
Arya membawanya ke apartemen miliknya. "Mengapa kemari? Apartemen mewah ini bukan milikku. Aku tinggal di kost putri dan kadang-kadang di kantor. Apa kau sudah gila? Membawa ku tanpa ijin ku?" Kinanti mengomel tiada henti.
"Aku akan memastikan bahwa kau benar-benar beristirahat. Dan jangan khawatir tentang pekerjaan mu. " Arya bersikeras dengan keputusan nya.
Mereka memasuki apartemen dengan keheningan. Arya mengunci pintu masuk dengan otomatis, "Aku tak akan memberikan kode nya kepada mu. Jadi jangan berharap kau dapat keluar dari sini! " Jawabnya setelah mendapat tatapan mata tajam dari Kinanti.
Akan ada yang menemani mu di pagi hari hingga malam harinya. Dan ia akan membantu mu juga. "
"Aku pulang ke rumah keluarga ku. Jangan khawatir. " Jelasnya Arya menatapnya.
"Aku tak bertanya tentang itu! " Sahutnya ketus. "Bagaimana mungkin kau kakak Letnan Arsha Wibisono? " Tanya Kinanti menatap wajah datar Arya. Lelaki rupawan itu hanya duduk mengacuhkan nya asyik dengan gawainya.
"Aku tak ingin membahas nya. Untuk malam ini aku akan menemanimu. Kau tidur di kamar dekat ruang kerja. Apa kau mengantuk? Aku bantu membawa mu ke ranjang. Dan jangan pernah berpikir negatif! "
"Aku tak suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Jadi buanglah jauh pikiran itu! " Tegas nya.
"Dalam beberapa hal kalian sangat mirip. Entah lah ada sesuatu yang berbeda dari kalian.. Secara fisik iya, kau seperti kloning nya. Hanya kulitnya sedikit gelap. " Batin Kinanti.
Arya berdiri setelah mendengar suara bel apartemen. "Itu makan siang kita untuk hari ini juga camilan." Katanya sambil berjalan menghampiri pintu.
Arya menata semuanya di meja makan mini bar. "Ayo kemari lah, pilih menu yang kau suka. " Ia pun berjalan menata camilan di meja depan sofa. Ia juga menata jalan agar Kinanti mudah mengambil nya. "
"Apa ini tak berlebihan? " Tanya Kinanti menatap aneka menu makanan di hadapan nya. "Cewek yang kutahu jarang makan karbo dan lemak. Jadi aku pesan ini.. Lagi aku jarang juga makan karbo. " Jawab Arya cuek yang sudah duduk dan menyantap makanan nya.
Kinanti ikut makan di sebelahnya. "Makan juga telur nya, bagus untuk kulit.. Biar pun kau kuat namun kau tetap wanita harus jaga tubuh, kesehatan dan kehormatan. "
"Bagaimana cara nya kamu mengerti apa yang dibutuhkan wanita? " Tanya Kinanti datar. "Ayah ku selalu ceriwis mengingatkan bunda. Dengan segala drama cinta nya. Aku hafal semua detailnya tentang wanita yang ini yang itu bla.. bla.. " Arya menjawab pertanyaan pertanyaannya Kinanti. Kinanti melongo melihat ekspresi Arya.
__ADS_1
Sejenak dia tertegun dan berdehem kembali ke ekspresi semula. Acuh tak acuh. "Kenapa aku menjadi ikutan seperti Ayah yang merhatiin dia". Batin Arya melirik ke arah Kinanti sepintas. Wanita itu menatap nya bengong.
Setelah makan siang Arya membaringkan Kinanti di ranjang. Ia memberikan remot TV padanya. Dan menyediakan air di atas meja dekat ranjang. Lelaki itu hanya duduk di sofa selonjoran sambil asyik dengan macbook nya.
Kinanti pun tak lama tertidur di tempat nya. Arya menata letak posisinya agar ia nyaman dalam tidurnya. Tak lama ia pun keluar, dan merapikan meja makan. Kemudian ia pun mengerjakan pekerjaan dan memeriksa surel di ruangan sebelah kamar Kinanti.
Drzt.. Benda tipis di samping nya berbunyi. Arya melirik nya ada nama Bunda. Segera di angkat nya.
"Assalamu'alaikum, Bunda. " Arya bersuara niatnya ingin mengacuhkan nya namun tak sampai hati.
" Walaikumsalam, kak. Sudah bertemu adik? Ayah bilang adik tugas di sini. Kata relasi Ayah. " Andien menyapa putranya. Dengan pertanyaannya, wanita itu mengerti jika ada sesuatu di antara mereka.
"Mhn.. Sudah Bun. Nanti malam dia pulang. Dan makan bersama. " Arya berdehem menata suaranya.
"Benarkah kak? Baiklah Bunda akan masak semuanya yang kalian sukai. Kakak jangan lembur, ya? Janji? " Lagi Andien merengek pada putra nya.
"InsyaAllah Bunda. Kakak banyak kerjaan, maaf Bunda. Assalamu'alaikum" Tanpa menunggu jawabannya Andien ia memutuskan hubungan sepihak.
"Mungkin aku harus membawa nya. " Gumamnya pada diri sendiri. Dia pun kembali mengotak atik benda kecil pipih tersebut Arya menghubungi rekannya memesan pakaian untuk Kinanti.
Di butik salah satu temannya. Dan di antar ke apartemen nya setelah ia membayar melalui transaksi e banking.
"Kau sudah bangun? Aku membeli pakaian untuk mu. Hari ini ada pertemuan keluarga. Dan asisten rumah tangga akan datang besuk. Jadi aku membawa mu pulang. "
"Bersihkan dirimu ini pakaian untuk mu. Juga sendalnya Kau tak perlu sungkan. Aku akan membantu mu. " Arya mengangkat nya ke kamar mandi dan mendudukkan di closed.
Tak lupa ia mendekat kan peralatan mandi di atas kursi yang di sejajarkan dengan closed, juga bathrob dan handuknya.
__ADS_1
"Panggil aku jika sudah selesai. Pakaian nya letakan saja di lantai. Besuk ada yang membersihkan. " Ia pun keluar.
POV KINANTI
Kinanti menghela nafas panjang. Menatap gipsum di kakinya. Ia ingat di klinik celananya di ganti dengan rok milik dokter itu. Untung saja lelaki itu cerdas mengusulkan ganti celananya dengan rok pendek.
Walaupun sedikit risih, rok mini nya yang mengekspos paha nya. Selama ini aku tak pernah mengenakannya. Walaupun aku bukan wanita berhijab namun tak pernah sekali pun mengumbarnya.
Lelaki yang bertanggung jawab dan sopan nyatanya ia tanpa ragu melepaskan jas nya untuk menutupi paha ku. Dan tak mencuri kesempatan dalam kesempitan. Beruntung lah wanita itu yang menjadi istrinya kelak.
Arya, jujur ia lelaki ke dua yang ku kagumi selain dia. Nampaknya nya ia lelaki yang banyak pesona bahkan mungkin menjadi incaran kaum hawa.
Ngomongin Dia? Aku kok merasakan karakter nya sedikit mirip dengan Letnan? Apakah karena mereka saudara begitu?
Arya saja tak memaksa aku untuk menjawab pertanyaan nya, dia seperti type cowok dominan dan keren. Sangat tampan seperti Letnan. Ya Allah kenapa juga aku?
****
Arya membantu Kinanti setelah wanita itu selesai kegiatan membersihkan diri. Menaruhnya di kursi roda dan wanita itu menyisir rambutnya yang pendek. Arya menyelipkan sandal rumahan berwarna pink dengan kepala kelinci.
Kinanti nampak seperti remaja dengan wajah babyface nya dengan mini dress dengan warna senada. "Kenapa warna nya girly gini? " Gumam Kinanti nampak Arya hanya menatap nya mematung.
"Kau sudah siap? " Tanya Arya saat matanya bertubrukan dengan pandangan Kinanti yang sedari tadi menata letak bajunya.
Kinanti hanyalah menganggukkan kepalanya saja. Arya mendorong kursi rodanya keluar dari apartemen menuju basement parkir mobil.
Tak lama mobilnya meluncur ke jalanan keduanya terdiam. Suasananya canggung karena mereka baru kenal keadaannya yang membuat mereka harus mendekat.
__ADS_1