
Mulai hari itu Kinanti Gumelar tinggal bersama keluarga Wibisono. Rumah kembali ceria di karena kan para pria muda itu selalu pulang tepat waktu.
"Selamat malam nona-nona cantik. Seneng rasanya malming gini di temani.. Rasanya dunia ini milik ku seorang. "
Bug. Belum selesai Aris menyelesaikan kalimat gombal receh nya sebuah bantal duduk mendarat tepat di parasnya yang menawan.
"Apakah kak Arya bisa lebih kalem dikit enggak? Sayang jika muka ganteng ku terluka akibat serangan mu! " Seru Aris menatap sang kakak yang lewat dengan santai aja.
"Kenapa? Mau oplas? Bisa nanti bodyguard ku yang atur. " Jawab nya dengan nada datar. Ck. Aris berdecak. "Yang ada muka ku jadi rata dan tak menarik lagi. " Aris mencebik kesal. "Kalau mau ku bantu sekalian kak. Tak perlu melibatkan para bodyguard mu itu. " Celetuk Arsha dengan meregangkan lengan dan kepalanya.
Aris tergedik ngeri. "Sudah kalian sengaja ya, mengancam ku? " Tudingan Aris kepada kedua kakaknya. Arsha tersenyum miring dan Arya menatapnya datar dan dingin.
"Harus nya kau ikutan memanggang dagingnya dan juga yang lain. Bukan nya asyik berjamaah dengan para wanita. "
"Apa jangan-jangan kau berbelok arah? " Arya melirik nya dengan ekspresi curiga.
"Arya." Dua wanita berbeda generasi itu berseru bersamaan dengan suara Aris sang adik.
"Kakak jangan nuduh yang tidak-tidak ya? Aku masih normal! " Bantah Aris. Dengan muka masam ia bangkit dan mensejajarkan diantara kedua kakaknya.
Sedangkan Arifin dan Arjuna duduk tenang dengan papan catur dan segelas kopinya. Mengacuhkan keributan kecil diantara mereka.
Tiga lelaki itu dengan tenang memanggang dagingnya tak ada pembicaraan. Aris menelan slavina melirik ekspresi datar keduanya.
"Ehm." Arya pura-pura terbatuk melirik kedua adik nya lalu ia berkata. "Selamat atas prestasi mu! ". Hening sesaat tak ada responnya. Aris mengerutkan dahinya.
" Yang aku dengar kau banyak mendapatkan penghargaan juga kenaikan pangkat. Mengapa tak kau cerita kan apa yang ada, pada kami yang di rumah? " Tanya nya dengan memandang Arsha.
__ADS_1
"Hanya pekerjaan kecil. Itu tak sebanding dengan prestasi kakak. Aku bukan siapa-siapa, dan itu juga belum dapat dikatakan prestasi bagus. " Jawab Arsha.
"Dosa orang tua bukan anak yang menanggung beban nya. Mereka bertindak sebagai seorang yang mereka inginkan. "
"Kita sebagai anak hanya dapat belajar dari kesalahannya. Dan memperbaiki apa yang bisa kita lakukan. "
"Maaf. Aku waktu itu terlalu angkuh dan kekanak-kanakan. Karena mengetahui bahwa orang yang ku puja dan ku idolakan. Ternyata diluar imajinasi. " Arya merasa lega sudah mengungkapkan rasa hatinya selama ini yang ia pendam.
"Aku juga kak. Maafkan kami, terutama Mama. Karena keegoisan nya keluarga ini bercerai berai. Jujur kau panutan ku." Arsha menatap manik Arya tanpa berkedip.
"Kalian membicarakan apa? Aku kenapa tak mengerti persoalan yang kalian bahas saat ini? " Aris menatap ke dua kakaknya dengan ekspresi muka bingung.
"Bawa baki nya dan segera presentasi hidangannya. Itu tugas mu! " Arya mendorong baki yang berisi daging panggang juga jagung serta sayuran lain.
Sebenarnya Arya juga tak memanggang nya hanya membolak-balikan daging ayam saja. Sementara yang membumbui dan mengipasi nya sudah di lakukan oleh Arsha.
"Aku pernah bertahan di alam liar saat menyelidiki kasus. Jadi sudah berpengalaman untuk melakukan hal itu. " Jawab Arsha.
"Sudah hampir dua minggu, sampai kapan kakak menahannya. Ia harus kembali bertugas. " Tanya Arsha sambil menata daging panggang terakhir di nampan.
Mereka berjalan beriringan menuju ke meja makan di taman belakang mansion Wibisono. "Jika dokter sudah memastikan lukanya sudah sembuh maka dia boleh kembali. " Sahut Arya cuek dengan memakan sate di tangannya. Tangan nya menggenggam beberapa tusuk sate.
"Kakak tertarik padanya? " Tanya Arsha menatap punggung Arya yang berjalan di depan nya.
"Dia wanita pertama yang tak lebay dan tak terpengaruh dengan nama Wibisono. " Jawab Arya berbalik menatap Arsha yang mematung menatap nya.
"Aku mengerti kak. Semoga berjalan lancar, Kinanti Gumelar wanita baik, hanya dia kurang beruntung. Orang tuanya meninggal di saat ia membutuhkan bimbingan dan dukungan. "
__ADS_1
"Sama dengan mu bukan? " Arya menyela kalimat Arsha dan lelaki itu hanya menatap saudara sambung nya tanpa kata.
"Arya, Arsha ayo waktunya makan! " Seru Arjuna kepada kedua putranya. Tanpa banyak bicara mereka makan bersama dan Kinanti Gumelar merasa kikuk, canggung karena q bersamaan Arya dan Arsha mengulurkan daging dan sayuran panggang diatas piringnya.
"Terimakasih." Kinanti Gumelar menerima keduanya dengan hormat. Suasana menjadi aneh bagi Kinanti.
"Kinanti maukah kau menikah dengan ku? " Tanya Arya Wibisono menatap Kinanti Gumelar. Wanita itu tersedak air minum nya. Kala mendengar perkataan dari Arya.
Senyap. Semuanya terkejut dan hening seketika, menghentikan aktivitas makan mereka. Ha. Ha. Ha. Tak lama terdengar suara Aris tertawa hingga akhirnya ia hentikan aksi nya manakala mendapatkan tatapan menghunus dari Arsha. "Ehem." Arus menghentikan aksi tawanya dengan deheman.
"Aku serius tentang ini. " Lanjut Arya menatap Kinanti Gumelar. "Arya, Bunda rasa ini waktu yang tidak tepat. Kau melamar seorang wanita tanpa ada kesan romantis apalagi ini bersifat pribadi. " Andien menegur putra nya yang dianggap tak sopan.
Karena ulahnya Andien terlihat canggung juga malu. Wajahnya bersemu merah. Bisa jadi dia tersinggung karena ulah putra nya itu. Andien hanya membatin dan menatap Arya dengan tak berkedip.
"Dia bisa tertekan kak Arya. Maaf, saya lancang. Dia pasti tak merasa nyaman di lamar di depan orang tua kita. Yang ada ia malu juga segan kak. " Aris menimpali nya.
"Aku tak meminta jawabannya sekarang. Pikirkanlah, aku akan menunggu. " Arya berkata lagi menatap Kinanti Gumelar tak berkedip.
"Aku rasa jawabannya jelas. Saya tidak pantas untuk bersama dengan Anda. Saya bukan siapa-siapa itu Anda mengetahui hal ini. " Jawab Kinanti Gumelar membalas tatapan Arya.
"Ck. Bukan siapa-siapa katanya. Kau sudah memiliki karir dan mapan. Apa yang bisa dilihat dari itu? Bukannya itu layak? " Cibir Arya berdecak kesal meneguk air di depannya hingga tandas.
"Pikir dulu Arya, pernikahan itu hal serius. Jangan menindas orang dengan kekuatan mu! " Tegur Andien, matanya melototi putranya.
"Aku selalu serius dan bertanggung jawab atas perbuatan ku. Hanya kamu yang ku anggap pantas. Latar belakang mu aku tak mempersoalkan itu. " Jelas Arya Wibisono menatap semuanya yang duduk bersama mengelilingi meja makan malam kala itu.
Kinanti Gumelar menghela nafas kasar. "Kita bahkan tak saling mengenal. Hanya perjumpaan singkat Anda langsung melamar aku? Seperti nya ini tidak lucu. " Jawab Kinanti Gumelar pelan.
__ADS_1