Dilemma

Dilemma
24. Tragedi


__ADS_3

Hari berganti hari dan bulan pun berlalu. Andien juga menampilkan sisi keibuan nya, perutnya bertambah buncit dan ia nampak padat dibeberapa sisi ditubuh nya. Ia sudah mengurangi aktivitas kerja karena rencananya ia risign sehabis melahirkan dan memilih kerja di rumah.


Keputusan ini ia ambil setelah berdiskusi dengan suaminya. Pandu mendukung apapun keinginan sang istri, bahwasanya ia mengerti Andien yang mandiri dan penyayang. Walaupun mulut nya jutek dan terkadang pedas namun ia tahu kepribadian nya.


"Mama rencana tujuh bulanan disini. Dan kita undang seluruh kerabat dan sahabat terdekat dan kenalan. Ini cucu Mama yang pertama dan aku ingin dia tahu bahwa ia spesial bagi keluarga kita. " Sari tak henti berbicara dengan agenda ditangan nya.


Mencatat semua keperluan tujuh bulanan Andien. "Jangan lupa anak-anak Panti Asuhan diberi perhatian, karena Andien besar disana Ma. " Pandu mengingatkan Mamanya agar mereka juga dilibatkan dalam perayaan nya.


Anak-anak akan diberikan jamuan di sana dan hadiah suvernir nya. Nanti kita tempatkan beberapa orang untuk mengawasi dan membuat acara tersendiri untuk anak-anak. Sedangkan ibu Panti akan disini sebagai ibunya. "


"Kemudian Ayah kandung nya Andi Wiguna dan kakaknya Andika Wiguna. Lalu kerabat nya Ardiansyah kemudian.. " Pandu beranjak dari teman duduknya meninggalkan Mamanya.


" Ada apa? " Andien masih asyik berjibaku di dapur dibantu pelayan. Lelaki itu langit memeluk pinggang istrinya dan bibirnya mengecup leher, pundak putihnya. Tak ada niatan untuk beranjak.


"Aku berkeringat asam. Masak tadi ini makanlah kue sarang semut nya. Jauhkan mulut mu dari sana! " Andien mendorong muka tampan suaminya dan menjejali mulut nya dengan makanan.


Lelaki itu menurut saja di jejali berbagai jajanan donut isi stroberi dan keju dan diatasnya ditaburi gula halus, sarang semut, pie apel, pastry caramel.


Karena sejak Andien hamil lelaki itu yang mengidam dan mual-mual. Lelaki itu mengalami hamil simpatik karena istrinya tak merasakan mual, atau muntah dan mengidam juga tak merasa mudah capek atau mengantuk.


Pandu tidak dapat makan nasi jika pagi hari namun siang dan malamnya kembali normal. Tak suka wewangian yang menyengat. Wildan sering kena imbasnya karena ulahnya.


"Mama semangat sekali ngadain tujuh bulanan anak kita. Diadakan dua tempat disini dan di panti. Nanti di panti diserahkan organizer yang biasa bikin party anak juga jasa katering untuk makanan mereka satu minggu full. Ibu panti ada disini pas acaranya nanti di jemput Arjuna. "

__ADS_1


"Mama bersemangat sekali padahal kan kamu yang hamil sayang juga aku Papanya. " Pandu mengadu pada Andien seperti anak ke ibunya. Andien hanya mengelus pipi suaminya dan mengecupnya sekilas.


"Sudah yuk. Makan aja di sana seperti nya enak. " Ajak Andien mengalihkan perhatiannya. Ia menggandeng Pandu sementara pelayan sudah menata makanan pagi Pandu di gazebo belakang rumah.


Mereka duduk bercerita Andien setia menyuapi Pandu dengan aneka jajanan yang dibuat nya. Lelaki itu duduk menerima suapan demi suapan. Sesekali Andien makan sarapannya yakni soto betawi. Karena ayah mertuanya ingin makan itu.


Hingga tiba hari H-nya mereka berkumpul bersama. Sesuai keinginan Sari pesta dua tempat yang berbeda. Karena letak panti nya dipinggiran kota dan berlainan arah dengan letak rumah kediaman Wibisono.


Pesta meriah dengan ritual tujuh bulanan tradisional tak lupa doa keselamatan diawal acara baru ritual tradisional itu dilangsungkan Pandu setia di sisi sang istri demikian juga orang tua nya. Semuanya berjalan lancar sesuai rencana Sari Wibisono.


Usai pesta itu Sari mengajak Andien berbelanja untuk keperluan baby nya. Wanita itu bersiap untuk pergi dengan baju hamil selutut berwarna putih. Dan Sari dengan pakaian blus putih dan celana panjang hitam.


"Banyak yang harus dibeli, baju bayi, bedong, sepatu dan kaos tangan, baby stroller.. " Sari bercerita tentang daftar barang yang mesti dibeli. Sedangkan Andien hanya tersenyum mendengar antusiasnya sang ibu Mertua.


"Kami masih di jalanan keluar rumah dijalan persimpangan lampu merah pertama dekat rumah. " Jawab Andien.


"Aku melihatmu sayang. Lihatlah depan mu! " Andien melongok keluar jendela sedikit mengintip seberang jalan lampu merah nampak mobil hitam limited edition itu mengeluarkannya tangan melambai ke arahnya.


"Itu kau sayang? " Seru Andien antusias. "Mhn. Benar. " Suara Pandu mengiyakan perkataan istrinya. Sari hanya tersenyum mendengar perbincangan mereka sambil asyik dengan ponselnya.


Dan mobilnya hendak melaju saat lampu hijau baru selangkah sopir mengerem mendadak. "Hati-hati, ada apa? " Tanya Sari terkejut. Andien melihat ada mobil minivan berhenti di depan. Keluar lah lima orang laki-laki berpakaian hitam bersenjata dengan tutup kepala.


Sari bergegas menelpon. "Pa.. Ada orang jahat menghadang kami. Cepat tolong kami! ". Brak.. Dor. Dor. Mereka menggebrak mobil kami. Dan Andien melihat sopir keluar dan mengunci mobilnya.

__ADS_1


Pandu juga keluar dan bergabung menghajar para penjahat itu. Mereka berkelahi dengan ilmu bela diri. Dua lawan lima tak imbang apalagi mereka bersenjata.


Satu dari mereka menembak si sopir dan Pandu dipukul kepalanya dengan tongkat. Dia roboh dengan penuh darah. "Pandu... " Sari histeris berteriak sambil menangis. Andien hanya terdiam karena shock. Tangannya tak pernah berhenti mendial nama-nama yang dikenalnya.


Ada Arjuna. Satu kali tak terhubung. Andi kemudian di ganti Andika juga sama tak terhubung. Alexander.. terhubung, "Alex. Tolong ada yang menculik ku. Aku shar-e lokasi. " Ia langsung mengklik posisinya.


Praang. Door. Kaca mobil Andien pecah. Dan mobil Pandu ditembak peluru hingga meledak. Boom.


Api membakar juga mobil Andien dan Sari kendarai. Terbakar "Siapa kalian! Siapa yang membayar kalian! " Dan Sari dilumpuhkan dengan bius.


Demikian juga Andien ia sempat melihat mobil Lamborghini merah menepi bersamaan mereka mengangkat Pandu dibawa masuk ke mobilnya.


Pengemudi nya wanita Andien melihat nya di antara pandangannya yang kabur. Mobil sirine terdengar. Mereka meninggalkan Sari dan Andien ditepi jalan dan mereka kabur.


Mobil polisi datang bersama Alexander dan tim medis ambulan. Ada Arjuna dan Arifin dari arah yang sama setelah mereka dievakuasi.


"Pandu. Itu mobil Pandu. Pa.. Tak ada kakak. Dimana dia? " Arjuna berteriak. Arifin terduduk lemas mengira sang putra di sana ikut terbakar hidup-hidup.


Alexander mengikuti ambulan yang membawa Andien dan mertuanya. Tim pemadam berhasil memadamkan api kedua mobilnya.


"Kosong Pak. Hanya mayat sopir ini saja yang tergeletak disini. " Lapor petugas pada Arifin. Pandu lemas putranya hilang dan anak dan istrinya diserang. Ini pertama kali mereka diserang secara brutal di cuaca cerah dan sore hari.


"Siapa Arjuna yang berani menyerang keluarga kita? Mau menghancurkan kita? " Bisik Arifin yang shock melihat kedua puing-puing mobil yang terbakar.

__ADS_1


Terlebih anaknya hilang tanpa jejak hanya darah tercecer dan bekas ban direm mendadak di dekat kedua mobil itu.


__ADS_2