Dilemma

Dilemma
16. Teror


__ADS_3

Braak. Pandu lagi-lagi mendapatkan sesuatu tentang istrinya. Paket kecil bersampul coklat berisi foto Andien yang akrab dengan para pria. Bukan foto seksi Andien dengan baju seronok. Atau sedang bercumbu atau pose intim.


Namun itu membuat panas hatinya, ada pose Andien yang duduk menunduk sambil tertawa di ampit dia pria, mereka tertawa bersama. Posisinya ke-dua lelaki itu menatapnya seolah memuja.


Pose Andien yang berdua dengan Alexander yang tangannya melingkar di bangku dan Andien menunduk seolah-olah dia mentor dan Alexander hanya diam menatapnya.


Ada sepuluh lembar berukuran postcard, dan dengan lelaki berbeda-beda. Bahkan diantaranya ada adiknya Arjuna.


"Brengsek! Siapa yang mencoba mengusik kami! " Umpat nya. Wildan yang baru masuk melihat meja berantakan dan fotonya Andien hanya terdiam menatapnya.


"Cari tahu siapa yang mengirimkan pesan ini. Cari tahu motif nya! " Titah nya. "Apa kau ingin bertanya siapa saja para pria yang bersamanya? " Tanya Wildan hati-hati.


"Itu hanya masa lalu. Untuk apa mencari tahu sama juga bunuh diri jika aku tak mempercayai nya. " Sanggah Pandu sengit. Wildan hanya terdiam menganggukkan kepala mengerti.


"Undang mereka semuanya pada jamuan makan malam. Pada ulang tahun nya dia pekan lagi. " Teriak Pandu saat Wildan membuka pintu.


Wildan menutup pintu dan bergerak cepat mendekati Pandu. "Kau serius? Kau tak menyesal jika nanti terjadi sesuatu? " Tanyanya menatap sahabat sekaligus bos nya."Entah lah. Aku juga takut kehilangan dia juga. " Pandu duduk di kursi nya dengan perasaan gamang.


Wildan terkekeh kecil. "Akan ku selidiki masa lalu isteri mu. Namun dari perkataan Andre dulu, saat kita kumpul. Kakak ipar bukan type seperti itu. Menurut ku dia hanya dapat mengerti pergaulan lelaki dan pandai membawa diri." Jelas Wildan.


Pandu mengangguk setuju, "Namun aku juga cemburu melihat dia begitu ceria bersama mereka. " Ucap Pandu gusar seraya mengacak fotonya di meja. Wildan terkekeh kecil melihat sahabatnya terbakar api cemburu.


"Baiklah. Kita cari informasi tersebut dulu. Dari sini kan ada Arjuna, dan itu foto sewaktu kuliah bukan masa sekarang. " Hibur Wildan dan Pandu mengangguk pelan.

__ADS_1


"Dengan Arjuna aku tahu mereka sedang konflik dan baru saja mereda. " Sahut Pandu. "Baik. Aku cari info yang lainnya. " Wildan mengambil seluruh fotonya dan berlalu dari sana.


Di kediaman Wibisono Sari terperangah melihat fotonya Andien dan ada juga ia melihat pose nya bersama Arjuna. Pemuda itu sedang memiringkan kepalanya seolah-olah hendak mencium Andien. Mereka duduk bersama, Andien sedang menulis di meja sambil menunduk.


"Pa kita harus bagaimana? Jangan-jangan mereka dulu sempat berkencan, dan putus karena taruhan itu atau bagaimana? " Sari menatap suaminya cemas.


"Kita harus menanyakan pada Arjuna bu. Secara terang Arjuna pernah mengatakan suka pada kakak ipar nya. Namun dia sudah menjaga dan menghargai kakak ipar nya. "


"Jangan sampai masa lalu terkuak dan sudah dikubur dalam menjadi api dalam pernikahan anak kita. Apa kau lihat mereka secara sembunyi bertemu atau mereka bersama? " Tanya Arifin.


"Tidak Pa. Jika Andien di dapur Arjuna berdiam di kamar, demikian juga sebaliknya. Andien keluar jika Pandu di rumah. Dan mereka selalu bersama. " Sahut Sari.


"Itu berarti menantu kita sudah berusaha menjaga nama baik keluarga. Bahkan Papa lihat Andien selalu menunduk jika berbicara dengan Arjuna. Juga pada Papa." Jelas Arifin.


Bahkan sebelum kenal Pandu selera fashion nya juga cenderung suram tak berwarna. Dan mereka masih mendekati menantunya jadi memang Putri menantu dia yang ber kwalitas mutiara.


Di sebuah ruang yang kosong, banyak sekali foto-foto Andien dan lelaki. Menempel di dinding dalam berbagai ukuran. Sama persis yang dikirim kan ke kediaman Wibisono dan ke Pandu.


"Kau harus merasakan sakitnya hati ku. Andien! Kau munafik! Kau pelakor!" Maki seorang wanita berpakaian putih, sambil menacapkan belati di boneka kayu yang ada fotonya Andien. Ha... Ha... Ha...


Suara tawa yang menggelegar ke seluruh ruang itu. Dan tak lama berubah tangisan menyayat pilu. Tubuhnya turun merosot ke lantai dan tangannya masih menancapkan berulang kali ke patung kayu itu.


"Kau tega merebutnya dari ku. Kau kan memiliki ribuan lelaki yang memujamu. Kenapa kau rebut dia dari ku.. " Teriakkan itu terdengar pilu.

__ADS_1


Andien duduk dengan lemas dan bersandar pada meja kerjanya. Baru saja dia memuntahkan isi perut nya hingga tuntas tak ada lagi yang ia muntahkan. Hanya cairan yang keluar dari mulutnya.


Hanya karena mencium aroma minyak wangi ia mual dan muntah. "Ada apa dengan aku. Sedikit sensitif kemaren saat Alexander menyambangi nya. Dan sekarang gara-gara minyak itu ia muntah. " Pikir nya bingung menganalisis hormon dan keinginan nya.


"Apa semalam kau begadang dengan Mr. Suami? " Tanya Lexi, pria gemulai itu duduk di samping nya.


"Atau jangan-jangan kamu lebih suka ya, sama orang luar dari pada Mr suami? Goda nya lagi. Dan dia dapat balasannya berupa cubitan di lengannya.


Lexi adalah pria tampan namun tingkah nya gemulai itu yang tak tertahankan. Terkadang Andien tertawa terbahak karena perilaku yang usil dan terkadang melindungi dirinya.


" Ish. Sakit tahu. Emang kamu sirik sama kebebasan ku bukan? Ini kuberikan kunci duplikat nya. Untuk mu jika ingin bekerja."


"Cobalah suamimu sakit dan carilah duplikat nya. Dan aku tahu kamu anti sama perselingkuhan. Jadi kenapa tak poligami? Sekarang jaman modern tak ada salahnya jika istri poligami."


" Jangan para lelaki saja yang poligami. " Celotehan Lexi yang panjang lebar dan terkesan ngawur berhasil mendapat senyuman kecil Steffi. Dan Lexi merasa lega walaupun bagaimana lagi ia tak ingin melihat sahabat nya Andien menjadi sering termangu dan berdiam diri terlalu lama.


Steffi merasakan terhibur dengan gurauan Lexi. Bagaimana pun akhir-akhir dia butuh teman yang bercerita namun sesaat ia ragu. Dia tak mau berulang lagi penghianat teman terdekatnya menjatuhkan nya dan hatinya sakit lagi.


Sorenya Andien terkejut manakala menemukan Pandu dengan mobil mewah nya berdiri di depan kantor nya. Andien hanya tersenyum dan menurut saat dibimbing nya masuk ke dalam mobil. Melaju lah si putih besi ke jalanan. Hening sejenak.


"Kita kencan yuk. Sekali-kali kita makan diluar. Besuk hari minggu. Terlebih aku belum pernah mengajak mu berbulan madu. Maaf, ya sayang. " Ucap Pandu sambil mencium tangannya Andien.


"Terserah kamu sayang aku ikut saja. " Jawab Andien dengan bersandar di lengannya. Entah kenapa ia suka mencium bau keringat suaminya dan bermanja-manja padanya.

__ADS_1


__ADS_2