Dilemma

Dilemma
26. Firasat


__ADS_3

Andien merebahkan diri disebelah Arya Wibisono, memberikan asi ekslusif nya selama setahun terakhir ini. Bayi Arya nampak gembul baik tubuh dan pipinya. Kulit nya putih dengan rambut hitamnya yang lebat.


Tok. Tok. Arjuna muncul di pintu kamarnya. "Sebentar, aku sedang memberikan minum pada Arya. " Andien gugup merapikan baju atasan nya. Selama di rumah ia selalu mengenakan baju tertutup karena suaminya tak ada dan dia tak ingin memancing hasrat lawan jenis nya.


Ia belum mengenakan hijab karena ia masih belum siap. "Dia tidur. Baru lima menit lalu kau belum beruntung. " Lanjut nya setelah dia bangkit menegakkan badannya. Arjuna mendekati ke-dua nya.


"Aku bawain desert, cake tiramisu kesukaan kamu." Arjuna menoel pipi gembul itu sambil tersenyum. Lalu ia berpindah meletakkan bungkusan di atas nakas. "Lanjut kan saja aku masih ada pekerjaan." Pamit nya. "Arjuna" Lelaki itu terdiam dan berhenti melangkah tepat di depan pintu. "Terimakasih." Ucap Andien. Arjuna hanya Berdehem berlalu.


Selama setahun ini Arjuna selalu mendampingi Andien dan memberikan suport padanya. Dia juga menggantikan tugas Pandu didampingi Wildan. Lelaki itu sibuk meng-handle tugas-tugas berat Pandu sebagai pimpinan. Selama ini Arjuna bekerja di anak perusahaan sekarang ia di perusahaan induk.


Ia juga membaca agenda yang ditinggalkan Pandu di meja kerja sehingga dia tidak mengalami kesulitan. Dibawah shower Arjuna menangis sesenggukan. "Di mana kau kak Pandu? Sudah hampir satu tahun kau pergi. Kembali lah." Ujar nya lirih.


Tim investigasi tak menemukan keberadaan Pandu, plat mobilnya yang tertera adalah palsu. Andien tak dapat mengenali wajah mereka karena tertutup topi hitam yang menyisakan mata saja. Suara nya juga Andien tak dapat mengenali nya.


Sari dan Arifin sangat kehilangan dirinya, putra tertua yang sigap dalam pekerjaan dan bertanggungjawab. Pribadi Pandu yang pendiam dan tertutup namun sangat suka berderma.


Arifin mengetahui hal itu saat putranya di bangku sekolah,tampa di sengaja memergoki nya berbagi bersama anak jalanan, ia juga tak pernah meminta uang tambahan untuk dirinya atau apapun itu.


"Makan malam siap, Pa. " Suara Sari membuyarkan lamunan Arifin yang berdiri di balkon. Lelaki itu tersenyum mengikuti istrinya berjalan dibelakangnya. "Andien tidak ikut makan? " Arifin mulai percakapan mereka.

__ADS_1


"Dia masih dikamar Pa. Biar saja dulu, aku tak tega mengusiknya. Dia terkadang melamun, tatapan matanya itu begitu terluka. " Bisik Sari saat mereka berjalan beriringan di tangga.


"Arjuna kau disini? " Sapa Sari yang terdiam di meja makan. Lelaki itu hanya diam, "Bisa kita mulai makan sekarang? Andien sedang menjaga Arya nanti suruh bibi bawain sup ke atas buat nya. " Kata Arjuna seraya mengambil nasi dan lauk pauknya.


Sari hanya diam melakukan hal serupa, rumah ini menjadi dingin semenjak Pandu hilang tak ada obrolan dan candaan dari Arjuna.


Dilain tempat Pandu dinner candle light romantis dengan Camelia. Ia melamar resmi wanita itu menjadi istrinya. Mereka akan meresmikan pernikahannya dengan Camelia.


"Will you marry me? " Sepatah kata itu membuat Camelia melayang ke awan. Impian nya terwujud. Dalam waktu dekat mereka resmi menikahi Pandu Wibisono.


Mereka merayakannya dengan makan malam romantis ditutup dengan percintaan panas mereka. Kali ini Pandu yang berinisiatif. Serasa remuk Camelia dibuat nya Pandu begitu buas menyetubuhi nya.


Jawaban itu yang membuat dia bernafas lega karena kejahatannya tak akan terbongkar. Siang itu mereka melangsungkan pernikahannya di hotel mewah tempat mereka menginap. Acara yang sederhana itu tanpa kehadiran keluarga Pandu. Lelaki itu begitu terbuai dengan sikap manis Camelia.


Menjelang sore mereka melakukan percintaannya lagi karena ini terakhirnya mereka di sana karena esok pagi akan ke Singapura untuk menetap. Memulai bisnis serta rumah tangga mereka.


Andien berdiri di taman sambil mengayun Arya di baby stroller dan mainan bayi. Pandu berdiri tak jauh dari nya tersenyum Andien membalasnya. Saat hendak berdiri dan mendorong stroller nya badannya limbung karena ditabrak wanita yang berjalan dari belakang nya.


Wanita itu bergaun panjang putih nampak serasi dengan Pandu yang bersetelan jas putih. Mereka berpegang tangan dan saling memagut lalu detik berikut nya menertawakan Andien, berlalu begitu saja.

__ADS_1


"Jangan pergi! Sayang jangan tinggalkan kami. Jangan pergi! " Andien terjaga bersamaan pecah tangis Arya bersamaan suara petir di sertai hujan deras. "Ssttss.. Diam sayang. " Digendong balitanya dengan tepukan ringan di pantatnya Arya terdiam.


Namun masih gelisah seakan mengetahui hati ibunda nya yang resah. "Mas Pandu, benarkah kau masih hidup? Dan meninggalkan kami? " Gumam Andien menatap air hujan dari pintu balkon kamar nya.


"Kami merindukan mu sayang" Bisiknya dengan menangis tergugu. "Kami menanti mu. " Katanya lagi. Tanpa Andien sadari Arjuna berdiri di belakang nya dengan selimut di tangannya. Lelaki itu berlarian menuju kamar kakak iparnya saat mendengar guntur.


Takut keponakannya terusik ketenangan nya. Namun ia mendapati wanita yang dicintainya memanggil kakak tersayang dengan penuh luka. Hatinya terasa teriris perih rasanya namun ia tak berani memeluk badan kurus dan ringkih itu. Dia tak mau di cap lancang dan kurang ajar.


Perlahan ia meletakkan selimut itu di pundak Andien membungkus tubuhnya dan Arya yang dalam pelukannya. "Terimakasih." Sepatah kata yang nyaris tak terdengar di acuh kan Arjuna ia berjalan menutup pintu balkon.


"Ini dingin. Tidurlah atau cukup berbaring bersamanya jangan sampai sakit, ia memerlukan mu di sisi nya. " Kata Arjuna menghindari tatapan kakak iparnya.


Andien memilih duduk di sofa terdiam. "Akan ku minta bibi mengantar sup dan air hangat untuk mu." Katanya sambil lalu setelah memastikan suhu dikamar itu.


Lelaki itu terdiam di kamar nya. "Maafkan aku kak. Aku mencintai nya, tak bisa aku hilang kan lagi. Dia sangat menderita karena mu, tak akan ku biarkan dia menderita lebih jauh lagi." Arjuna memantapkan hati untuk selalu di sisi Andien.


Andien masih terpaku di tempat duduknya mimpinya terasa nyata di matanya. Batinnya mengatakan suaminya masih hidup. Dan melupakan nya, melupakan cinta nya. Air matanya menetes tak disadarinya.


"Jika kau melupakan aku. Maka aku juga memiliki hak yang sama bukan? Sekarang hidup ku hanya untuk anak kita. Jangan salahkan kami, kau yang meninggalkan kami. Semoga kau bahagia dan sehat selalu dimana pun kau berada. "

__ADS_1


"Aku hanya manusia yang lemah kau tahu itu. Aku lemah karena cintamu, jika kau hilang dan meninggalkan kami maka cinta itu juga menghilang seiring dengan waktu. " Bisik nya lirih. Air matanya menetes tak kunjung berhenti bersama air hujan yang tak menunjukkan tandanya untuk berhenti.


__ADS_2