Dilemma

Dilemma
30. Pembalasan


__ADS_3

"Kau menikahinya namun kau tak menceraikan aku yang disini penuh kesakitan akibat ulah kalian! Cinta mu padanya sudah mencabik tubuhku dan mencabut separuh jiwaku! " Andien menatap kedua orang tersebut.


"Karena cinta kalian, keluarga ini menderita hebat, tak pernah ada senyuman dan canda di tempat ini! " Seru Andien.


"Apa kau pernah memikirkan keluarga nya wahai kau perempuan tak tahu diri! " Kata sinis Andien membuat Camelia meradang.


Semuanya terdiam dalam benaknya masing-masing. Raditya hendak menjelaskan namun tak diijinkan Pandu.


"Cepatlah! Jatuhkan kata itu padaku! Hanya sebagai formalitas saja. Tak sesulit menghapus bayangan hitam yang selalu menghantui diriku. " Kalimat Andien seperti tebasan pedang yang menyayat Pandu.


Sedikit memori sudah kembali di pikiran nya saat masuk ke dalam rumah ini. Banyak kenangannya yang mendadak timbul di kepala nya.


"Andien Wiguna dengan ini aku mentalak mu. Hidup dan mati ku tidak ada kaitannya lagi dengan mu. " Pandu mengatakan hal itu di saksikan semuanya.


Camelia tersenyum puas, dan bahagia tersirat di wajahnya. Andien melihat nya dengan tajam. "Berbahagialah kau dengannya. Aku sudah memanggilnya. Silahkan tuan-tuan mohon di tindak lanjuti kejadian itu. Mereka sudah membunuh sopir yang mengabdi keluarga kami. " Seru Andien dengan seringai miring nya.


Pucat seketika wajahnya Camelia melihat para petugas itu. Dan membawa Camelia dan Pandu. "Kau pikirkan saja pembelaan mu nanti. Semuanya ada harga yang mesti kau bayar! " Teriak Andien.


Diam-diam ia mengirimkan pesan singkat ke petugas yang mengurus kasus hilangnya Pandu, yang menewaskan sopir pribadi tersebut. Para tersangka sudah tertangkap namun perantara mereka sudah melarikan diri.


"Mama Papa kalian hendak kemana? " Teriak Arsha menangis menatap orang-tua nya yang di gelandang oleh petugas.Tak ada yang menahan Arsha yang berlari mengejar mereka. Namun langkah kecilnya di halangi petugas tersebut.

__ADS_1


"Mereka dipenjara karena mereka jahat. " Arya menyeringai dan melirik Arsha sinis. "Kau lihat kan? Ibumu Pelakor dan ayahmu pendosa! " Bisik Arya saat dia mendekati Arsha.


Arsha menangis histeris. Tak ada yang membujuknya, Sari melirik nya dengan tatapan benci. Arifin hanya terdiam. Andien meninggalkan tempat itu bersama Arya dan diikuti Arjuna.


Raditya dan istrinya juga anaknya hanya diam tak bergeming. Tak tahu harus bersikap bagaimana lagi. Acara makan siang menjadi hancur, tak ada lagi kegiatan di rumah itu. Semuanya terpaku pada dirinya masing-masing.


Andien berdiri di balkon terdiam tak dapat berkata-kata lagi.. Air matanya menetes tak tertahan oleh nya. Arjuna memeluk nya dari belakang sambil mengecup pundak dan ceruk lehernya.


Arya berdiri di antara pintu kamar dan balkon. Dia menatapnya sedih karena bunda nya menangis lagi karena pria itu. Dia tak ingin mengakui Pandu setelah mengetahui jelas di matanya Pandu meninggalkan mereka demi wanita lain.


"Aku baik-baik saja, hanya tak menyangka hal simpel aja menjadi berlarut ricuh seperti ini." Andien membalikkan badan dan melihat putra nya yang berdiri tak jauh darinya.


"Arya kau tak akan bersikap pengecut kan? " Tanya Andien. "Aku akan katakan apa yang patut di katakan. Bunda jangan khawatir aku akan tetap bersamamu." Kata Arya begitu mendekat di sisi ibunya.


Arjuna terkekeh kecil karena disindir. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Namun mereka melihat Sari dan Arifin juga Arsha masih duduk di ruang tamu.


"Papa Mama ayo, kita makan. " Seru Andien. " Pelayan " Andien berteriak memanggil pelayan nya. "Iya, Nyonya." Jawab sang pelayan saat mendekat.


"Bawa dia ke kamar tamu. Bawakan makanan dan minuman nya. Jaga dia agar tetap dikamar nya. Jangan sampai dia berkeliaran di rumah ini. Kita harus menjaga nya sampai mereka kembali. " Titah Andien dengan wajah datar nya.


"Ku rasa itu saja kan Ma? " Tanya Andien pada mertuanya. Sari mengangguk. "Aku tak mau melihat nya apalagi mengakui sebagai anak Pandu." Sari berdiri dan mengamit lengan Andien.

__ADS_1


Mengajak nya meninggalkan tempat itu. Arsha hendak mengikutinya namun di tahan sang pelayan. "Jangan berteriak atau pun bersuara. Kau hanya beban luka untuk majikan kami. Cepat ikut aku dan diam lah di sana! "


Arsha di tarik paksa kekamar tamu dan di beri makan dan minum setelah itu kamar di kunci. Sang pelayan duduk menunggui nya dengan asyik bermain ponselnya.


Arsha hanya di beri hiburan televisi saja. Dan jendela ber teralis tak mungkin dia kabur dari sana. Kalau pun kabur ia tak tahu harus ke mana. Di menscrol chanel TV, kemudian ia terhenti pada siaran pers.


"Camelia Bennet mengakui secara sadar sudah menciptakan rekayasa penculikan terhadap Pandu Wibisono dan memanfaatkan sakit Amnesia nya untuk memperdaya nya. Sehingga ia menciptakan sesuatu perasaan romantis dan akhirnya menikah. "


"Camelia bertanggungjawab atas meninggalnya sopir pribadi keluarga Wibisono dan akan dikenakan hukuman oleh pengadilan. " Jelas petinggi negara kepolisian tersebut. Dalam jumpa pers.


Arsha terdiam anak kecil itu terpaku seperti patung. Ia melihat ibunya di borgol, di hujat orang-orang yang mengelilingi nya. Pandu Wibisono disana hanya terdiam bersama orang penegak hukum.


Arsha menangis tak tahu bagaimana nasibnya nanti. Sang pelayan melirik nya sinis melihat anak kecil itu menangis tersedu. "Ck. Kasian sekali nasib mu. Terbuang dan tak di inginkan. " Ujar nya sinis.


Sudah hampir sebulan Arsha berdiam di rumah itu, tepatnya di kamar tersebut. Tanpa kasih sayang atau canda dari orang-orang yang mengasihinya. Pandu datang kembali ke kediaman Wibisono untuk menjemputnya.


"Kau harus meninggalkan tempat ini. Karena memang kau sudah terpisah dari kami. Lagi kami tak dapat menerima anaknya." Ucapan Sari Wibisono sangat menusuk Pandu Wibisono.


"Iya Ma. Aku mengerti, maaf sudah merepotkan Mama dan semuanya. " Jawabnya pelan. Arsha diam bak patung melihat Papanya yang menunduk tak banyak bicara. Anak sekecil ini sudah mengalami penolakan terhadap dirinya juga di kurung sendirian di kamarnya.


"Papa.. Mama mana? " Tanya nya. "Arsha, kau sudah tahu untuk apa bertanya lagi. Ayo kita pulang sekarang. Mereka akan terluka lagi jika melihat dan mendengar suara kita bersama. " Pandu menegaskan kembali tentang realita.

__ADS_1


"Aku mengerti Papa. Tolong jangan tinggalkan aku Pa. Aku menyayangimu setulus hatiku. " Arsha menghamburkan dirinya ke tubuh Pandu Wibisono.


"Jangan pernah berkata atau berpikir seperti ini lagi. Berjanjilah sayang. " Ucap Pandu pada Arsha. Mereka berpelukan, Pandu berdiri stelah Arsha tenang menggandeng nya. Meninggalkan kediaman Wibisono.


__ADS_2