Dilemma

Dilemma
33. Memahami


__ADS_3

Entah apa yang akan terjadi ke depannya, wanita itu merasakan sesak hatinya. Putra kesayangan nya perginya dengan cara menyakitkan. Akankah dia dapat menerima anak dari wanita yang telah melenyapkan putranya. Tapi anak itu tak bersalah wanita jahat itu yang memisahkan mereka.


Alexander mengurus segala sesuatu nya untuk membawa Pandu pulang. Menyemayamkan di rumah duka. Banyak tamu, baik kerabat atau relasi dan sahabat. Datang mengucapkan bela sungkawa juga diantaranya ikut menghantarkan ke pemakaman.


Sari masih tersedu di depan peristirahatan terakhir sang putra. Arya dan Arsha juga berdiri ikut serta tak jauh dari nenek nya, keduanya berdiri disisi berbeda mengapit sang nenek.


"Papa.. Kau janji tak pergi. Mengapa kau tinggalkan aku. " Isak Arsha. Anak kecil itu menggenggam tangan neneknya. Sedangkan Arya hanya menatap datar tak bersuara.


"Tenanglah. Kami akan menjaganya. Dan memberikan kebahagiaan dan pengertian bahwa semua yang salah dan segala sesuatu tak dapat dipaksa untuk kepentingan pribadi. " Bisik Sari yang air matanya tak henti mengalir.


Arifin hanya diam memeluk istrinya dari belakang nya. "Kita pulang. Semuanya sudah kembali ke rumah masing-masing. Biarkan dia istirahat. " Kata Arifin serak.


Mereka pun kembali ke rumah kediaman Wibisono, Ardiansyah dan istrinya beserta Alexander masih setia mendampingi. Semuanya diam duduk di sofa bersama-sama Raditya, wulan, Sari, Arifin, Alexander, Ardiansyah dan istrinya.


Tak ada pembicaraan namun mereka terhenyak kala mendengar teriakan si kecil Rafa. Putra Raditya dan Wulan. "Mama Papa. Kakek.. Kakak bertengkar mereka berkelahi. " Semua berdiri berlarian ke lantai atas.


Kegaduhan terjadi di ruang bermain, pengasuh mencoba melerai namun kewalahan. Arsha seperti kesetanan marah berusaha menyerang Arya. Namun anak itu mengelaknya.


"Ada apa ini. Kenapa kalian ribut dan berkelahi? " Suara Arifin menengahi. "Aku mendengar para tamu mengatakan bahwa Mama yang menembak Papa. Karena melindungi ibu Arya. Itu tak benar kan? " Tanya Arsha dengan tubuh bergetar.

__ADS_1


Arsha memandang semuanya berdiri mengitari mereka. Arya langsung di ampit Sari dan Wulan. "Arya tak melawan Kek. Arsha yang menyerang nya. Mengatakan bahwa Arya pembohong! " Jelas Rasya.


"Awalnya mereka berbincang Tuan. Namun Den Arsha tak terima jika ibu nya di penjara karena membunuh sopir keluarga Wibisono. "


"Di tambah lagi ia menembak mati tuan Pandu. " Jelas sang pengasuh. "Siapa yang menjelaskan peristiwa ini secara gamblang? " Tanya Arifin.


"Aku. Aku hanya menjawabnya dan menjelaskan mengapa tragedi ini terjadi. Anak manja itu hanya tahu nya menyalahkan dan egois. Sama seperti ibu nya. Tak tahu malu dan tahu menghargai keberuntungan." Jawab Arya tenang dan datar.


Arifin menghela nafas panjang menatap kedua cucunya. "Sebaiknya di beri pengertian yang baik-baik. Agar tak terjadi salah paham dan salah asuh. " Ardiansyah memberikan pengertian. Arifin hanya mengangguk paham.


Yang lain meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Arifin dan kedua cucu laki-laki nya. "Kemarilah. Duduk kita bahas semuanya dengan hati lapang. " Arifin melambaikan tangan mengajak keduanya duduk di lantai ruang bermain.


Ke duanya duduk bersila berhadapan dengan Arifin. "Kakek mohon kau yang lebih dewasa Arya. Pilih kata-kata yang lembut dan bijak untuk menasehati adik-adik mu. Ataupun saudara mu, dan kau Arsha. Bersikap lah mengerti, mandiri dan berusaha mandiri. Orang tua mu tak ada di sisimu. Kami adalah keluarga mu."


"Ayah kalian sama. Namun ia menikahi ibu Arya saat ibu mu dengan sengaja menyakiti kami. Memisahkan Ayah mu dari ibu Arya. Dan itu menyebabkan kematian seorang sopir pribadi di keluarga kita. " Arifin menjeda kalimat nya dan mengelus kepala Arsha.


Anak itu menangis lagi. "Ibu mu berhasil lolos dari hukuman pemerintah karena insiden tersebut. Dan kembali kemari semuanya terkuak makanya ibu mu di penjara. " Lagi Arifin menjeda cerita nya memberi dukungan ke cucu kecilnya.


"Belajar dari kesalahan adalah tindakan bijaksana. Namun kalau melakukan kesalahan berulang tanpa tanggung jawab itu adalah perbuatan egois. Serta buruk! Itulah yang dilakukan ibu mu. Ia mencoba menyakiti ibu Arya. "

__ADS_1


"Namun ayah mu yang menghalangi dengan tubuh nya. Karena ayah mu berpikir tragedi ini terjadi karena dia. Maka jika dia yang mengalah maka semua nya akan kembali tentram dan damai. " Lanjut Arifin.


"Sekarang kau mengerti? Untuk apa kau bertengkar dan marah? Fakta bahwa semuanya tak dapat di ubah. Namun kau bisa memperbaikinya dengan menjadi adik yang patuh dan penyayang. Kakak mu Arya sangat bijak kau bisa belajar darinya. " Hibur Arifin.


"Jadilah kakak adik yang akur saling mengerti, menyayangi satu sama lainnya. " Arifin membelai ke duanya bersamaan.


"Maafkan aku kakek. Maafkan aku kak Arya. Karena membentak mu dan menyerang mu tadi. " Kata Arsha menundukkan wajah. "Mhn." Arya hanya deheman menjawabnya. Arifin tersenyum melihat interaksi ke duanya.


Arya memang pendiam dari kecil, tidak manja." Berjanji lah bicarakan baik-baik saja jika ada yang tak sesuai dengan yang kau lihat atau apapun itu. Perkelahian hanya membawa kehancuran. " Nasehat Arifin.


"Baik kek. " Keduanya menjawabnya serempak. "Ayo.. Kita ke bawah. Makan, orang hidup harus makan yang bergizi untuk menjaga kesehatan. Jangan buang waktumu dengan yang tak berguna. " Arifin bangkit diikuti kedua cucu laki-laki nya.


"Belajar dan persiapkan masa depanmu sendiri dengan belajar yang kalian minati. Jangan suka melihat orang sekitar mu. Nikmati saja alurnya dan prosesnya. Jangan berlebihan. Dan jangan usil dengan orang disekitar mu. " Lelaki itu terus berbicara dan kedua anak lelaki itu mendengarkan tanpa menjawabnya.


Mereka sampai di ruang makan. "Maafkan aku sudah membuat semuanya susah. Arsha janji akan menjadi anak baik. " Ucap anak itu begitu berdiri di depan semuanya.


"Duduklah Nak! " Seru Ardiansyah. Mereka pun makan bersama dengan tenang. Suasana siang itu kembali tenang seperti semula. Masih terlihat suasana duka cita terlihat di semua wajah yang duduk bersama melingkar di meja makan.


Arsha melihat ini, merasakan sakit karena jika benar apa yang di ucapkan kakek serta orang-orang yang berkunjung ke pemakamannya ayah nya. Maka sungguh picik dan egois ibunya itu. Dia tak ingin melihat wanita itu. Itulah yang di pikirkan nya.

__ADS_1


Arya menatap adik satu ayah lain ibu, tatapan mata yang sulit untuk di artikan bagi Arsha. Kedua duduk berseberangan. Saling curi pandangan. Tanpa ada kata sapaan apalagi pembicaraan.


Dari awal bertemu Arya memang dingin pada Arsha. Anak ini juga berdiam saja menghindari serangan Arsha, saat ia marah. Arsha merasa malu dan segan pada kakak nya saat tak sengaja kedua saling bertemu pandang lewat mata mereka.


__ADS_2