
Bab 22 : Firasat
Alex kaku dan Ia hanya tersenyum saat ketiga orang yang ada di hadapannya bertanya apa yang tengah dipikirkan oleh Alex.
"Apaan sih! Kompak banget nanyain gue! Cuma lagi mikir aja. Kemungkinan terbesarnya Tira kemana. Apa jangan-jangan ke rumah sodaranya, atau teman atau kerabat? Kita kan nggak tau. Salah ya, kalo mikir gitu?" Ucap Alex pada semuanya.
"Hmm! Lo bener soal rumah sodara. Di sini emang kita ada sodara dan kerabat. Tapi, nggak mungkin juga Tira ke sana. Secara, sodara yang di Bali nggak terlalu deket juga. Parahnya, dia selalu nyinyir soal keluarga kita. Jadi, aku rasa nggak mungkin deh!" Ucap Tisa yang baru ingat jika di Bali ada kerabat jauhnya. Hanya saja, persingan diantara keluarganya juga kerabatnya membuat Tisa enggan ke sana.
"Tapi kalo menurut gue, kita harus cari dia ke rumah sodaranya. Siapa tau dia ada di sana. Kalo nggak dicoba, kita nggak akan pernah tau hasilnya kan?" Jawab Evan dan Rendy menyetujuinya.
"Yaudah, lo nggak usah ikut kalo takut. Diem aja di sini. Lagian, biar kita aja yang cari," Alex berbicara seolah paling perduli dengan Tisa, padahal ada udang di balik batu.
"Yaudah gue ikut! Lagian, emang kalian tau tempatnya? Gue harus tanya dan pastikan dulu. Setidaknya, kita juga harus tau alamat dimana teman Tira dan lokasi mana yang kemungkinan akan menjadi tempatnya bersembunyi," katanya lagi.
"Gue ada sih, satu alamat yang pernah Tira katakan. Katanya, Dia mau datang ke Bali sama gue setelah kami menikah. Tapi, entah keinginan itu akan terealisasi atau tidak." Ucapnya sedih dengan kenyataan yang saat ini dialaminya.
"Dah lah, Lex. Lo jangan khawatir, kita pasti akan segera temukan dimana Tira. Lo tenang aja ya," Rendy menepuk pundak Alex, menguatkan teman sekaligus Bosnya itu.
Tisa terdiam, Ia menatap laut dan mendengarkan deburan ombak di laut yang rasanya memberikan sebuah petunjuk padanya.
Tisa merogoh ponsel yang ada di saku celana dan langsung mengetikan satu buah nomor ponsel. Ya, Ia bermaksud menanyakan alamat sodaranya di Bali pada Pak Arya.
"Ya, Tisa. Ada apa?" Tanya Pak Arya pada Tisa.
"Pak, minta alamat Bi Mirna yang di Bali."
"Mau apa? Kok, kamu tiba-tiba minta alamatnya Bi Mirna yang di Bali? Emang kamu lagi di Bali ya?" Tanya Pak Arya dengan santai bak seoerti orang yang tak sedang dalam masalah.
"Ada urusan. Aku lagi di Bali sama Alex."
"Nanti Bapak kirim lewat pesan aja. Oh ya, kamu memang masih ingat sama Bi Mirna? Bukannya keluarga kita nggak pernah akur?"
__ADS_1
"Nggak perlu tau. Bapak kirimin aja alamat lengkapnya," ucap Tisa pada Pak Arya.
Tisa pun langsung menekan tombol merah dan panggilan pun berakhir. Ia angsung diam dan beberapa saat kemudian, Ia tunjukan pesan dari ayahnya pada Alex.
"Gue nggak ikut nyari kalo ke sana. Gue tunggu di sini aja," kata Tisa pada Alex dan yang lainnya. Tisa langsung pergi meninggalkan pantai dan pergi ke Hotel, Ia merasa jika dirinya akan mencari Tira sendiri. Karena Ia tau jika Tira nggak mungkin ada di rumah sodaranya.
Saat Tisa pergi, Alex pun merasa jika pencariannya kali ini tak akan lengkap jika tanpa Tisa. Namun, Alex juga tak mengatakan apapun pada Rendy dan Evan. Ia hanya menganggukan kepalanya tanda setuju.
"Kalo gitu, ayo kita cari Tira sekarang ke alamat ini," ajak Evan.
"Ya, baiklah." Ucapnya menyetujui Evan dan juga Rendy.
Mereka bertiga pun langsung menuju alamat yang diberikan oleh Pak Arya, tanpa berpikir dampak negativ yang akan terjadi jika sampai kerabatnya tau soal Tira yang hilang.
Sementara itu, Tisa sudah ada di hotel. Ia duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang menggantung. Tangannya masih memutar-mutar ponsel dan Ia mengingat setiap perkataan Evan. Soal penuturan hilangnya Tira di Rumah sakit.
Karena penasaran, Tisa akan mendatangi Rumah sakit siang itu. Namun sebelumnya, Ia akan menyewa terlebih dulu motor yang akan Ia pakai ke sana. Tisa juga mengenakan masker dengan niat supaya tak ada yang mengenal dirinya. Namun, saat Ia berjalan ke arah luar kamar hotel dan hendak menutup pintu, notivikasi ponsel pun berbunyi dan Ia langsung melihatnya.
"Tunggu aja, An! Setelah gue temukan Tira, Lo nggak bakal hidup dengan tenang!" Ucap Tisa dengan kesal.
Tisa melanjutkan langkahnya menuju lantai dasar. Ia sudah ditunggu oleh seseorang yang akan menyewakan motornya untuk Tisa. Setelah transaksi, Tisa langsung pergi dengan motor itu ke rumah sakit, tempat dimana Tira hilang.
'Entah mengapa, gue ngerasa kalo lo masih ada di sekitar rumah sakit. Ini adalah batin gue yang ngerasain kalo kita dekat. Kita kembar dan gue tau kalo Lo lagi ketakutan,' gumamnya sepanjang perjalanan menuju ke rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, Tisa enggan membuka helemnya. Ia tetap memakai dan menunggu di pos satpam sembari mencari tau apa yanh sebenarnya terjadi.
"Maaf, cari siapa ya?" Tanya satpam.
"Nggak, Pak. Saya mau jenguk temen. Cuman saya belum tau dia di kamar sebelah mana," katanya pada Pak Satpam berpura-pura.
"Saya boleh ke arah sana?" Tanya Tisa menunjuk sebuah penginapan khusus dokter.
__ADS_1
"Tidak. Itu hanya diperbolehkan untuk dokter saja." Jawab Pak Satpam.
Tisa dengan helemnya menganggukan kepala dan Ia melihat setiap cermin bangunan dua tingkat itu. Ia melihat setiap kaca walaupun tertuyup gorden siang hari.
"Tira, Lo dimana? Tolong kasih petunjuk sama gue! Plis, Tira. Lo harus segera ketemu dan jelasin semuanya," gumamnya sembari menatap penginapan yang beberapa kilo di depannya.
Tiba-tiba saja, beberapa orang dokter masuk ke dalam penginapan dengan membawa alat bantu pernapasan lengkap dengan tabung oksigennya. Tentu saja Tisa terkejut dan Ia langsung menanti satpam lengah.
Sulit memang, karena satpam berjaga dua puluh empat jam dan Tisa hanya bisa masuk rumah sakit, dan tidak penginapan khusus dokter.
Namun, ia memiliki sebuah rencana. Ya, insting sodara kembar tak bisa dihilangkan atau diabaikan begitu saja. Karena Tisa sadar sedari kemarin pun Ia ingin ke rumah sakit.
Tisa langsung masuk ke rumah sakit dan Ia berpura-pura mencari nama seseorang ke bagian informasi. Setelah itu, Ia mencari ruangan tempat dimana dokter berjaga dan Ia menemukan seseorang yang sepertinya akan pergi ke penginapan dokter.
Dengan tenaganya, Ia membuat beberapa pukulan di ruangan dokter itu dan Tisa dengan sigap memakai baju dokter miliknya.
"Maaf ya, Dokter. Aku pinjam bajumu sebentar," kata Tisa sembari mengunci dokter yang pingsan di kamar mandi.
Tisa pun keluar dengan penampilan sebagai dokter. Persis seperti dokter wanita yang tadi Ia pukul di bagian kepalanya.
Tisa keluar dari rungan dan menutup pintunya dengan rapat kemudian melangkah menuju penginapan.
"Tisa!"
"...."
***
Siapa yang menegur?
Jangan lupa Like n komen.
__ADS_1