
Bab 14 : Adakah titik terang?
Tisa terbengong jika orang yang paling ingin Ia hububgi ada di hadapannya. Ya, Meta yang sedari tadi ingin Ia hubungi.
"Tisa!" Tegur Meta mengerutkan kedua alisnya.
"Meta?! Kenapa kau di sini?" ucap Tira terbata-bata.
"Harusnya, gue yang nanya. Lo kemana aja? Napa kemaren lo nggak dateng?" tanya Meta menyelidik.
Tisa melihat kesekelilingnya dan Ia langsung menarik tangan Meta dan membawanya ke luar Restoran. Mereka berdua pun duduk di kursi belakang Resto yang kebetulan tak ada siapapun di sana.
"Apa yang terjadi?" Meta menatap Tisa dari bawah ke atas dan Ia tersenyum seolah meledek Tisa.
"Diam! Jangan tatap gue kayak gitu! Singkirkan pandangan lo!" Pekik Tisa memperingatkan sahabatnya, Meta.
"Ini lo nggak salah? Pake baju, ya ampun! Gue pangling, Sa." Ujar Meta tergelak saat memperhatikan Tisa.
"Lo bisa kan jaga rahasia ini dari siapapun? Gue nggak mau lo bilang apa yang terjadi, apalagi sama Aris. Jangan pokoknya!" Ancam Tisa pada Meta.
"Tapi kenapa? Bukannya Aris harusnya bangga ya? Lo berpenampilan seperti ini?" Balasnya masih dengan nada meledek Tisa karena penamlilannya.
"Cuma Lo yang tau kalo Gue punya kembaran kan? Kakak gue Tira, diculik di hari pernikahannya dan gue harus gantiin dia buat nikah sama Alex. Gue terjebak dengan keadaan ini. Lo harus bantu gue cari Tira," jelas Tisa pada Meta.
Tisa memohon pada Meta dengan sepenuh hati. Ia seolah menunjukan bahwa dirinya sudah tak mampu menjadi Tira.
"Tega banget bokap lo, Sa." Ucapnya malah menambah kemalangan pada Tisa.
"Makanya bantuin gue!"
"Gue bisa apa?"
"Pokoknya, Lo harus cari Tira sampe ketemu. Kalo perlu, Lo kerahin geng moge buat nyari dimana Tira. Plis, tolong gue! Jangan biarkan gue terperangkap dengan semua ini, plis,"
"Tapi, gimana caranya? Semua harus dengan persetujuan Aris."
"Gue serahin semuanya sama lo, yang jelas Lo harùs segera bantu gue. Kalo nggak, gue bakal tamat di rumah Alex." Ucapnya pasrah.
Tisa langsung pergi begitu saja karena tak ingin Bu Sani curiga jika dirinya lama dari kamar mandi. Tisa juga tak bertanya mengapa Meta ada di restoran itu.
Tira langsung kembali menuju meja dimana ada banyak para mertua yang pastinya sedang membicarakan para menantu mereka.
__ADS_1
Tisa kembali duduk di kursi dengan nyaman. Beruntung, Bu Sani tak curiga saat Ia kembali duduk.
Saat Tira kembali, Ia menyaksikan proses pengocokan arisan yang dipandu oleh Bu Sani. Walaupun tak mengerti, Ia tetap melempar senyum dan tampil cantik hingga acar usai.
"Alah, aku harus nunggu lagi. Kenapa sih, bisa Jeng Sani yang menang? Kayaknya Jeng Sani ini punya jampe ya?" Ucap salah seorang teman Bu Sani.
"Ini kebetulan aja. Yaudah deh, semua biaya ini aku yang bayar karena aku yang menang." Jawab Bu Sani.
Semua teman sosialita Bu Sani langsung bersorak dan mereka makan dengan santai menikamati traktiran dari Bu Sani.
Sementara itu, Tisa masih sangat khawatir soal gengnya dan juga keberadaan Tira yang sampai saat ini belum menemukan titik terang.
***
Sementara itu, Meta sebenarnya sengaja datang untuk menemui Ani yang bekerja di resto itu. Meta punya janji bertemu saat itu, hingga dirinya duduk di kursi kayu dekat pintu keluar Dapur.
Meta dengan senang hati menunggu Ani, yang memang menjadi musuh geng moge akibat ketidak setia kawanannya pada Aris, sang pemimpin geng moge.
Akhirnya pintu dapur itu terdengar terbuka dan saat itu juga Ani berdiri di hadapan Meta.
"Kau bertemu dengannya?" Tanya Ani ketus pada Meta.
"Dengan siapa? Tidak." Meta menyangkal pertemuannya karena takut Ani sebarkan semuanya, padahal Ani sudah tau lebih dulu soal ini.
Meta terdiam dan enggan memberikan komentarnya. Ia hanya menundukan kepalanya saja.
"Sudahlah. Gue nggak mau bahas soal Tisa. Mana uangnya?" Tanya Meta membalikan telapak tangannya pada Ani.
"Tapi kau jamin kan jika Aris bakal mau?" Tanya Ani memastikan.
"Iya! Kau tenang saja. Besok kau datanglah ke markas," ucap Meta pada Ani.
Ani merogoh saku dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Ia pisahkan lima lembar uang itu kemudian Ia berikan pada Meta.
"Awas jika kau bohong, aku akan bongkar kejadian hari ini! Bahkan, kau terancam akan dikeluarkan dari geng moge." Ancam Ani sesaat setelah sejumlah uang disambar dengan cepat oleh Meta.
"Bisa diatur. Bye!" Meta langsung membawa uang itu dan menyimpannya di tempat yang aman menurutnya.
Tanpa berterima kasih, Meta langsung berlari ke jalanan dan menghentikan angkutan umun yang akan membawanya ke sebuah puskesmas di pinggiran kota.
Setelah turun, Ia langsung masuk untuk menemui seseorang. Meta menemui Ibunya yang sudah satu minggu terbaring lemah di rumah sakit akibat sakit lambung kronis yang dideritanya.
__ADS_1
Tak ada yang bisa dimakan oleh Ibu karena tak tahan denngan rasa sakit jika perutnya diisi bukan dengan bubur.
"Dokter, bagaimana kondisi Ibu saya?" tanya Meta pada Dokter.
"Ibumu mengalami batu empedu kali ini. Dan Ia harus dioprasi. Jika tidak, Ia akan terus merasa sakit di bagian perut sebelah kanan bawah. Bahkan, tak bisa makan walau nasi sekalipun." Jelas Dokter.
"Benarkah, Dok? Berapa biayanya?" Tanya Meta lagi.
"Sekitar lima belas juta hingga sembuh,"
"Apa?! Bukannya kata dokter ini hanya lambung? Kenapa tiba-tiba jadi batu empedu? Dokter jangan main-main sama saya!" Bentaknya pada Dokter. Wajahnya berubah seram saat tangannya meremas jas yang dokter pakai.
"Ini memang batu empedu. Saya yakin, dan harus segera dioprasi. Permisi!" Tegas dokter.
Meta keluar meninggalkan ruangan dokter. Ia melangkahkan kakinya menuju ke sebuah kursi dekat dengan ruang perawatan.
Perasaannya hancur saat tahu apa yang terjadi pada Ibu semata wayangnya. Meta duduk dengan menundukan kepalanya. Penampilannya yang metal, masih dikalahkan dengan air mata karena Ibunya yang sakit.
'Harus apa? Haruskah minta tolong Tisa? Tapi, sekarang ponselnya nggak sama dia. Gimana ini?' Batinnya.
"Meta, gimana Ibumu?" Tanya Aris pada Meta yang tiba-tiba saja muncul di hadapannya.
Meta mendongakan wajahnya dan menyeka air mata di wajahnya. Sesekali Ia juga ingin terlihat baik-baik saka di depan Aris.
"Dia, harus dioprasi." Jawabnya dengan singkat.
"Apa?! Oprasi? Tapi kenapa? Biar aku hubungi Tisa dulu, siapa tau dia bisa bantu." Ucap Aris pada Meta yang kini duduk di dekatnya, Aris dengan ponsel di tangannya mencoba menghubungi Tisa.
Beberapa kali dihubungi, tak ada jawaban dari Tisa.
"Beberapa hari ini, dia menghilang. Apa kau tau kemana dia?" Tanya Aris pada Meta.
"So-soal itu, aku nggak tau. Tapi, bukannya dia udah bilang ada urusan di luar kota?" Ucap Meta khawatir. Takut semuanya terbongkar.
"Iya. Tapi ini kan urgen. Diantara semuanya, hanya dia orang berada. Makanya, kita harus minta bantuannya." Jelas Aris menunjukan perhatiannya pada Meta.
"Ada sesuatu yang harus aku katakan, ini soal Ani."
"Apa lagi? Kenapa kau masih berhubungan dengannya? Sudah aku bilang jangan berhubungan dengan dia!" Pekiknya pada Meta.
"Kali ini saja. Kau jalan dengannya,"
__ADS_1
"Apa?! Kau gila."
***