
Arjuna melangkah maju mematikan kompor gas membuat Andien terpaku. "Aku sedang masak apa yang kau lakukan? " Omelnya menatap bingung melihat tingkah sang suami.
"Kenapa? Tidak suka? Sayang aku sudah bilang jangan masak. Biar mereka yang mengerjakan. " Bantah Arjuna menarik tangan istrinya. Andien di dudukan di kursi di ruang makan. Kedua matanya memutar tanda jengah dengan tingkah sang suami.
Arjuna kemudian mengisyaratkan pelayan untuk melanjutkan pekerjaannya. Dia pun duduk di samping sang istri setelah mengambil botol air mineral. "Aku jenuh, hanya masak saja enggak capek." Kilahnya.
"Sudah, ini tinggal menunggu hari sayang. Tidak ya tidak! " Arjuna kekeh pada pendirian nya melarang sang istri beraktivitas. "Besok ada sidang kasus Camelia. Kau akan datang? " Tanya Arjuna. Namun Andien hanya terdiam tak merespon, wanita itu hanya menatap suaminya.
"Haruskah aku datang? " Tanyanya gamang. "Lagi pula kau bilang aku harus banyak istirahat demi baby.. " Balas Andien tanpa menatap sang suami. "Apa kau takut bertemu dengan kak Pandu? " Tanya Arjuna sambil mengelus pipinya.
"Aku paham sayang, kau lebih dahulu mencintai nya. Dan kalian terikat adanya putra kita. " Cup. Kalimat Arjuna tak dapat dilanjutkan. Mendapatkan ciuman Andien lelaki itu tersenyum tipis menyambut nya, tak peduli ada orang sekitar nya.
Arjuna menggendongnya membawanya ke kamar mereka. "Aku gendut dan berat. Kenapa kau masih saja menggendong ? " Bisik Andien. "Biar di anggap perkasa dan kuat" Jawab nya asal. Andien tergelak bersandar di dada sang suami.
Mereka saling mencumbu saat Andien direbahkan di ranjangnya. "Kau yang menggoda lebih dulu sayang. " Jawab Arjuna saat Andien melemparkan pandangan protes. Mereka saling memberi kepuasan saat melakukannya.
Siang itu dalam ruang sidang memanas pasca sidang kasus perdana, Camelia tak terima atas dakwaan juga bukti yang memberatkan dirinya.
Wanita itu meraung berteriak histeris dan memaki semuanya. Pandu hanya menatapnya sendu. Tak tahu harus bagaimana lagi, untung saja kakak nya mau dia titipin Arsha.
Bagaimanapun anak itu tak boleh melihat kejadian ini. Pengacara yang di sewanya tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Karena kasus nya yang berat. Sidang ditutup lebih cepat dari jadwalnya dan masih menunggu sidang selanjutnya.
__ADS_1
Dalam perjalanannya menuju ke bus yang mengantarkannya ke penjara. Camelia melihat Andien sedang mengobrol dengan Arjuna dan ada mertuanya. "Jika aku mati maka kau juga mati" Desis Camelia pelan hampir tak terdengar siapapun. Hanya angin dan dedaunan yang bergoyang menjadi saksi kebenciannya.
Camelia melihat ada celah saat itu penjaga sedang berbincang dengan seorang petugas kepolisian di dekat pintu masuk bus. Ia langsung menyergap dan menyerang orang di samping nya.
Dengan gesit ia mengambil pistol itu dan berlari ke arah Andien. Mereka terkejut dan tak menyangka akan ada insiden tersebut. Andien membelalakkan matanya menatap Camelia yang mengacungkan pistol ke arah nya. Dan Arjuna langsung memeluk istrinya agar dia saja yang di tembak. Arifin memeluk Sari, istrinya mencoba melindunginya.
Door. Dor. Dor. Tiga tembakan terdengar Camelia tersungkur karena di lumpuh kan petugas meraung-raung. " Matilah kau perempuan jahanam! Kau pantas mati! " Teriakan nya menjadi-jadi.
"Pandu...! " Sari berteriak histeris mana kala berhasil meronta keluar dari dekapan sang suami, karena mengkhawatirkan menantu nya Andien. Semuanya berbalik menatapnya, Pandu tersungkur di tanah bersimbah darah di dadanya.
Mereka berlarian menghampiri nya. Pandu terbatuk mengeluarkan darah di mulut nya. "Tolong jaga putraku Arjuna. Maafkan aku Andien. Maafkan aku hanya memberikan mu penderitaan.. " Ucap Pandu di tengah nafasnya yang tersengal dan terbatuk-batuk.
Tim medis datang dan mereka menyingkir memberikan ruang. Camelia melotot saat melihat Pandu yang tergeletak bukan Andien. "Pandu.. Kenapa kau masih melindungi nya? " Teriaknya tak terima. Petugas yang membekukan dia menyeretnya paksa dan memasukkan ke dalam kendaraan. Kemudian berlalu dari sana.
"Pandu.. Kenapa kau lakukan itu? " Teriakan nya hanya sia-sia belaka. Kendaraan itu melaju meninggal tempat tersebut. Wanita itu menangis menjadi-jadi.
Di rumah sakit tim dokter berupaya menyelamatkannya, namun luka dan pendarahan yang hebat berakhir sia-sia. Pandu sudah menghembuskan nafas nya pada saat dokter baru mengeluarkan peluru tersebut.
"Maafkan kami, pasien sudah tak dapat kami selamat kan. Kami turut belasungkawa. " Kalimat dari dokter membuat Sari lemas dalam pelukan Arifin. Arjuna terkejut saat kakinya merasakan adanya cairan saat hendak melangkah.
"Andien? " Ucap nya lirih. Wanita cantik ini hanya terdiam, wajahnya pucat. "Dokter tolong istri saya. " Teriak Arjuna. Lelaki itu dengan sigab menggendong dan merebahkan Andien ke brankar.
__ADS_1
Para petugas medis memeriksa nya dan membawanya ke ruang tindakan. "Harusnya aku tak memaksakan dia ikut ke persidangan kasus nya Ma. " Ujar Arjuna saat tangannya di genggam sang ibu.
"Kita berdoa saja Arjuna. Dia pasti dapat melaluinya. " Arifin menenangkan hati putranya. Mereka duduk menunggu konfirmasi selanjutnya.
"Bagaimana kabarnya Pandu? " Alexander muncul bersama orang tuanya. Arjuna hanya menggelengkan kepala. "Aku turut berdukacita Arifin. " Ardiansyah memeluk sahabatnya. Lelaki itu mencoba untuk tetap tegar.
"Kami sedang menunggu kabar Andien dan baby nya. " Lanjut Arifin serak. Semuanya mengangguk paham, Raditya mendekati mereka. Lelaki itu baru mendapatkan kabar saat keluar dari ruang operasi.
"Papa.. " Lelaki itu memeluk menantunya dengan tenang Raditya memeluk ayah mertuanya menyalurkan energinya saling menguatkan.
"Dengan keluarga ibu Andien. " Suara dokter terdengar, semuanya mendekat. "Selamat keduanya selamat dan sehat. Selamat atas kelahiran putra nya. " Arjuna menerima uluran tangan sang dokter.
Mereka tersenyum bahagia, "Ada kehidupan baru walaupun ada yang hilang." Ardiansyah berkata sambil merangkul sahabatnya.
"Kita harus mengurus semuanya. " Arifin menitahkan pada Arjuna. "Papa biar Arjuna menemani istrinya, Mama jaga cucu mama di rumah. Papa harus menemui tamu yang nanti berdatangan. Alexander akan mengurus pemakamannya aku yang mengurus administrasi dan membawa Pandu pulang. " Ucap Raditya.
Ardiansyah menganggukkan " Aku akan menemanimu jangan khawatir. Ini sudah diatur oleh Nya. Kita jalani saja Arifin. " Bisik Ardiansyah menepuk-nepuk pundak sahabat nya.
"Mama pulang dulu. Kabari mama nanti biar pelayan yang mengantarkan keperluan kalian. " Bisik Sari. Arjuna mengangguk pelan. "Mama jaga kesehatan ya? Jangan cemaskan kami. Terimalah anak nya Ma. " Lanjut Arjuna, Sari menjawab dengan senyuman sedih.
Entah apa yang akan terjadi ke depannya, wanita itu merasakan sesak hatinya. Putra kesayangan nya perginya dengan cara menyakitkan. Akankah dia dapat menerima anak dari wanita yang telah melenyapkan putranya. Tapi anak itu tak bersalah wanita jahat itu yang memisahkan mereka.
__ADS_1