Dilemma

Dilemma
47. Mengakhiri


__ADS_3

Kinanti Gumelar hanya menurut mengikuti lelaki itu yang menyeret koper dan membawa paper bag milik nya.


Sepanjang jalan hanya kesunyian tak ada pembicaraan atau pun lirikan ke dua nya seperti orang asing, berjalan berdampingan namun tak menyapa.


Aris dan Kinanti sampai di depan mobil yang menjemput mereka. "Mana yang lain? " Tanya Kinanti berusaha setenang mungkin. Naluri nya berkata ada sesuatu yang sudah terjadi.


Mobilnya di kawal ketat dan ada aparat kepolisian di lobby hotel, seperti sedang identifikasi. Kinanti juga melihat rekannya ada disana.


"Apa yang barusan terjadi? Di mana semua orang? Apa resepsi nya di batalkan? " Pertanyaan beruntun tak di jawab sang adik ipar.


Kinanti melirik ke bawah tepatnya menatap kedua tangan Aris yang mengepal. Terlihat gemetaran, seperti ada kejadian yang membuat dia shock.


Wanita itu akhirnya memutuskan untuk berdiam diri, hingga mobil memasuki kediaman Wibisono. Banyak kursi ditata di sisi kanan di halaman itu.


Banyaknya orang berjaga di gerbang dan di halaman. Membuat keningnya berkerut lagi. Sebuah mobil hitam milik keluarga Wibisono masuk dan berhenti tepat dimana mobilnya tadi berhenti.


Aris balik badan menghampiri nya. Juga ada dua mobil lagi. Mereka turun bersama-sama. Arya menghampiri mereka, ada lelaki paruh baya yang mengenakan jas dan pimpinan nya.


Mereka berbincang sejenak, dengan nada pelan. Kinanti berusaha memcuri dengar namun sia-sia. Aris berpelukan dengan Arya. "Pergi, Ayah memerlukan mu. Nanti aku menyusul mu. " Bisik nya sambil mengelus bahunya yang kekar.


Mobilnya dengan cepat di singkirkan oleh valet dadakan dari tim yang berjaga-jaga. Walaupun mereka mengenakan kaos hitam ia mengenali ada beberapa rekan kepolisian.


"Sayang, maaf. Membuat mu menunggu dan aku butuh bantuan mu. Jangan bertanya, ataupun berkomentar apapun. Cukup di sisiku dan tersenyum, Ok? " Ucap Arya.


Begitu ia sampai dihadapan sang istri, sambil ke-dua tangannya membingkai diwajahnya yang cantik. Kinanti hanya menjawab dengan anggukan.


Wanita melihat banyak orang berbondong-bondong memasuki halaman rumah tersebut. Dari apa yang mereka bawa seperti wartawan. Dari Media elektronik ataupun cetak, ia mengenali dengan memandang mereka sepintas.

__ADS_1


Mereka mengambil posisi duduk yang disediakan. Arya, Kinanti, pengacara dan kepala bareskrim polri duduk di hadapan para wartawan.


Mereka memulai pembicaraan nya. "Selamat sore menjelang petang. Saya mewakili keluarga Wibisono, selaku pihak advokat. Memberikan kabar duka, tak lupa kita do'akan kelancaran pengobatan dan kesembuhan buat putra ke-dua Tuan Arjuna dan Nyonya Andien. Yang tidak pernah si ekspos. "


"Karena sifat rendah hati yang dimilikinya, dia seorang pria berdedikasi tinggi, dan kebetulan beliau bekerja di instansi pemerintah Indonesia yakni di kepolisian. Silahkan. "


" Terima kasih atas kesediaanya rekan media datang langsung, seperti Anda semua ketahui. Seharusnya ini menjadi kabar gembira karena pernikahan Tuan Arya dan rekan kami Kinanti. "


"Namun menjadi berita duka karena insiden oknum yang tidak bertanggung jawab. Dan saat ini beliau sudah kami amankan. "


"Bedasarkan investigasi singkat ini dipicu kecemburuan yang berlebihan. Dan cinta sepihak, yang selama ini sudah ditegaskan. "


"Namun pihak pelaku tidak mengindahkan nya. Maka Tuan Arya membiarkan dirinya berada di sekitar perusahaan. Catat, Tuan Arya tak pernah menjalani hubungan romantis dengan pelaku. "


"PELAKU yang sering mendatangi tempat kerja beliau, hingga merasakan ketidaknyamanannya. Maka pelaku di usir dan dicekal tidak dapat lagi bertemu, maka timbul insiden ini. "


"Target utama adalah aku. Dia ingin aku mati, dan ada bukti CCTV-nya dan saksi yang hadir. Dia tidak menerima kenyataan bahwa saya tidak memiliki rasa itu. "Arya meringsek maju menyela ucapan aparat kepolisian tersebut.


"Sebagai seorang yang profesional maka kita harus menyamping kan hal-hal yang mempengaruhi kontrak kerja sama. Namun dengan adanya kejadian ini. Saya selaku CEO perusahaan dan pemilik saham terbesar. "


"Menyatakan pemutusan hubungan kerja sama dan menuntut Pelaku selaku putri tunggal Adi Prasetyo selaku pemilik Pranata grup. "


"Dan kami akan menuntut penuh tanggung jawab anda juga putri Anda. Yang berusaha melenyapkan seseorang. Dan saya tidak akan pernah memberikan ijin pembebasan bersyarat atau apapun itu! Terima kasih. "


Arya lalu membawa istrinya masuk dan sesi tanya jawab di lakukan oleh pihak kepolisian dan pengacara.


Di ruang tamu. Sari dan Andien duduk dengan menangis tersedu lagi. "Bunda dan Nenek istirahat dulu, nanti aku akan menelpon mengabarkan perkembangan selanjutnya. " Bujuk Arya. Kinanti menatap ibu mertua nya yang kusut dengan noda darah terlihat jelas.

__ADS_1


Keduanya melakukan hal yang diminta Arya, sebelum naik ke atas mereka saling berpelukan menyalurkan energinya untuk saling menguatkan.


Dikamar. Arya langsung ke walk in closed. Berganti pakaian kasual. "Aku harus kembali ke rumah sakit. Nanti aku kabarin perkembangan selanjutnya. " Ujar Arya sepintas kilas, tak lupa ia mengecup kening istri nya.


Arya berjalan cepat di lorong rumah sakit yang sudah dijaga banyak keamanan. Ia tak akan pernah mengijinkan keluarga Dania mendekati keluarga Wibisono. Untuk alasan apapun itu.


"Tak ada pengampunan. Wanita itu harus membayar mahal atas perbuatan nya. " Batinnya.


",Mereka belum keluar? " Tanya Arya. Arjuna menggeleng pelan. Aris hanya berdiri bersandar di dinding gelisah.


Arya menghampiri Aris. "Kita baru bertemu setelah sekian lama berpisah. Aku tak pernah mengira kakak akan.. " Aris bergetar, terbata menatap Arya kakaknya.


"Sts, Tenang. Kita berdoa untuk keselamatan nya, itu yang utama. " Bisik Arya sambil merangkul Aris yang menahan isak nya.


Hening kemudian. Ketiga nya larut pada do'anya masing-masing, suara Aris yang sayup-sayup terdengar dengan do'a nya. Dan lampu konektor pun padam.


Dua dokter spesialis bedah keluar dari bilik operasi. "Operasi berjalan lancar. Kami masih memantau perkembangan selanjutnya. Pasien sudah di bawa ke ruang rawat intensif. "


"Jika dalam waktu perkiraan kami beliau dapat melewati masa kritis nya maka dia akan di pindahkan ke kamar pemulihan. " Ucap dokter yang bertugas.


"Terima kasih telah menyelamatkan adik saya", Kata Arya.


" Sudah menjadi kewajiban kami. "


Tak lama dokter undur diri Arya melihat Arsha dipindahkan ke rawat intensif. Melihat dia dari luar dengan peralatan yang menempel di tubuh nya.


Ia tidur dengan tengkurap karena peluru itu bersarang di punggung nya. "Terimakasih kau sudah berjuang untuk sembuh. " Bisik Arya menatapnya tak berkedip.

__ADS_1


"Kakak. Kami menunggu mu. " Gumam Aris yang tidak kuasa menahan isak lagi. Bahunya berguncang menangis. Arjuna menatap putra sambung nya dengan haru.


"Terima kasih putraku. Kau masih bersama kita. " Ucap nya lirih. Air mata ikut menetes berusaha untuk dia tahan.


__ADS_2