Dilemma

Dilemma
22. Perselisihan


__ADS_3

"Kau selingkuh Pandu? " Teriak Sari melengking. Wildan dan Arjuna yang baru masuk menjadi bingung saling menatap, juga menatap semuanya karena suasana yang tak kondusif juga teriakan Nyonya besar Wibisono. Selingkuh? Pandu?


"Ma... Mungkin ini salah paham. Ayolah kak Pandu paling anti hal remeh, tentang wanita idaman lain? Kurasa itu tidak benar! " Arjuna mencoba menengahi.


"Katakan pada mereka apa aku berhalusinasi saat DIA mengatakan kau tunangan nya? " Andien berkata pelan namun dapat didengar jelas oleh semuanya.


"Aku mencium parfum itu yang kedua? Saat di resort, apa aku salah bicara? " Lanjut nya sambil menundukkan wajahnya. Air mata itu mengalir tanpa dapat dibendung lagi.


"Aku ingin berpisah dengan mu! Aku benci pembohong! Tak ada maaf bagi pembohong! " Katanya sengit.


"Sayang. Jangan seperti ini, kita bicarakan tentang ini baik-baik. Kita cari solusi nya. Dan perceraian dilarang agama. " Sari Wibisono mendekat dan menggenggam tangan menantu nya yang terisak.


"Iya itu kali kedua aku bertemu dengan Camelia. " Jawab Pandu lirih. "Apa? Camelia? " Arjuna menatap nanar ke arah Pandu. "Dasar brengsek! " Maki Arjuna bersamaan dengan pukulan mendarat ke wajah Pandu.


Pandu tersungkur karena tak waspada dan ia bangkit. "Sudah? Ayo.. Aku beri kesempatan kalian memukul ku. Aku tahu kalian marah. " Ucapnya dengan nada datar.


"Cih. Sombongnya sudah salah masih nantangin. Tak tahu diri. " Alexander berkata sinis.


"Boleh aku bicara? " Tanya Pandu menatap istrinya. Andien masih menangis dalam diam tak menatap Pandu.


"Aku tak selingkuh. Pertama kali kami bertemu saat Camelia datang di kantor. Ada Wildan dan CCTV-nya sebagai saksi." Lelaki itu menghela nafas.


"Pertemuan kedua di resort dan aku hanyalah ingin mempertegas bahwasanya aku sudah menikah tak dapat meneruskan janji itu. "

__ADS_1


"Dan ketiga beberapa waktu lalu, aku mengantar dia di rumah sakit ini. Ia overdosis untuk menarik simpati ku. Namun aku memilih kemari. " Pandu menarik nafas panjang.


"Baik. Aku mengijinkan mu pergi beristirahat. Paman Bibi aku titip Istriku. Alexander tolong jaga dia, namun untuk bercerai. Aku tak akan lakukan itu. " Pandu berkata dengan menundukkan wajahnya.


Ia pun berlutut dan berkata. " Maafkan aku. Sudah menyakiti mu. Aku jatuh cinta padamu saat awal kita bertemu. Setiap hari bertambah, maaf. Bohong jika aku baik-baik saja saat melihat mu bersama para lelaki itu. Bahkan aku curiga pada adikku sendiri. Maaf. Aku hanya memberikan waktu untuk mu tapi tidak bercerai. Maaf.. "


Pandu menunggu jawaban dari istri nya hampir 10 menit ia berlutut, semuanya menahan hari melihat nya. Namun Andien tak bersuara wanita itu membelakangi nya dan menggigit selimut nya. Kedua tangannya mengepal.


Pandu bangkit dan mundur melangkah keluar. "Wildan temani dia, jaga dia! " Seru Arifin Wibisono. Wildan berlalu dan menyusul Pandu yang duduk di taman rumah sakit. Bahunya terguncang nampaknya dia menangis hebat. Wildan mendekat dan duduk di samping nya dengan diam.


Andien menangis suaranya menyayat, Sari dan bibinya mendekat dan mengelus Surai nya dan Arifin dan Donny Ardiansyah duduk di sofa terdiam. Arjuna dan Alexander keluar dari ruang itu.


Mereka berjalan ke arah taman tanpa bersuara melihat Wildan dan Pandu yang duduk di sana. "Mereka hanya kurang komunikasi saja. " Bisik Alexander dan Arjuna menganggukkan kepalanya.


"Dasarnya Bucin. " Umpat Arjuna. Alexander menyeringai menatap Pandu. "Kita lihat saja sebesar apa cinta mereka. " Ujar Alexander.


Andien menolak saat Donny Ardiansyah mengajaknya pulang, ia memilih ikut mertuanya. Dia tak di ijinkan keluar dari kamar oleh Pandu dan Pandu memilih tidur di sofa.


Lelaki itu banyak diam tak bersuara, melihat Andien yang ingin minum ia langsung memberi tanpa berkata-kata, dan mengangkat bekas makanannya juga mengupas buah.


Mereka hanya diam. Ia menjadi suami siaga dan membantu nya seperti mandi, makan, berjemur.


Pandu mengalihkan pekerjaannya di rumah dan membuat Wildan hilir mudik sibuk sendiri. Siang itu dokter datang memeriksa kesehatannya Andien.

__ADS_1


Pandu sengaja memilih dokter wanita untuk memeriksa kandungan Andien. "Semua normal dan Nyonya dapat beraktivitas kembali seperti semula. Tapi tetap harus hati-hati dan waspada. " Kata Dokter.


Wanita itu mengemasi peralatan nya dan mohon diri. "Kau boleh bekerja tapi untuk ke tempat proyek kau minta temanmu untuk menggantikan posisi mu. Semua demi anak kita. " ujar Pandu. Kemudian ia melangkah keluar.


Andien hanya duduk terdiam mendengar suara Pandu. Dia putuskan untuk tidur saja daripada keluar juga diawasi dia.


Senin pagi Andien bersiap kerja dengan Celana kulot polos dan blus lengan pendek, sepatu flatshoes. Rambutnya di cepol dengan jepit berwarna emas. Ia pun turun paling akhir karena harus mengecek tugas-tugas.


"Kau masih bekerja Andien? " Tanya Sari saat dia duduk bersama-sama. Arjuna melirik kearah Andien lalu makan lagi sarapannya.


Pandu tak bereaksi masih asyik dengan sarapannya. "Sudah mendapatkan ijin. Saya harus berganti tempat saat pengecekan tempat. Itu yang disarankan. " Semua menganggukkan kepalanya mengerti.


"Kau tahu gaya berpakaian mu boleh juga. Mama setuju begini terlihat girly dan kamu terlihat cantik. " Puji Sari.


"Jangan diperlihatkan terlalu cantik nya. Nanti orang akan terkesima dan jatuh cinta. Ingat... Kau sekarang seorang calon ibu. " Arjuna berseloroh sok menasihati kakak iparnya.


"Orang punya mata bebas memandang, jika jatuh cinta itu soal perasaan pribadi. Mana punya hak aku melarang. Yang utama aku tak bisa membalas cinta semuanya, jika dia nekat ya, aku punya seseorang yang berkaitan dengan ayah anakku. Jika dia tak mau melindungi ya, bagaimana lagi.. " Andien menjawabnya dengan nada menyindir.


Pandu diam-diam tersenyum namun sedetik berikut nya ia kembali ke sikapnya semula. " Ada sopir yang mengantar mu kemana saja. Jaga dirimu baik-baik. Aku pergi. " Pandu mencium pelipis Andien kemudian berdiri takzim pada orang tua nya dan berjalan meninggalkan ruang makan.


"Nampaknya amarahnya sudah hilang. Kakak ipar cobalah untuk merayu sedikit. Dia memang kulkas freezer. Jadi berjuanglah." Arjuna berkata menatap Andien dengan ekspresi jailnya.


"Iya. Kesialan ku aku jatuh cinta pada nya. Mana tidak peka lagi. " Sungut nya. Arifin dan Sari menahan senyuman, melihat anak menantunya yang berubah menjadi manja.

__ADS_1


Mungkin ini karena hormon pembawaannya bayi, sifatnya ibu yang enerjik dan mandiri berubah menjadi manja dan cengeng.


Andien berangkat kerja diantar sopir pribadi dan mobilnya yang sudah disediakan oleh Pandu. Wanita itu hanya menatap jalanan yang dilalui nya dengan sendu.


__ADS_2