
Bab 19 : Takut ketinggian
Tisa heboh mencari dimana asal kebakaran yang dimaksudkan Alex. Alex malah terkekeh melihat tingakah Tisa. Tisa yang merasa dipermainkan, langsung mencubit Alex hingga Alex memekik kesakitan dan minta ampun pada Tisa.
"Iya iya maaf, habisnya kamu malah tidur. Siapa suruh," celetuk Alex.
"Asal lo tau, gue ketiduran dan bukannya tidur! Gue juga gini gara-gara tidur lo yang kayak kebo. Oh ya, kalo kakak gue tau kalo tidur Lo itu kayak kebo, dia pasti nyesel nikah sama Lo."
"Jangan sembarangan! Tira itu adalah orang yang paling mencintai gue lebih dari dirinya sendiri,"
"Kepedan lo!"
Yah, begitulah Tisa dan Alex seperti kucing dan tikus jika sudah berdebat. Tak ada hentinya hingga mereka berdua tiba di bandara.
Saat tiba di bandara, mereka disambut oleh Rendi yang merupakan tangan kanan Alex. Ia membantunya membawa barang dan segera duduk di ruang tunggu karena beberapa saat lagi, mereka akan terbang ke Bali.
"Lex, lo dah pastikan seseorang buat mantau kan di Bali?" Tanya Alex pada Rendi.
"Iya, Lex. Gue udah atur semuanya seperti yang Lo perintahkan," ucap Rendi.
"Makasih ya, Bro." Peluk Alex pada Rendi yang pada saat Tisa melihatnya, Ia bergidik ngeri.
"Gua yang makasih, karena lo dah bantu gua dan penuhi kebutuhan keluarga gua," ucap Rendi yang terlihat sangat dekat denan Alex.
Tisa hanya memperhatikan kedekatan mereka tanpa ingin bertanya lebih jauh hubungan diantara keduanya. Ia hanya fokus dengan perjalanannya saja yang sebentar lagi akan menaiki pesawat.
Tisa dan Alex juga Rendi akhirnya berjalan menuju ke pesawat. Mereka bertiga naik ke pesawat dan Rendi membiarkan Alex dan Tisa duduk berdua, dirinya memisahkan diri.
"Lo mau kemana?" Tanya Alex sembari menarik baju Rendi.
"Gua mau duduk di tempat gue," katanua menunjuk kursi yang agak jauh dari tempatnya duduk.
"Kenapa lo buat dia duduk sebelah gue?" Tanya Alex.
"Udahlah, Bro. Lo nikmatin aja perjalanannya susah banget. Tibang sejam doang ah! Udah duduk!" Ucap Rendi langsung melepaskan tangan Alex dari bajunya dan langsung pergi ke tempatnya.
Sementara itu, tentu saja Tisa kesal karena menurutnya Alex tak mau bersebelaham dengannya.
"Hei, buaya! Lagian, yang dirugikan dalam hal ini adalah gue!" Ucap Tisa bernada kesal.
"Lo pinter banget ngatain orang! Diam dan jangan berisik!"
Tisa langsung menutup mata seolah menikmati perjalanannya. Alex pun membuang wajahnya ke arah lain, tak ingin melihat Tisa yang ada di sampingnya. Alex yang duduk dengan jendela kecil, asyik melihat pemandangan hingga Ia merasa ada yang aneh dengan Tisa.
__ADS_1
Tangan Tisa mulai gemetar dan Ia mengeluarkan keringat. Ia sekuat tenaga memejamkan mata dan enggan membukanya. Hingga tangannya meremas tangan Alex yang ada di sampingnya. Tentu saja Alex yang sedang menikmati perjalanannya itu langsung melihat pada Tisa.
"Kau kenapa?" Tanya Alex dengan nada datar.
Tisa menggerakan jari telunjuk hingga menggelengkan kepalanya pada Alex. Alex tak mengerti dengan kode yang Tisa berikan.
Alex hendak menyingkirkan tangan Tisa dari atas tangannya tempat tangan Tisa berada. Namun, tangan Tisa satu lagi malah memegang tangan Alex kembali hingga Alex merasa tangan Tisa begitu dingin.
"Kau kenapa? Apa jangan- jangan kau takut ketinggian?" Tanya Alex panik.
Tisa menganggukan kepalanya dengan mata masih tertutup.
"Aish! Kenapa nggak bilang dari tadi? Kau menyusahkanku saja!" Ucapnya bingung harus bagaimana.
Ia pun menyambar ponsel dan mencari tahu harus bagaimana menenangkan orang yang takut ketinggian saat berada di dalam pesawat. Hingga Alex pun mencoba mempraktekannya pada Tisa.
Alex menyuruhnya berpindah tempat dan melihat ke arah jendela kecil, hingga Tisa malah semakin takut.
"Sial! Dasar saran nggak guna!" Gerutunya kesal sembari melemparkan ponselnya.
Alex kembali duduk. Kali ini, Tisa yang duduk dekat hendela dan kedua tangannya dengan refleks memegang erat tangan bagian atas Alex hingga posisi kepala Tisa ada pada bahu Alex.
Debaran jantung Alex begitu cepat saat Tisa melakukan sentuhan pada tangannya. Ia pun meletakan tangan kirinya di atas kepala Tisa kemudian menepuk-nepuknya.
Setelah satu jam, Tisa perlahan tenang dan Alex merasa jika Tisa tertidur dengan pulas. Merasakan hal yang belum pernah Alex rasakan sebelumnya bahkan bersama Tira.
Beberapa saat setelah sampai bandara di Bali, semua penumpang turun dan hanya tinggal mereka berdua dan Rendi yang berdiri di samping Alex.
"Ha ha," Rendi berulah.
"Apaan sih lo?"
"Udah, bangunin aja." Ucap Rendi memberi saran.
"Kasihan, dia nggak nikmatin perjalanannya,"
"Apa? Lo bilang kasihan? Ha ha, gue nyium bau-bau ..."
"Jangan ngaco! Ini nggak seperti yang lo pikir! Dia adik ipar gue!"
"Adik dan kakak, tapi sama- sama membuat jantung Lo berdebar kan?"
"Sialan, Lo!" Ucap Alex pada Rendi.
__ADS_1
Karena tak ingin dikira suka pada Tisa, Alex langsung meletakan jari telunjuknya pada kepala Tisa dan menyingkirlannya dari pundaknya.
Sontak Tisa kaget karena Alex dan Rendi melihatnya.
"Apa sudah sampai?" Tanya Tisa sembari mengucek matanya.
"Iya, sudah. Lo tidur apa pingsan?"
"Mana ada pingsan! Lo kan nyari kesempatan! Minggir!" Tisa langsung bangkit dan pergi duluan dari pesawat itu.
"Dasar, tidak tau terima kasih!" Gerutunya kesal.
Alex dan Rendi pun mengekor Tisa dari belakang.
'Nyesel gue, nolongin cewek jadi-jadian itu. Kalo bukan karena adiknya Tiŕa, ogah gue!' Batinnya masih merutuki nasibnya yang harus bersama Tisa.
***
Saat sampai di hotel, Alex dan Rendi satu kamar. Sementara Tisa, sendiri dan mereka beruntung jika kamarnya berdekatan.
Saat di kamar, Tisa langsung menutup pintu dan menguncinya. Ia lari ke tempat tidur dan menggulingkan tubuhnya. Ia berbalik dan menatap ke atas atap sembari memegngi jantungnya.
"Ini gue kenapa ya? Gue belum pernah measakan hal ini sebelumnya. Jantung gue berdebar sangat kencang, dan gue ngerasa ada yang aneh sama diri gue. Kenapa? Apa gue punya penyakit jantung?" Gumamnya.
Tiba-tiba saja, suara ketukan pintu membuyarkan lamunananya. Ia langsung beranjak dan membuka pintu. Ia melihat ada Alex dan jantungnya malah kembali berdetak kencang. 'Gue benci jantung gue!'
"Ada apa?!" Tanya Tisa ketus.
"Gue cuma mau ngasih ini aja!" Ucap Alex sembari memberikan koper milik Tisa.
"Kalo nggak mau, biar gue bawa lagi." Kata Alex lagi sembari membawanya.
"Eh jangan!" Tisa buru-buru mengambil kopernya dan memasukannya ke dalam.
"Gu balik kamar." Ucap Alex sembari membalikan badannya.
"Alex, yang tadi di pesawat makasih ya, lo dah mau bantu nenangin gue." Ucap Tisa.
Alex terenyum dan membalikan badannya. Namun, saat Ia membalikan badannya Tisa sudah terburu- buru menutup pintunya.
Bugh!
Pintu kamar Tisa tertutup rapat.
__ADS_1
Alex pun ...
***