
Kediaman Wibisono yang kembali berduka karena kembali kehilangan Putra tertua. Doa di kirimkan hingga tujuh hari. Kerabat, sahabat dan relasi berdatangan turut serta dalam doa tujuh hari meninggalnya Pandu.
Arsha dan Arya bersama ikut dalam acara memperingati hari kepergian sang Ayah. Ke-dua nya selalu duduk di samping sang kakek Arifin Wibisono. Dengan lelaki paruh baya itu ditengah dan kedua cucunya di kedua sisinya.
Andien sudah pulang dari rumah sakit hanya berdiam di kamar, memutar murottal dan ikut murojah. Karena ia masih dalam masa nifas. Bagaimanapun Pandu ayah dari anaknya, ia juga mencintai lelaki itu. Berdo'a untuk nya adalah sudah semestinya ia lakukan.
Di sisi lain. Camelia menangis seperti orang gila, terkadang tertawa di antara derai tangisannya. "Maafkan aku sayang. Aku hanya tak Terima dia hidup bahagia. Sementara aku mendekam di penjara. Ia dengan mudah mendapatkan cinta mu. Kenapa nasib ku selalu sial. Sayang... "
Camelia meracau sendiri di sela tangisannya. "Bukankah kita di ciptakan untuk saling mencintai sayang. Kenapa kau masih melindungi nya.. "
"Mengapa tak kau rasakan cinta ku kepada mu? Apa yang selama ini ku lakukan masih kurang? Dimana salah ku?"
"Wanita itu sudah gila. Menangis tak ada matinya. " Gerutu rekan satu sel nya. Di sel penjara itu di huni empat orang. Ketiga wanita itu duduk mengelompok di sudut sel.
"Ck. Bodoh! Jadi wanita terlalu bucin! Apa untung nya! Sudah punya tubuh bohay cari laki yang doyan aja dan berduit. Plintir tu duit nya.. Enak lah hidup.. " Sarkas wanita napi 1.
"Betul banget. Udah enak u.. a.. i. u.. Kebanjiran duit dan harta. Mau apa lagi. Coba kau seperti aku. Udah banting tulang eh di selingkuhin. Sakit, makanya ku potong itu burung! " Ucap napi 2.
"Beneran. Laki ga setia mati aja. Makanya ku buat si pelakor itu cacat. Eh, ku dengar ia juga di selingkuhin ha.. ha.. " Sahut napi 3.
"Lalu harta mu? " Tanya napi 1
"Sudah ku simpan jauh sebelum aku balas dendam.. Laki itu ga dapat sepersen pun. " Seringaian muncul di muka napi 3.
Ketiga nya tergelak bersama sambil melirik sinis ke arah Camelia.
__ADS_1
Di kediaman Wibisono. Di kamar bernuansa putih luas ada box bayi di sudut ruang dan sebelah nya ada meja besar dan kursi singgle. Arsha hanya mengintip dari celah-celah pintu yang terbuka.
Anak kecil itu melihat isi kamar ibunya Arya. Kakak satu ayah dengan nya. Ia hanya penasaran, sudah dia hari ia tak mendengar bayi itu setibanya bayi itu dari rumah sakit.
Ia hanya melihat selimut biru itu dari jauh, ia tak berani mendekati mereka saat tiba di kediaman Wibisono. Ibunya yang berniat mencelakai ibunya kakaknya Arya.
Pasti wanita itu sangat membenci dia sama halnya Arya yang diam saja tak pernah mengajaknya bicara jika mereka bersama. "Pantas saja Mama marah dan cemburu. Mama kak Arya sangat cantik dan murah senyum. " Batin Arsha.
Bocah itu melihat siluet Andien yang berjalan mondar-mandir di kamarnya. Wanita itu tertawa kecil melihat interaksi Arya dan putra kecilnya. Sementara Arjuna sedang di balkon mengangkat telepon.
"Dia di sini? Melihat kami? " Batin Andien melirik Arsha yang mengintip. Wanita cantik ini hanya terkekeh tanpa menghiraukan nya masih asyik menatap Aryo.
"Bunda... Seperti nya adik lapar ya? "'Aryo menengadah menatap ibunya. " Mhn. Benarkah? " Wanita itu menatap ke-dua nya dan mendekati mereka yang berbaring di ranjang.
Arsha terpaku kaku. Tidak tahu harus berbuat apa juga harus menjawabnya apa. "Masuk lah. Mengapa hanya berdiri di sana. " Ajak Andien dengan tersenyum. "Cantik" Itulah yang di benak Arsha.
"Sayang, sapa lah kakak mu Arsha. Arsha sapa lah dia adik kecil mu Aris. " Kata Andien. Aryo menatap wajah ibunya. "Mengapa namanya Aris Bun? " Tanya Aryo datar.
"Tentu saja, Kakaknya Aryo, Arsha lalu Aris. Simpel aja. Mudah mengingat nya dan seragam. A. " Jawab Andien santai sambil duduk dan memeriksa putra kecil nya.
Arsha berdiri di sisi ranjang. Aryo duduk di sisi berhadapan dengan Arsha. Sedangkan si kecil di tidurkan di sisi nya. "Bunda, apa tidak bisa kreatif mencari nama yang unik saja.. " Aryo mencoba membujuknya namun Andien tersenyum menatapnya.
"Sayang A di ambil dari nama Ayah kalian, Aryo. Jadi nama kalian Aryo, Arsha dan Aris. Apa Bunda salah menamai nya? " Tanya Andien pura-pura bingung.
Arjuna masuk ke dalam menghampiri mereka. "Sedang apa sayang? " Tanya nya menghampiri istrinya seraya mengecup puncak nya.
__ADS_1
"Putra Ayah keberatan aku memberi nama adik bayi dengan nama Aris dari Aristioko Wibisono, dipanggil Aris. " Jawab Andien pura-pura kesal.
"Nama bagus. Apa yang salah? " Tanya Arjuna. "Tidak ada, hanya kurang kreatif saja. Bunda lebih memilih kata yang mudah di ingat saja. " Jawab Aryo datar.
"Nama tak perlu se heboh atau seunik apa pun. Yang mudah di ingat atau di ucapkan, sudah banyak orang mengikuti tradisi itu. Tak ada salahnya bukan? "
"Arsha.. Ayah senang kau ikut bergabung dengan kami. Jangan pikir yang tidak penting. Kami keluarga mu dan selamanya akan begitu. " Arjuna menjelaskan kedua putranya.
"Walaupun kau dari ibu yang berbeda aku juga ibu mu. Bunda mu. Dan beliau Ayahmu. " Sahut Andien. Menatap putra dari madu nya. Arsha mengangguk mantap. "Aku mengerti.
" Kelak kalian akan saling bahu membahu dan menyayangi. Ingat kalian bersaudara. " Arjuna mengingatkan kedua nya.
Krucuk. Krucuk. Semuanya hening dan tertawa bersama. "Keliatannya Ayah lapar. Turun lah Ayah. Makan siang lah. " Perintah Andien.
Cup. Cup. Arjuna mencium bibir Andien sepintas sebanyak ia mau. "Namun belum waktu nya Bun. Aku malas jika makan sendiri. " Keluh nya manja. Arjuna memutar bola matanya jengah. Ayahnya memulai drama lagi.
"Sayang ada anak-anak. " Andien mengingatkan suaminya, jangan di tanya wajahnya sudah merona seperti tomat. "Ciuman adalah wujud perhatian dan kasih sayang juga nafsu. " Sahut Arsha.
"Kau mengerti itu? Kau sudah melihat nya? " Tanya Arjuna tersedak air liur nya sendiri. "Arsha hanya menatap nya sambil tersenyum.
" Apa kau sering melihat nya? " Tanya Aryo kesal. "Tidak. Papa tak pernah melakukan hal itu juga Mama. Papa hanya bicara biasa pada Mama. Tak semanis Ayah Arjuna jelas Arjuna menatap semuanya.
" Akan ku telepon maid bawa kudapan ke kamar. Sudah jangan berdebat. Kalian juga tak boleh membaca yang bukan bacaan anak kecil. Mengerti? Kali ini Bunda lepaskan. Lain kali Bunda akan menghukum yang tak patuh.
"Baik Bunda. ' Jawab keduanya dengan pasrah menatap Andien.
__ADS_1