
Bab 34 : Pengakuan
Saat Lisa bertanya soal alasan Alex memilih Tisa, Ia bungkam dan seolah tak ingin menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Tisa. Malahan Alex langsung mengalihkan perhatian Tisa ke hal lain.
" Aku mau ke kamar dulu. Aku lelah. Bye, " ucap Alex sembari melambaikan tangannya ke arah tisa.
"Hei! Kau belum menjawab pertanyaanku!" Tisa berteriak namun dirinya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan karena takut Bu Sani akan mendengarkannya.
Tisa menghembuskan nafasnya kasar, setelah itu ia menyandarkan tubuhnya ke papan sofa yang ada di belakang tempat ia duduk. Ia menatap langit-langit ruang tamu kemudian berpikir soal Tira yang mungkin sekarang sedang marah-marah kepada dirinya.
" sekarang gimana? Apa gue harus tetap tinggal di sini? " gumam Tisa lirih.
Tiba-tiba saja, Bu Sani muncul dan duduk di sofa berlawanan arah dengan Tisa duduk saat ini. Tisa yang terkejut langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan Bu Sani sedikit tersenyum melihat tingkah tisa yang terkejut saat melihat dirinya.
" enjoy aja, Oh ya gimana bulan madunya? Lancar? " tanya Bu Sani kepada Tisa.
'Gue nggak tega dengar Bu Sani ngomong kayak gitu. Dia ngarep banget punya cucu. Gue harus lakuin sesuatu buat dia. Kasihan juga dia karena dibohongi oleh anaknya sendiri.' Gumam Tisa dalam hatinya.
" Kok diam? Ibu ngerti kamu pasti malu. Ibu juga dulu gitu sama bapaknya Alex. Tapi kamu cerita aja kalau ada sesuatu yang pengen kamu tanyakan atau yang ingin kamu cari tahu soal Alex. Kamu tanyakan aja, jangan sungkan, " kata ibu Sani Kepada Tisa yang ia sangka adalah Tira.
" Enggak kok. semuanya berjalan lancar, Bu. Tapi aku lupa ngasih hadiah sama ibu," ucap Tisa kepada bu Sani.
" kado? Gak usah pikirin itu! kamu cukup kasih Ibu cucu saja sudah lebih dari apapun bagi ibu dan juga bapaknya Alex," kata Bu Sani sembari melempar senyum kepada Tisa.
Tentu saja Tisa semakin merasa bersalah ketika mendengar Bu Sani mengatakan hal yang tak mungkin ia berikan. Tisa pun langsung ingin mengakhiri semuanya karena merasa bersalah kepada bu Sani. Dalam hati ia berniat untuk membongkar semuanya kepada Bu Sani, namun ia harus mengatakannya terlebih dahulu kepada Alex.
" Bu, aku pamit ke kamar dulu ya, " kata Tisa malu-malu.
__ADS_1
" iya, tentu saja. Sislahan, ibu senang dan mengerti jika kalian memang butuh waktu banyak untuk memberikan Ibu seorang cucu. Sana pergi! "Ucap Bu Sani tersenyum senang dengan sangkaannya.
Tisa hanya tersenyum bersala, kemudian pergi ke kamar dengan membawa tas miliknya yang ada di atas meja, kemudian Ia pergi menuju ke arah kamarnya. sementara itu, Bu Sani tampak senang karena melihat Tisa yang ia kira ingin selalu bersama dengan Alex.
Tisa berjalan menuju ke arah kamar dengan tas yang ia bawa. Ia juga membawa paper bag yang berisi baju-baju yang Alex belikan sebelum mereka berdua pulang ke rumah.
Setibanya di kamar, Tisa mengetuk pintu namun tak ada suara Alex di dalam yang mempersilahkannya untuk masuk. Karena Tisa pikir jika Alex tidur, Ia pun langsung masuk dan untungnya pintu pun tidak dikunci. Tisa melihat ke segala penjuru kamar dan memang tak ada Alex di sana. Tisa pun meletakkan paper bag dan juga tas miliknya di dekat meja rias kemudian ia bermaksud untuk mencari Alex ke kamar mandi.
" apa kamu di dalam?" Kata Tisa sedikit berteriak ke arah pintu kamar mandi, namun ia tak menemukan jawaban di sana.
Tisa pun melangkah lagi ke arah balkon dan saat ia di daun pintu menuju balkon, Alex terlihat sedang menggenggam sebatang rokok yang menyala, juga melihat pemandangan yang ada di hadapannya.
" apanya yang bagus di sini?" Tanya Tisa kepada Alex.
Alex tak menjawab. Ia hanya melakukan aktivitasnya tanpa memperdulikan keberadaan Tisa di sana.
"Di sini hanya terlihat banyak sekali genteng genteng rumah orang lain dan pesona langit yang tidak terlalu bagus. Tapi kenapa kau betah berlama-lama di sini?" Tanya Tisa kepada Alex yang kini meneguk cangkir kopi hingga habis tak tersisa.
" kau saja yang duluan!" Ucap keduanya juga setelah mereka mengatakan hal tadi.
Keduanya saling bertatapan kemudian tertawa bersama hingga Alex yang memulai kata-katanya kepada Tisa.
" mau lo duluan?" Tanya Tisa kepada Alex.
" oke! Sebenarnya ada hal yang sangat ingin aku utarakan sama kamu. Ini soal pertanyaan yang kamu ajukan saat di ruang tamu tadi." Kata Alex kaku.
Belum dijawab, Tisa sudah salah tingkah dan mengucurkan sedikit keringat di sekujur tubuhnya. Namun dirinya hanya tetap diam dan berpura-pura biasa saja padahal hatinya sedang tak karuan.
__ADS_1
" Jadi kamu mau tahu kan kenapa aku memilih kamu tetap menjadi Tira di rumah ini? " Kata Alex kepada Tisa.
" karena ibu. Iya kan? Ibu punya penyakit jantung yang kapalan saja bisa kumat apabila mendengar berita yang mengagetkan untuknya. iya kan?" Ucap Tisa menebak-nebak.
" bukan! " singkat Alex saat menjawab.
" lalu? Apa yang membuatmu melepaskan Tira? Padahal Jika kamu menjelaskannya perlahan kepada ibu, ibu akan menerimanya karena dalam hal ini Tira tidak salah, dia hanyalah korban. "
" ini perkara hati. Beberapa hari bersama, aku tidak bisa menahan diri lagi untuk berpura-pura jika aku memang benar-benar tertarik padamu, Tisa." Kata Alex yang kini manik matanya menatap tajam kepada Tisa.
Tisa yang terkejut dengan kata-kata Alex langsung terdiam dan duduk di kursi lain, tepat berseberangan dimana Alex duduk. Kemudian, ia memainkan jari-jarinya karena bingung apa yang harus ia katakan kepada Alex untuk menjawab apa yang Alex katakan.
"Ya, Tisa. Aku mulai mencintaimu. Aku tau jika kau tak mudah menerima laki-laki apalagi sepertiku." Ucap Alex yang seolah mengerti situasi Tisa sekarang ini.
"..." lagi-lagi Tisa diam tak menjawab karena ia syok atas apa yang dikatakan oleh Alex kepadanya.
"Tisa, bagaimana denganmu?" Tanya Alex.
"A aku ..." Tisa menghentikan kata-katanya.
'Enggak,Tisa! Kau tidak boleh jatuh hati dengan pria jodohnya Tira. Ingat! Dia itu jodohnya Tira, bukan kau! Bagaimana dengan Ibu? Dia bahkan tak akan sudi mempunyai menantu tomboy sepertiku. Tisa, jangan menyakiti diri sendiri dengan membuka hati untuk Alex. Sudah cukup Aris yang menyakiti. Jangan lagi,' batinnya.
"Kau yakin dengan kata-katamu? Bagaimana dengan Ibu? Karena hubungan itu harus terjalin dengan adanya restu kedua orang tua. Jika Ibu tau kalau aku bukan Tira, apa dia akan terima? Lagian aku sudah memutuskan jika aku akan mengakui semuanya di hadapan ibu agar semuanya menjadi jelas dan semuanya akan tuntas sebagaimana ibu mengambil keputusan nanti. "
" lalu, Bagaimana dengan perasaanmu? Tidakkah ada sedikit celah bagiku untuk mendapatkan hatimu? " tanya Alex yang kian penasaran akan jawabannya.
Saat itu Tisa menunduk...
__ADS_1
***
Jangan lupa like!