Dilemma

Dilemma
38. Tanggung jawab


__ADS_3

Arsha terpekur di bangkunya. Ingatannya kembali ke waktu berpapasan dengan kakaknya, jika ia ada di kota yang sama dengan keluarga. Dan tak pernah sekali pun pulang ke rumah.


Ia mengerti tatapan tajam Arya ke arahnya, untung waktu itu ia mengenakan kaca mata hitam, karena sedang sakit mata bukan bergaya.


Hanya rutin vidio call dengan orang-orang rumah, namun ia tak pernah mengobrol dengan kakaknya, walau sekedar menyapa. Arya menjaga jarak dengan nya sama halnya dia. Ia tak mau ambil resikonya jika Arya mengeluarkan kalimat yang menyakitkan hati nya.


Mungkin dengan minimnya interaksi akan lebih baik daripada bersinggungan namun saling menyakiti, pikir nya.


"Pasti kakak marah padaku, aku tak pulang, menyebabkan bunda selalu bertanya kepada nya terus. " Gumam Arsha. Arsha tak dapat konsentrasi membaca laporan dari tim investigasi kasus yang di tanganinya.


Sama halnya dengan Sang kakak Arya juga tak dapat konsentrasi karena teringat tentang wanita itu. Untuk pertama kalinya ada orang yang mengacuhkan pesonanya, dan tak ada drama televisi seperti wanita-wanita yang selama ini kenal atau berusaha untuk dekat dengan nya.


Bahkan hingga saat ini ia tak mendapatkan telepon dari yang bersangkutan, meminta ganti rugi atau apapun itu. "Mungkin aku yang harus menemuinya? " Pikir nya menimbang bahwa karena ketidak sabarannya lah yang membuat dia cidera.


"Aldan. Siap kan mobil di depan, aku yang bawa sendiri. Dan undur jadwalnya hari ini untuk besok saja. Aku akan menemui nya. " Perintah Arya setelah mematikan ponselnya ia berjalan tergesa keluar dari ruangan nya.


Widya staf sekretaris nya berdiri juga staf lainnya yang ada di depan ruangan nya. "Bapak akan pergi sekarang? Bukannya pertemuan nya setengah jam lagi? " Tanya Widya menatap nya diiringi senyuman lebar.


"Aku membatalkan rencana hari ini, Aldan yang mengatur nya. Aku ada urusan pribadi. Kalian kembali ke pekerjaan yang ditugaskan Aldan. " Jawab Arya sambil lalu, tanpa menoleh apalagi melirik.


"Si bos kapan dia senyum, wajah datar saja sudah tampan apalagi jika senyum. Pasti tambah mempesona. " Ucap satu staf sekretaris nya Arya.


Widya menatap sengit, " Sudah deh. Balik kerja! " Ujar nya ketus, dan di balas kedua rekannya ekspresi kesal.


"Memangnya hanya dia yang boleh memuja si bos, ya satu perusahaan tuh naksir abis tahu.. " Cibir rekannya yang satu nya dengan nada pelan. Keduanya terkekeh perlahan, Widya hanya mengacuhkan saja.


Arya memacu mobilnya dengan kecepatan sedang dan mencari keberadaan Kinanti Gumelar di tempat kerjanya. Perasaannya sendiri tak nyaman takut bertemu dengan adiknya Arsha.

__ADS_1


Ia sudah dihalaman parkir kantor pusat kepolisian. Ia pun berjalan perlahan menuju ke ruang informasi yang ada di lobby kantor. "Maaf dimana saya bisa bertemu dengan Saudari Kinanti Gumelar? " Tanyanya pada dua petugas berseragam tersebut.


"Sudah ada janji kah? " Tanya salah satu petugasnya. Arya menggelengkan kepala. "Beliau tadi di ruang klinik kesehatan di ujung lorong sebelah kanan. " Sahut rekannya.


"Kau mengetahuinya? " Tanya petugas 1


"Iya, tadi dia terjatuh karena ngebut dan tak melihat ada orang yang turun dari mobil jadi jatuh lah dia. Kau tahu kan komandan tim nya Arsha Wibisono? Dia sangat disiplin dan tegas pada anak buahnya. " Jawab petugas 2.


"Iya sih, dia terkenal dengan sebutan "TRACKER". Kasus pembunuhan yang peliknya dan minim bukti saja dia pecahkan. " Komen petugas 1.


"Jadi Arsha Wibisono sangat terkenal di seantero rekannya sejawatnya, bahkan mereka yang jadi junior nya juga segan. " Batin Arya. Dia meninggalkan tempat tersebut mencari keberadaan Kinanti Gumelar.


Lelaki rupawan itu melihat ruangan demi ruangan yang tersekat dan tertutup ada namanya di setiap pintunya. Saat tangannya akan mengayunkan ke pintu ia mendengar suara pembicaraan dari dalam.


Kinanti di rawat oleh dokter yang bertugas saat ini ia berbaring di bed pemeriksaan. "Kaki mu bengkak, terkilir. Kau harus periksa ke dokter umum untuk mendapatkan ijin. Jika kau tak istirahat maka akan parah dan di amputasi. " Ujar sang dokter.


"Aku ke sini mengikuti mu. Dan kau mengikuti Arsha senior kita. Sedangkan dia acuh aja pada namanya W A N I T A. " Wira bahkan sampai mengejanya untuk memperjelas sahabat nya yang tak berhenti berusaha dekat dengan lelaki pujaannya itu.


"Tidak menjadi kekasih pun tak masalah. Jadi anak buah atau saudara juga bagus kan. " Sahut Kinanti Gumelar.


"Dasarnya bucin. Asal tidak gila saja. Aku serious soal kaki mu! " Umpat Wira.


"Nanti jika sakit parah aku akan istirahat. Tenang saja. " Kinanti pun turun setelah mendapat perban gib untuk menjaga kakinya agar pulih kembali.


Mereka berdua terkejut saat membuka pintu melihat keberadaan Arya. "Maaf atas ketidak sopanan ku. Aku yang menyebabkan mu terluka dan juga sudah meninggalkan kartu nama. Namun kau belum mengabarkan keadaan mu. " Jelas Arya.


Kinanti Gumelar meringis dan Wira menatap nya. "Bukannya Anda Arya Wibisono? " Tanya Wira menatap nya. Arya hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Nona Kinan. Marilah kita ke dokter untuk mengobati luka mu. Saya bertanggung jawab atas ketidaknyamanan Anda. " Kata Arya.


"Tapi saya sudah tidak ada masalah. Percayalah Tuan. Saya baik-baik saja. " Kinanti Gumelar menyanggah dan berusaha untuk berlalu. Namun lengannya ditahan Arya. " Saya bersikeras untuk mengobati nya.


"Paksa saja dia memang keras kepala. Soal ijin aku akan menjelaskan pada atasannya. " Seru Wira sambil mengedipkan mata. Kinanti Gumelar melotot ke arahnya.


Arya pun langsung membopongnya ala bridal style dan melewati beberapa orang petugas. "Mereka sepasang kekasih, Kinanti sedang ngambek sama dia. " Teriak Wira otomatis mendapatkan seruan para lelaki berseragam tersebut juga beberapa pengunjung di sana.


Arya membawanya ke klinik pribadi milik rekannya. "Bagaimana keadaannya Mesy? " Tanyanya. "Ini sudah benar penanganannya. Dan ia harus bed rest untuk berjaga-jaga agar kakinya cepat sembuh. " Jawab Mesy sambil mengulurkan resep obatnya.


"Sudah ku katakan pada mu. Aku baik-baik saja. Anda tak perlu repot juga. " Sahut Kinanti Gumelar sinis.


Arya mengacuhkan saja. "Dia tak boleh beraktivitas berapa lama? " Tanya Arya.


"Dia mingguan. Jangan lupa ronsen siapa tahu ada retak tulang atau semacamnya. Kenapa tak kau bawa RS? " Lanjut Mesy.


"Kau tahu siapa aku, akan menjadi kehebohan jika aku muncul dan menggendong nya di muka umum. " Sungut Arya.


Wanita berseragam putih tersebut hanya tersenyum menatap keduanya. "Kau harus tegas untuk menjinakkan nya. " Bisiknya lirih ia sangat paham pada mantan teman sekolah menengah nya dulu tentang reaksinya pada wanita-wanita di sekitar nya. Arya hanya berdehem.


"Aku jalan aja jangan pernah gendong aku lagi! " Hardik Kinanti Gumelar melotot. Arya keluar dari ruang praktek dan masuk membawa kursi roda.


"Aku bawa kursinya. Nanti aku transfer untuk kau beli lagi dan biaya berobat nya. " Mesy hanya menganggukkan kepala mendengar suara temannya.


"Jangan lupa kirimkan surat kesehatan nya ke kantor nya. Berikan pada Arsha. " Perintah nya lagi-lagi ia menganggukkan kepala.


"Kulakukan semua sebagai bukti tanggung jawab atas kesalahan tak lebih. Mengerti nona Kinanti Gumelar? " Ucap Arya saat mereka dalam mobil. Kinanti tak menjawabnya hanya melipat kedua tangannya melihat jalanan melalui jendela mobil.

__ADS_1


__ADS_2