
Ambulans berhenti didepan UGD membawa Andien dan Sari. Para tim medis memberikan pertolongan dan melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap keduanya. Alexander berdiri di depan ruang penanganan medis.
Tak berselang lama Arjuna muncul dengan wajah kusut nya. "Bagaimana keadaannya? " Tanyanya. Entahlah dia mengalami guncang jiwa. Mama mu sudah sadar dan dia baik-baik saja setelah melakukan penanganan. Intinya dia hanya shock." Jawab Alexander.
"Dia di kamar inap. Di temani perawat. " Lanjut Alexander setelah menjelaskan panjang lebar. "Siapa yang melakukan hal itu? Kami tak memiliki saingan seperti mafia. Semuanya sebatas normal dan tak menyinggung pihak manapun. " Gumam Arjuna.
"Mereka mengincar kakak mu dan istrinya. Nyatanya ibumu tak mereka sentuh. Andien yang terakhir, mereka langsung membius mamamu. " Alexander memberikan asumsinya.
"Jangan sampai ibumu tahu, Ayahku sudah memblock berita ini agar tak bocor. Juga mencari Pandu secara diam-diam. " Alexander memberitahu. Arjuna mengangguk pelan.
"Aku tahu. Papa dan Om Ardiansyah tadi memberitahu ku. " Sahutnya cepat. "Kata dokter tadi ia mengalami kontraksi hebat. Dan aku menandatangani surat pernyataan. "
"Ku rasa Andien melihat sesuatu yang di luar batas kemampuannya. " Arjuna menanggapi omongan Alexander. Dan Lelaki itu mengangguk paham. Dokter keluar setelah dua jam lebih.
"Maafkan saya, bayinya terpaksa kami keluarkan karena psikis sang ibu berdampak pada bayinya. Masih ada di inkubator karena gangguan pernafasan dan kami harus memantau perkembangan selanjutnya. "
Arjuna dan Alexander hanya mendengarkan penjelasan dokter dengan cermat. "Bayinya berjenis kelamin laki-laki. Kami akan mengobservasi dan memantaunya untuk beberapa waktu kedepannya. "
Seusai penjelasan dokter mereka terdiam dan mengikuti perawat RS yang membawa Andien ke ruang rawat inap. Karena Andien masih dalam pengaruh obat bius Arjuna memutuskan melihat keponakan nya yang di ruangannya yang terpisah dengan dinding kaca.
Di box inkubator ia melihat bayi itu memakai alat bantu pernafasan dan benda-benda tersebut menempel di badannya yang kecil. Arjuna memotret dari tempatnya dan dikirimkan ke Papanya. Sedangkan ia masih setia di sana.
__ADS_1
Di sebuah rumah besar. "Kau gila. Kenapa kau membawanya pulang? " Teriak Stella pada kakaknya Camelia. "Aku gugup. Rencananya aku hanya memintanya untuk melenyapkan Andien." Wanita itu termangu.
"Namun Pandu entah mengapa ada di sana. Aku bingung lalu aku rubah rencana karena ada polisi yang datang ke tempat. Yang kuinginkan Pandu. Asal ada tubuhnya aku dapat memberi obat dan kita menyatu sudah selesai. " Lanjut nya. Stella hanya geleng-geleng kepala, tak lama dokter keluar dari kamar.
"Dia harus ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis. Aku hanya dapat memberikan perawatan luar saja. Untuk lebih jauh nya harus dirumah sakit untuk observasi pengobatan. Karena kepala yang terluka berat. " Dokter menjelaskan semuanya.
Camelia tak mau mengambil resiko maka hanya mengangguk saja. "Tolong rahasiakan ini dokter. " Ucapnya tak lupa ia memberikan bayaran yang sepadan agar dokter itu tutup mulut.
Dikamar. Pandu tergeletak tak berdaya dalam keadaan tak sadar diri. Luka kepalanya dapat Camelia atasi namun memori bagaimana? Ia cemas dan takut. Pandu akan marah dan membunuh atau menuntutnya. Nyawanya seperti diujung tanduk.
Malam hari Pandu terjaga, Stella menemuinya dan menanyakan apa yang dipikirkan oleh nya. "Bagaimana apa kau merasakan sakit atau... " Belum selesai Stella bertanya Pandu menatapnya. "Kau siapa? "
Stella terbelalak terkejut, " Kau tak ingat aku? " Tanyanya ragu. Pandu menggeleng matanya memindai ruangan yang ditempatinya. Stella mengambil ponselnya dan mengetik lalu mengirimkan ke Camelia.
"Kau lupa padaku? " Lelaki itu mengangguk. "Aku tunangan mu. Kau lupa sayang? Ini tak lucu sebentar lagi kita menikah dan kau sibuk dengan bisnis mu saja." Rajuk nya. Wanita itu langsung memeluk Pandu. Hati nya bersorak girang karena lelaki itu amnesia.
Stella hanya terperangah melihat keduanya tak percaya seperti cerita novel saja, pikirnya. Stella memutuskan keluar dari kamarnya meninggalkan Pandu dan Camelia.
Sejak hari itu mereka bersama dan Pandu diarahkan cerita versi Camelia. Bahwa ia keluar dari keluarga karena ingin memulainya bisnisnya sendiri diluar negeri.
Tanpa bantuan keluarga karena mereka menentang cinta mereka. Pandu sangat mencintai Camelia dan membuka bisnis baru di Singapore karena pulang pergi dan bekerja ia kecelakaan dan tak mau dirawat di rumah sakit karena tak ingin meninggalkan Camelia.
__ADS_1
Yang menakjubkan Pandu menerima saja cerita itu. Padahal Stella sangat takut jika cerita itu disangkal juga memori Pandu kembali.
Sejak saat itu Pandu tinggal di rumah tersebut. Dan kegiatannya Pandu di perusahaan yang memang dirintisnya baru di Singapura. Camelia mengetahui hal ini karena ia menstalker Pandu.
Mereka melewati waktu bersama layaknya sepasang kekasih. Camelia selalu bermanja-manja pada Pandu bahkan sesekali ia memberikan obat sedikit untuk memancing nafsunya di setiap makanannya.
Dan Camelia selalu memancingnya sedikit. Dengan memeluk atau menciumnya sepintas. Dan berhasil memancing hasrat Pandu. Beberapa kali mereka bercinta, secara intens walau tidak tiap hari.
Karena Camelia ingin terlihat natural tak memancing kecurigaan. Seperti saat ini mereka saling berpacu dalam kenikmatan. "Faster beib. Ya.. Akh.. " Camelia tak henti bersuara dibawah Pandu yang bergerak cepat di atasnya. Lelaki itu menggila bergerak kasar sesuai perintah Camelia yang tak puas sekali.
Camelia mencengkeram ranjang saat pinggulnya dicengkeram Pandu dan di hentak dengan dalam dan ditekankan. "Bersama sayang.. " Teriak Pandu.
Keduanya ambruk bersama dan Pandu langsung melepaskan diri terkulai Camelia menarik selimut dan menyelimuti mereka berdua. Karena Pandu tak pernah melakukan hal itu. Lelaki itu hanya sekedar meniduri nya tanpa mengucapkan sepatah kata.
Ada jarak diantara mereka walaupun Pandu mesra padanya, juga perhatian namun tidak seperti tindakannya pada Andien dulu. Camelia merasakan nya, "Apakah ini rasanya hubungan tanpa cinta? Sungguh hampa dan ada yang kurang. " Setetes air matanya menetes buru-buru ia hapus takut Pandu melihat dan curiga.
"Sudah hampir satu tahun kita tinggal di Singapura setelah kecelakaan itu. Jangan sampai dia kembali dan keluarga nya tahu tentang ini. Urusannya akan rumit dan bahaya." Pikir nya.
Pandu menggeliat buru-buru Camelia masuk dalam pelukan nya dan menciumnya. Pandu membalasnya namun dalam mata terpejam.
Lelaki itu langsung merespon dengan tindakan Camelia pada tubuhnya. Camelia sudah lama tak menggunakan alat kontrasepsi ia berharap lekas hamil, semenjak ia bercinta pertama kali dengan Pandu ia sudah tak meminumnya.
__ADS_1
Ia ingin memiliki anak dari nya. Jujur ia sudah tak perawan saat melakukan hal itu dengan Pandu. Karena dunia model dan gaya bebasnya. Itulah yang menyebabkan mereka putus dulu.
Namun beda dengan sekarang Pandu amnesia dan ia sudah tak menjadi model lagi. Semua demi Pandu apapun itu akan ditempuh oleh Camelia.