Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 30 : Tempat baru Tisa


__ADS_3

Bab 30 : Tempat baru Tisa


Tisa mengepalkan tangan dan menjadikan perkataan ayahnya itu sebagai cambuk bagi dirinya. Tisa melangkahkan kakinya ke luar rumah dengan kepedihan. Ia meninggalkan rumah dengan dijemput oleh seseorang.


Semmentara itu, Alex masih tak percaya jika Tisa malah pergi dari rumah. Ia tak menyangla jika Pak Dananh bersikap diskriminatif pada Tisa.


"Pak, itu Tisa pergi loh. Gimana dengan orang tuaku? Apa yang akan aku katakan pada mereka?" Tanya Alex pada Pak Danang.


"Kau tidak perlu cemas. Dia nggk akan bisa bertahan di luar rumah. Dia itu anak yang dikit-dikit butuh uang. Dikit-dikit minta uang. Dia akan pulang jika dia butuh uang. Palingan juga dua hari," ucap Pak Danang enteng dan tak mempermasalahkan apa yang terjadi pada Tisa.


Alex yang ragu dan bingung langsung pamit daru rumah namun Bu Dita tiba-tiba saja muncul di hadapan Pak Danang dan Alex.


"Tunggu, Nak Alex. Kau mau kemana? Bisakah kau bicara dengan Tira?"


"Tapi Bu Tis ..


"Ibu mhon," pinta Bu Dita memohon tanpa Ia tau jika Tisa pergi dari rumah.


Karena permintaan dari Bu Dita, Alex mengurungkan niatnya pergi mengejar Tisa. Ia malah pergi ke belakang, tepat dimana Tisa berada saat ini.


Setelah Alex pergi, Bu Dita duduk di depan Pak Danang. Ia akan berusaha bicara dan merundingkan semuanya dengan Pak Danang. Ia hanya bisa berharap suaminya itu luluh dengan apa yang Ia maksudkan.


"Pak, pikirkan lah sekali lagi soal ini. Jangan biarkan anak-anak kita terpaksa dalam menjalani kehidupan mereka. Apa kau tak memikirkan bagaimana perasaan anak-anak?" Tanya Bu Dita dengan nada suara baik-baik pada suaminya itu.


"Kau ini kenapa lemah sekali? Makanya anak-anak pada ngelunjak semua. Apalagi di Tisa! Dia pke acara kabur-kaburan segala." Ucap Pak Danang dengan kesal.


"Apa yang bapak katakan? Tisa pergi lagi dari rumah?"


"Iya. Jangan berlebihan mengekspreikan keadaan ini! Kau kan tau ini bukan pertama kalinya dia kabur! Tunggulah dua hari lagi. Dia pasti kembali."


Bu Dita langsung menangis tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Pak Danang. Ia juga kesal dengan sikap pak danang yang malah pergi dari hadapannya karena tiba-tiba mendapatkan panggilan telepon entah dari siapa.


"Tisa ... kamu kemana?" Lirih Bu Dita dengan sangat khawatir.


***


Sementara itu, Dita tengah berada di jalananan. Diantar seseorang ke markas besar tempat dimana Ia bersama teman-,temannya berkumpul.

__ADS_1


Saat tiba, Semua orang yang ada di markas besar itu bersorak saat Tisa tiba di sana. Tisa turun dari motor dengan mbawa dua tas yang sedikit besar. Tak seperti biasanya.


"Kabur lagi, Sa?" Tanya Meta pada Tisa.


"Gue lagi mau di sini aja. Rindu sma klian semua. Setelah sekian lama gue terpenjara, akhirnya gue terbebas dari semuanya." Ucapnya pada Meta yang sedari tadi menggandeng pundaknya.


"Lo bisa kan bantu gue beresin semua ini?" Tanya Tisa pada Meta.


Meta mengangguk dan langsung membawa tas milik Tisa ke sebuah ruangan, tempat dimana mereka berdua istirahat. Markas besar itu, ditempati oleh Aris karena Aris tak punya tempat tinggal.


"Yang punya kamar kemana?" Tanya Tisa pada Meta.


"Maksud kamu Aris?" Meta memperjelas apa yang ditanyakan oleh Tisa.


"Tau aja," ucap Tisa tertunduk malu.


"Oh ya, waktu itu lo bilang mau jelasin? Jelasin apa ya?" Tanya Meta.


"Iya. Ini soal permasalahan di hidup gue yang bikin gue harus bener-bener kabur. Tapi gue nggak tau harus kemana." Tisa menundukan kepalanya. Benar-benar bingung.


Meta langsung duduk di samping Tisa dan melihatnya dengan penuh iba.


"Apa yang kau katakan?! Ibu nggak ada maksudnya apa? Kenapa?" Tanya Tisa dengan nada suara tinggi bercampur kaget dan juga marah.


"Iya, saat kamu nggak ada. Nggak ada yang bisa bantu hiaya oprasi. Waktu itu, aku pinjam sama Ani. Tapi tetap saja jumlahnya tak cukup dan Ibu pada akhirnya meninggal akibat terlambatnya penanganan."


Tisa langsung memeluk Meta dan menangis untuk Meta. "Maaf ya, aku nggak tau kalo Ibu sudah tiada. Boleh aku lihat makamnya?" Tanya Tisa.


"Baiklah. Kita sambil bawa barangmu aja ke rumahku. Aku senang kau tinggal di rumahku," ucap Meta pada Tisa sembari membawa satu tas berukuran besar.


Mereka berdua berjalan ke arah rumah Meta yang jaraknya tak jauh dari markas. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah Meta, Tisa mengatakan hal yang membuat Meta merasa bersalah.


"Meta, apa ada yang kau sembunyikan dariku?" Tanya Tisa.


"Memangnya kenapa? Apa aku terlihat seperti itu?" Tanya Meta pada Tisa.


"Tidak. Aku hanya pernah melihat Aris jalan sama Ani waktu aku jadi Tira."

__ADS_1


'Ya ampun. Gimana kalo Tisa tau soal hubunganku sama Aris? Bisa perang dunia kedua! Tapi aku bakalan ngalah sama Tisa. Gue nggak ada alasan lagi buat jalan sama Aris.' Kata Meta dalam hati.


"Kenapa bengong? Aku nanya loh ini," ucap Tisa.


"Iya, selama kau nggak ada aku di rumah sakit dan nggak ngawasin Aris. Masih suka sama dia?"


Tisa tersenyum malu, menunjukan jika dirinya memang masih menyukai pria yang bernama Aris itu.


"Baiklah, aku siap bertugas kembali. Mendekatkanmu pada Aris." Kata Meta senyum.


Mereka berdua tiba di rumah Meta dan meletakan semua barang-barang yang di bawa oleh Tisa masuk ke rumah Meta. Setelah itu, mereka berdua menuju tempat pamakaman umum.


Namun saat dalam perjalanan, mereka berdua berpapasan dengan Aris. Tisa senang, namun kecewa karena Aris malah bersama dengan Ani.


"Hai, Sa. Dah lama kita nggak ketemu. Gimana kabarnya? Baik ya pastinya." Ucap Ani sembari memegang tangan Aris.


"Lo kok bisa lengket gitu sama Aris? Kenapa? Ada apa ini?" Tanya Tisa bingung.


"Ha ha ha. Lo belum tau ya? Kalo gue sama Aris mau nikah." Ucap Ani sembari memperlihatkan sèbuah cincin di jari manis tangan kiri Ani.


"Apa? Aris? Ini bohong kan? Gue nggak ke sini belum sebulan loh! Kenapa semuanya begiti cepat berubah?" Ucap Tisa merasa miris.


Aris diam, tak menjawab apa yang Tisa tanyakan padanya.


"Dia nggak akan jawab. Oh ya, hati-hati sama sahabat lo! Dia itu ...


Belum Ani mengatakan sesuatu pada Tisa, Meta langsung menarik tangan Tisa dan membawanya pergi menjauh dari hadapan Aris juga Ani.


Meta menyeret Tisa dan membawanya sejauh mungkin.


"Ada apa sih?" Tanya Tisa penasaran dengan sikap Meta.


Meta melepaskan genggaman tangannya pada Tisa. Kemudian, Ia langsung mbuang napasnya kasar.


'Apa yang mau gue katakan sama Tisa?' Batinnya bingung.


Tisa terbengong melihat ekspresi wajah Meta yang ...

__ADS_1


***


Jangan lupa like n komen juga sub


__ADS_2