Dilemma

Dilemma
44. Bersama dengan nya


__ADS_3

Arya duduk di sofa single, ia sibuk dengan ponsel pintar nya manakala mendengar tirai di buka ia pun menengadah kan kepala beralih pada obyek di depan mata nya.


Kinanti berdiri di panggung kecil dengan kebaya putih panjangnya. "Terlihat aneh, ya? " Tanya Kinanti berdiri kaku.


"Tidak kau cantik." Jawab Arya menatap lekat calon istrinya yang salah tingkah karena tatapan matanya.


" Pada hari H-nya aku minta dia dirias alami dan berikan sentuhan atau hiasan kepala serta rambutnya. " Arya memberi arahan.


"Tentu tuan, kami bekerja sama dengan Mua yang biasanya banyak menangani tata rias para artis. " Jawab karyawan butik yang berdiri di samping Kinanti.


Kinanti tidak hanya mencoba dua kebaya namun juga beberapa gaun lainnya. "Untuk apa semuanya? " Kinanti masih bingung dengan pakaian yang di cobanya barusan.


"Sudah pasti kau akan ikut serta menemani ku dalam acara tertentu jika nanti ada undangan atau acara resmi yang mesti ku hadiri. " Jawabnya lugas.


Kinanti berdecak pelan. Ia tak ingin Arya mengetahui bahwa ia kesal dan tak suka sosialisasi. "Apa boleh buat aku harus ikut perintah Bos. " Gumamnya lirih.


Arya sempat melihat ekspresi sekilas Kinanti berdecak, hati nya sakit karena memaksakan kehendak pada wanita itu. Namun hanya wanita itu kali pertama yang tak tertarik pada dirinya.


Dan apalagi alasannya? Selain itu ada rasa suka pada wanita itu. Dia begitu cantik dan tidak suka dengan make up layaknya wanita bersolek tebal.


"Kita akan mencoba untuk menjalankan ibadah dan meraih kebahagiaan bersama, aku berjanji pada mu. " Batin Arya, walaupun ia terlihat datar dan acuh namun ia sangat memperhatikan setiap detail calon istrinya.


Setelah dari butik Arya mengajaknya ke kantor. Tangannya tak lepas, terus menggandeng tangan Kinanti Gumelar. "Semuanya melihat kita. Tolong kondisikan tangannya. " Cicit Kinanti Gumelar.


"Biar saja, ini kantor milikku. Sesuka aku mau apa, siapa berani protes? " Sahutnya lantang.


Kinanti Gumelar hanya mengerucutkan mulut dan menunduk berjalan mengekor Arya. Hingga akhirnya mereka sampai pada ruangannya.

__ADS_1


"Ruangan yang bagus. Interiornya ok. Tak buruk", gumam Kinanti menatap sekeliling ruang kerja Arya.


" Ok? Tak buruk? Maksudnya? " Tanya Arya mengernyitkan dahinya. Kinanti Gumelar hanya menggedik baju nya.


Arya kesal karena mendengar kalimat sepenggal itu. Desain interior yang dia buat dan rancangan nya sudah terkenal di kalangan pengusaha kontruksi, selain itu ia lulusan dari Cambridge University. Dan Kinanti katakan desain nya "TAK BURUK".


Arya melepaskan jas nya dan melemparkan asal ke tiang gantungan juga menggulung kemeja putih melepaskan kancing tiga dari atas setelah menarik dasinya asal-asalan.


Jujur Kinanti Gumelar sempat tergoda akan pesonanya. " Dam, ia terlihat seksi saat melakukannya. " Maki Kinanti Gumelar dalam hati. Menatap lelaki itu berjalan ke kursi kebesaran nya.


"Jadi apa maksudnya aku di bawa kemari?" Tanya Kinanti Gumelar tak sabar melipat kedua tangannya di dada.


"Untuk saling mengenal. Dan kau dapat mengerti tentang pekerjaan aku. Besuk aku yang akan melihat mu bekerja. " Jawab Arya sambil menghempaskan tubuhnya di kursi.


"Mengapa? Apa itu penting? Kurasa cukup kita mengerti jam kerja kita dan memahami kurasa itu sudah cukup. " Sahut Kinanti Gumelar.


. "Tak ada bantahan. Aku ingin melihat tim istriku. Dan bagaimana ia bekerjasama dengan rekan setimnya. Dan cara ia menginvestigasi kasus. "


Selain itu dia tak tahan melihat godaan pesona sang CEO.


Langkah Kinanti Gumelar tertahan dan sekali sentak ia sudah dalam dekapan Arya. Lelaki itu langsung mengecupnya tepat di bibir nya. Sepintas lalu berulang lagi. Dalam keadaan shock Kinanti Gumelar hanya mematung.


Tak ada pergerakan atau penolakan dari si empunya bibir. Arya bergerak di area bibir nya Kinanti Gumelar. Memberikan ciuman kecil lama kemudian menjadi dominan dan tuntutan menyeruak masuk kedalam nya.


Kedua kakinya mengampit paha Kinanti Gumelar tubuh mereka melekat bahkan Kinanti mengalungkan kedua tangan nya dileher Arya.


Arya bahkan sudah dengan lincah nya membuka kancing blus milik Kinanti. Dan ia meninggalkan jejak tepat di atas di belahan dadanya.

__ADS_1


Akh.. Desis suara Kinanti Gumelar sambil meremas rambut Arya bersamaan dengan tubuh Kinanti Gumelar yang terjatuh di meja kerja milik Arya.


Tidak satu namun beberapa kali Arya memberi stempel kepemilikannya di sana. "Kau bisa rasakan aku begitu menginginkan kamu. Apa kau mau kita lakukan di sini? " Bisik Arya serak. Kinanti Gumelar tersentak kesadarannya pulih.


"Arya.. Kau? "


"Kita akan melakukannya di tempat yang tepat dan kau layak untuk itu. Maaf, aku kelepasan. Jangan pernah memprovokasi ku lagi. Mengerti? " Arya memperingatkan dan mencium bibir nya lalu beralih pada puncaknya.


Ia menarik diri dari tubuh Kinanti Gumelar. Kinanti menundukkan wajah ia sempat melihat celananya ketat dan menggembung. "Ya Allah apa yang terjadi? " Batinnya, ia lemas dan hampir terjatuh karena lemas akibat dari serangan dadakan.


"Kau gila Kinanti Gumelar, dia bahkan meninggalkan jejak nya. " Maki wanita itu pada dirinya sendiri saat hendak mengancingkan blus nya. Melihat banyak bercak di sekitar dadanya.


"Dia begitu besar apakah hanya ilusi ku saja?" Batin Kinanti Gumelar dengan tubuh meremang mengingat adegan mereka berdua baru saja.


Arya bergegas ke kamar mandi pribadinya di ruangan. Ia mencoba membebaskan diri dia menuntaskan hasrat nya. Akh... Dia mendesis kala di puncaknya setelah senam lima jari di sana. Lalu setelah nya ia mandi membersihkan diri.


Setelah mengenakan pakaian baru di almari ia pun keluar. "Maaf, jika aku sedikit lama. Aku harus membebaskannya dulu. " Ujarnya sambil mengambil berkasnya di meja.


Kinanti Gumelar tak menjawabnya ia berpura-pura konsentrasi pada majalah di tangan nya. Jujur ia gugup bersama dengan lelaki itu. Banyak hal yang tak terduga sifatnya yang datar dan penyerangan yang dia lakukan barusan. Sudah membuat senam jantung padanya.


Arya yang semula sibuk dengan berkasnya merasakan keheningan ia melihat ke arah Kinanti Gumelar. Arya tersenyum melihat wanita nya yang gemetar saat memegangi majalah di pangkuannya.


Matanya menyipit manakala ia menangkap obyek yang menarik baginya. Sambil menahan senyuman ia menghentikan kegiatan nya.


"Sayang... Bisakah kau mengajarkanku bagaimana cara untuk membaca buku yang kau pegang dengan cara begitu? " Suara Arya memecahkan keheningan.


Kinanti Gumelar mengernyit menatap Arya bingung. Arya menunjukkan dengan dagunya dan Kinanti Gumelar mengangkat majalahnya. OMG, rasanya ingin masuk ke dalam bumi atau kemana saja saat detik itu juga.

__ADS_1


Kinanti Gumelar baru menyadari jika ia memegang majalahnya dengan terbalik. Mau ditaruh di mana mukanya yang malu. Di lempar nya majalahnya ke arah Arya yang membalasnya dengan tertawa terbahak.


"Brengsek kau Arya! " Umpat Kinanti Gumelar kesal.


__ADS_2