
Andien tersenyum. melihat interaksi kedua putranya. Walaupun sedikit kaku, namun mereka akan baik-baik saja. Ketiga lelaki beda generasi asyik dengan kudapan nya. Duduk di sofa dengan film netflix bercerita petualangan.
Andien merebahkan tubuhnya di ranjang dan menyusui si kecil. Karena ia harus menjaga sopan santun tak membuka aurat. Biarpun itu di depan putra nya yang masih kecil.
Slurf. Baby Aris sudah melepaskan dot nya karena sudah puas minum Asi. Andien menatapnya sambil membenahi kancing bajunya. "Makan lah! Setelah shalat jamaah. " Andien memerintah sekaligus mengingatkan mereka bertiga.
Arjuna mematikan TV dengan remot lalu mengajak putranya menunaikan ibadah wajib. Arjuna mengingatkan doa sesudah shalat, melantunkan doa kesehatan, keselamatan juga untuk Pandu serta Camelia. Arsha terdiam dengan air matanya yang menetes.
Mereka berjamaah di kamar itu. Arjuna mengelus putra kecilnya. "Jangan bersedih berlarut-larut. Kita berdoa saja demi kebaikan semua orang. " Arsha mengangguk pelan menatap ayah dan ibu sambung nya.
Mereka meninggalkan Andien sendiri di kamarnya. Makan siang berlangsung dengan tenang. "Sidang akan dilangsungkan minggu depan. Aku ingin datang, namun melihat tindakan kemarin kita harus berpikir ulang untuk datang. Aku tak mau siapapun di keluarga kita mati konyol karena ulah nya! " Arifin memulai percakapannya.
"Kita dengar saja lewat pengacara. Kita bisa melakukan zoom meeting. Tak perlu ke sana.Demi keselamatan semuanya. Dia wanita gila, beraninya ia membunuh putraku! " Sahut Sari dengan geram.
"Ma, Pa ada anak-anak. Tolong di kondisikan. " Arjuna memberikan pengertian. Kedua nya menatap dua anak itu. Duduk bersama mengelilingi meja. Arsha terdiam kaku, ia mengetahui Mama nya menembak Papa nya karena kebenciannya terhadap ibu sambung nya.
Mereka tak salah Mamanya yang salah, "Maaf.. Kakek. Maafkan Mama, Nenek. Arsha janji akan menjadi anak penurut dan tak membuat Kalian marah atau menyusahkan semuanya. " Ucap Arsha sambil menundukkan wajah.
"Makan lah. Ayam buatan Nenek paling enak di banding makanan di restoran. " Sela Arya sambil menaruh ayam tanpa memandang adik nya.
Semuanya menghela nafas. "Makan Arsha, kami hanya menyesalkan tingkah Mama mu bukan membenci mu! Dia akan mendapatkan hukuman yang layak karena perbuatannya. " Ucap Arifin Wibisono.
__ADS_1
"Ayo, makan. Maafkan kami agak kesal. Dan membuat mu tak nyaman. Mhn? " Sari ikut angkat bicara. Arsha menatap semuanya yang meminta Arsha melanjutkan aktivitas kembali. Arsha kembali memakan makanannya dengan mata berkaca-kaca. Menundukkan wajah ada haru, takut semuanya bercampur di dadanya.
Hingga tak terasa tibalah hari persidangan kasus Camelia. Keluarga Wibisono mengikuti lewat zoom meeting demi kepentingan keamanan. Sidang juga diadakan tertutup. Mencegah ada nya kejadian tak terduga.
Kali ini sidang sengaja digelar hingga tanpa batas waktu. Karena selain mendengarkan saksi, juga menyerahkan bukti kuat juga hakim akan langsung memberikan keputusan hukuman nya. Penggugat meminta hukuman mati. Dan minimal penjara seumur hidup.
Kali ini Camelia banyak diam hanya duduk tak banyak berdebat seperti sidang terakhir kalinya yang menyebabkan insiden berdarah. Wanita itu hanya menyimak dan menjawabnya sesekali jika ditanya hakim atau jaksa penuntut. Semuanya berjalan dengan lancar dan tenang.
"Menimbang dan mencermati segala bukti, saksi, penyidikan serta olah TKP dari tim penyidikan, segala argumen pembelaan juga tuntutan maka dengan ini saya selalu hakim memutuskan saudari Camelia terbukti bersalah. "
Camelia terdiam mendengar kata-kata dari hakim, air matanya luruh bersama getar tubuh nya menangisi semuanya. Nasi sudah menjadi bubur, tak ada yang di lakukan juga semuanya sudah terjadi.
Penyesalan sudah tak berarti lagi, Camelia terdiam hatinya hancur cinta nya kandas bersama perginya Pandu. Lelaki yang teramat dia cintai masih mencintai istrinya. Terbukti dengan melindunginya dari serangannya.
"Mama" Gumam Arsha menatap sang Ibu yang nampak lebih kurus dari ingatan anak kecil itu. Camelia duduk menatap putranya.
"Mama. Apa kabar mu? Maaf, Arsha baru dapat datang. Arsha.. " Belum selesai ia berkata.Camelia menyela, " Maaf. Aku sudah merepotkan kalian. Juga membuat keluarga kalian marah. "
"Bersedih bahkan juga membenci aku. Aku titip Arsha. Tolong bimbing dia, jangan sampai ia mengikuti jejak ku yang salah. Maafkan aku.. "
"Arsha. Jadilah anak yang patuh. Ikuti semuanya yang mereka katakan. Mereka lah keluarga mu. Maafkan Mama. Aku sangat mencintaimu. " Camelia memeluk dan mencium putra nya.
__ADS_1
Dalam keadaan diam menahan tangis nya Arsha menerima kasih sayang ibunya. Camelia menangis saat memeluk tubuh kecil itu. Ia bangkit dan berlalu dari tempat tersebut. "Mama." Arsha memanggilnya lirih.
"Jangan pernah datang lagi. Patuh lah dan raih mimpi mu. " Kata Camelia sambil lalu. Arsha menatap punggung ibunya dengan sendu. Arjuna tak mampu berkata harinya merasakan sakit terlebih melihat keadaan Arsha yang masih butuh pengawasan.
Harus di tinggal orang yang tuanya.
Camelia di vonis hukuman mati. Dan ia tak tahu harus berkata apa pada Arsha. Cara ia menyampaikan pesan terakhir kakaknya Pandu. Bahkan Camelia menolak berkomunikasi dengan nya.
"Kami akan berusaha semampu kami kakak. Aku berjanji menjaganya, hingga dia menggapai mimpi nya. " Batin Arjuna sambil membimbing anak itu keluar dari tempat lapas wanita.
Arsha berjalan beriringan dengan Arjuna hingga masuk ke dalam mobil kedua nya terdiam. "Mama mu akan baik-baik saja Arsha. Mungkin tak akan lama lagi akan berkumpul bersama Papa mu. " Bisik Arjuna.
Arsha mendengar suara ayah sambung nya hanya membisu dan kaku. "Jadi Mama di hukum mati. Semoga Mama bahagia bersama mu Papa. Kalian tak akan berpisah selamanya. " Batin Arsha.
Anak itu hanya memejamkan mata namun Arjuna mengerti, anak itu sedang berduka dan terluka. "Putraku yang malang. Semoga kau jadi anak sholeh dan menjadi kebanggaan keluarga. " Batin Arjuna mendoakan putra kecilnya.
"Menangis lah nak. Tak perlu kau menahannya. Menjerit lah jika perlu, namun jangan perlihatkan ke orang lain. Jika kau lemah dan takut. Kuat lah kau seorang lelaki. Jadilah tangan kanan kakak mu Arya. "
"Kakak mu Arya adalah raga mu, kau menjadi tangan dan kakinya dan adik mu Aris adalah pusat kekuatan. Kau mengerti? " Arjuna berkata tanpa menolehkan kepalanya. Tetap lurus menatap jalanan di depannya.
Arsha menangis detik itu juga. "Papa.. Maaf, aku tak dapat menjaga Mama. Mama, maaf aku selalu menjadi anak manja. Aku janji. Aku akan hidup baik. "
__ADS_1
"Patuh pada aturannya. Akan selalu menjaga saudara seperti yang diinginkan Papa dan Ayah. Aku janji.. " Arsha berseru bersama-sama dengan derai air matanya.
"Bahagia lah nanti jika bertemu Papa, Ma. Tenang lah. Aku akan menjadi anak baik dan kebanggaan kalian semuanya. Aku berjanji".