Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 27 : Datangi Ibu.


__ADS_3

Bab 27 : Datangi Ibu.


Alex hanya terdiam saat Tira mengatakan jika dirinya menyukai Tisa. Bahkan alex tak menyalahkan atau menepis apa yang telah Tira lakukan. Ia hanya diam menunduk, tak berani memandang Tira.


"Kenapa kau diam? Benar apa yang ku katakan tadi? Kau menyukainya?" Tanya Tira pada Alex.


"Sayang, kau salah paham. Mana mungkin aku menyukainya dalam waktu beberapa hari saja? Itu tak mungkin," Alex menyangkal apa yang dituduhkan oleh Tira.


"Syukurlah, hanya prasangka saja. Semoga kamu terus teguh dalam pendirianmu. Lalu, apa lagi yang kita tunggu? Ayo kita pulang dan beritahukan semua ini pada ayahku," ajak Tira pada Alex.


"Haruskah pergi sekarang juga?" Tanya Alex.


"Baiklah, kamu beristirahat dulu. Lagian, kamu pasti capek. Besok pagi, kita akan pulang ke rumah," ucap Tira.


Tira langsung merebahkan tubuhnya di bed hospital kemudian menyelimuti dirinya. Ia membiarkan Alex tidur di sofa di ruangan itu. Ruangan itu memang lain dari ruangan yang lainnya, karena Tisa meminta jika ruangan yang ditempati oleh Tira harus VVIP.


Beberapa saat kemudian, Alex sudah melihat Tira terlelap. Kemudian Alex keluar ruangan, dengan hanya satu tujuan yaitu mencari Tisa. Alex menyusuri lorong klinik namun ia tak menemukan keberadaan Tisa. Ia pun kembali ke ruangan karena ia takut jika Tira bangun dan menyadari jika Alex tak ada di sana, ia pasti akan berpikir hal lain-lain soal Alex dan Tisa.


Namun saat Alex akan kembali ke ruangan tempat di mana Tira berada, Alex melihat Tisa duduk di depan ruangan tempat menunggu. Alex melihat Tisa dan menebak jika Tisa sedang dalam kebingungan Alex pun berinisiatif mendekat dan bertanya kepadanya.


"Ada apa? Kau pasti sedang bingung. Iya kan?" Tanya Alex pada Tisa.


Tisa menatap Alex dan tersenyum kecil saat mendengar Alex seolah perduli padanya.


"Apa perdulimu? Bukan urusan lo juga kan gue mau bingung atau apapun itu? Lagian, yang harusnya bingung itu lo kan? Gue bisa aja kabur meninggalkan semuanya. Sementara lo dan Tira? Kalian harus menerima kenyataan jika toh salah satu dari orang tua kalian tak menerima semua ini. Lagian, gue pastinya nggak bakalan pulang,"

__ADS_1


"Kenapa? Kamu harus pulang dan mengambil hadiahmu."


"Hh! Gue nggak perduli. Lagian, gara-gara keinginan gue itu, hidup gue jadi berantakan. Lagian, ngapain lo di sini? Harusnya lo temani Tira!" Kata Tisa dengan logatnya yang tomboy.


"Dia sudah tidur. Sementara Aku nggak bisa tidur, makanya jalan-jalan ke luar. Besok pagi, kami akan pulang ke rumah Ibu bapakmu. Apa kau juga akan ikut? Biar bagaimanapun, kau tak bisa lari dari semua ini. Pikirkan juga Ibumu yang akan jadi pelampiasan kemarahan ayahmu," ucap Alex pada Tisa.


Alex berdiri dari duduknya kemudian kembali ke ruangan tempat Tira dirawat. Ia meninggalkan Tisa sendiri, yang masih duduk termenung dengan segala kebingungannya, yang Alex pun tidak tahu apa yang sebenarnya sedang Tisa pikirkan.


Sementara itu, Tisa yang sedang duduk memegang kepalanya, sedikit memijit keningnya dan ia mulai bimbang. kebimbangan itu tak mungkin ia bagi dengan siapapun karena ia juga belum tahu apa penyebab kebimbangannya itu.


" Kenapa semuanya menjadi seperti ini? " gumam Tisa kesal pada dirinya sendiri.


Ketakutannya hanya satu, yaitu ia takut jika ayahnya yang keras kepala itu tak mau menjelaskan keadaan sebenarnya kepada pihak keluarga Alex. Dan lagi-lagi, Tisa yang harus menggantikan Tira untuk selamanya.


Semua pertanyaan itu ada di benak Tisa. Ia tak tahu jawaban atas segala pertanyaan yang muncul di kepalanya. Kini Tisa menarik kakinya ke atas kursi kemudian ia lipat tangannya di atas lutut dan meletakkan wajahnya di tangan. Setelah itu, ia pun memejamkan mata untuk beberapa saat.


***


Keesokan harinya, Tisa tersadar jika dirinya sedang ada di klinik dan ia kembali memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya. Ia pun menurunkan kakinya yang semula ada di atas kursi. Ia juga sesekali membersihkan outer jeans yang ia pakai.


Tisa merasa jika dirinya harus menyegarkan wajahnya terlebih dahulu. Ia pun berjalan menuju toilet dan melihat pantulan wajahnya di cermin dengan kedua tangannya. Ia juga mencubit beberapa bagian wajahnya dan ia tersadar jika ini bukanlah mimpi buruk. Tisa menyadari jika apa yang ia alami kali ini harus ia jalani.


Tisa sudah mengambil keputusan dan ia langsung menuju ke ruangan tempat di mana Tira berada. Saat Tisa tiba di ruang perawatan Tira, ia melihat jika Alex dan Tira sudah bersiap akan pulang.


"Apa kau masih menyalahkanku atas semua yang terjadi?" Tanya Tisa pada Tira.

__ADS_1


"Maaf, karena aku terlalu emosional dan tak bisa berpikir jernih tadi malam. Apa kau memaafkanku?" Tanya Tira.


Tisa membuka kedua tangannya kemudian memeluk Tira. Mereka berdua pun saling memaafkan satu sama lain dan Alex hanya terdiam memperhatikan keduanya.


Setelah berbaikan, mereka bertiga langsung keluar dari klinik itu dan memesan taksi Untuk mengantarkan mereka ke rumah. Sebelumnya Tisa tidak memberitahu kepada kedua orang tuanya jika dirinya dan Tira akan datang hari ini, ia hanya ingin tahu bagaimana reaksi ayahnya secara langsung, jika tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tira.


Sepanjang perjalanan, Tisa yang duduk di bangku belakang sesekali melihat wajah Tira yang memang semakin cantik. Namun wajahnya itu mungkin tak akan bisa diterima oleh keluarganya Alex. Itulah yang sedang Tisa pikirkan baik-baik.


Beberapa saat kemudian mobil tiba di rumah Tisa dan Tira. Alex merogoh beberapa lembar uang dari saku celananya kemudian memberikannya kepada sopir taksi. Setelah itu, mereka bertiga langsung menuju ke rumah Tira dan Tisa.


Tisa memijit bel dan berharap jika yang membuka pertama kali adalah ibunya. Ia tak mau jika yang pertama kali membuka pintu itu adalah ayahnya, karena ia belum siap mengatakan yang sejujurnya soal apa yang sebenarnya terjadi kepada Tira pada saat di Bali.


"Sebentar," terdengar suara ibu dengan jelas. Dan terdengar juga langkahnya menuju ke daun pintu untuk membuka.


Saat Ibu membukakan pintu, Ia terbengong. Apalagi saat melihat Tisa. Ibu langsung memeluk Tisa dan membawanya masuk ke rumah. Sementara itu, Alex dan Tira duduk di sofa. Tira tau, jika Ibu tak mengenalinya dengan wajahnya sekarang.


"Kalian mau minum apa? Biar Ibu buatkan,"


"Nggak usah, Bu. Biar nanti saya saja yang ambil sendiri," ucap Tira refleks saat ibu menawarinya minum.


"Kau? Suaramu mirip anakku yang tengah diculik. Kau siapa?" Tanya Ibu heran.


***


Jangan lupa like n komen juga klik ikuti

__ADS_1


__ADS_2