Dilemma

Dilemma
6. Diam diam perhatian


__ADS_3

Pandu Wibisono hanya pura-pura tertidur lelaki itu tersenyum dan langsung memejamkan mata, istri nya perhatian padanya. " Jadi ia sudah mulai perduli padaku", Gumamnya pada diri sendiri.


Wanita itu hanya sibuk dengan pekerjaannya dan hingga pada titik letihnya dia memutuskan tidur di sana dengan kasur lipat.


Andien terjaga dari tidurnya ia langsung melihat jam di HP. Ia sedang datang bulan perut nya terasa nyeri. Ini sudah biasa pada periode hari 1-3 ada nyeri jika datang bulan. Ia bergegas ke pantry namun Pandu sudah disana dengan banyak jenis makanan.


Kemasan makanan itu jelas bukan dari restoran atau sejenisnya. "Aku menelpon rumah minta dikirimkan menu sehat untuk mu. Kau baru datang bulan aku melihatmu semalam mengambil itu! " Ucapnya.


"Aku dengar jika hari pertama sakit, mamaku sering mengatakan hal itu. Dan bibi dirumah pasti membuat menu khusus. " Lanjutnya. Andien hanya memalingkan wajahnya.


Jelas-jelas ia sungkan untuk mengakuinya. Suaminya ini benar-benar membuat hatinya tersentuh. Apa benar dia tak pernah berkencan? Nyatanya apa yang dilakukannya membuat wanita baper. Andien mulai meragukannya wanita itu memilih bersiap ke kantor.


Ia memakan menu " Khusus" yang di pesan suaminya. Yakni sup, air jahe gula merah dan kue kukus. Semuanya masih hangat dan lezat. "Aku akan ada keperluan jadi aku hanya mengantar saja. " Andien hanya mengangguk paham.


Andien diantar ke kantor dan wanita itu takzim Pandu terkesima dibuat nya. Pasalnya sang Mama jika mengantar Papanya ke depan rumah hanya cipika-cipiki. Kali ini Pandu membalasnya dengan ciuman di kening.


"Akhirnya kau datang juga. Oh dewi penyelamat ku. " Suara Naya yang lebaynya memeluk Andien begitu mereka bertemu. " Siang ini kita bertemu di kantor presentasi dan makan siang bareng di perusahaan tersebut. Aku dengar makanan di kantin nya seperti di restoran dan gratis. "


Andien hanya mendengar ocehannya saja hingga akhirnya ia capek dan kembali ke mejanya. Karena Andien tak merespon apa yang diceritakan.


Siang itu di perusahaan Bintang Laut semua orang yang mengikuti tender berkumpul di ruang pertemuan. Satu persatu memperkenalkan diri dan mempresentasikan desain mereka dari perusahaan masing-masing. Dan terakhir adalah perusahaan Narendra tempat Andien bekerja.

__ADS_1


Mereka mendengarkan dan memberikan penilaian. " Keputusan akan kami umumkan seusai makan siang. Silahkan Semuanya makan siang di tempat yang kami sediakan dan soal menu Anda boleh memilih sesuai selera. "


Perwakilan panitia tender berkata dan memberikan intruksi dan seorang staf mengarahkan mereka. Ke kantin perusahaan dengan berbagai menu tersedia di sana.


"Rupanya rumor itu benar-benar ini lezatnya. " Naya menikmati menu ayam goreng dan geprek sekaligus. Sedangkan Andien memesan soto ayam ia ingat pesan suaminya agar tidak mengkonsumsi makanan dingin.


Tak lama terlihat keramaian seorang lelaki mengenakan pakaian kasual didampingi beberapa orang. Kebetulan wanita itu melihat nya mereka saling bertatap mata. Andien memutuskan kontak dan memutuskan tak saling mengenal.


Rombongan tersebut duduk tak jauh dari mereka. Dan terdengar suara riuh bisik-bisik penghuni kantin. " CEO kita tambah ganteng. Sehabis menikah lelaki memang seperti itu. Lihatlah penampilan hari ini terlihat sangat santai. "


"Bukannya dia masih cuti bulan madu? Harusnya enak-enak kok malah ke kantor dadakan. " Sahut karyawan lain.


"Salahkan diri. Udah galak belagu eh ngakunya tunangan juga. Malu tuh. " Seru sekali obrolan mereka. Andien dan Naya hanya saling memandang sambil saling melirik. Melanjutkan makan siang mereka.


"Aku angkat telp. ya? " Pamit Andien pada Naya. Wanita itu menjauh membawa tas jinjing dan handbag. " Halo Rio. Aku ada urusan sedikit di PT Bintang Laut. Mhmm. Maaf, kita ga bisa. " Itulah yang di tangkap Pandu saat sang istri menerima telpon melewati dirinya.


Lelaki ini hanya bersikap datar dan berpura pura tak saling mengenal walaupun mata mereka saling melirik. Andien baru menyudahi sesi obrolan nya dia bermaksud kembali ke ruangan pertemuan seusai menelpon dan hendak kirim teks pada Naya.


Namun tangannya ditarik oleh seseorang saat ia menoleh ternyata si pelaku adalah Pandu. Mereka hanya berdiri terdiam memakai lift khusus dan menuju lantai 25.


Begitu keluar Andien dirangkul dibimbing, melewati ruangan kosong sekat kaca si depan lift berbelok ke kanan melalui lorong, seperti itu untuk meeting.

__ADS_1


Dua ruangan kaca hanya ada tirai penutup yang jelas ada penghuni kantor. Kemudian ruangan pantry dan lobby masih ada meja tiga lengkap dengan komputer dengan pintu besar.


Ada orang di ruang depan pintu besar itu. Wildan? Andien menatap lelaki itu yang sempat memberikan hormat sepintas. Wildan bersama dua orang wanita sedang sibuk disana.


Andien dibawa masuk ke pintu besar itu. Sebuah ruangan besar dengan satu set sofa dan meja kerja besar dengan dua kursi di depan nya dan ada lap top. "Ini ruang kerjaku." Ucap Pandu sambil mencium puncaknya Andien. Gerakan pertama Pandu memeluk nya erat. " Bagaimana harimu? Masih sakit? " Bisiknya lirih. Andien hanya terpaku ia merasakannya lagi dibawah sana. " Apakah dia menahannya?" Batinnya bertanya-tanya.


"Aku baik-baik saja kok. " Jawabnya canggung masih dalam pelukan nya. Terdengar ketukan pintu. Wildan masuk membawa berkasnya. "Hasil keputusan tender dan semua anggota peserta sudah dijamu sesuai ketentuan dan keputusan final ada di pilihan Narendra. " Wildan memberikan laporan.


Pandu membalasnya dengan senyuman. "Kau yakin? Apa tak ada unsur-unsur KKN nya? " Tanyanya masih dengan tangan satu memeluk istrinya. Dan yang satu menerima berkasnya.


"Tidak ada. Keputusan ada pada Peter Anda tahu bagaimana karakter nya dan ia belum mengenal Nyonya muda. " Jawab Wildan sambil melirik Andien. Andien hanya diam menghadap dada Pandu kaku tubuh nya.


Dalam dirinya malu dipergoki dalam posisinya yang intim juga ia tak dapat berbuat banyak karena suaminya dalam mode siaga. Ia hanya pasrah saja tangannya yang sempurna memeluk pinggang Pandu.


"Ok. Bagus. Tetap seperti ini. Jangan ada yang tahu keberadaan istriku. Aku ingin dia senyaman mungkin dan membahagiakan nya. Ada yang lain? " Tanyanya lagi.


"Bagaimana dengan pesta perkenalan kakak ipar? " Wildan masih tersenyum smirk miring menatap Pandu. Jelas ini tak ada kaitannya dengan pekerjaan atau pembicaraan antara bos dan atasannya.


"Nanti ia masih kurang enak badan. Kau tahu tamu bulanan? " Jelas Pandu dengan sedikit berdeham. Wildan terkekeh kecil. "Jadi puasa dong? Tak jadi buka pandora?" Sindir nya sinis.


"Enyahlah! Kau hanya mengolok-olok aku! " Salaknya. "Kau butuh kue atau sejenis nya? Atau mungkin ...." Goda Wildan. "Keluar! " Suaranya menggelegar memenuhi ruangan. Wildan pun mundur dan berlalu.

__ADS_1


__ADS_2