
Tak lama mobilnya meluncur ke jalanan keduanya terdiam. Suasananya canggung karena mereka baru kenal keadaannya yang membuat mereka harus mendekat.
Kuda besi lexus silver yang dikendarai Arya memasuki gerbang pagar kediaman Wibisono. Kinanti tertegun menatap bangunan mewah di depannya.
Seorang pelayan mendekati mereka. " Tolong turunkan kursi roda nya. " Seru Arya yang berjalan memutar membuka pintu penumpang. Segera mengangkat tubuh Kinanti dan meletakkan di kursi roda.
Bersamaan motor besar mendekat dan diparkir di samping nya. Arsha yang ada di atas motor nya tertegun. Bertatap muka Arya yang hendak mendorongnya.
"Apa yang kau lihat? Masuklah. Mereka menunggu! " Tegur Arya dengan wajah datarnya. Arsha menatap punggung kakaknya yang menjauh. "Jadi benar dia yang meminta ku pulang. " Gumamnya lirih berjalan mengikutinya.
Setengah melamun teringat tentang telepon tadi siang dari Pak Dira sopir keluarga Wibisono. "Assalamu'alaikum, Den Arsha? "
"Walaikum salam. Iya Pak Dira? " Arsha mengerutkan dahinya saat mengenali suara penelepon.
"Den Arya memerintahkan saya untuk memberi tahu bahwa Nyonya Andien ingin bertemu dengan Den Arsha. Kangen katanya. Den Arya meminta Anda pulang. Jika ingin menginap di asrama, paling tidak sempatkan untuk makan bersama dengan Bunda. "
"Pesan beliau. Jangan melakukan sesuatu yang membuat Bunda resah karena Bunda selalu memikirkan Den Arsha," Kalimat yang di ucapkan Pak Dira masih diingat oleh Arsha.
"Terimakasih, kak. Kau sudah memperdulikan aku. " Batinnya bermonolog. Terdengar Arya mengucapkan salam dan di jawab sang nenek. Sari Wibisono.
"Assalamu'alaikum."
"Walaikumsalam. Arya, siapa dia yang kau ajak? " Nampak Sari berdiri diikuti Arifin dibelakangnya.
"Teman Nek. Dia terluka karena aku tadi pagi, dan ia tinggal sendirian. Jadi aku bantuin jaga, karena ia type tak mau merepotkan orang di sekitar nya. Bahkan ia nekad kerja tadi dan tak mengobati lukanya. " Sungut Arya sambil lalu.
"Maaf, aku ke atas membersihkan diri dulu. Kau ngobrol aja sama keluarga aku. Dia bawahan Arsha nek. " Seru Arya sambil lalu.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum" Arsha ganti mengucapkan salam.
"Walaikumsalam salam. Kata Pak Dira kau pulang, katanya kakakmu melihatmu di jalan. Dan ia menelpon mu?" Sari berbisik seraya memeluk tubuh tegap cucunya.
"Iya, nek. Aku tinggal di asrama. Karena kasus rumit yang kami tangani. Maaf, tidak memberitahu semuanya. " Jawab Arsha menatap Arifin.
Lelaki tua itu mengelus wajah cucunya dan menepuk-nepuk pelan bahunya. " Yang penting jaga kesehatan mu dimana pun kau berada, kami selalu memikirkan mu. " Arifin mengatakan hal yang menenangkan cucunya, karena tatapan mata Arsha yang sendu.
Mereka duduk bersama di ruang tengah. Tak lama muncul Aris dan Arjuna dan di belakang ada Arya. "Wah kumpul bareng. Ini seru, kakak kapan pulang, dan siapa wanita imut ini? " Aris menatap ke-dua ingin tahu.
Belum di jawab Andien muncul dari arah pantry yang menjadi satu dengan ruang makan.
"Arsha kau pulang, nak? Bunda kangen. " Andien memeluk putra sambung nya, wanita itu tak membedakan putra nya. Arsha menunduk badannya agar sang ibu dapat meraih wajahnya. Karena kebiasaannya Andien memeluk dan mencium puncaknya.
"Bunda maaf, baru dapat pulang. " Katanya lirih. "Kau selalu saja asyik dengan pekerjaan mu! Kakak dan adik sama saja. Kapan Bunda melihat kalian berkencan atau memiliki istri? " Omel Andien.
"Bukan aku yang mengajaknya Bunda! " Seru Aris sambil angkat tangan.
"Dia anak buah aku Bunda, kebetulan juga teman Kakak. Dia yang mengajaknya kemari, karena Kinanti memang wanita mandiri. " Jawab Arsha.
"Kinanti? Nama yang cantik. Bunda suka akhirnya kakak memiliki teman juga. " Andien menyalami tamunya.
"Kinanti tante, maaf. Saya akan merepotkan semuanya. " Cicitnya sambil menundukkan wajah.
"Ayo kita duduk Kakak lapar Bunda. " Arya memegang gagang dorong kursi roda. Semuanya mengambil posisi duduk nya. Dan menikmati hidangannya. Tanpa suara, Kinanti canggung saat Arya mengambilkan makanan di piringnya. Dan juga sesekali melirik ke arahnya. Selesai makan malam mereka duduk kembali di ruangan keluarga.
"Kakak, sudah berapa lama kakak kenal Kinanti? ' Tanya Andien memulai percakapannya.
__ADS_1
" Baru beberapa jam, Bun. Aku harap kita bisa kenal lebih jauh lagi. " Jawab Arya. Kinanti nampak memerah mukanya dan kikuk.
"Kinanti Gumelar tinggal dengan ayah angkat nya. Sahabat ayahnya Bun. Dia mandiri sejak remaja. Orang tuanya kecelakaan mobil beruntun di jalan tol. "
"Prestasi di akademik berprestasi, cocok untuk menjadi pendamping Kakak. Dia sangat berkompeten dalam pekerjaannya. " Arsha ikut menimpali percakapannya.
"Saya tak sehebat itu Letnan. Anda berlebihan. " Sahut Kinanti Gumelar.
"Itu fakta di mataku, walau sedikit ceroboh dan gegabah. Terkadang kau salah perhitungan dan mengabaikan keselamatan dirimu sendiri. " Jelas Arsha.
Semuanya memandang perdebatan keduanya. "Mereka satu tim, dan Arsha lah pimpinannya. Jadi wajar jika seperti itu. " Arya menjelaskan keduanya yang terlihat akrab dalam perbincangan.
"Arsha sangat terkenal di antara sesama rekannya, Bunda. Kau bangga kan mendapat putra hebat. Jadi bukan Arya dan Adik saja yang berprestasi. " Arya menatap Arsha lekat.
"Dia tak mau pamer kehebatan nya diantara kita. Karena itu ia melarang Ayah atau Bunda datang ke sekolah dulu, juga datang saat dia di lantik. Dia mengubur semuanya diam-diam untuk memberikan kejutan. " Lanjut Arya.
"Ayah mengetahuinya. Karena kami diam-diam datang ke sekolah dan merahasiakan semuanya. Benar kan Bunda? " Andien mengangguk pelan dengan air matanya mengembun. "Kenapa kau lakukan itu Arsha, melarang guru menceritakan prestasi mu? Apa yang kau raih kau simpan di kotak kardus tanpa mengatakan apapun pada kami. " Tanya Andien.
"Kau bahkan dapat menyelesaikan kasus Pembunuhan berantai tentang wanita pekerja itu. Kau hebat. " Puji Arya.
"Kakak, aku hanya melakukan pekerjaan saja, tak lebih. Aku mengerti posisi aku di rumah ini. Rasa sakit itu pasti akan ada seumur hidup kita. " Jawab Arsha.
Kinanti Gumelar menangkap ekspresi sendu dan kesedihan di wajah Arsha. Idolanya. Ia juga menangkap ekspresi orang-orang di sekitarnya yang serupa. Hanya Arya yang datar tak menampakkan ekspresi muka yang sama.
"Masa lalu menghilang dikubur dengan waktu, dan waktu juga yang menyembuhkan luka yang ada. Aku rasa kamu mengerti akan itu. Dan bukan salah kita sebagai anak-anak menanggung perbuatan dari orang tua yang tak bertanggung jawab. "
"Kita harus melihat masa depan dan belajar dari kesilapan, kesalahannya agar tak melakukan sesuatu yang lebih buruk dari itu."
__ADS_1
Arya memandangi Arsha dengan ekspresi tak terbaca. Arsha menatapnya dengan haru, semua tak terkecuali. Hanya Kinanti Gumelar yang tak mengerti arah pembicaraan mereka.