
Bab 31 : Penghianatan
Tisa terbengong melihat ekspresi wajah Meta yang sepertinya menyembunyikan seduatu dari Tisa.
"Kenapa? Apa ada yang kau sembunyikan? Kenapa? Ada apa?" Tanya Tisa lagi pada Meta.
Meta memutar otaknya, mencari kata-kata yang pas agar Tisa tidak curiga dengan apa yang dikatakan oleh Ani.
"Ini karena kita harus segera pergi ke makam. Bukannya kau ingin berziarah ke makam ibuku? " kata Meta kepada Tisa.
"Tapi, kenapa Ani bilang seperti itu ya? Oh ya, Apa hubungan Aris dan Ani sudah sejauh itu? Kok bisa? " Tisa yang penasaran, hanya bisa bertanya-tanya tanpa mendapatkan jawaban yang jelas dari Meta. Tentu saja Meta menyembunyikan semuanya karena ia takut jika Tisa mengetahui kebenarannya, persahabatannya akan hancur.
"Sudahlah. Kita sudah sampai di tempat ibuku. Tempat peristirahatan ibuku, Ayo kita berdoa untuk ketenangannya, "ajak Meta pada Tisa.
Mereka pun langsung duduk berjongkok dan mendoakan almarhum ibunya Meta, yang tentu saja salah seorang yang berarti bagi Tisa. selain kedua orang tuanya, Tisa juga dekat dengan ibunya Meta karena sepanjang hidup ibunya Meta, ia selalu membantu biaya berobat ibunya Meta.
Setelah mereka berdua selesai berziarah, mereka berdua pun langsung menuju ke rumah untuk beristirahat. Namun, saat dalam perjalanan pulang, Mereka dihalau oleh sekelompok orang tak dikenal yang mengeroyoki Tisa juga Meta.
Karena sudah lama Tisa tidak berkelahi, ia beberapa kali terkena serangan para preman, sehingga mulutnya berdarah dan hidungnya juga mengeluarkan darah hingga Tisa pingsan. Saat itu, Meta berteriak meminta pertolongan namun tak ada seorangpun yang bisa menolong mereka. Akhirnya Meta melawan mereka dengan sebuah balok kayu dan berusaha melawan keempat preman itu hingga Meta pun sama mengalami banyak luka-luka di tubuhnya hingga dirinya pingsan.
"Ha ha ha. Akhirnya mereka pingsan juga! Ayo kita bawa mereka dan kita ruda paksa!" Ucap salah seorang dari preman itu yang akan membawa Meta dan juga Tisa ke sebuah mobil yang sudah disediakan.
Namun tiba-tiba saja, keempat preman itu dihentikan oleh Aris dan juga teman-teman yang lainnya. Mereka datang tepat waktu untuk menyelamatkan Tisa dan juga Meta.
"Berhenti kalian semua!"petik Aris memperingatkan keempat preman yang usianya sudah tua renta.
" Ada apa anak muda? Jangan ikut campur urusan kami! Kau masih sangat muda dan belum mengerti tentang apa yang sedang kami lakukan! " tegas salah seorang dari preman itu.
" kau! Bapak tua Bangka! harusnya kau berada di masjid dan memperbaiki amalanmu! kau sudah bau tanah, bukannya malah melakukan aksi kejahatan seperti apa yang aku lihat tadi. Tentu saja aku ikut campur karena mereka berdua adalah teman baikku, " tegas Aris kepada keempat preman tua bangka itu.
__ADS_1
" Jangan banyak bacot lu!"
"Serang ...!"
Perkelahian antara anak muda dan orang tua yang tidak tahu diri itu berlangsung sengit hingga pada akhirnya anak muda lah yang menang karena jumlah mereka lebih banyak. Keempat preman tua itu langsung melarikan diri dengan meninggalkan Meta dan juga Tisa di hadapan Aris dan juga kawan-kawannya. Setelah mereka pergi, Aris dengan Sigap membawa Meta dan juga Tisa ke rumah sakit terdekat. Tentu saja Aris sangat mengkhawatirkan keadaan mereka berdua. Terlebih lagi, Aris khawatir tentang keadaan Meta begitupun Tisa tiba di kelinik terdekat.
Saat tiba di klinik, beberapa orang perawat langsung membawa bed Hospital untuk membawa Meta dan juga Tisa ke ruang perawatan. ruang perawatan yang dipesan mereka adalah ruang perawatan kelas tiga, yang artinya semuanya membaur menjadi satu dan tidak ada privasi satu sama lain. karena Aris tidak punya cukup uang untuk memasukkan mereka berdua ke ruang perawatan kelas 2 atau satu.
"Dokter, Tolong selamatkan mereka berdua!" Ucap Aris sebelum akhirnya dokter membawa mereka berdua ke ruangan di mana mereka akan mendapatkan penanganan.
"Baik, kau ikuti saja ke mana suster pergi untuk membantumu mengurus biaya mereka berdua. "Ucap dokter kepada Aris sembari pergi ke ruangan di mana dokter akan merawat Meta dan juga Tisa.
Aris pun langsung mengikuti saran dokter untuk menuju ke bagian administrasi, karena ia harus segera mengurus Apa yang dibutuhkan untuk Meta dan juga Tisa.
"Jadi, berapa biaya semuanya? " tanya Aris kepada salah seorang pegawai yang ada di sana.
Saat Aris bertanya, pegawai itu langsung mengetikkan sesuatu di layar monitor kemudian ia menghitung-hitung dan mengatakan sesuatu kepada Aris.
"Baiklah, terima kasih."
Mengetahui hal itu, tentu saja Aris sangat syok. Karena dirinya tak akan mampu membayar sebanyak itu. Ia tak sekaya itu dengan pekerjaan paruh waktunya. Aris yang bingung, langsung pergi dari bagian administrasi mnuju ke ruang tunggu. Berharap, Ia akan mendapat petunjuk.
Saat Aris duduk di ruang tunggu, Ia langsung merogoh ponsel dan melihat aplikasi bank untuk mengecek barapa uang yang tersisa. Ternyata, hanya satu juta yang Ia miliki. Hingga Aris langsung berpikir spontan.
"Semoga mereka baik-baik saja. Uang ini akan cukup untuk Meta saja. Tisa gimana ya?" Gumam Aris bingung.
Beberapa saat kemudian, Dokter kaluar dari ruangan. Karena sepertinya sudah selesai memeriksa keduanya.
"Bagaimana keadaan mereka?" Tanya Aris pada Dokter.
__ADS_1
"Jangan khawatir, mereka berdua baik-baik saja. Tidak perlu dirawat juga. Mereka pingsan karena tak tahan dengan rasa sakit akibat pukulan benda tumpul."
"Iya, Dok. Mereka berdua dikeroyok preman."
"Untungnya mereka sangat tangguh," ucap Dokter lagi.
"Apa saya boleh masuk dan melihat kondisinya?"
"Iya, silahkan," kata Dokter langsung pergi dari hadapan Aris.
Setelah itu, Aris langsung masuk dan langsung berlari ke arah Meta yang sudah membuka matanya.
"Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu baik-baik aja? Apa yang terjadi? Apa kamu kenal mereka?" Tanya Aris melemparbeberapa pertanyaan.
Aris mengerai rambut yang menghalangi wajah Meta hingga Meta merasa tak nyaman karena di sana ada Tisa. Meta langsung menyingkirkan tangan Aris, agar menjauh darinya. Meta takut jika Tisa sampai tau.
"Ada apa dengan kalian berdua? Seperttinya kalian lebih dari teman." Tiba-tiba saja Tisa mengeluarkan suara yang tentu saja membuat Aris dan juga Meta terkejut.
Apalagi Meta, yang sedari awal sangat takut jika Tisa tau akan hubungannya dengan Alex.
"Aku nggak mungkin salah. Kalian pacaran ya?" Tanya Meta dengan manik mata menyelidik.
Tak ada yang menjawab pertanyaan dari Tisa. Hingga Tisa bangun dan mendekat pada bed hospital dimana Meta dan Aris berada.
"Nggak, Sa. Nggak ada apapun di sini."
"Lalu, kenapa Aris mendekatimu dan menghawatirkanmù seperti tadi? Jika memang Ia khawatir, kenapa dia menanyaimu lebih dulu? Bahkan dia tak melihatku sedikit pun,"
"Soal itu ...
__ADS_1
***
Jangan lupa like n komen