
Hampir tengah malam Pandu pulang, Andien melirik jam di nakas matanya redup melihat suaminya keluar dari kamar mandi mengusap handuk kecil di kepala nya. Ia melihatnya mendekat namun wanita itu memilih memejamkan mata lagi.
Pandu melepaskan handuk nya yang melilit di pinggang dan masuk ke dalam selimut. Mendekati sang istri. Suara decapan ciuman nya bergema dan terus ia bergerak.
Wanita itu sudah berusaha mengibaskan mukanya walaupun dalam keadaan mata terpejam. Ciumannya menjalar kemana-mana dan Andien menyerah untuk kembali tidur.
Baju tidurnya sudah setengah terbuka saat ia membuka mata detik itu juga Pandu melesak masuk menyatukan mereka. Dia bergerak sambil terusan mencium bibirnya, karena gerakannya makin cepat.
Pandu melepas ciuman nya, detik itu Andien meringis kesakitan di bawah nya dan perutnya. "Stop it! " Teriaknya lirih namun Pandu mengacuhkan tetap pada ritme yang diinginkan.
Ia merasakan pelepasannya dan terdiam sejenak. Detik berikut ia menyalakan lampu dan menyingkapkan selimut. Wajahnya memucat, Andien hanya terkapar menatap Pandu dengan satu dan perlahan ia memejamkan mata.
"Andien. Please jangan tidur! Kenapa kau tak bicara jika menyakiti mu? " Lelaki itu menggunakan pakaian dan mengambil seprai dan menggulingkan ke tubuh Andien.
Ia berlalu dan menggedor kamar di samping kamarnya yang berjarak satu kamar. Karena kamar disebelah nya adalah ruang kerjanya. Sontak penghuninya lainnya terbangun.
" Ada apa Pandu ini jam dua pagi. " Keluh Sari. "Andien sakit bu, aku butuh Arjuna. " Jawabnya panik dan melihat adiknya keluar dari kamar dengan mengucek mata sambil menguap.
" Arjuna cepat ambil mobil nya antar aku ke rumah sakit. Andien pendarahan! " Teriak nya. Sontak ia masuk dan mengganti bajunya. Dengan mobil SUV Luxury Arjuna mengantar mereka ke rumah sakit terdekat. Pandu berjalan mondar-mandir didepan UGD sedang kan Arjuna hanya duduk kaku.
"Apa yang terjadi kak? " Tanyanya karena tak tahan menahan rasa penasaran. "Dia pendarahan. Aku mungkin karena kasar melakukannya, jadi.. entah. Ini bukan yang pertama kenapa ia mengeluarkan darah sebanyak-banyaknya? " Jawab Pandu bingung.
"Apa kau menggauli nya dalam keadaan menz? " Tanya Arjuna, Pandu menatap nya bingung. "Aku tak tahu. " Jawabnya pelan. Mereka terdiam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan. "Maaf, suaminya atau walinya yang mana? " Tanya dokter. "Saya suaminya, kami keluarga nya. " Jawab Pandu cepat.
"Maaf Tuan. Saya mengerti hasrat lelaki itu tinggi. Namun Anda harus berhati-hati dalam kehamilan nya trimester pertama. Ini sangat riskan dan saya harap Anda dapat menahan diri. Ini saran saya. " Pandu cengo mendengar penjelasannya dan Arjuna hanya terdiam dan nenahan tawanya dan berpaling.
"Saya sarankan berhati-hati dalam melakukan hal itu. Agar tak membahayakan bayi dan ibunya. Dan sekarang mereka dalam keadaan baik sebentar lagi dapat dipindahkan ke bangsal. Permisi. " Dokter pun berlalu.
"Dia bilang trimester pertama? Andien sedang dalam keadaan hamil? " Tanyanya pada Arjuna. Dan ia hanya menepuk pundaknya. "Selamat kak. " Ucapnya. "Aku pulang, ya? Jaga dia. " Bisiknya sambil lalu.
Di ruang perawatan VVIP Andien terlelap karena pengaruh obat dan Pandu ikut tidur di sofa nya dengan senyuman bahagia. Paginya Sari muncul bersama Arifin dengan bekal sarapan juga pakaian ganti Pandu.
Andien terbangun pukul delapan pagi dimana ruang itu penuh dengan Sari, Arifin, Arjuna dan Alexander, Donny Ardiansyah dan istrinya.
"Sayang selamat. Kau akan menjadi ibu. " Sari mengecupnya dan disusul yang lainnya. Alexander hanya berdiri di ujung kakinya. "Selamat Princess. Kau akan menjadi ibu. " Ucap Alexander pelan menatap nya dengan wajahnya sendu.
"Kenapa tidak bilang Mama jika kau sudah menikah dan sekarang sedang hamil. Berapa bulan sayang? " Tanya ibu Alexander sambil meneteskan air mata.
"Saya sungguh-sungguh tak tahu harus bicara bagaimana. Kejadian ini tiba-tiba dan tak ada persiapan. " Jawab Andien perlahan.
Ibu Alexander menatap sedih ke Andien karena dia tidak dapat menjadi istri putranya. Namun matanya melihat benda dileher Andien, yakni liontin.
"Maaf, apa itu liontin? Apa aku boleh melihat nya? " Tanya nya. Andien mengangguk. Wanita itu meraba Liontin dan membacanya seolah-olah memastikannya.
"Mama ada apa? " Tanya Alexander menatap ibunya. "Alexander, ini mirip milik Kakak ipar sepupu Namanya Andi Wiguna. Dia kehilangan putrinya sewaktu masih bayi. Dia di culik dan penculik nya tertangkap namun ia bunuh diri. Tapi putrinya tidak ditemukan. " Jelas nya sambil menangis. "Maaf." Kata nya.
__ADS_1
"Mungkin hanya kebetulan Ma. " Kata Alexander menenangkan juga Donny Ardiansyah. Lelaki itu memeluk istrinya yang menangis. Dia sejak awal berkenalan dengan Andien seolah-olah seperti kerabat hatinya dan ditambah kedekatannya dengan Alexander maka bertambah rasa cinta nya sebagai seorang ibu.
" Aku ditinggalkan di panti tgl 27 Mei.. " Belum selesai Andien bicara Donny Ardiansyah menyela nya. " Itu tanggal yang sama saat penculikan anak nya. Dia masih bayi, mengenakan selimut kuning dan stroller bermerk dan bajunya berwarna putih dengan bandana bunga di kepala babynya. " Jelas Donny Ardiansyah.
Andien menatap nya dengan raut muka tak dapat diartikan. Wanita itu meraih handphone nya. " Apa seperti ini? " Tanya nya ragu. Donny Ardiansyah dan istrinya menatap nya.
Pecah tangis wanita itu dan Donny Ardiansyah hanya terdiam memeluknya menyalurkan kekuatan. "Andien. Kau adalah putri kakak ipar sepupu kami. Ibumu adalah kakak sepupu ibu Alexander."
" Ia sudah meninggal sesudah melahirkan mu karena kecelakaan. Kau dan Alexander lahir di tanggal yang sama, selisih dua jam. Karena itu aku tak dapat membantu kakak ipar. Sekarang aku sudah dapat membalas nya. Karena sudah menemukan mu. " Jelas Donny Ardiansyah.
Andien menangis tersedu. "Kau tak di buang Andien, kau diculik. Papa mu melakukan investigasi hingga sekarang belum berhenti mencari mu. " Lanjut Alexander menjelaskan.
Suasana menjadi haru karena kabar gembira itu.
Alexander mendekat dan menggenggam tangannya erat-erat. "Kini jelaslah kenapa aku begitu menyayangi mu lebih. Dan kebersamaan kita selama ini. " Ucapnya lirih dan mencium puncak Andien.
Disaat yang sama Pandu melihat nya dan langsung menarik Alexander dan menghadiahkan tinjunya. Semuanya memekik histeris dan terkejut. Pandu ditahan dengan Papa Arifin dan Papa Ardiansyah.
"Tahan Pandu. Jangan gegabah! Ini rumah sakit. " Kata Papa Arifin. "Brengsek! Berani sekali kau menyentuhnya! " Maki Pandu berapi-api karena emosi.
"Cukup. Pandu mari kita berpisah. " Teriak Andien. Semua terdiam dan terkejut. Pandu mendekat setelah cekalan ditubuh nya lepas.
"Sayang. Aku minta maaf karena menyakiti mu dan bayi kita. Aku minta maaf. Aku ada meeting pagi ini jadi.. " Belum selesai Pandu bicara sudah dipotong Andien.
__ADS_1
"Pergi! Kau bahkan masih menemuinya. Aku mencium baunya ditubuh mu! " Kata Andien sengit dan Pandu terperangah. Semuanya menatap ke Pandu dengan curiga.
"Kau selingkuh Pandu? " Teriak Sari melengking. Wildan dan Arjuna yang baru masuk menjadi bingung saling menatap, juga menatap semuanya karena suasana yang tak kondusif juga teriakan Nyonya besar Wibisono. Selingkuh? Pandu?