
Pandu menatap lurus ke arah Arjuna yang menatapnya tak berkedip. Arya juga mematung menatap Ayahnya yang asyik di suapin oleh Camelia. Dan anak seusia dibawah Arya begitu ceria bercerita, Pandu menanggapi dengan penuh perhatian.
"Mama suka makanannya? " Arya menatap ibunya, Andien tersenyum. "Iya, suka. Aku ingin ayam goreng mcd ini. Mungkin ini yang namanya ngidam. " Ucap nya menatap Arjuna.
"Jangan sampai berlepotan saus nya." Arjuna mengusap lembut ujung bibirnya Andien dengan tisu. Arya hanya diam. Ia makan sambil sesekali menatap Pandu dan Arsha.
Anak itu penasaran dengan anak yang memiliki wajah yang sama dengan nya. Perbedaannya hanya dia lebih pendek darinya. "Ayah. Jika sudah selesai langsung pulang saja ya? Aku ingat ada tugas yang belum diselesaikan. Nanti bantu Arya ya, Ayah? " Kata Arya sambil menatap Arjuna.
"Baiklah. Lagi besuk masih jam sekolah. Kita hanya jalan-jalan sebentar. Menemani Bunda ya, kan? Semua keinginannya sudah terkabul jadi kita pulang. Tadi Bunda ingin sebentar kan? " Jawab Arjuna memandangi Andien.
Walaupun hatinya sedikit takut jika orang yang duduk di seberang nya adalah Pandu sang kakak. Namun ia juga tak mengira dia bersama dengan wanita dan anak kecil yang berusia di bawah Arya.
Dari segi fisik mirip Arya kecil, yang memiliki wajah yang mirip dengan Pandu. Mereka meninggalkan restoran berjalan beriringan. Pandu melihat Andien yang perutnya membuncit dengan dress putihnya selutut dengan kerah pendek. Nampak cantik dan manis tanpa make up.
Andien dan Camelia tak saling melihat jadi Pandu merasakan lega sedikit. Arjuna juga merasakan hal yang sama seperti Pandu rasakan. Arjuna berjanji akan menyelidiki tentang Pandu.
Apakah dia benar-benar kakaknya atau hanya orang lain yang muncul secara tak sengaja. Kecurigaan Arjuna adalah kakaknya amnesia saat ini. Atau dia sengaja meninggalkan kakak ipar nya? Lalu bagaimana kehidupan rumah tangga nya?
Arjuna terhenyak dari lamunan saat sepasang tangan mungil melingkar di pinggang nya. "Apa yang Ayah pikirkan? " Tanya Andien yang menyandarkan kepalanya di punggung Arjuna. "Tak ada! Hanya masalah pekerjaan saja. Tidak begitu mendesak. " Jawabannya sambil mengelus pipi chubby Andien.
Dua kalinya Arjuna mendampingi Andien hamil. Pertama saat mengandung anaknya Pandu yang kedua anaknya sekarang. " Kangen Yah. " Bisik Andien. Arjuna hanya tersenyum dan mengecupnya di puncaknya.
__ADS_1
Andien memeluknya erat sedang Arjuna sudah menyusup ke ceruk nya Andien. Menghirup aromanya tak lupa dia mendaratkan ciuman di sana. Andien mengangkat wajah suaminya dan mereka bertukar slavina.
Arjuna merasakan bahagia membuncah karena sejak awal kehamilan Andien aktif mengajaknya bercinta. Arjuna mencumbu nya ke seluruh tubuh nya. Arjuna mendoakan si baby saat menyentuh perut Andien yang buncit.
Lalu ia turun ke bawah dan mereguk lubang surgawi. Andien meremas rambut Arjuna. Lelaki itu menyesap kuat.. memporak-porandakan pertahanan nya. Usai puas mereguk nya ia berpindah ke atas dan memposisikan dirinya.
Ia berhati-hati dalam menggerakkan pinggul nya. Karena ada si kembar di perut Andien. Andien berteriak meremas seprai. Arjuna mendapatkan pelepasannya. Ia mengecup bibir Andien lalu keningnya.
"Terimakasih sayang. " Ujarnya. Andien di tarik dalam pelukannya Arjuna. "Jangan pernah tinggalkan aku. " Bisik Andien lirih di saat ia menutup matanya. Hati Arjuna mencelos mendengar suara nya.
Ia diingatkan akan kakaknya Pandu yang di lihat nya sore tadi bukan dia saja namun ia mencemaskan Arya. Anak itu biar masih di bangku sekolah Dasar, pemikirannya sudah melebihi usianya. Sikap nya acuh dan biasa itu membuatnya semakin khawatir.
Setelah memastikan Andien tidur Arjuna menyelinap ke kamar Arjuna. Benar saja putra sambung sekaligus keponakannya terlihat sembab wajah nya. Ada bekas air matanya di pipinya. "Maafkan Ayah, tak dapat menjaga hatimu sayang. " Gumamnya sambil membelai surai nya.
Arya terjaga dan menatapnya sendu. "Ayah.. Dia sengaja meninggalkan kita. " Serunya lirih memeluk Arjuna. Menangis dalam dekapannya, suaranya lirih menyayat hati Arjuna.
Setelah Arya tenang Arjuna kembali ke kamar merebahkan tubuhnya di sisinya Andien. Wanita itu menggeliat dalam rengkuhan Arjuna.
Di mansion mewahnya Pandu termenung di balkon. Ia mencoba mengingat wanita dan anak lelaki yang mirip Arsha yang bersama Arjuna. "Dia sedang hamil.. " Gumamnya. Sudah beberapa batang rokok ia habiskan.
Angin dingin berhembus menusuk tulang perlahan dia kembali masuk ke dalam. Setelah menutup pintu balkon dan tirainya Pandu menyusul Camelia di peraduan. " Sayang.. " Camelia menyeruak masuk dalam pelukan Pandu.
__ADS_1
Bahkan dia sengaja menekan tubuh nya membuat hasrat Pandu bangkit. Lelaki itu langsung menyerangnya dengan buas.
Camelia terkekeh menggelijang karena serangan brutalnya. Pandu sedang resah dan melampiaskan pada nafsunya. "Kau yang minta jangan menjerit untuk berhenti. " Serunya di telinga Camelia.
Pandu melakukan nya dengan cepat tanpa pemanasan. Ia bahkan tak membuka pakaian nya dan hanya membuka bagian inti Camelia. Hingga pelepasannya Pandu terkulai disamping Camelia. "Aku mencintaimu sayang. " Ujar Camelia sambil mengusap dadanya Pandu.
Lelaki itu hanya memejamkan matanya tanpa berkata-kata. Tanpa menghiraukan Camelia yang menatapnya penuh puja dan kepuasaan. Camelia tak menyadari perubahan diri suaminya. Ia hanya menikmati pencapaiannya memiliki Pandu dan mengandung anaknya. Dia lupa bahwasanya memori yang hilang bisa saja kembali dan menuai badai yang diciptakan oleh nya.
Pagi itu Arjuna bermanja-manja ria di pangkuan Andien yang bersandar di ranjang. "Ini hari libur sayang. Bisakah hanya kita berdua? " Rayunya. Andien hanya tersenyum dan mencium bibir suaminya.
Cup. Cup. Cup. "Satu ciuman mu kubalas dua kali. " Seru Arjuna. Andien hanya melengos dengan mukanya yang memerah. Blush.
Ia bukan remaja namun dia selalu saja tersipu jika digoda Arjuna. "Aku mencintaimu dari awal kita bertemu. Dan selamanya. " Cup. Lagi-lagi Arjuna mencium nya. Andien membalasnya dua kali. "Aku suka permainan ini sayang. " Lanjut nya.
Suara pintu di ketuk. Tok. Tok. Tok. Terdengar tiga jali, Arjuna tersenyum menatap Andien. "Masuklah !" Seru Arjuna. Tak lama nampak Arya muncul bersama pelayan yang membawa baki penuh makanan dan minuman.
"Apa aku boleh bergabung Ayah, Bunda? " Tanya nya menatap keduanya. "Kemarilah! " Arjuna langsung memposisikan duduk dan merentang kan tangannya. Sedangkan pelayan menaruh baki di nakas dan berlalu.
Ia sempat melirik interaksi keluarga kecil majikannya. Arya yang berlari dan merangkak ke pelukan Arjuna yang dipeluk Andien dari belakang. "Sungguh pemandangan yang indah. " Gumam pelayan itu sambil menutup pintu kamar majikannya.
Arjuna selalu menggunakan waktunya saat libur hanya bersama keluarga kecilnya. Terkadang mereka seharian hanya bercanda dan menonton film dikamar. Atau melakukan aktivitas bersama lainnya.
__ADS_1