
Andien dan Sari saling berbincang sambil memasak untuk makan siang. "Garang asem nya kelihatan enak banget. Dari aromanya aku sudah tak tahan untuk mencicip. " Seru Sari.
Andien hanya tertawa kecil melihat tingkah sang mertua. "Katanya kak Raditya akan datang bergabung makan siang ya, Ma? " Tanya Andien. Sari hanya mengangguk sambil menata kue hasil masakan mereka. Ada kue balok, donut tabur gula, dan Karamel puding susu.
"Ma.. Apa kak Wulan dan anaknya juga datang ? " Tanyanya sambil ******* bumbu bali pada ayam nya.
"Tentu. Rumah ini akan bertambah ramai dan Mama senang sekali." Seru Sari Wibisono bersemangat.
"Nyonya ponsel Anda berbunyi. " Seorang pelayan mengulurkan ponsel Andien. Dan wanita itu mengulurkan tangan nya yang berlumuran bumbu rempah.
Sang pelayan menekan tanda hijau dan loudspeaker. " Halo.. Apa saya berbicara dengan wali Arya Wibisono? " Tanya orang di seberang sana.
"Benar. Saya adalah ibunya. Maaf dari siapa, ya? " Andien bertanya balik kepada si penelepon. Karena tadi tidak ada ID penelepon.
"Saya adalah Herman kepala sekolah dasar Cahaya Matahari. Bisakah Anda datang ke sekolah. Ini mengenai tingkah laku Arya di sekolah. " Sahut si penelepon.
Andien mengerutkan dahinya menatap mertuanya kebingungan. Demikian juga Sari, karena setahu dia Arya bukan anak introvert. Andien mengangguk pelan dan menjawab. "Baiklah saya ke sekolah sekarang. " Telepon di putus dari sana. Andien menghela nafasnya dengan penuh tanda tanya.
"Pergilah, Berhati-hatilah. " Ujarnya menyemangati dan mengelus punggung menantunya.
Tak lama Andien masuk ke ruangan kepala sekolah dan melihat Arya duduk dengan muka datar dan mata penuh kebencian. Ada seorang wanita duduk membelakangi sambil mengelus anak lelaki yang tinggi dan badannya di bawah ukuran tubuh Arya.
"Permisi, maaf ada apa Bapak Kepala Sekolah? " Andien langsung bertanya to the point. Pak Herman berdiri di tempat nya duduk.
"Silahkan duduk bu. Perkenalkan ini adalah bu Camelia wali dari Arsha Wibisono. Dan bu Camelia ini adalah ibu Andien wali dari Arya Wibisono. " Herman mengenalkan keduanya.
__ADS_1
Camelia membelalakkan matanya menatap Andien, lalu menatap Arya.
"Sial kenapa juga harus bertemu dengan nya." Umpat Camelia dalam hati. Tak lama terdengar ketukan pintu nampak Pandu masuk ke dalam ruangan.
"Papa.. " Arsha menghambur memeluk Pandu, reflek lelaki itu memeluk putranya. Andien shock menatap Pandu lalu Camelia dan anak itu saat anak itu turun dan menatap ke arah mereka. Dan menunjuk ke arah Arya.
"Pa, semua orang menunjuk aku adalah adiknya. Yang ada malah dia itu KW nya. Kan Papa cuma ayah aku seorang. Dia itu hanya anak biasa, lihat saja pakaian nya terbuat dari bahan biasa bukan seperti milikku kan Ma? " Cerocos nya tanpa jeda.
Andien menatap nya tak berkedip. "Papa? Apa ini? " Pikirnya Arya meringsek maju. "Cuih! Sombongnya! Hei yang di hargai orang adalah tingkah laku dan kepintaran. Kau tak pantas menyandang nama Wibisono! " Sembur Arya emosi.
"Anak kecil jaga bicara mu! " Hardik Camelia. "Kau yang tutup mulut pelakor! Kau pikir kami bodoh! " Salak Arya seraya mendekati ibunya Andien. Wanita itu pucat saat terduduk.
"Bunda lihat ke arah Arya. Semuanya baik saja. Tenang lah, Arya yang akan menghadapi nya. " Bisik nya sambil mengusap wajah Andien yang masih shock.
"Anak muda tolong jaga bahasa mu. Disini tak ada Pelakor. Apa maksudnya dari kalimat mu. " Pandu berkata dengan pelan menasehati Arya.
"Kau boleh meng kroscek ke pihak kepolisian kami melaporkan mu hilang dalam sebuah insiden. Jika kau bosan pada ibuku. Harusnya kau ceraikan dia dengan terhormat. "
"Bukan menciptakan drama dan menyiksa keluarga dan orang sekitar mu! " Maki Arya dengan lantang. "Aku tak sudi mengakuinya sebagai saudara. Camkan itu! " Teriak nya meninggi.
Arjuna terpaku di depan pintu tak percaya melihat kejadian di depannya. Tak lama ia berjalan menuju ke Andien. "Kau baik-baik saja Mhn? " Tanya nya cemas. Melihat wajah pucat pasi nya.
"Maaf Pak Herman. Kami selesaikan secara kekeluargaan. Dan mohon rahasiakan tentang ini. " Andien mencoba mengatasi kekalutan dalam hati.
"Kau. Maksudnya Kalian semuanya. Kami tunggu di rumah. Tentunya Nyonya tahu kan apa yang ku maksud. Jangan coba untuk mengelak atau lari. Terimakasih. " Andien berlalu.
__ADS_1
Gerakan nya lambat diikuti oleh Arjuna dan Arya di sisinya. "Bunda baik-baik saja, kita pulang ya? " Bisiknya lemah. Mereka masuk ke dalam mobilnya masing-masing. Arjuna dengan mobilnya dan Andien bersama Arya diantar sopir pribadi.
Camelia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih menahan amarah dan ketakutan nya. Pandu membimbingnya masuk bersama ke kediaman Wibisono. Tentunya Camelia yang menunjukkan jalannya.
Mereka bertiga satu mobil, sedangkan mobil Camelia di bawa pulang oleh driver karena Camelia tak dapat menyetir. Kemana pun di antar sopir pribadi. Camelia kalut takut rahasia nya akan terbongkar.
Andien duduk diruang tamu, wajahnya masih pucat seperti kapas. Arya mengipasi dengan buku pelajarannya padahal ruangan rumah ber AC. "Bi.. tolong ambilkan air untuk Andien. " Seru Arjuna.
Sari di dapur mendengar suara teriakan Arya meninggalkan pekerjaannya dan menyusul ke ruang tamu. Juga anggota keluarga yang lain, yang sedang berbincang di ruang tengah.
"Ada apa Arya, Arjuna? Kenapa Andien seperti ini? " Tanya Sari cemas. Raditya maju memeriksa Andien, ia membongkar peralatan medis di tasnya.
"Apa kau mendengar atau melihat sesuatu yang mengejutkan mu? " Tanya Raditya. Arya mengangguk dan menunjukkan dengan dagu ke arah pintu masuk.
Semuanya tertegun menatap Pandu dan dibelakang nya ada Camelia dan anak lelaki. "Apa ini? Pandu? Apa ini lelucon? " Teriak Sari.
"Ma. Aku pulang. Maafkan aku baru pulang. Aku.. " Belum selesai ia bicara Andien meringsek maju ke depan.
Plak. Tamparan keras ke pipi Camelia dan Pandu. Keduanya terkejut akan serangan dadakan itu. "Jika kau ingin menikahi nya kenapa harus memakai drama? Kau tahu ada nyawa yang melayang karena ulah kalian! " Katanya sengit.
"Cepat ucapkan talak itu padaku! Kau sudah meninggalkan kami tanpa status jelas! " Teriak Andien. Pandu terpaku mematung, "Talak? " Apa maksudnya? " Batinnya.
"Kau menikahinya namun kau tak menceraikan aku yang disini penuh kesakitan akibat ulah kalian! Cinta mu padanya sudah mencabik tubuhku dan mencabut separuh jiwaku! " Andien menatap kedua orang tersebut.
"Karena cinta kalian, keluarga ini menderita hebat, tak pernah ada senyuman dan canda di tempat ini! " Seru Andien.
__ADS_1
"Apa kau pernah memikirkan keluarga nya wahai kau perempuan tak tahu diri! " Kata sinis Andien membuat Camelia meradang.