Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 39 : Gak bisa pulang


__ADS_3

Bab 39: Gak bisa pulang.


Sementara itu, Tisa pergi melangkahkan kakinya tanpa arah dan tujuan. Hatinya begitu merasa bersalah karena Bu Sani yang belum juga sadar dari komanya.


Tisa masih saja mengingat saat bagaimana Bu Sani pingsan dan dirinya tidak bisa berbuat apapun. Saat Tisa berjalan beberapa langkah, Ia melihat di keramaian jalanan dengan lulu-lalang banyaknya mobil. Saat itu, sebuah mobil berhenti di sampingnya seolah menyuruh Tisa untuk berhenti.


Suara pintu mobil terbuka dan di sana Tisa melihat Ibunya yang langsung mendekat pada Tisa. Bu Mira langsung menarik tangan Tisa dan membawanya masuk ke dalam mobil. Lalu Pak Arya membawa Tisa pergi ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, tentu saja Tisa heran dengan kelakuan kedua orang tuanya.


"Ibu dan bapak kenapa? " tanya Tisa sembari melihat wajah ayahnya yang sepertinya marah besar. Harusnya Tisa menyadari jika memang mereka marah karena ulah Tira yang muncul di hadapan keluarga Andara.


" Kamu tahu, Tira ada di mana?" tanya Pak Arya.


Melihat kemarahan ayahnya, tentu saja Tisa sangat mengetahui jika ayahnya itu pasti marah besar kepada Tira. Dan Tisa memutuskan untuk tidak memberitahu ayahnya jika tadi ia melihat Tira di rumah sakit.


"Tidak, aku tidak melihatnya. Memangnya kenapa?" Tanya Tisa berpura-pura tak melihat kembarannya itu.


Sebelum ia mengetahui apa yang terjadi, Tisa memutuskan bungkam tak akan memberitahukan dimana Tira. Dan ia pun berharap jika Tira tak kembali ke rumah dulu.


Karena melihat gelagat yang aneh dari ayah dan ibunya, Tira pun memutuskan untuk memberikan pesan singkat kepada Tira untuk tidak kembali dulu ke rumah. Hingga ia melihat situasi perangai Ayah dan Ibunya dingin.


Pak Arya tiba-tiba saja mendapatkan telepon, dan entah apa yang dikatakan oleh orang yang menelepon ayahnya itu. Namun Pak Arya terlihat sangat marah sekali setelah mendapat telepon itu.


Beberapa saat kemudian, mereka semua tiba di pelataran rumah dan Pak Arya langsung keluar dari mobil kemudian membanting pintu mobilnya. Tentu saja membuat Tisa ingin mengetahui apa yang terjadi.


Saat Ibunya akan pergi membawa dirinya ke dalam, Tisa tak langsung mengikuti kemana ibunya pergi. Ia menarik tangan Ibunya dan membawanya masuk ke rumah dengan melalui jalan belakang.

__ADS_1


" kau ini menarik Ibu ke jalan sini mau apa? "Tanya ibu kepada Tisa.


" Kenapa Ibu membawaku pulang? Bukannya Ayah dan Ibu mengusirku dari rumah? Lagian, Ayah juga kenapa itu marah-marah? kenapa sih Bu? Apa ada masalah? " tanya Tisa kepada ibunya.


" Lagian siapa yang usir kamu? kamu kan yang kabur dari rumah? Gimana bapak kamu nggak marah? Kakak kamu itu mengatakan semuanya kepada Pak Joni tentang kebohongan pernikahan. Tentu saja Pak Joni marah besar dan ia memutus perjanjian kerjasama kantornya begitu saja. Bisa rugi besar kita jika seperti ini. Makanya Ayah kamu sangat marah besar kepada Tira. Jika bisa, suruh Tira jangan pulang dulu ke rumah. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi kepada kakakmu itu," jelas bu Mira kepada Tisa.


Biar bagaimanapun, Tira tetap anaknya tentu saja bu Mira tidak akan tega jika Pak Arya memarahinya habis-habisan. Bahkan bisa saja Pak Arya melenyapkan anaknya hanya demi harta semata.


" Kenapa si bu, Bapak selalu saja mementingkan harta dan kehormatan? tidak bisakah dia memandang kami sebagai anaknya? Kenapa Bapak menikahkan kami dengan adanya niat lain? Tidakkah dia memikirkan masa depan kami berdua? " ucap Tisa yang membuat hati ibunya terguncang hebat.


Bu Mira enggan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang Tisa layangkan kepadanya. Ia berjalan masuk ke dalam rumah dan memilih untuk diam di dapur sembari memegang segelas air putih yang membantu melegakan dahaganya. Tisa melihat jika ibunya pun lelah dengan kelakuan ayahnya yang otoriter itu.


Tiba-tiba saja, ada panggilan dari Tira. Namun Tisa tidak bisa mengangkatnya di sana karena ia tidak mau jika Ibu atau bapaknya sampai tahu Tira menghubungi dirinya.


" Bu, aku pamit ke kamar dulu ya. Lagian setelah ini, aku akan tinggal di sini karena Alex dan aku mungkin akan bercerai. semuanya sudah terbongkar. " ucap Tira sembari meninggalkan ibunya di dapur.


Sesampainya di kamar, Tisa langsung mengangkat telepon dari Tira dan tentu saja marah yang T⁰isa dapatkan dari Tira.


"Lo kemana aja sih? Lama banget angkatnya? Lo yakin bapak marah besar?" Tanya Tira dengan khawatir. Karena Biar bagaimanapun ia tak punya tempat tinggal selain di rumahnya.


" sabar dong gue harus pantau keadaannya di sini. Lo kan nggak tahu gimana marahnya bapak? kalau lo menampakan wajah di sini sekarang, mungkin lo akan mati dipukul bapak! Lo masih ingat kan marahnya Bapak sama gue waktu gue ngambil uangnya? "


" yah, gue ingat! "Jawab Tira kepada Tisa.


" lantas, gue harus ke mana? " tanya Tira lagi kepada Tisa dengan bingung.

__ADS_1


" lo nggak punya temen? Cirkel lu kan luas? Masa lo nggak punya temen buat ditumpangi semalam doang? Mereka harus pasang badan dong! sekarang, Lo bener-bener butuh seseorang yang bisa lo andalkan! " jelas Tisa memberi saran kepada Tira.


" kalau wajah gue kayak dulu, gampang buat gue nyari temen. Tapi dengan wajah gue yang sekarang, gimana gue datengin mereka dan yakinin mereka kalau gue ini Tira? Lo lupa atau pura-pura lupa? atau jangan-jangan, lo senang lagi lihat gue kesusahan kayak gini? Pokoknya Lo harus lakuin sesuatu! gue nggak mau ya malam ini tidur di luar!" Tira memperingatkan Tisa, seolah Tisa bersalah.


" loh, kok Lo nyalahin gue sih? Kalau mau, gue bisa hubungin Rendy buat bantuin lo. itu juga kalau lo mau. Kalau nggak, ya udah, " jelas Tisa memberikan penawaran kepada Tira.


" Ya ampun, lu nyuruh gue nebeng sama si Rendy yang hitam itu? " kesal Tira kepada Tisa terdengar dari nada bicaranya ditelepon.


Tisa sedikit tersenyum, namun tidak ada Siapa- siapa lagi yang bisa membantu Tisa kecuali Rendy." Lo mau nggak? kalau mau, gue sekarang mau telepon si Rendy dan jemput lo sekarang. Lo ada di mana? bilang! "Ucap Tisa kepada Tira.


" ya udah! Gue ada di taman bunga dekat rumah sakit, " ucap Tira dengan kesal kemudian ia mematikan sambungan teleponnya.


Tisa yang tak tahan mendengar tingkah kakaknya itu, langsung mencari nomor Rendy dan menghubunginya karena ia sempat menyimpan nomor Rendy saat di Bali. Ia hanya bisa berharap jika Rendi bisa membantunya kali ini.


Beberapa kali menelpon Rendy, Rendy tidak mengangkatnya. namun saat terakhir, Rendy pun berhasil dihubungi oleh Tisa.


"Ya, Sa. Ada apa? Ada yang bisa dibantu?" Tanya Rendy saat menyapa Tisa.


"Lo baik banget. Baru juga nelepon, udah nawarin bantuan gitu. He he," jawab Tisa tak enak hati.


" santai aja lagi. Lagian gue udah anggap lo temen kok. jadi apa yang bisa gue bantu? " tanya Rendy kepada Tisa.


" ini ren, gue sama Tira lagi butuh bantuan lo banget. Tira nggak bisa pulang ke rumah dulu saat ini, soalnya ada masalah yang jika Tira pulang ke rumah bakalan tambah ribet dan tambah runyam juga urusannya. Jadi boleh nggak kalau malam ini dia numpang di tempat lo? " pinta Tisa kepada Rendy.


"Mmm gimana ya?"

__ADS_1


***


__ADS_2