
"Bunda tahu apa yang terjadi? Mertuanya menyuruh orang untuk merampas sertifikat tanah yang ditempatinya. Bisa bunda bayangkan? "
"Aku menelpon rekan ku untuk mengirim bantuan untuk menangkap nya langsung. Walaupun aku seorang diri. Namun aku kan sudah tidak bertugas lagi saat itu. "
"Setelah lelaki itu ku tangkap dan kami menginterogasi nya di pos sekuriti. Maka terungkap kasusnya. "
" Dengan saksi sekuriti dan kepala RT dan warga maka dipanggil lah dokter Hadi dan keluarganya. Wanita culas itu masih mengelak saat ada saksi. Maka aku pun mengancam nya secara hukum, akhirnya dia mengaku dan minta damai. "
"Mereka keluarga tak berperasaan, sebagai gantinya dokter Hadi harus mengurus perceraiannya secepatnya. Itulah syarat dari Anisa. " Semuanya diam mendengar penjelasan dari Arsha.
"Bagaimana bisa begitu? " Andien tergedik ngeri dan prihatin. "Mereka menuduhnya menggelapkan uang Hadi. Padahal dia membelinya dari penjualan rumah lama peninggalan orangtua Anisa dan tabungan. Lalu sisanya mencicil dari gaji Anisa. Jadi intinya itu murni milik Anisa. "
"Wanita itu sudah banyak menderita kebetulan temannya perawat Mira adalah sahabat nya adalah istri anak buahku. Jadi intinya aku dapat info dari mereka. " Jelas Arsha.
"Jika kau dekat dengan wanita segera halalin Arsha. Terlebih kau sudah waktunya dan pas. Bunda tak keberatan apapun asal kau bahagia. " Ucap Andien. Arsha hanya diam menunduk. Tak menjawabnya.
"Sudah makan aja. Cepat sembuh. " Arya menepuk pundak adiknya. "Boleh aku melihat foto anaknya? " Celetuk Kinanti.
"Tentu. Akan kukirim foto ada juga vidio celotehan ketika dia bernyanyi. " Sahut Arsha bersemangat mengambil benda pipih itu di samping nya.
Striing. Sebuah gambar masuk dan vidio ke ponsel Kinanti. Dengan kagum ia melihat vidio nya. Nampak seorang bocah perempuan berusia dua tahun dengan rambut panjang di kuncir dua.
Bernyanyi dengan riang kemudian minta di gendong, masih bersenandung riang. Dan wajah cantik nya memenuhi layar walau wajah Arsha terlihat sedikit.
Dan bruk. Entah kenapa kamera tak terarah dan kemudian gambar hilang. Lalu detik berikut nampak Arsha tengah memegang pinggang seorang wanita dengan keduanya sedang bertautan.
Lima detik mereka masih melakukannya. Dan berikut nya suara cekikikan gadis kecil terdengar. "Akh.. xxxx... " Arsha memekik dan mengumpat ia lupa jika vidio yang diberikan ada adegan ciumannya dengan Anisa dan direkam si kecil.
"Arsha? " Nada naik satu oktaf terdengar dari Andien menatap lelaki itu yang meringis. Antara malu dan bersalah.
"Ternyata.. Kak Arsha narsis juga, mengabadikan hal kecil seperti ini. " Celetuk Aris.
"Orang memiliki pemikiran berbeda dalam setiap menentukan tiap langkahnya. " Sahut Arya dengan wajah menggoda.
__ADS_1
"Biar saja bun.. Sesekali tak apa buat semangat, Yang terpenting dia tak bikin tek dung sebelum nikah. " Sahut Arjuna.
Buk. Bantal Arsha melayang ke arah nya, pelakunya adalah Andien.
"Bunda? Aku tidak menyangka, jika bunda punya sifat bar-bar. Ayah kan cuma kasih saran saja. " Arjuna pura-pura melotot marah.
Diikuti gelak tawa anak-anak nya.
"Bunda tidak mau tahu. Bawa dia ke rumah setelah kamu pulang dari rumah sakit! Dasar nakal. " Andien memukul pelan pundak Arsha.
"Iya bunda. Janji, InsyaAllah. " Jawab Arsha dengan melirik ekspresi dua saudara nya ya g cekikikan meledek nya.
Arsha hanya minta dirawat satu minggu, ia memilih rawat jalan. Karena malas tidur dengan bau obatnya jika berlama di rumah sakit.
Sebenarnya ia rindu gadis kecilnya, dan ia nekat naik motor besarnya menjemputnya.
"Daddy.. " Seorang gadis kecil berlarian menuju ke sebuah motor yang berhenti di depan nya. Gadis itu sedang bermain minum teh dengan koleksi bonekanya.
"Sayang, daddy kangen. " Sapa Arsha menciumnya hingga gadis cilik itu tertawa tergelak karena muka Arsha menjelajahi wajah mulus itu.
"Heli... Daddy.. stop... Mamy... " Suara lengkingan itu membuat seorang wanita keluar dari rumah.
Anisa keluar dengan spatula dan celemek menjadi satu dengan dress nya. Rambutnya di cepol asal.
"Assalamu'alaikum. Bagaimana kabarnya? " Tanya dia menatap Anisa.
"Walaikumsalam, makasih sudah datang. Bagaimana dengan lukanya?" Tanya Anisa.
"Akan mengering dengan sendirinya. Jangan cemas. Berganti lah kita pergi.. Tak perlu memasak. " Perintah Arsha dengan nada lembut.
"Yeah... Daddy. " Gadis cilik itu berlalu dengan semangat. Diikuti Anisa yang tertawa kecil mengikuti putrinya.
Arsha menyelinap ke dapur, lelaki itu melihat hasil karya Anisa. Ia mencocol sambal dengan tempe dan tahu bacam dengan beberapa detik. "Lezat." Gumamnya.
__ADS_1
Ia mengambil air dingin di almari pendingin, ia langsung meminumnya hingga tandas. "Daddy aku siap. " Bocah cilik itu berseri dengan setelan celana jeans dengan blus pink nya. "Cantik." Bersamaan dengan munculnya Anisa suara pujian itu keluar dari Arsha.
Keduanya canggung Arsha pun maju dan meraih bocah cilik itu. "Bisakah kau bawakan aku sayur dan bacem juga sambalnya. Aku ingin makan di rumah nanti. " Bisik nya saat melewati Anisa.
Anisa menganggu dengan muka memerah. Wanita itu bergegas mengambil tupperware dan mengemasi masakan yang disukai Arsha. Bahkan ini kali pertama lelaki itu masuk ke rumah nya. Anisa seperti kembali menjadi remaja. "Ya, Allah. Ada apa dengan ku. Kamu seperti kepedean Sa. Belum tentu lajang seperti dia yang sempurna mau sama janda tak jelas seperti mu. " Batinnya.
Wanita itu berusaha menenangkan diri agar tak jatuh cinta pada pesona Arsha yang tak sengaja menolong balita nya. Sehingga memanggilnya daddy.
Sementara ayahnya dari hamil hingga dia besar tak melihat nya karena jenisnya perempuan. "Ya Allah berikan kemudahan untuk hamba. " Batin Anisa. Setelah mengemas makanannya.
Ia pun menghampiri lelaki itu dan berjalan mengikuti lelaki itu keluar mengikutinya ke parkiran motor. Rumah minimalis tampa pagar sama seperti milik tetangga, hampir satu komplek model yang sama.
"Mbak Nisa mau kencan ya? " Seru Aida tetangganya, gadis remaja yang selalu membantu nya. "Iya, dik. Mau oleh-oleh? " Tawar Arsha menatap gadis itu.
"Martabak minta cabe nya yang banyak. " Jawab nya dan di jawab ancungan jempol. "Mas Arsha kok gitu? " Bisik Anisa. "Santai saja aku cuma pengen nyenengin mereka. " Balas Arsha.
"Sudah? " Lelaki itu memperhatikan Anisa dan di jawab anggukan. Maka motor melesat dengan kecepatan sedang. Ia sengaja membawa itu agar mudah cepat sampai di rumah.
Karena jalanan macet apalagi malam minggu seperti ini. Banyak orang keluar rumah untuk refresing dan hangout dengan komunitas nya.
Hingga akhirnya mereka sampai pada tujuannya, yakni kediaman keluarga Wibisono. Anisa tertegun, "Nenek menunggu kamu sayang ayo.. " Ucap Arsha menggendong gadis cilik itu. Anisa kaku tak dapat bergerak dari tempatnya berdiri. Ia mengerti arah bicara Arsha.
" Mas Arsha? " Suara panggilannya pelan namun lelaki itu mengerti.
"Ayo, tenang saja. Jangan gugup, si kecil perlu melihat dan bertemu dengan neneknya juga buyut nya. " Lelaki itu merangkulnya dengan tangan satu menggendong gadis cilik nya.
Begitu memasuki rumah di sambut maid dan Arsha memberi arahan agar menyiapkan lauk yang di bawa buat dia.
"Semuanya di belakang lagi pengen makan di taman. " Bisik Arsha sambil melepas jaket si kecil dan menenteng nya dengan jaketnya.
Mereka berjalan beriringan. "Welcome home sweetie. " Seru Aris memeluk gadis cilik itu. "Panggil om Aris. " Aris memperkenalkan diri dan gadis itu menirunya. Tak lupa menyalami Anisa.
Juga yang lain menyalami Anisa. "Selamat datang nak, maafkan Arsha yang terlambat memperkenalkan kami. " Kata Arjuna.
__ADS_1
Anisa hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca menyalami semuanya. Andien memeluk nya dengan kasih juga Sari dan terakhir Kinanti.
"Semoga malam ini dan seterusnya kita akan senang, damai dan rukun selamanya. Amiin. " Seru Arya. Dan di aminkan seluruh anggota keluarga yang duduk melingkar bersama.