
Bab 25 : Setelah bebas
"Evan!" Bentak Alex pada Evan yang malah asyik mengobrol dengan pak satpam.
Saat Evan sadar, Ia langsung mencari alasan untuk pergi dari hadapan pak satpam. Sementara itu, Tisa tengan naik motor dan bersiap pergi. Ia juga melihat seorang dokter menyadari seduatu akan kehadiaran didirnya.
Sebelum dokter itu tiba, mereka semua sudah pergi dari rumah sakit menuju ke bandara dengan tingkat kecepatan tinggi. Tisa masih sesekali melihat ke arah belakang, memastikan jika dokter yang menangani Tira belum menyadari jika Tira tak ada di ruangannya.
Satu jam kemudian, mereka tiba di bandara. Tisa memberikan kunci sepeda motor dan juga sejumlah uang pada pemilik motor dan mengucapkan banyak terima kasih. Setelah itu, Ia langsung naik pesawat dan mereka menuju ke kota tempat mereka tinggal.
Saat di dalam pesawat, agak aneh karena mereka membawa Tira dalam keadaan diperban. Hingga Tisa memberikan saran jika Tira harus selalu memakai pakaian yang Tisa siapkan.
"Jangan buka jilbannya kalo lo mau selamay sampe tujuan. Lo mau kita ditemukan Momny Queen lagi?" Ucap Tisa pada Tira.
"Ya baiklah! Lo bisa pindah dari samping gue? Biarkan Alex yang jagain gue. Yah? Pleace, gue rindu sama dia. Lo ngerti kan?" Ucap Tira memohon pada Tisa.
Tisa hanya terdiam dan memandang pada Alex yang duduk di belakangnya.
"Lo waras nggak sih? Gue nggak bakal bahayain lo! Yang ada lo bahaya kalo deket dia! Dasar aneh!" Gerutu Tisa dengan kesal.
Walaupun kesal, Ia tetap pindah ke belakang untuk bertukar tempat dengan Alex. Saat mereka bertukar tempat, saat itulah hati Tisa mulai tak karuan.
"Kau mana tau rasanya jatuh cinta. Iya kan sayang?" Balas Tira pada Tisa saat Tisa pergi ke jok belakang.
Sepanjang perjalanan, Tisa terua memandangi Tira dan Alex walaupun terhalang oleh kursi. Ia pun menutup matanya dengan topi yang Ia pakai sementara wajahnya Ia tutupi dengan masker.
"Kau kenapa?" Tanya Rendy pada Tisa.
"Nggak. Gue cuma terlalu seneng aja," jawab Tisa dengan santai tanpa beban.
"Apa kau ...
Tisa langsung menutup wajahnya kembali sebelum Ia mendengar komentar dari Rendy. Begitu malas Tisa mendengar ocehan dari Rrendy.
Beberapa saat kemudian, mereka berlima tiba di bandara. Dan semuanya akan kembali normal.
Namun tiba-tiba saja saat Rendy dan Evan akan pamit, Tira malah pingsan hingga mereka semua pannik dan bingung.
"Apa yang harus kita lakukan? Apa kit bawa dia ke rumah sakit? Apa tidak apa-apa?" Tanya Alex pada semuanya.
__ADS_1
"Nggak ada cara lain. Kita nggak mungkin bawa dia pulang ke rumah kamu, apa yang akan dipikirkan ibu dan ayahmu?" Ucap Tira.
"Jadi, apa yang bisa aku bantu?" Tanya Evan dan Rendy yang tak jadi pergi.
"Kita bawa aja ke kelinik kecantikan."
"Hah? Kelinik kecantikan? Apa maksudnya? Kenapa harus ke sana?!" Tanya ketiga pemuda itu pada Tira.
"Sudahlah. Nanti saja penjelasannya. Ayo kita bawa dia saja!" Ajak Tisa.
Alex membawa Tisa masuk ke dalam taxi yang sudah dipesan oleh Rendy. Karena Alex dan Tisa merasa bisa mengatasi masalah ini sendiri, Alex menyuruh Rendy dan Evan untuk pulang.
"Makasih ya, lo bisa pulang dan istirahat. Tapi lo berdua harus siap kalo gue butuh apa-apa. Okay?"
"Siap, Lex." Jawab keduanya.
Taxi pun melaju dan membawa mereka ke sebuah kelinik kecantikan. Tisa langsung ke bagian administrasi untuk mengatur semuanya. Ia pastikan jika tak akan ada yang taus soal Tira di kelinik itu.
Tira langsung mendapat penanganan dari dokter yang kebetulan mengenal Tira. Ya, tentu saja dokter itu mengira jika Tisa adalah Tira dalam balutan pakaian pria.
Alex dan Tira lagi-lagi menunggu di kursi dekat ruangan dimana Tira dirawat. Tak ada komunikasi untuk beberapa saat karena kecanggungan keduanya.
"Bagaimana? Apa yang akan kita katakan jika kita pulang?" tanya Alex pada Tisa.
"What? Bohong? Aku nggak biasa!"
"Yasudah, katakan saja yang sejujurnya. Toh kau juga dan keluargamu yang akan rugi. Lagian, gue dah nggak perduli sama reputasi semuanya. Karena semuanya terlalu memberatkanku! Aku bisa kabur," ucap Tisa yang berbeda dengan hatinya.
"Ya, baiklah. Semoga saja Tira segera sadar dan masalah akan segera tersrlesaikan," kata Alex.
Baru saja Alex bicara, dokter sudah muncul dari dalam ruangan dan menyuruh Tisa dan Alex untuk masuk.
"Bagaimana kondisinya?" Tanya keduanya pada Dokter.
"Duduklah dulu," ucap Dokter mempersilahkan keduanya untuk duduk.
Alex menggeserkan kursi untuk Tisa, namun Tisa malah menggeserkan kursinya sendiri dan duduk di kursi yang lainnya. Sementara, Alex hanya melihat Tisa dan duduk di kursi yang tadi Ia maksudkan untuk Tisa.
'So jual mahal. Lagian, tangan gue kenapa sih? Refleks banget geser-geser kursi buat dia? Kesel!' Batin Alex sembari duduk dan menatap pada dokter.
__ADS_1
"Jadi, apa dia di oprasi wajah?" Tanya Dokter dengan eksprei serius.
"Apa?! Oprasi wajah? Nggak, dok. Apa dokter yakin nggak tau dia siapa?" Tanya Tisa pada Dokter.
"Mmm, siapa memang?"
"Dia Tira, dok. Dan saya kembarannya. Tapi , dokter harus rahasiakan hal ini untuk sementara waktu. Bisa?" Tanya Tisa sekaligus menjelaskan situasinya.
"Baik. Tapi, dia terlalu banyak dianastesi hingga dia akan pingsan tiba-tiba dan bangun tiba-tiba." Jelas dokter.
"Lalu, luka di wajahnya gimana? Apa sudah baik-baik saja?" tanya Alex pada Dokter. Tentu saja Tisa sedikit geram karena Ia pikir kalo Alex hanya memikirkan kecantikan dari sodaranya itu.
'Dasar berengs*k!' Batinnya.
"Sepertinya, lukanya akan segera baik-baik saja." Jelas Dokter.
"Alex," panggil Tira dengan lirih.
Suara Tira yang tiba-tiba membuat semua pasang mata tertuju ke arahnya. Tisa dan Alex langsung mendekat, tak lupa juga dokter yang langsung sigap memeriksanya.
"Apa kau baik-baik saja, Tira?" Tanya Dokter memastikan kesadarannya.
"Iya, Dok. Aku baik-baik saja. Tapi, kepalaku sedikit sakit, " tuturnya sembari memegangi bagian kepala.
"Baik. Apa kau melakukan oprasi?" Tanya Dokter.
"Aku nggak tau, dok. Aku disekap dan ceritanya panjang. Intinya aku nggak tau. Tapi, kenapa dokter tanyakan hal itu? Apa yang terjadi padaku?" Tanya Tira dengan antusias. Ia ingin tau bagaimana keadaan dirinya.
"Tak ada jalan lain, selain membuka semua perban dan memeriksa ulang. Jika dia di oprasi, kita tak bisa membiarkannya. Kita harus membawanya ke rumah sakit besar. Tapi jika pada wajahnya tak ada yang dioprasi, aku akan berusaha menanganinya dengan baik." Jelas dokter pada Alex dan Tisa.
"Baik, Dok. Silahkan buka perbannya," ucap Tira dengan pasrah.
Dokter dengan peralatannya juga dibantu asistennya langsung membuka perlahan perban yang membungkus wajah Tira. Sementara Alex dan Tisa tak sabar melihat kondisi wajah Tira.
Setelah selesai membuka perban, Alex dan Tisa terbengong melihat wajah Tira. Mereka membulatkan kedua manik mata mereka bak tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.
"A ...!" Teriak keduanya bersamaan.
***
__ADS_1
Apa yang terjadi dengan wajah Tira?
Jangan lupa like n komen