Dilemma

Dilemma
46. Insiden


__ADS_3

Kinanti Gumelar gelisah di kamar hotel , setelah mua merias nya dan membantu bersiap mereka undur diri. Wanita cantik itu mondar-mandir di ruang kamar presiden suit room. Kamar yang sudah di dekorasi ala pengantin di ranjangnya dihiasi bunga mawar merah.


Ia menenguk air minum nya hingga tandas. Pasalnya prosesi ijab nya di lakukan secara tak biasa, ia tak diijinkan turun dan duduk di samping mempelai.


Entah mengapa melalui TV yang di kamar hotel tempat Kinanti Gumelar, acara sakral itu tersambung. Kinanti melihat dari acara doa bersama, kemudian proses ijab qobul nya.


"Mengapa jadi aku di kurung? Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa juga kamar ku di kunci? " Batinnya gelisah menatap pintu masuk yang terkunci rapat.


Ia pun memutuskan untuk keluar ke balkon karena sayup-sayup ia mendengar sirene. "Apa ada darurat, mengapa ada mobil ambulan dan polisi? " Kinanti menatap kesibukan di lantai bawah dari atas balkon kamar.


**


Sepuluh menit sebelum acara. Nampak seorang wanita muda dengan berdiri di sudut ruangan hall yang di gunakan untuk prosesi ijab dan sekaligus resepsi pernikahan Arya-Kinanti, terdapat foto besar di pajang di pintu masuk juga nama kedua mempelai. "Ini benar-benar tak bisa di biarkan. Jika aku tak menjadi miliknya maka dia juga tak berhak memilikimu ! " Desis suara kecilnya.


Tak ada yang memperhatikan keberadaan wanita itu, karena suasana ramai tamu yang mulai memadati ruangan, nampak tim keamanannya yang berjaga.


Arya masuk lewat pintu khusus bersama dua saudara nya yang mengenakan pakaian yang sama, sesuai tema yang di ambil Arya. Ruangan di hiasi aneka bunga berwarna putih karena Arya tahu Kinanti Gumelar suka warna putih.


"Tenang kak. Kau tampan dan terlihat hebat . Percayalah dia akan datang sebentar lagi. " Bisik Aris seraya merangkul pundak nya. Arya hanya tersenyum tipis dan Arsha nampak terdiam. Ia lebih diam seperti patung kala mendekati hari H nya.


Dania berjalan mendekati ketiga lelaki itu. Terlihat bahwa Aris lah yang aktif berbicara namun kedua lelaki itu hanya terdiam saling melemparkan senyuman.


"Aku tak akan pernah biarkan dia bersama mu. Jika aku tak dapat bersama mu maka dia pun tidak! " Teriak Dania. Semua atensi berubah ke arah Dania.


Stret. Sret. Dua tembakan di lancar kan ke arah Arya. Senpi itu menggunakan peredam sehingga tak ada suara yang memekakkan telinga.


"Tidak! " Teriakan Andien menggema di hall wanita cantik itu menatap ke arah ketiga putra nya yang ditodong senjata itu. Arjuna dan Arifin berlari ke arah ketiga penerus Wibisono. Sedangkan Sari pingsan melihat insiden tersebut.

__ADS_1


Bruk. Dania di lumpuh kan oleh para staf keamanan namun wanita cantik itu masih menggeliat ingin memastikan korban nya. Namun niatnya tak dapat terlaksana karena dia sudah di amankan.


"Kak.. Maaf. " Arsha memeluk Arya dan tubuhnya luruh.


"Tidak! Bangun Arsha. Bangun! " Teriak Arya panik.


"Kak jangan bikin kita takut. Kak. " Aris melepas bajunya untuk menembel darah yang keluar dari punggung Arsha. Namun sia-sia saja karena darah merembes keluar.


Arjuna menelpon rumah sakit dan meminta ambulan juga meminta dokter berjaga di tempat. Namun baru menempelkan ponsel nya.


"Kami sudah melaporkan ke pihak berwajib dan ambulan dalam perjalanan. Maaf ada dokter yang kebetulan menginap dalam perjalanan menuju kemari untuk membantu pertolongan pertama. " Ucap manager hotel gugup.


"Arya tenang. Arsha anak kuat, ya kan Arsha?" Arifin mencoba menenangkan ketiga cucunya.


"Kak.. " Aris tak habis mencucurkan air matanya.


"Bunda di sini. Tenanglah anak bunda yang hebat. " Sari membelai wajah Arsha yang berbaring di pangkuan Arya.


Beberapa detik sebelum kejadian, saat Dania berteriak histeris dia (Arsha) melihat gerakan dan benda yang tersimpan di tas cantik itu bukan benda biasa.


Dengan gerakan cepat Arsha menjadikan tubuhnya menjadi tameng Arya. Dan sekarang lah pemuda ini terkapar setengah sadar di kelilingi keluarga.


Dokter datang dengan peralatan medis dan kotak p3k yang ada di hotel. Juga ada beberapa staf hotel datang dengan perban dan kapas.


"Saya hanya memberikan bantuan agar darah tidak banyak keluar. Semoga ini membantu hingga pasien bertahan. Sampai mendapatkan penanganan dari tim medis sebenarnya. " Ujar lelaki paruh baya tersebut.


"Wanita gila itu harus membayar semuanya juga keluarga nya jika sesuatu terjadi pada putraku. " Andien mengumpat marah menatap Arsha yang terdiam menatapnya sayu.

__ADS_1


"Tak lama lagi. Sudah waktunya kak. Jangan sampai melewati waktu baiknya. " Arsha berkata lambat menatap kedua saudara nya.


"Kau sedang sakit Arsha kita bisa mencari hari lainnya. Dasar bodoh! " Arya berpura-pura menghardik Arsha.


"Bunda." Cicit Arsha lirih. Andien bergerak menggantikan Arya. Seolah-olah mengerti keinginan sang putra.


"Arya ganti bajumu. Dan lakukanlah tugas mu! Di sini kami melihat dan mendampingi mu! " Titah Andien. Arjuna dan Arifin mengangguk perlahan.


Pihak WO memberikan baju pengantin baru berwarna putih. Sudah menjadi tugasnya mereka menyediakan baju cadangan mencegah terjadinya peristiwa yang tak diinginkan.


Maka Arya melakukan dengan cara video dan mencegah pengantin nya turun. Dia takut jika Calon istri nya shock melihat insiden ini.


Maka prosesnya pun tetap dilaksanakan dengan cepat bersamaan tim medis datang juga pihak berwajib.


"Aku yang akan mendampingi nya! " Seru Arya. Andien menatap putra nya.


"" Aris kau jaga Bunda, nenek dan kakek juga dia. Biar aku dan Ayah yang mendampingi nya. Siapkan kofrensi pers di rumah dan hubungi pengacara. Jangan pernah biarkan dia lolos. Dia harus membayar setiap tetes darah dan air mata keluarga kita! "


"Baik kak. Akan aku lakukan. " Aris menjawabnya dengan gemetaran.


"Kakek yang akan melakukannya dengan Aris pergilah! Dampingi dia! " Arifin memeluk cucunya dengan penuh keyakinan.


Andien menatap kepergian tiga orang yang dikasihi nya. "Jangan biarkan dia pergi! Buatlah dia bahagia dengan penuh cinta" Gumam Andien. "Maafkan Bunda yang pernah mengacuhkan mu. " Batin Andien menatap punggung orang-orang di depan nya yang menjauh.


Ceklek. Pintu buka dari luar kamar. Kinanti berjalan cepat menuju ke arah luar, agak kesusahan karena mengenakan kebaya dan high heels.


"Kak, maafkan kami. Acaranya tak sesuai dengan keinginan semua. Kita harus pulang. Bunda juga Nenek menunggu kita di bawah. Ayo. " Aris memanggilnya, mata Kinanti Gumelar menyipit saat melihat noda di t shirt polos itu.

__ADS_1


Jelasnya itu bukan noda biasa, walaupun tidak terlihat merah karena berwarna hitam. Kinanti Gumelar hanya menurut mengikuti lelaki itu yang menyeret koper dan membawa paper bag milik nya.


Sepanjang jalan hanya kesunyian tak ada pembicaraan atau pun lirikan ke dua nya seperti orang asing, berjalan berdampingan namun tak menyapa.


__ADS_2