
Bab 15 : Kemunculan
Aris berdiri beberapa menit, kemudian duduk kembali. Kali ini, Ia berjongkok di lantai tepat dihadapan Meta. Ia menyeka air mata yang menetes. Kemudian mereka berdua saling berpandangan satu sama lain.
"Kenapa? Jangan katakan hal akan membuatmu sakit. Bisa?" Ucap Aris pada Meta dengan mengelus pipi lembutnya.
Meta memejamkan matanya sembari memikirkan sesuatu hingga Ia menguapkan,"bantu aku kali ini saja. Temui Ani dan berkencn lah dengnnya. Itu yang akan membuatku lega. Ani sudah membantuku dengan memberiku uang. Apa kau bisa memberiku uang, sekarang? Aku harus realistis karena Ibuku sedang memertaruhkan nyawanya! Pergilah padanya."
Meta mendorong tubuh Aris hingga sedikit terjatuh ke latai dengan posisi tangan masih menopang badannya. Meta pun berdiri dan berniat meninggalkan Aris kemudian masuk ke dalam ruangan dimana ibunya mendapat perawatan dari dokter.
"Tunggu!" Ucap Aris menghentikan langkah Meta yang akan masuk ke dalam. Langkahnya pun terhenti, namun tak membuat Meta menoleh.
"Baik. Jika kau ingin aku bersama dengan Ani. Lihat saja, jika Ani tak bisa membuat Ibumu sembuh, aku akan membuat perhitungan dengannya." Ucap Aris becara dengan menatap punggung Meta.
Meta memejamkan mata dan menelan ludah, hingga kemudian Ia mendorong pintu ruangan dan masuk. Meta menutup pintu dan menyenderkan punggungnya di puntu itu. Ia jatuhkan badannya hingga meringkuk di bawahnya.
Menangis. Hal yang saat itu Ia bisa. Antara menyesal dan merelakan tak ada jalan tengahnya. Ia hanya bisa pasrah menenggelamkan rasa cinta yang disembunyikan dari siapapun hingga Cinta itu tak pernah terlihat sama sekali dimata orang yang Ia percaya. Pupus sudah harapan kasihnya kali ini.
***
Sementara itu, Tira masih mengkhawatirkan nasib dirinya sendiri. 'Gimana nasibku sama Aris? Apa Meta akan menjaganya dari wanita jahat macam Ani ya? Semoga aja, kamu nggak perpaling. Ah aku sudah gila! Lagian sejak kapan aku dan Aris pacaran? Aris hanya mengungkapkan rasa saja bukan? Dan aku belum menjawabnya. Tapi tetap saja dia harus menungguku menjawabnya.' Gumamnya terus saja bersaut-sautan saat dalam perjalanan pulang.
"Tira, kita mampir buat beli dulu pakaian yuk. Yah, mulai sekarang Ibu akan punya teman shoping juga." Ucap Bu Sani kegirangan saat dirinya mengajak Tira.
Tak bisa menolak, Tira langsung membelokan mobilnya kemudian berhenti di tempat parkir sebuah mall terbesar. Sebenarnya, Tira sungguh tak nyaman saat berada di tempat itu. Ia takut jika ada yang memgenalinya. Saat Ia hendak ke luar, Ia mrlihat masker dan langsung berpikir jika masker itu adalah penyelamatnya. Setelah itu, Ia pun keluar dari mobil.
"Loh loh loh? Kok pake masker sih? Sayang banget kan kecantikanmu malah ditutupi masker? Buka aja!" Ucap Bu Sani memberi saran.
"Di sini banyak sekali orang. Bagaimana jika ada yang naksir aku, Bu? Lagian, Mas Alex juga berpesan jika aku harus tetap menyembunyikan wajah di hadapan umum. Nggak tau kenapa," jelas Tira berbohong.
__ADS_1
"Oh, ya ampun. So sweet banget Alex ini. Dia itu nggak mau, kalo kamu jadi pusat perhatian semua orang. Sepertinya dia over protektif deh sama kamu. So sweet sekali kalian ini," ucap Bu Sani.
Tira hanya memperlihatkan giginya kemudian menutupi sebagian wajahnya dengan masker. Ia pun dibawa oleh Bu Sani masuk ke dalam mall. Mereka menuju ke dalam mall dan mulai berbelanja.
Saat masuk, Tira merasa aneh karena dirinya tak suka ke mall dan berbelanja. Namun kali ini, Ia terpaksa melakukannya. Ia mengekor Bu Sani dan hanya menganggukan kepalanya saja saat Bu Sani memperlihatkan baju padanya.
"Bu, udah cukup deh belanjanya. Kita bayar sekarang ya? Aku tunggu di kasir ya?" Ucapnya pada Bu Sani yang masih memimilih.
'Ukh! Sebel! Lagian, apa sih yang dicari? Semuanya juga sama! Nggak ada yang beda! Gitu-gitu aja padahal!' Gumamnya dalam hati.
Dari jauh, Ia melihat antrian panjang saat akan membayar. Ia berjalan dengan begitu malas hingga Ia menempati tempat yang sama dengan seseorang.
"Maaf, ini tempatku, aku duluan yang mengantri di sini." Ucapnya bersamaan hingga Tira melihat ke arah wanita itu.
'Oh my God.' Mata Tira bulat sempurna melihat jika yang di sampingnya adalah Ani namun juga bersama Aris.
Karena melihat Ani bersama Aris, tentu saja Tira sangay kesal. Ia langsung mendorong troli ke arah depan hingga tak memberi ruang untuk Ani.
Tira tak mau menyingkir hingga Aris menenangkan Ani. Kemudian Ani pun mengalah demi Aris.
'Apa-apaan kau wanita jal*ng? Awas saja kau! Lo juga Aris. Lo bilang cinta sama gue, tapi mana? Lo malah jalan sama Ani. Pantes aja si Ani berani sama gue. Tapi si Meta apa kabar? Bukannya dia, yang gue suruh buat jagain Aris? Huh! Aku salah menitipkan Aris sepertinya.' Gumamnya dalam hati.
Sayang sekali, apa yang diucapkan Tira tak bisa Ia ungkapkan. Ia hanya menahannya saja hingga Bu Sani tiba di sampingnya.
"Sayang, kenapa kau capek-capek mengantri?" Tanya Bu Sani.
"Emang bisa, kalo nggak ngantri?" Tanya Tira.
"Itu gampang! Kamu tunggulah di sini," ucapnya pergi meninggalkan Tira di antrian.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Bu Sani mendatangi Tira kembali dan menyuruhnya pergi tanpa barang belanjaannya.
"Tinggalkan saja di sini. Ayo kita pulang," ajak Bu Sani pada Tira.
Tentu saja Tira bingung, namun Ia juga senang karena bisa terhindar dari curiganya Ani padanya.
Tira langsung mengekor dari belakang Bu Sani, Ia juga sesekali menoleh ke belakang untuk melihat wajah Aris. Rasa bahagia bertemu Aris, berganti pertanyaan besar di kepalanya. 'Kenapa Aris bersama Ani? Apa dirinya dan Ani adalah sepasang kekasih sekarang? Ah! Aku harus tanya Meta soal ini.' katanya sembari pergi dan tak melihat ke arah Aris lagi.
Setelah di mobil, tiba- tiba saja pelayan toko itu mengantarkan pakaiannya pada Bu Sani juga tanda pengenal yang Ia miliki.
"Canggih kan?" Tanya Bu Sani dengan bangga pada Tira.
Tira hanya tersenyum dan pikirannya tak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Ibu mertuanya itu. Tapi, Ia tak bisa melakukan banyak hal selain diam.
Tira langsung menjalankan mobilnya menuju ke rumah dimana mereka tinggal. Sepanjang perjalanan, banyak hal yang diucapkan Bu Sani soal kebahagiaannya bisa pergi bersama dengan Tira.
Namun, sepetah katapun tak keluar dari mulut Tira karena dalam kepalanya sekarang seperti benag kusut yang tak menemukan ujungnya.
"Kamu kenapa? Nggak senang ya?" Tanya Bu Sani menegur Tira yang melamun.
Sontak Tira terkejut dan pikirannya buyar seketika. Ia langsung mengalihkan pandangannya pada Bu Sani.
"Tidak, Bu. Aku hanya senang dan tak percaya bisa bertemu dengan semua teman Ibu." Ucap Tira dengan senyuman.
Tiba-tiba saja, lampu merah menyala hingga Ia harus menghentikan kembali mobilnya. Lama menunggu, Ia menekan memutar lagu kesukaan dan melihat ke arah kaca filem di sampingnya.
Kala itu, Ia terbelalak melihat Tira ada di sebuah mobil di sampingnya. Tampak tak jelas, karena kaca mobil yang dinaiki Tira asli sangat gelap. Ia mencoba melihatnya dengan seksama dan benar saja apa yang dilihatnya itu adalah Tira yang mulutnya disumpal oleh sapu tangan.
Tisa geram dan Ia langsung membuka pinti mobil kemudian ....
__ADS_1
***