
Bagaimanapun Arsha dan Arya bersaudara satu ayah lain ibu. Mereka seharusnya bersama dan saling melengkapi bukan sebaliknya. Mereka berdua ingin yang terbaik untuk semuanya. Tanpa ada salah paham apalagi perseteruan.
***
Braak. Dokumen laporan di lempar begitu saja di meja rapat. Semua staf yang hadir menunduk, tak ada yang berani mengangkat muka. "Apa kalian makan gaji buta? Hanya segini kemampuan kamu berikan pada perusahaan? " Teriak lantang seorang pria berparas rupawan. Tatapan mata yang tajam menyapu ruangan rapat, tak ada yang berkutik.
Hanya sekedar bernafas saja pastinya harus mendapatkan ijin dari lelaki rupawan itu. "Aku ingin ide baru bukan revisi yang lalu atau sejenisnya. Aku beri waktu dua hari untuk mengubah nya! " Ucapnya sambil meninggal kan tempat duduknya.
Sang sekretaris ikut melangkah mensejajarkan langkah nya mengikuti atasan nya. "Cari tahu tentang wanita itu. Apa hubungannya dengan Arsha! " Titah nya saat masuk ke ruangan nya. Sang sekretaris hanya menganggukkan kepala mengerti.
Lelaki rupawan itu tak lain adalah Arya, sekretaris nya Aldan sahabatnya Setelah dewasa ia menggantikan ayahnya memimpin perusahaan milik keluarga Wibisono. Sedangkan adiknya Aris menjabat di anak perusahaan lainnya.
Arya duduk di bangku singgasana dengan membaca berkas dan laptop menyala di meja pun ia masih kesal. Ingatannya kembali pada saat berangkat kerja.
Brak.. Nging... Suara benturan akibatnya pintu besi dibuka berbenturan dengan motor matic yamaha aerox pun terpental ke samping meluncur bebas menabrak pedagang dan para pelanggan yang makan di tempat.
Area menjadi kocar-kacir dan berantakan. "Shiit" Arya mengumpat karena keteledoran nya membuka pintu mobil membuat celaka orang banyak.
Lelaki rupawan itu berjalan ke arah kerumunan orang yang kocar-kacir itu dan meminta maaf. "Maafkan saya yang ceroboh." Ucapnya menatap orang-orang sekitar dan mencari pemilik motornya.
Yang dikerubuti banyak orang-orang. Saat ia berhasil menyeruak orang-orang tersebut terlihat seorang wanita dengan rambut cepak dan pakaiannya kasual dengan jaketnya atribut kepolisian jelas dia penegak hukum.
Lagi terlihat di sela lengannya ada pistol terselip. "Maafkan saya, saya.. " Belum selesai ia berbicara wanita itu melepaskan helmnya dan tersenyum. Deg. Arya tertegun menatap nya.
Wanita cantik, polos tanpa make up dengan rambut pendek, alis mata tebal dan bulu mata lentik, hidungnya mancung. Bibirnya tipis sedikit merah muda.
__ADS_1
"It's okay. Aku yang ceroboh. Seharusnya aku pelan jalan nya. Maaf membuat keributan. Tolong kau ganti rugi sama bapak jualan saja, bisa kan? " Tanya balik wanita itu.
"Kinan. Astaghfirullah! Punya nyawa berapa kau itu? Dasar ceroboh! Cepat! Komandan udah nunggu di TKP. Celaka tahu. " Seorang lelaki berambut cepak dengan seragam dinas nya komplit menegurnya.
"Iya.. iya... lagi jalan.. Bang nitip motornya. " Seru Kinanti kepada abang jualan sambil mengambil kunci motornya dan berlalu.
Dengan kaki terpincang-pincang ia berjalan ke arah depan mengikuti rekannya. Tanpa menoleh ke arah lelaki yang menabrak nya tadi.
"Maaf, pak. Saya ganti ini dulu. Nanti saya suruh asisten saya untuk menambah lagi uang nya. " Arya memberikan uang yang ada di dompetnya.
"Ini lebih dari cukup pak.. Dagangan saya masih utuh, hanya bangku aja patah itu juga murah. " Jawab abang jualan kaki lima.
Arya tak menghitung jumlah nya, langsung saja dia mengambilnya saja uang yang ada.
Pedagang kaki lima itu mengangguk paham. Arya pun berlalu ke mobilnya. Macet panjang sudah dapat di urai dan mereka di alihkan, "Rupanya ada peristiwa pembunuhan, Tuan Arya. Makanya kita di minta memutar arah lihatlah ada garis polisi. " Pak Dira selalu sopir setia keluarga Wibisono berkata pada majikannya.
Arya semakin kusut saat melintasi area tersebut, saat bersamaan ia melihat dua orang yang tadi di lihatnya sedang berdiri membelakangi dan di hadapan nya adalah Arsha.
Adiknya beda ibu itu lebih memilih mengabdi negara di bidang hukum. Ia pun tak ambil pusing, nyatanya Arsha selalu menjaga jarak dengan nya. Semenjak pulang dari makam bersama waktu itu. Arya pun tak pernah datang ke pemakaman Ayah-nya Pandu.
Mobil yang mengantarkan Arya sudah menjauh dan Arsha melepaskan kaca mata hitamnya. Melihat ke arah mobil tersebut menghilang.
"Kalian kerjakan apa yang ku arahkan. Dan hati-hati juga semoga cepat selesai kasusnya. " Perintah Arya dan ia pun membubarkan anggota nya.
Pagi itu ada orang di tusuk di tempat dan alat bukti masih menancap di perut korban. Dan ia meninggal dunia, karena tak ada yang mengetahui kejadiannya. Korban mati kehabisan darah.
__ADS_1
Kebetulan mayatnya ditemukan oleh tukang sapu jalanan, karena tubuhnya berada di jalanan utama kota. Ada jarak saat ditemukan korban telah berjalan ada 600m.
Kemungkinan besar dia berjalan mencari bantuan atau berusaha untuk pergi ke tempat medis untuk mengobati dirinya sendiri.
Kinanti dan rekannya berjalan menyusuri TKP. Dan mereka mengamankan TKP juga mencari bukti tentang adanya kartu Identitas ataupun semacamnya.
Arya mengangkat wajahnya saat mendengar ketukan pintunya. "Masuk! " Serunya. Aldan berjalan masuk dengan langkah lebar ia menuju ke arah atasannya.
"Saya sudah mengetahui identitas nya. Namanya Kinanti Gumelar. Putri tunggal dari pasangan Agam Gumelar dan Ayu Lestari. Keduanya sudah meninggal dunia, ia dibesarkan oleh rekan kerja ayahnya dan mendapatkan beasiswa, juga kerja paruh waktu saat remaja. Status single. "
Aldan memberikan map yang berisi dokumen pribadi tentang Kinanti Gumelar. Dan Arya pun membacanya. "Kau boleh pergi! " Usirnya menatap Aldan.
"Ck". Aldan berdecak kesal meninggalkan ruangan atasan nya tanpa menoleh ke arah bos nya.
" Habis manis sepah di buang. Keterlaluan! " Gumamnya, Aldan masih memikirkan karirnya dan sekaligus penghasilan nya.
"Jika kau masih cerewet akan ku potong gaji dann tunangan mu! " Ancam Arya.
"Ish. Sadis memang kamu Arya, padahal om dan tante itu orang yang baik. Kenapa kau jadi sadis berbanding terbalik dengan orang tua mu. " Cibir Aldan yang masih mengomelinya.
"Terserah kamu. Aku yang berkuasa di sini bukan mereka. Mengerti? " Sahut Arya tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.
Tentunya ucapan Arya hanya ungkapan kata saja tanpa ada makna. Lelaki itu sudah biasa berdebat dengan sekretaris nya itu. Karena mereka sudah sangat dekat dan faham kebiasaan atau apa pun yang tak di sukai oleh masing-masing.
(Author sengaja mempersingkat cerita takut kebanyakan dan malah bosen. Maaf ya jika telat up date. 🙏)
__ADS_1