
"Masa lalu menghilang dikubur dengan waktu, dan waktu juga yang menyembuhkan luka yang ada. Aku rasa kamu mengerti akan itu. Dan bukan salah kita sebagai anak-anak menanggung perbuatan dari orang tua yang tak bertanggung jawab. "
"Kita harus melihat masa depan dan belajar dari kesilapan, kesalahannya agar tak melakukan sesuatu yang lebih buruk dari itu."
Arya memandangi Arsha dengan ekspresi tak terbaca. Arsha menatapnya dengan haru, semua tak terkecuali. Hanya Kinanti Gumelar yang tak mengerti arah pembicaraan mereka..
"Omong-omong Kinanti tinggal dimana? Jika kau terluka begini pasti kesulitan dalam aktivitas keseharian nantinya. " Andien mencoba mengalihkan perbincangan kedua putra nya.
"Aku membawa nya ke apartemen aku. Besuk ada asisten rumah tangga yang membantu nya. Hari tak bisa karena ada keperluan dia. Jadi aku akan menemani nya, Bunda. " Jawab Arya santainya.
Andien menatap nya melongo, kesal juga takjub. Akhirnya putra nya yang seperti papan tulis datar dengan namanya kaum hawa mendadak jadi perduli.
"Itu tak bisa. Akan ada fitnah dan godaan karena kalian hanya berduaan di sana. Walaupun terpisah kamar. Aku yakin interaksi selanjutnya akan menimbulkan sesuatu. " Sahut Arjuna.
"Tinggal di sini saja. Toh banyak maid dan akan membantu nya. " Sari menengahi nya.
"Biarkan saja Ayah, jika tek dung tinggal ijab sekalian beres kan. " Celetuk Aris.
Bug. Bug. Dua bantal sofa mendarat mulus di muka si bungsu keturunan Wibisono.
"Tega kalian berdua menyerang ku! Ini kriminal tindakan KDRT, apa kak Arsha tak malu? Kau kan aparat! " Tuding Aris kesal kepada kedua kakaknya yang melotot bersama-sama menatap garang pada nya.
"Berani nya kau menuduh ku berbuat asusila pada dia! Aku bukan kamu yang tebar pesona ke siapapun itu! " Hardik Arya emosi.
"Kau tahu kakak bukan seperti mu! Beraninya kau menjelekkan dia! Cari mati? " Bentak Arsha seperti dia memaki bawahannya yang membuat kesalahan.
"Arsha.Tenanglah.Ini rumah bukan lapangan atau tempat TKP. Dimana kamu melaporkan atau menegur anak buah mu. " Arifin menengahi dengan mengelus punggung lelaki itu.
"Maafkan aku. " Arsha garuk-garuk tengkuknya yang tak gatal. Di ujung matanya ia melihat kakaknya Arya menahan senyum dan Kinanti juga menahan tawa nya.
"Bunda bolehkan dia tinggal di sini hingga gib nya di buka? " Tanya Arya.
__ADS_1
"Tentu. Dia bisa menjadi temanku nanti. " Jawab Andien menatap putra nya.
"Arsha. Kamarmu masih di tempat yang sama. Ingat kan? " Tanya Andien.
"Mhn." Jawaban ditunggu hanya yang keluar dari mulut nya.
"Baiklah. Kau boleh bersantai Arya. Akan ku pastikan ia tak akan melakukan kesalahan atau kegiatan apa pun itu. " Andien menatap netra Arya. Lelaki itu hanya tersenyum bahagia.
"Maafkan saya sudah merepotkan semuanya. Saya sudah terbiasa hidup sendiri, namun. Dia bersikap seolah-olah saya seperti... " Belum selesai kalimat Kinanti Arsha menyela.
"Kakak hanya memastikan keadaan mu saja. Dan mempertanggung jawab kan atas kesalahannya. Apa kau keberatan dengan itu? " Buru-buru Kinanti menggeleng.
"Baik lah. Keputusan sekarang kau di sini. Akan lebih ramai lagi rumah ini. " Arya menatap Kinanti.
"Sudah. Sebaiknya kita istirahat. Ini sudah hampir waktu nya. " Arifin bangkit di iringi istrinya Sari.
"Selamat malam kakek, nenek. " Seru Aris, sang cucu yang kepribadian nya paling ceria. Berbeda dengan kedua kakaknya yang pendiam.
"Baik Bunda. " Arya menjawabnya dengan sepintas mulai berjalan ke arah belakang. Tempat para pelayan berkumpul.
Ia meminta salah satu pelayan wanita untuk mendampingi Kinanti di kamar tamu.
Seusai semuanya menuju ke kamar nya masing-masing. Beristirahat. Sementara itu di kamar nya Arsha melamun dia hanya berbaring terlentang.
Mengingat setiap perkataan kakak tirinya. "Jadi kakak sudah menerima ku. Dan tak akan memperpanjang permusuhan antara kita. Maaf, karena perbuatan Mama menyebabkan luka di hatimu. " Gumam nya.
"Dari geksturnya nampaknya kakak tertarik dengan Kinanti. Mungkinkah aku harus mengalah. Semoga dengan ini kakak tidak lagi membenci aku. "
"Lagi pula dia wanita baik dan sederhana. Sangat sesuai dengan kakak. Yang tak menyukai sesuatu yang berlebihan. " Pikir Arsha.
Sedangkan dikamar nya Arya hanya menatap langit di balkon kamar nya. Ia termenung memikirkan setiap kalimat yang di lontarkan pada Arsha.
__ADS_1
"Mungkin sudah saatnya aku berdamai pada nya. Bukan salah nya ia dilahirkan. Namun wanita itu yang patut di salahkan salahkan atas semuanya. "
"Kekacauan ini adalah ulah nya. Dengan santainya ia mati. Harusnya ia hidup dan menderita seperti sakit hati Bunda akibat ulahnya itu. "
"Aku tak menyangka jika anak nya sangat sensitif terhadap semua sikap dan perilaku ku. Baguslah. Untung saja sifatnya tak meniru dari ibu nya yang tak tahu malu."
Arya menghela nafas beratnya. " Mungkinkah sudah waktunya ia berdamai. Tak perlu memperpanjang permusuhan antara mereka, toh mau bagaimana Arsha tetaplah adiknya secara hukum atau agama. "
Itulah yang di pikiran Arya Wibisono saat ini. Kemudian ia masuk ke kamar nya menutup pintu balkon dan memposisikan dirinya untuk istirahat, melepaskan segala sesuatu yang dia pikirkan.
Paginya seperti biasa Arsha melakukan olahraga pagi joging keliling komplek perumahan nya. Ada yang berbeda kali ini ia tak sendirian, tiba-tiba Arya sudah ada di samping nya.
Tepatnya sebelah kanan. Dan lalu sebelah kiri adiknya Aris. "Pagi kak. " Sapaan singkat Aris membuat senyum membingkai di wajah tampan nya.
Arya mempercepat larinya diikuti Arsha. Demikian juga Aris lalu entah mengapa mereka bertiga menjadi berlomba lari pagi hingga mencapai rumah kembali.
Aris menyambar botol air pertama yang di berikan pelayan. Mereka saat ini duduk selonjoran di teras.
"Mengapa jadi kopentisi kak larinya? Kan hanyalah sekedar joging. " Aris mengerucut kesal. Karena kalah staminanya.
"Aku tak merasa, kamu nya saja yang sensi. Aku baru ingat ada meting pagi ini yang harus ku hadiri. " Kolah Arya bangkit sambil meminum air mineral yang ada di tangannya.
Arsha mengikutinya masuk ke dalam tanpa bersuara. "Sekarang pun kalian kompak meninggalkan aku! " Sungut nya kesal memutuskan mengikuti keduanya dari belakang.
Arsha lagi-lagi tersenyum bahagia melihat dan mendengar ekspresi kesal adiknya. Mereka menuju ke kamar masing-masing tanpa bersuara.
Para pekerja yang di mansion
merasakan kebahagiaan majikan kecil mereka. Melihat kebersamaan nya yang belum pernah terjadi di mansion.
Pemandangan yang langka dan baru pertama kali terjadi di pagi itu. Ketiga pria muda keturunan Wibisono nampak kompak bertiga. Berolahraga walaupun hanya sekilas interaksi mereka terlihat jika keduanya majikan mereka sudah akur. Dan tak saling menghindar.
__ADS_1
Arsha yang menawarkan handuk kecil diterima oleh sang kakak Arya. Yang selalu memandang nya datar.