
Arya menangkap majalahnya dengan suara terbahak-bahak karena geli pada tingkah Calon istrinya yang bagi nya cantik dan menggemaskan.
"Maaf. Aku salah. Ok? Kita berdamai. Aku yang salah. " Ujarnya sambil mengedipkan mata menggoda. Kinanti Gumelar memalingkan wajahnya semburat merah menghiasi wajahnya, malu akan kejadian barusan ditambah lagi karena tak tahan godaan calon imam nya.
"Hampir saja kami khilaf, ya Allah. Hamba mu yang tak taat padaMu. " Batin Kinanti Gumelar. Jujur saja ia mulai tergoda pesona sang calon suami.. Normal ya kan?
Arya hanya tersenyum sambil terus berusaha konsentrasi dalam mengerjakan tugasnya. Ia melirik sesekali ke arah Kinanti Gumelar yang asyik dengan ponselnya.
Tuts. Arya menekan tombol interkom ke sekretaris nya. "Tolong kirimkan snack dan makan siang untuk dua orang ke ruangan ku secepatnya!" Tanpa menunggu jawabannya Arya mematikan sambungan nya.
Tak lama pesanannya datang. Semuanya di tata di depan meja Kinanti Gumelar. Setelah office boy itu keluar Arya pun angkat bicara.
"Untuk kamu. Makan aja, jika capek istirahat dulu di sana! " Tunjuk Arya dengan dagu ke arah pintu yang di samping rak buku. Kinanti Gumelar hanya mengangguk.
Mereka berdua sibuk dengan kegiatannya masing-masing tanpa ada sepatah kata. Hingga penghujung sore harinya. Mereka masih bersama, naik mobilnya Arya dan Kinanti Gumelar di antar hingga ke apartemen milik nya. Yakni kawasan padat penduduk dengan unitnya yang kumuh dan kecil. Besinya berkarat namun tak menyurutkan niat Arya yang ingin mengenal keadaan calon istri.
***
Mereka berdua duduk di ruang apartemen kecil tersebut. Bersih dan nyaman dari dekorasinya Arya menebak wanita nya adalah seorang yang simple dan energik, gesit.
"Silahkan. Aku tak memiliki kudapan karena aku tak begitu suka. Hanya ada minibar yang terbuat dari oat atau coklat. Kau pilih saja. " Kinanti Gumelar menyodorkan air putih di gelas juga toples kotak berisi makanan padat untuk pengganjal perut dalam keadaan darurat.
Arya tersenyum tipis karena tipisnya tak di sadari Kinanti Gumelar. Wanita itu langsung ke kamar nya mengambil pakaiannya dan menuju kamar mandi.
Membersihkan diri dari keringat dan debu yang lengket. Saat keluar ia tak melihat Arya. Kamar mandi ada di luar kamar dekat ruang tamu. Ia melirik ke pantry yang merangkap ruang makan.
"Kau masak? " Tanya Kinanti. Kagum mendapatkan sesuatu baru dari sifat calon imam nya.
__ADS_1
"Kau seperti nya sangat rajin masak ada bahan di almari pendingin. Walaupun hanya telur dan tempe serta sayur. Kau buat apa freezer nya? Tak ada ikan? " Tanya Arya.
"Gajiku hanya berapa lembar aku juga harus menabung jadi yang penting makan sehat cukup kan." Kinanti menjawabnya ketus.
"Ternyata kamu pintar berhemat. Baguslah! " Arya mengacak puncaknya Kinanti, walau sekilas namun sangat lembut.
Hati Kinanti Gumelar menghangat belum pernah ia mendapatkan sentuhan itu. Tak lama kemudian mereka duduk bersama dan makan.
"Apa kau jadi ikut aku esok? " Tanya Kinanti ragu. "Tentu. Aku ingin mengetahui kegiatan mu. Aku sudah ijin dengan atasan mu. Jangan khawatir. " Balas Arya santai.
"Kenakan pakaian kasual. Kita akan di lapangan bisa jadi seharian penuh. Jadi pakai baju yang nyaman. " Kinanti Gumelar memberi saran pada Arya.
Dan di balas dengan anggukan. Seusai makan Arya berpamitan pulang. Dan Kinanti Gumelar mengantarkan hingga depan pintu masuk apartemen.
Esok hari. Arya sudah berdiri di depan mobil putih nya dengan outfit celana soft jeans coklat dan t shirt putih dengan sneakers. Kinanti menatap terkesima saat tiba di parkiran depan apartemen.
"Sengaja, aku bawakan masakan Bunda untuk kita berdua. Pasti kau tak sarapan. Arsha yang bilang. " Jawab Arya seraya membuka pintu untuk Kinanti. Mobilnya membelah jalanan kota.
"Aku suapin dong. Kan aku lagi menyetir. " Perintah Arya sambil tersenyum lebar. Kinanti menatap speechless. Dia kan seperti Arsha sebelas dua belas.
Kinanti hanya bisa melakukan perintah dari nya sarapan berdua dengannya, satu sendok, satu bekal makan untuk berdua. Hingga ke tempat kerja kantor pusat Kinanti menyudahinya, sarapan berdua.
Bukan karena sudah sampai tujuannya namun bekalnya sudah habis tak tersisa. Karena Arya tiga sendok ia satu sendok. Gila ganteng tapi kalau makan rakus juga pikir Kinanti. Pasti dia rutin olahraga, nyatanya tak ada lemak di perutnya. Terlihat dari balutan di baju kemeja dan tshirt nya yang melekat di tubuh nya.
Acara pagi itu adalah rutin apel pagi, kemudian olahraga sebelum aktivitas hari itu. Karena hari jumat maka apel pagi hanya sebentar lalu olahraga yang lama.
Satu jam. Ada senam, bagi para aparat wanita dan olahraga lainnya. Tenis meja, bulu tangkis, joging bagi yang mager main catur.
__ADS_1
Kinanti Gumelar membuka berkas di mejanya dan di hampiri rekannya.
"Ku dengar kau di lamar ya? Beneran nih nikah? Kau mau aku jadi wali mu? " Tanya Tagor dengan logatnya khas daerah.
"Kau dan aku beda agama. Itu tak mungkin. Tapi terimakasih atas niatnya. " Jawab Kinanti yang memandang sekilas.
"Kasus nya sedikit rumit. Seperti nya dia di jebak lalu di bunuh di tempat. " Tagor berkomentar sambil melihat fotonya.
"Benar. Parahnya ada saksi sipil yang melihat dan ia shock di tempat. " Lanjut Kinanti.
"Perlu dokter Psikologi? Aku punya kenalan dan jam terbang nya sudah di akui walaupun ia masih muda. " Celetuk Arya menimpali ikut bergabung melihat fotonya yang berserakan di meja kerja Kinanti.
"Kau orang sipil tak boleh ikut campur dalam urusan kita. Dan mengenai usulan mu boleh kami coba. Kebetulan dokter kita sedang cuti melahirkan. Dan yang satu nya mutasi ikut pasangan nya. " Sahut Tagor.
Kinanti hanya menata semua fotonya dan di masukkan ke amplop coklat.
"Jangan salah paham. Ini hal rahasia jadi kau tak boleh mengetahui hal ini. " Kinanti hanya bisa menjelaskan saat bersitatap dengan Arya.
"Aku mengerti. Seharusnya aku duduk manis di pojok. Namun aku hanya ingin tahu saja. Maaf. " Arya meminta maaf pada ke duanya karena tiba-tiba ikut serta obrolan kecil mereka.
"Kau kah yang melamarnya? " Tanya Tagor dengan menatap menyelidik dari atas hingga ke bawah. Menilai penampilan Arya.
"Iya. Begitu lah. Kami bertemu lalu aku langsung melamar nya.." Jelas Arya.
Tagor hanya mengangguk pelan paham. Ia kemudian memutuskan meninggalkan kedua pasangan tersebut.
Kinanti kembali pada pekerjaan nya dan Arya juga, melalui smart phone nya ia mengerjakan pekerjaan nya. Sesekali ia melihat Kinanti yang berinteraksi dengan rekan setimnya atau atasannya.
__ADS_1
Yang tak lain adalah Arsha sang adik. Arsha bahkan mengacuhkan nya. Lelaki itu hanya menyapa lewat anggukan kepala sekilas.