
Sesampainya di kediaman Wibisono Andien meletakkan jajanan yang dibelinya di meja makan. Karena ia haus ia menuju alamari pendingin. Mengambil air dingin dan menuangkan digelasnya meneguk nya tandas.
Saat ia menuangkan lagi di gelas maksudnya hendak dibawa ke meja ujung matanya melihat Arjuna duduk di meja makan dan membuka kresek-kresek itu.
Dengan santainya ia makan cilok nya, "Ini enak beli dimana? " Tanyanya sambil mencomot serabi dan pukis. Melahab nya tanpa melihat Andien yang terdiam dengan mata mengembun.
"Ini enak semuanya. Dimana kamu beli? " Serunya tanpa berhenti mengunyah nya. Pandu berdiri di sisi nya diikuti Sari ibunya. "Kenapa kau memakannya? Apa kau sudah bertanya itu milik siapa? " Tanya Pandu dengan nada dingin.
"Bukan nya itu oleh-oleh? " Tanya Sari ragu. Pandu menatap istrinya yang cemberut dan sendu wajahnya. Wanita itu berjalan cepat dan menaruh gelas kasar didepan Arjuna.
"Makan aja sepuasnya! Kamu jahat, selalu saja mencuri jajanan ku! Kau punya uang kan? Kenapa kamu selalu saja merebutnya! " Sembur Andien setengah terisak dan berlalu. Arjuna melongo dibuat nya bingung dan Sari juga terhenyak, Pandu menatap Arya dan Ibunya kesal.
"Dia berjam-jam mencari jajanan itu. Katanya ingin makan itu. Karena di area perkantoran tak ada makanan itu! " Jelas Pandu. "Terlalu! Bisa kan tanya dulu baru memintanya? " Sungut nya kesal lalu berlari menyusul istrinya.
Andien meringkuk di ranjang dan terisak dalam diam. Pandu merangkak dan duduk disisi nya dan memeluk nya. "Maaf, sayang. Aku tak melihat nya, tadi aku sedang mengobrol sama Mama. Nanti kita jalan-jalan cari pasar malam. Mhn? " Bujuknya.
Wanita itu hanya diam. "Enggak mau. Dia selalu mencuri makanan ku. Arjuna nakal dari dulu. Alexander pernah memukul nya karena itu. Tapi dia masih saja mencuri. " Adu nya sambil menangis di pelukan Pandu. Lelaki itu terdiam, tidak biasanya istrinya bertingkah seperti anak kecil.
Ada yang salah padanya, namun lelaki itu mengacuhkan nya. "Nanti kita cari lagi ya? Atau sayang ingin main lagi nanti? " Hibur Pandu menawarkan opsi lain agar Andien tak menangis seperti anak kecil. Lelaki itu hanya diam mendengar isak tangis Andien.
Di lantai bawah Sari dan Arjuna makan jajanan yang dibawa Andien. "Ini enak banget. " Puji Sari. "Andien dari dulu emang suka berburu jajan beginian Ma. Aku suka sekali mencomot nya. Tapi dulu dia diam saja, aneh ya kenapa baru sekarang dia marah? " Gumam Arjuna.
__ADS_1
"Iya Mama juga melihat nya tadi. Seperti ekspresi nya seperti anak-anak yang direbut mainannya. " Lanjut Sari. "Jangan-jangan dia.. " Sari dan Arjuna saling menatap seperti sepaham dalam satu kalimat. Mereka tersenyum bersama.
Pandu duduk di ranjang bersandar di head board. Lelaki tak bergerak karena Andien sudah tertidur setelah dia menangis tadi. Kaki Andien membelit kakinya dan tubuh wanita itu melekat ditubuhnya. Sudah hampir dua jam ia dalam posisinya. Dan lelaki merasa kram pada kakinya.
Namun tak menyurutkan kasih sayang nya pada sang istri. Yang terlelap dengan wajah polosnya tanpa make up yang terlihat cantik di matanya. Tangan nya sesekali mengelus surai hitam nya dan mengecup nya sesekali.
Ia melirik jam di nakas sudah hampir terlambat untuk menjalankan ibadah sholat.
"Sayang.. Bangun yuk. Ini hampir terlambat kita belum shalat. " Bisiknya. Dalam sekejap ia membuka matanya lalu berjalan ke kamar mandi. Seolah-olah tak ada yang terjadi. Pandu berdiri dengan menahan sesak di celana nya.
"Andien kau menyentuh nya namun kau pergi begitu saja mengacuhkan nya. " Batinnya gemas melihat tingkah nya.
Sehabis menjalankan ibadah Pandu langsung membuka pakaiannya Andien hendak membuka handle pintu ditahan Pandu. Lelaki itu mengunci nya dari belakang. Ia mengunci pintu.
Mereka saling memagut bertukar slavina dan Pandu membawa ke ranjangnya. Di rebahkan tubuhnya perlahan-lahan ia memindahkan ciuman ke bawah. Dagu, lehe, dada, perut dan berakhir di bawah sana. Andien menggeliat dan mencengkeram rambut Pandu.
Sehingga ia terduduk lelaki itu langsung meringsek naik ke atas. Dan melakukan penyatuan nya. Pandu bergerak perlahan-lahan dan sesekali menciumnya dan meninggalkan gigitannya di pundak Andien.
Wanita itu mencengkeram pinggang Pandu kuat-kuat. "Cepatlah.. kumohon... " Desis Andien dan Pandu melakukan nya dengan tersenyum girang. "Bersama... sayang.. " Teriaknya hingga Andien merasakan kehangatan di sana dan ia terkulai lemah.
"Satu lagi ya sayang. Sehabis itu kita mandi dan berjamaah. " Andien tak menjawab karena Pandu sudah bergerak cepat.
__ADS_1
Nafas mereka memburu Andien memeluk erat lehernya saat menerima kehangatan di rahim nya. "Sebentar aku ingin seperti ini. " Pintanya manja.
"Waktu nya sayang hampir habis. " Bisik Pandu mengingatkan. Dan membopongnya dalam keadaan mereka bersatu. Mandi bersama di shower walau masih saja sesekali ia menggerakkan pinggulnya.
Pandu memanfaatkan waktu itu bersamanya. Dan ia segera membasuh istrinya mengejar waktu, mandi junub bersama dan berjamaah menunaikan shalat.
Pandu menata ranjangnya seusai beribadah sedangkan Andien turun ke bawah. Ia menuju taman belakang karena melihat ibu mertua sedang memasak.
Ia duduk di taman setengah melamun. "Tada.. " Arjuna berdiri dibelakangnya. Kembang gula (arumanis) disodorkan ke muka Andien. Juga ada jajan gulali dan martabak telur.
Andien tersenyum cerah dan meraihnya dan memakannya perlahan-lahan. "Terimakasih." Ekspresi nya seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.
Tak sengaja Pandu melihat nya saat Arjuna duduk di sisi Andien. "Jangan coba mengambil nya lagi! " Hardik Andien. Lelaki itu tergelak dan mengangkat tangannya.
"Sedang apa disini? " Suara Arifin menegurnya membuyarkan pandangannya. "Tak ada. " Jawab nya acuh. Arifin menatap arah yang dituju anaknya hanya tersenyum. "Jangan katakan kau masih cemburu pada adikmu! " Bisiknya sambil lalu dan Pandu mengikuti nya di meja makan.
Tak lama Andien dan Arjuna menyusul mereka di meja makan. Dan mereka duduk bersama. Pelayan menyajikan hidangan di meja disusul Sari duduk disebelah Arifin.
"Kau makan apa Andien? " Tanya ibu mertuanya. "Arjuna menggantikan makanan yang diambilnya tadi siang. Lain kali jangan main serobot saja! Aku akan memukul mu sampai mati ingat itu! " Hardik Andien.
Arjuna hanya meringis menatapnya. "Tak akan. Aku janji, tapi jika bisa belilah lebih. Kan kita suka makan jajanan enak. " Sahut Arjuna. "Asal kau mau mengganti uangnya tak apa. " Jawab Andien cuek.
__ADS_1
"Bukannya suamimu banyak uang segitunya kau sama aku. " Balas Arjuna tak mau kalah. "Kau kaya juga pelit. Dari dulu apa kau pernah mengganti makanan yang kau makan? " Balas Andien sengit. Semua yang dimeja hanya terdiam melihat interaksi keduanya.