan di box tersusun rapi.


Dia meluapkan segalanya lewat gambar. Bahkan gambar nya lebih bagus dari anak di atas usianya. Karena dia memiliki bakat alami yang dia dapat dari ibunya.


Waktu berlalu semua kembali ke aktivitas masing-masing. Arsha sibuk dengan kegiatan sekolah demikian juga Arya. Mereka sengaja dipisahkan di sekolah yang berbeda. Arsha lebih pendiam jika bersama keluarga.


Arya di antar jemput dengan sopir pribadi keluarga Wibisono. Bahkan ia mengacuhkan kegiatan adiknya. Walaupun mereka berpapasan dan berkumpul bersama, Arsha lebih memilih minggir. Memberikan kakaknya privasinya, ia yang lebih mengalah.


Siang itu sinar matahari tak bersahabat. Begitu teriknya membuat orang menjadi malas untuk bergerak jika bukan karena terdesak kebutuhan mereka. Anak-anak berseragam biru putih bergerombol di sudut cafe outdoor.


Berceloteh ala remaja sangat riuhnya membuat beberapa pelanggan menolehkan kepala dan geleng-geleng kepala. Bukan bikin keonaran hanya canda tawa mereka riuhnya membuat sedikit pelanggan merasa tak nyaman.


Motor mereka berjejer di parkiran cafe beragam jenisnya. Mendadak ada teriakan suara wanita. " Jambret! Tolong jambret! " Seorang pria muda berseragam biru putih itu berlarian menghambur. Melompati pagar batas parkir di cafe yang hanya sepinggang orang dewasa.

__ADS_1


Dengan lincah nya ia berlari mengejarnya tak patah arang. Mengejar sang copet yang hampir menyerah karena kehabisan nafas berlari. "Kenapa kau mengejar ku? Hei bocah! Pergilah jika kau ingin selamat! " Hardik lelaki bercodet mukanya.


Rupanya penjambret itu berlari menuju kelompoknya yang sudah menunggu. Anak berseragam biru putih itu mundur tiga langkah sesaat terdiam. "Tunggu apa lagi? Hajar dia beraninya mengganggu! " Seru pria bertato.


Bruk. Brak.. Serangan pukulan berhasil di tangkis anak itu. Mereka berjumlah lima orang dan maju serentak. Di ujung jalanan sepi. Baku hantam terjadi.


Awalnya anak itu kewalahan namun ia mampu membalikkan keadaan. Dan berakhir anak berseragam biru putih itu pemenangnya. "Jangan pernah kalian berlagak sok dan carilah pekerjaan halal! Tampang kalian sudah seperti sampah namun moral juga harus di jaga! " Ucap anak itu sambil merebut tas wanita yang menjadi target nya.


Lelaki muda itu berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut tanpa menoleh kebelakang. Kembali ke arah Cafe tadi ada satu blok dia tadi berlari. Dan harus berkelahi melawan lima orang.


Beberapa kali ia mendapat pukulan di bibir nya robek, juga memar. "Hei, Arsha kau tak apa-apa? " Tanya Niko mendekat mereka bertemu di perempatan jalan dekat lampu merah.


Anak berseragam biru putih itu adalah Arsha, dua rekannya tadi mengikutinya namun tertinggal jauh karena staminanya kurang fit. Arsha setiap ada waktu ia berolahraga di ruang olahraga di rumahnya.


Ia juga belajar beladiri secara diam-diam karena ia tak pernah meminta ijin dulu pada Arjuna ataupun Andien. Anak itu tertutup berusaha untuk mandiri tanpa merepotkan orang sekitar nya. Karena semenjak ia mengetahui Arya membenci orangtua nya ia mulai menjaga jarak.


Ke dua cucu Wibisono sudah tumbuh remaja, namun mereka saling membentengi dirinya sendiri. Ada jarak dari keduanya, Arjuna maupun Andien tak dapat berbuat banyak hanya berusaha untuk adil untuk membagi kasih sayang juga perhatian maupun bimbingan.


Bagaimanapun Arsha dan Arya bersaudara satu ayah lain ibu. Mereka seharusnya bersama dan saling melengkapi bukan sebaliknya. Mereka berdua ingin yang terbaik untuk semuanya. Tanpa ada salah paham apalagi perseteruan.

__ADS_1


__ADS_2