
Bab 11 : Perjanjian
Tira memilih bungkam dan menunduk. Bahkan manik matanya tak berani melihat pada Ibu mertuanya.
"Nggak kok, Bu. Kami berdua nggak kenapa-napa. Mari makan," ajak Alex langsung menyambar apa yang ada di hadapannya kemudian Ia makan.
Diam-diam Tira melihat Alex dengan ujung matanya dan kembali menunduk berkonsentrasi pada makanan di hadapannya.
Semuanya makan malam dengan banyaknya senda gurau diantara Alex, Bu Sani dan Pak Joni. Berbeda dengan Tira yang sedang merasa takut jika identitasnya terbongkar.
'Apa yang harus aku lakukan agar Alex tetap menjaga rahasiaku? Aku harus tau kelemahannnya. Aku tidak ingin Ia tau jika aku sangat takut semuanya terbongkar. Aish! Jika bapak tau, aku akan mati ditangannya. Dasar kau Tisa! Ceroboh!' Batinnya terus meracau.
Dan makan malam pun selesai. Pak Joni meninggalkan makan malam karena ingin bristirahat lebih awal. Sementara Alex pergi lebih dulu tanpa mengatakan apapun dan di sana tinggal ada Ibu dan juga Tira.
"Tira, kamu sedang bertengkar dengan Alex?" tanya Bu Sani tampak khawatir dengan hubungan putranya.
Tira menatap Bu Sani, lalu melempar senyumnya hingga kemudian menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya habis.
"Ah! Entah bagaimana Ibu harus mengaharinya cara menghargai seorang istri. Padahal, yang mau nikah dia. Sekarang apa? Dia membuat kamu nggak betah di rumah ini. Tira, kamu harus sabar ya," ujarnya menasehati Tira seolah Ia tak ingin Tira jauh darinya.
"Ti-tidak, Bu. Bukan seperti itu. Semuanya baik kok, ibu tenang saja." Tira mengucapkan kata-kara itu dan buru-buru meraih tangan Bu Sani kemudian Ia elus dengan lembut.
"Syukurlah, jika semuanya baik-baik saja. Oh ya, besok Ibu mau ajak kamu buat arisan. Kamu bisa?"
"Baik," jawabnya singkat sembari menganggukan kepalanya. Ingin sekali menolak karena ingin menemui seseorang. Tapi, apalah dayanya hanya bisa mengangguk saat Bu Sani memintanya untuk ikut.
Tira pun berdiri dan meningglkan meja makan itu setelah pamit hendak beristirahat. Langkahnya gamang saat menuju ke kamar.
Tira berdiri di daun pintu, ragu tangannya untuk memegang tuas pintu kamar. Tangannya gemetar saat memegangi tuas pintu dan mendorong dengan kuat dari luar.
Pintu pun terbuka. Tira melihat Alex sudah berbaring dengan mata tertutup. Ia membuang napasnya dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam dengan mengendap-endap dan kembali menutup pintu kamarnya.
Tiba-tiba saja, Ia dikejutkan dengan teguran Alex padanya.
"Kau habis dari mana? Kenapa lama sekali? Kau tau kan urusan kita belum selesai?" Celetuknya dari belakang Tira.
__ADS_1
Tira melangkahkan kakinya ke samping dan duduk di kursi meja rias. Ia membalikan badannya dan menatap pada Alex.
"Apa? Apa yang ingin kau tau?" Katanya berusaha terlihat baik-baik saja padahal berbanding berbalil dengan hatinya.
"Ya tentu saja kenapa kau lakukan semua ini? Hah? Kenapa? Dimana Tira dan siapa kau sebenarnya?" Tanya Alex yang mulai menyelidiki Tisa.
Alex berdiri dan melangkah menuju ke arah Tisa. Ia berjalan mengelilingi Tisa. Melihat Tisa dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Jawab! Kau pasti bercanda! Tira nggak pernah bilang kalo dia punya sodara kembar. Kau pasti mengada-ngada," kata Alex.
"Terserah jika kau tak mau percaya. Tapi inilah kenyataannya. Aku gantikan Tira sementara karena aku sangat perduli dengan Tira. Takut jika kau tak jadienilahinya. Hanya itu saja," ucap Tisa santai. Lain dengan hatinya.
"Ck ck. Sulit dipercaya," Alex kembali menggelengkan kepalanya. Kemudian Ia gulingkan badannya di atas tempat tudur berharap sedang mempi buruk.
"Baiklah. Jika kau bukan Tira, tunjukan padaku!" Ucap Alex.
Tira berjalan menuju ke arah lemari pakaian dan mengeluarkan tas kecil dari dalam lemari itu. Ia buru-buru membuka tak dan mengambil sesuatu dari sana.
Tira lemparkan yang ada di tangannya pada Alex. Dan setelah itu, Ia langsung menatap tajam pada Alex.
"Ah! Tidak! Ini tidak mungkin!" Ucap Alex masih saja tak percaya.
"Memangnya kenapa jika aku bukan Tira? Bukannya kau harus mencari tau keberadaannya? Kau bahkan bisa mengerahkan siapapun untuk mencari Tira. Iya kan?" Ucap Tisa yang nada bicaranya sedikit natural. Tak lagi Ia berpura-pura seperti Tira.
"Kalo gitu, aku akan ceraikan kau dan kau bisa pergi dari sini. Biar aku mencari Tiraku sampai ketemu." Alex membalikan badannya tak ingin melihat Tisa.
"Lakukan saja! Aku akan dengan senang hati menerimanaya. Karena sedari awal, aku tidak mau melakukan semua ini. Jadi, aku sangat senang. Lakukanlah! Entah apa yang akan terjadi jika ibu dan bapakmu tau soal ini. Ck ck ck," ucap Tira sedikit membarikan Alex pilihan secara tidak langsung.
'Ish! Dia benar soal Ibu. Sial! Kenapa aku harus terjebak dengan permainan ini? Tira, kamu dimana?' Batin Alex khawatir pun kesal.
"Bagaimana jika kita buat kesepakatan?" Ujar Alex.
"Okay!" Sahut Tisa singkat.
"Sementara waktu kau akan jadi Tira. Dan kita akan cari dimana Tira. Gimana?" Tanya Alex mencoba bernegosiasi.
__ADS_1
"Lalu, apa untungnya buatku? Ditemukan Tira atau tidak, tak ada untungnya. Lebih baik aku jalani saja kehidupanku seperti biasa. Tak usah menjadi Kakakku," ucapnya.
"Lalu apa maumu?"
"Motor gede seharga rumah."
"Apa?! Kau memerasku?!" Bentak Alex dengan kesal.
"Yasudah. Terserah saja," Tisa mengangkat bahunya tak perduli.
"Okay. Tapi jika penyamaranmu di rumah ini krtahuan sebelum Tira ditemukan, reward yang kau inginkan itu tak akan pernah aku belikan. Ngerti?!" Ucap Alex.
Alex langsung menggulingkan badannya di atas kasur dan membuang wajahnya. Tak ingin menatap Tisa.
"Kau tidur saja di sofa. Lagian, walaupun kau tidur di sampingku, kau bukan tipeku! Cam kan itu!" Bentak Alex penuh kekesalan.
Tentu saja Alex sedang dalam keadaan kesal tiada akhir saat Ia menerima kenyataan jika dirinya harus menunggu Tira yang entah dimana.
Tisa diam-diam mengambil bantal yang ada di samping Alex. Ia juga menyiapkan tikar di atas lantai untuknya tidur. Dan Ia mulai berbaring di lantai danya beralas tikat saja.
'Hmm, demi moge seharga rumah aku akan menahan semua ini.' Ucap Tira dalam hati seraya terlelap beberapa saat setelahnya.
***
Saat Tisa bangun di pagi hari, Alex sudah tak terlihat di ranjang. Tisa pun duduk dan melihat jam jika pagi itu masih jam tujuh pagi. Ia mendengarkan dengan seksama ke arah toilet dan tak nampak ada yang memakai toiletnya. Ia pun langsung menyambar handuk dan pergi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, Tira memilih pakaian yang paling anggun karena tak ingin membuat Bu Sani kecewa karena hari ini Ia akan bertemu dengan teman-teman arisannya.
"Setidaknya, saat aku jadi Tira, aku terbiasa dengan pakaian ribet ini juga sepatu perempuan. Juga rambut digerai. Ah, semua ini hampir membuatku gila," gumamnya sembari melihat pantulan wajahnya di cermin.
Tiba-tiba saja, Tisa mendapatkan sebuah pesan dari aplikasi perpesanan berwarna hijau. Tisa pun langsung membuka kemudian melihatnya dengan seksama.
'Aku merindukanmu,' batinnya saat membaca pesan.
***
__ADS_1
Siapa yang mengirim pesan?