
"Papa.. Kau jahat! Aku membencimu! " Pandu terjaga dari tidurnya. Ini sungguh diluar nalar nya. Mimpi yang sama selama lima tahun tak berhenti. Berputar terus.
Mimpi yang menggambarkan dirinya. Saat di lampu merah Pandu naik mobilnya asyik ber telepon dengan wanita cantik, melihat senyuman indahnya. Tak lama sebuah mobil minivan berhenti menghadang diantara mereka. Lelaki berpakaian hitam membawa senjata api. Dor. Dor. Dor.
Tembakan udara tiga kali sebagai peringatan lalu menodong ke arah kepalanya dan si sopir. Kami sebagai lelaki mempertahankan diri terjadi baku hantam sesaat, aku melihat dua wanita yang satu langsung dibius saat turun. Dan satunya bertahan di dalam dengan wajah pucat nya.
Tak lama aku tersungkur bersamaan tembakan kepala di sopir itu. Sopir yang mengawal dua wanita itu. Wanita itu menjerit histeris. "Mas Pandu awas! " Aku terjatuh samar-samar ku melihat dia keluar dan ditahan juga dibekap lelaki itu.
Aku dipapah setengah sadar melihatnya menangis dan suara nya meredup seiring mataku yang terasa berat dan terpejam. Aku terjaga di kamar asing bersama seorang dokter yang merawat ku.
Lalu muncul dua wanita cantik yang ternyata kakak beradik, Camelia istriku. Benarkah aku dibuang oleh keluarga ku karena tak merestui kami? Hingga kini belum ku beranikan diri mencari tahu.
Aku hanya percaya padanya dan mencoba untuk mencintai nya. Walaupun hatiku berkata jangan percaya apa yang dilakukan oleh dia. Sekelebat mimpi itu terus berulang kali ada di kepalaku.
Ini sudah enam tahun. Mungkin sudah waktunya mencari tahu, walaupun sudah terlambat. Tak mengapa walau sudah terlambat paling tidak aku tak menyerah dan menyesali nya nanti di kemudian hari.
"Papa kenapa ke kota ini? Panas dan banyak tempat kumuh. " Arsha memprotes keputusan Pandu mengajak kembali ke rumah lama. Camelia? Jangan tanyakan lagi hatinya bergejolak takut rahasianya masa lalu akan terkuak.
Di Singapura aku beberapa kali ke dokter periksa tentu saja tanpa sepengetahuan Camelia. Aku tak ingin dia mengetahui apa yang akan terjadi pada diriku. Aku ingin tahu peristiwa apa yang ku alami dimasa lalu.
Dokter menyarankan pemeriksaan ulang pada otakku. Dokter berkesimpulan aku terkena amnesia jangka pendek. Artinya beberapa tahun memori di kepalaku hilang. Jadi kejadian itu nyata? Atau hanya mimpi ? Aku harus mencari tahu sendiri. Caranya? Kembali ke negara kelahiran ku dan keluarga. Cara satu-satunya.
__ADS_1
Camelia kuncinya, aku harus membujuk nya agar menyetujuinya. Kami harus bersama dalam suka maupun duka itu adalah janji pernikahan bukan? Klise namun efektif.
Setiap malam aku merayu dan memanjakan dengan gairah cinta diranjang agar dia percaya padaku. Percaya bahwa aku ingin kembali hanya ingin bisnis dan keluarga kecil kami.
Ia selalu puas dalam luapan cinta ku. Menyakinkan dengan segenap rasa kerinduan ku dan mencari apakah mimpi itu nyata dari sepenggal memori ku yang hilang.Terlihat dia tak menaruh rasa curiga padaku.
Putraku sangat manja dan selalu mengandalkan orang lain. Aku ingin merubah wataknya itu agar menjadi kepribadian yang baik. Camelia bilang ibuku Sari Wibisono dan ayahku Arifin Wibisono.
Aku mempunyai kakak perempuan, ia menikah dengan seorang dokter. Aku ingat dia bertugas dimana dan lagi aku mengandalkan memori yang timbul dan tenggelam. Aku akan menyambangi nya dan bertanya lebih.
Jujur aku mulai meragukanmu sayang. Maaf, aku tak bermaksud berdusta. Tapi kau selalu menghalangi aku berkumpul dengan kawan lama atau keluarga.
Wanita cantik di dalam mimpiku itu, mengapa aku melihatmu bersama adikku Arjuna? Apa hubungan mu dengan nya, siapa anak kecil yang bersama dengan kalian? Mengapa dia mirip Arsha ?
Ini tempat yang sama saat kami bersama, berburu kuliner tradisional. Aku mengajak keluarga kecil ku berjalan di abang jualan jajan. Lihat lah ekspresi muka keduanya yang jijik dan tak bersahabat.
Ini sangat enak, makanan legendaris jaman dulu sangat lezat. Setiap Arsha menggerutu aku suapi jajanan ini. Hasilnya ia makan dan mukanya tak lagi masam.
Pantas dia menyukai dan berebut dengan Arjuna. Siapa namanya? Kenapa aku tak dapat mengingat nya. Oh God. Aku benar-benar lupa, bahkan kami hanya agama KTP saja.
Aku mencuri-curi waktu menyusuri jalanan kota. Lagi alasan mencari sekolah anak dan tentunya ke rumah sakit menemui kakak ipar. Aku ingat Ayah dan patner nya meletakkan batu pertama di rumah sakit ini. Kejadian ini aku masih kecil.
__ADS_1
Sepanjang koridor menuju kantor rumah sakit aku hafal. Dan beberapa kali berpapasan mereka menatap ku tertegun. Kurasa mereka mengenaliku karena nya ku lempar senyuman.
Itu dia di sana bersama rekannya. "Kakak ipar! " Ku panggil dia. Braakk. Berkas pasien yang dipegang oleh nya terjatuh, anehnya rekannya juga tertegun tak bergerak sama seperti beberapa orang yang mengenali ku tadi.
"Apa kabar mu? " Sapa ku menepuk pundak nya ringan. "Pandu". Satu kata yang di ucapkan detik berikutnya ia memelukku. " Apa kabar mu kak? Aku kangen. " Seru Pandu.
" Maaf. Baru sekarang aku kembali. Panjang ceritanya. " Ucap ku menatap wajah nya. Rambutnya sedikit bercampur putih. Namun kharisma nya masih terlihat. Dia mengangguk paham aku menyodorkan ponselku. Detik berikut nya ia mengetikkan nomornya.
"Jangan katakan pada siapapun. Ada sesuatu yang tak ku mengerti. Aku butuh bantuan mengingat sesuatu. Apa peran dia pada ku. Aku kehilangan ingatan kak. Ku mohon bantu aku. "
"Jika ada perubahan, tolong jangan katakan pada mereka. Sampai aku paham situasinya. Cukup kau dan aku. Bawa kan aku foto baru dan lama keluarga kita. Juga namanya, maaf. Aku juga lupa namamu. " Raditya mengangguk dan dia tersenyum diantara tangis harunya memeluk Pandu beberapa saat.
"Aku pergi kak. Tolong carikan sekolah anak-anak yang dapat membuatku bertemu dengan orang-orang terdekat kita. Jadi kedatangan ku tidak membuat mereka terlalu mengejutkan. " Kata Pandu lirih.
"Iya aku mengerti. Akan kuceritakan sedikit tentang mu pada kakakmu. Dia pasti senang mengetahui kau masih hidup." Seru Raditya.
Suatu hari di cuaca sore yang cerah. Pandu, Camelia dan Arsha berjalan-jalan di mall terbesar di kota. Mereka duduk di restoran sushi ujung Mall terbesar di kota.
Di sisi lain Arjuna dan Andien juga Arya bersama memasuki sebuah restoran, itu restoran yang sama yang tempat Pandu, Camelia dan Arsha. Andien dan Camelia saling membelakangi sedang Arjuna, Pandu, Arya dan Arsha dapat saling memandang.
Karena jarak mereka tak terlalu jauh dan mereka dapat berinteraksi. Arjuna yang semula banyak cerita menjadi diam tak banyak komentar. "Arjuna... Kau bersama dengan mereka? " Gumam ku tersenyum bahagia aku melihat adikku yang duduk tak jauh dari ku.
__ADS_1