Dilemma

Dilemma
48. Bersitegang


__ADS_3

Dua hari kemudian. Di ruang inap VVIP, Arsha duduk mendengar Aris yang berceloteh riang. Arsha duduk melihat nya sesekali tersenyum melihat tingkahnya. Klik. Suara pintu di buka dari luar.


Semua menoleh melihat tamu yang datang. Terlihat Arya masuk dengan Kinanti yang berada di belakangnya. "Kakak datang menjenguk ku? " Sapa Arsha pelan.


"Bagaimana kabar mu? Maaf, baru kali ini aku datang. " Balas Arya sambil memeluk tubuh adik sambung nya.


"Aku tahu kau mendampingi ku saat aku terluka. Kau juga mengurus segalanya. Ayah dan Aris banyak bercerita padaku. Terima kasih selalu disisi ku. " Ucap Arsha.


"Tidak. Aku berhutang nyawa padamu. Jangan bilang terimakasih padaku. " Balas Arya.


"Antara kakak adik tidak ada hutang piutang kak. Yang ada adalah bukti kasih kita. " Sanggah Arsha.


"Ya, terserah kau sebutkan apa. " Arya mengacak rambut cepak nya. Mereka terkekeh bersama.


"Kakak ipar bawa makanan apa? " Goda Aris. Kinanti hanya tersenyum. "Martabak manis dan gurih kesukaannya. " Tunjuk Kinanti dengan dagunya.


"Ck. Kakak saja yang kau sayang. Aku di sini menemani juga butuh makanan juga kali kak. " Decak Aris pura-pura kesal.


"Delivery kan bisa. Mengapa jadi ribet sih. " Potong Arya, Kinanti dan Arsha hanya terkekeh kecil.


"Kau pun boleh ikut memakannya. Aku mana habis semua itu. " Sela Arsha. Yang diiringi oleh senyuman mengembang dari Aris.


Arjuna dan Andien duduk di sofa panjang tersenyum bahagia melihat ketiga putra nya akrab.


Tak lama terdengar ketukan pintu masuklah dokter wanita cantik. " Maaf, saya mengganggu. " Ucap nya sopan. Dia membawa rak berisi peralatan medis.


"Apa waktu nya ganti perban dok? " Tanya Arsha. "Iya, nanti saya dapat kembali lagi. Di lanjutkan saja mengobrol nya. " Jawab nya sungkan.


"Dokter Anisa saya tidak keberatan karena nya. Silahkan saja. " Arsha memposisikan diri, wanita itu pun bergerak maju.


"Seperti nya akan ada anggota keluarga baru kak. " Bisik Aris pada Arya. Arya menatap nya dengan alis terangkat memperhatikan setiap pergerakannya.

__ADS_1


"Bagaimana kabar jagoannya? Apa dia masih rewel dok? " Tanya Arsha.


"Begitu lah. Dia bertanya kapan dapat bertemu.. " Kalimat dokter Anisa tergantung.


(Anisa dan Arsha dipertemukan secara tak sengaja, Anisa adalah janda beranak satu. )


"Katakan saja dady superhero sedang terluka. Nanti akan menemuinya. " Sahut Arsha cepat.


Ruangan ini senyap walaupun percakapan hanya berupa bisikan namun masih dapat terdengar jelas oleh setiap orang. Andien dan Arjuna saling berpandangan. Demikian juga Aris dan Arya saling bertatapan mendengar kalimat yang di lontarkan Arsha.


"Sudah selesai. Terimakasih. Saya permisi. " Dokter Anisa mohon undur diri. Namun troli nya di hadang Aris.


"Dokter Anisa sepertinya dokter sangat akrab ya, dengan kak Arsha? " Wanita itu hanya berdiri mematung di tempat.


Cek lek. Pintu dibuka dari luar nampak dua orang pria berpakaian seragam putih. "Dokter Anisa? Apa yang sedang anda lakukan disini? Bukannya perawat Salma yang bertugas mengganti perban? Mengapa peralatan ada dengan Anda? " Tanya Dokter Gunawan.


Dan sisi kanan Dokter Gunawan adalah dokter Hadi ikut angkat bicara. "Bukannya dokter hanya bertugas di bidang Obsterti dan ginekologi? "


" Dokter. Saya yang menyuruhnya, merawat seorang kekasih yang terluka adalah hal yang wajar bukan? " Sahut Arsha.


"Ehemm. Silakan dokter Anisa jika kau sudah selesai dengan tugasnya. " Dokter Gunawan menengahi keduanya.


Dokter Hadi menatap tajam ke arah Arsha, Arya dan Aris melihat ada sesuatu diantara mereka. "Apa ada masalah dokter? Anda mengenal adik saya? Arsha Wibisono? " Tanya Arya menatap lekat Dokter Hadi.


Lelaki itu menggenggam erat papan Clifford laporan kesehatan pasien dengan kencang. Arya dan Aris tidak lepas memperhatikan setiap ekspresi muka dokter Hadi.


"Silakan lanjutkan tugas Anda. Saya saran kan jangan lagi mempersulit dokter Anisa. " Kata Arsha menatap lekat, walaupun tanpa ekspresi namun Arya mengerti. Jika ada sesuatu diantara mereka.


"Baiklah. Maafkan atas ketidaknyamanan nya. Ehemm." Dokter Gunawan melihat jahitan dan menutup lagi dengan kasa yang baru.


Ia berbicara secara medis dan dokter Hadi mencatatnya tanpa ada ekspresi.

__ADS_1


"Dari luka jahitan akan kering beberapa hari kemudian. Dan jika tidak ada keluhan lain pasien boleh pulang. Karena jahitan bagus dan tidak ada iritasi. " Jelas dokter Gunawan.


"Baik.Terimakasih. Namun saya mohon hal barusan jangan diperpanjang. Karena itu permintaan saya. " Ucap Arsha.


"Tentu. Kami memaklumi untuk ini. Dan saya mohon jika ada permintaan khusus mohon di ajukan secara resmi ke kantor". Ucap dokter Gunawan dengan senyum lebar.


Arsha menjawabnya dengan anggukan. Arsha menatap dokter Hadi. " Saya harap Anda juga menepati janji, sebagai lelaki harusnya Anda tahu tentang apa yang harus dilakukan. Jangan mengatas namakan berbakti kepada orang tua Anda menjadi seorang pengecut. " Seru Arsha saat ke-dua dokter itu hendak keluar dari ruangan.


Dokter Hadi hanya diam kaku, rahang mengeras dan di tepuk ringan oleh dokter Gunawan. "Pasti. Aku tak pernah lupa. " Jawab dokter Hadi.


Sepeninggalnya mereka Aris mendekati Arsha. " Kak, apa kalian memiliki permusuhan dengan dokter itu? " Tanya Aris.


Plak. Arya menyentil keningnya Aris. "Sakit kak! " Sungut Aris. "Bisa kau jelaskan pada kami? " Tanya Arya. Arsha menatap lekat Arya dan membenarkan duduknya.


"Dia mantan suami dokter Anisa. Wanita itu di cerai karena tak dapat melahirkan anak laki-laki. Dua kali keguguran dan kehamilan ke tiga lahir anak perempuan yang lucu. Kakak pasti jatuh cinta pada anak ini. Jika kalian bertemu. " Jelas Arsha santai.


"Astaga kakak pembinor? " Celetuk Aris. Plak. Sentilan mendarat di jidatnya lagi. Aris menggerutu kesal.


"Jika statusnya masih istri kau tak boleh berdekatan dengan nya Arsha. " Seru Andien ikut mendekati sang putra.


"Mereka sudah pisah delapan bulan sebelum bertemu dengan aku Bunda. Dari penuturan ia akan memproses perceraiannya. Namun sudah hampir satu tahun mereka tak kunjung cerai. Lelaki itu juga tak datang memberi nafkah untuk keluarganya. " Jelas Arya.


"Para tetangganya juga membenarkan kata-kata Anisa. Waktu itu aku datang sehabis piket malam. Aku pikir hanya melihat dari jauh saja. Namun aku melihat ada orang yang datang mendekat ke rumah nya. "


"Bunda tahu apa yang terjadi? Mertuanya menyuruh orang untuk merampas sertifikat tanah yang ditempatinya. Bisa bunda bayangkan? "


"Aku menelpon rekan ku untuk mengirim bantuan untuk menangkap nya langsung. Walaupun aku seorang diri. Namun aku kan sudah tidak bertugas lagi saat itu. "


"Setelah lelaki itu ku tangkap dan kami menginterogasi nya di pos sekuriti. Maka terungkap kasusnya. "


" Dengan saksi sekuriti dan kepala RT dan warga maka dipanggil lah dokter Hadi dan keluarganya. Wanita culas itu masih mengelak saat ada saksi. Maka aku pun mengancam nya secara hukum, akhirnya dia mengaku dan minta damai. "

__ADS_1


"Mereka keluarga tak berperasaan, sebagai gantinya dokter Hadi harus mengurus perceraiannya secepatnya. Itulah syarat dari Anisa. " Semuanya diam mendengar penjelasan dari Arsha.


__ADS_2