
Bab 20 : Keberadaan Tira
Alex pun menggaruk tak gatal kepalanya dan membalikan badannya lagi kemudian pergi dari tepatnya berdiri tadi.
Sementara di kamar, Tisa benar-benar merasa ada yang aneh pada dirinya saat bertemu dengan Alex. Ia masih menyadarkan tubuhnya di pintu dengan tangan masih memegangi dadanya. Ia juga tak bisa mengendalikan nafas dan akhirnya Ia kesal pada dirinya sendiri.
"Ah! Ini pasti gue udah gila! Benar-benar gila! Ish!" Ucapnya langsung pergi ke kamar mandi dan mengguyur dirinya dengan air dingin, berharap Ia akan kembali normal setelah membersihkan dirinya.
***
Sementara itu di kamar, Alex masih mengobrol dengan Rendi. Obrolan receh saat dua orang pria dewasa pada umunya.
"Tadi itu adeknya Tira? Kok mirip?" Tanya Rendi dengan tingkat kepo yang begitu tinggi.
"Kagak! Siapa bilang mirip? Jauh! Ibarat kata, tanah sama langit!" Jawab Alex mempertegas.
"Jelas-jelas wajahnya mirip. Apanya yang beda?"
"Hmm! Kalo wajah sih, iya mirip. Tapi kalo kelakuan, beuuuh. Dia kayak cowok. Kayak wanita jadi-jadian. Lo suka sama dia? Gue pastiin lo nggak bakal tagan denger ocehannya," jelas Alex panjang lebar.
"Kok, lo tau banyak soal dia? Apa jangan-jangan lo cari tau juga ya?" Rendi malah menggoda Alex yang sedang kesal.
"Gimana gue nggak tau banyak? Orang tiap hari gue tau kelakuan minusnya!"
"Hati-hati suka," kata Rendi dengan enteng.
"Jangan ngomong asal! Lo tau gue sama Tira nikah. Ngapain lo bawa-bawa Tisa kagak jelas banget, Lo!"
"Lo sama Tira belum nikah. Lo nikah sama Tisa, yah walau pake nama Tira sih."
"Jadi, menurut Lo gua nikah sama siapa?"
"Kagak tau! Lo nikah ulang aja kalo mau mantap,"goda Rendi.
"Sialan, Lo!" Balas Alex langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Ia guyur tubuhnya dengan air dingin, berharap pikirannya soal Tisa segera menghilang. Karena baginya, memikirkan Tisa itu adalah hal yang paling tidak Ia inginkan.
Selesai dari kamar mandi, Ia mendengar jika Rendi tengah menelepon seseorang dan tentu saja ia sangat penasaran. Alex yang belum hanya mengenakan handuk, langsung berdiri di hadapan Rendi yang tengah menelepon. Ia sangat penasaran karena ekspresi Rendi sangat meyakinkan.
"Siapa?" Tanya Alex setelah Rendi selesai menelepon.
"Anak buah Lo ngasih kabar, katanya dia udah temuin tempat dimana Tira berada."
"Kabat bagus. Tapi, dimana dia? Apa baik-baik saja?" Tanya Alex.
__ADS_1
"Gue pikir, kalo kita harus segera cari orang yang namanya Mamy Queen. Dia yang berwenang dan membawa Tira kemari."
"Maksud lo apa? Gu nggak ngerti."
"Kemungkinan terburuknya, Tira akan dipekerjakan di sini."
"Dipekerjakan? Maksud lo apa?" Tanya Alex kesal karena kata-kata Rendi terputus-putus.
"Iya, Mamy Queen itu seorang germ* ," ucap Rendi.
"Apa?! Lo jangan bercanda! Pokoknya kita harus selametin Tira sekarang juga! Kita harus segera selamatkan dia!" Tegas Alex mengepal tangan dan langsung pergi dari hadapan Rendi.
"Lo mau kemana?"
"Mau nyari Mamy Queen dan gue bawa ke polisi,"
"Iya gue tau. Liat diri lo!" Ucap Rendi langsung pergi ke kamar mandi.
Alex melihat pantulan dirinya di cermin dan mengerti apa yang dimaksud oleh Rendi jika dirinya belum memakai pakaian.
"Ish! Sial! Okay! Kita akan mulai mencari Tira. Apa sebaiknya aku kasih tau Tisa juga ya?" Gumamnya.
Alex membuka koper dan mengambil satu stel baju yang Ia sengaja bawa dari rumah. Ia memakai celana jeans juga kaos oblong agar nampak lebih santai. Ia juga memakai aksesoris gelang berwarna hitam yang selalu melekat di pergelangan tangannya.
"Suka-suka." Balas Rendy dari dalam mandi.
Alex langsung menuju ke kamar Tisa dan mengetuk pintunya. Beberapa saat kemudian, kepala Tisa menyembul keluar dan menatap Alex.
"Ya, ada apa?" Tanya Tisa bernada malas.
"Apa aku bisa masuk? Ada yang ingin aku sampaikan soap Tira," jelasnya.
Tisa melebarkan pintu dan Alex langsung masuk ke dalam. Ia duduk dan memperhatikan penampilan Tisa yang tomboi dengam celana jeans hitam juga kaos oblong lengan pendek hitam. Rambutnya yang ikal terurai bebas membuat Alex sedikit menatap Tisa.
"Kenapa? Ada apa dengan Tira? Apa ada kabar baru?"
Saat Tisa bertanya, Alex masih sibuk melihat ke arah Tisa dengan pikiran-pikirannya. Ya, pikiran mengenai ketertarikan dirinya pada Tisa namun enggan Ia akui.
Tisa yang geram karena merasa Alex malah terbengong, langsung melempar Alex dengan bantal hingga tepat mengenai wajah Alex.
"Aduh! Apaan sih?!" Ucap Alex mengaduh.
"Apaan sih? Apa maksudnya? Lo ngeliatin apaan?" Tanya Tisa campur kesal.
"Gue cuma lagi mikir dan cari cara buat bebasin Tira."
__ADS_1
"Lo udah tau dia dimana?" tanya Tisa.
"Iya, dia dibawah pengaruh mamy Queen."
"Berengs*k! Beraninya wanita tua itu sama Tira! Lihat saja, aku pasti akan berikan dia pelajaran."
"Lo kenal?"
"Siapa sih, anak jalanan yang nggak kenal dia? Bahkan, dia pernah nawarin gue jadi anaknya dalam tanda kutip!" Jelas Tisa.
"Terus Lo mau?"
"Gila! Emangnya gue cewek apaan? Semua orang tau Mamy Queen. Biar gua yang hadapi. Gue tau apa yang harus gue lakuin sama dia," jelasnya pada Alex.
Sedikit menganga Alex dibuatnya. Ia tak menyangka jika Tisa bisa mengenal siapa iti Mony Queen.
"Dia bukan orang sembarangan. Banyak pejabat yang memesan padanya. Gue takut terjadi hal buruk pada Tira." Ucapnya.
Tiba-tiba saja, notivikasi ponsel berbunyi dari ponsel Alex. Ia langsung melihatnya dan ia sungguh risau.
"Ada apa?" Tanya Tisa penasaran karena melihat ekspresi Alex saat membuka pesan.
"Ini dari Rendy. Kabar tebaru, Tira dilarikan ke rumah sakit di Bali." Ucap Alex.
"Bagus! Kita akan bawa Tira dari Rumah sakit itu, nanti malam,"
Mereka langsung keluar dari kamar dan Rendy sudah nampak ada di daun pintu. Keduanya kaku dan tak ingin membahas apapun. Mereka pergi ke caffe untuk menysun rencana pembebasan Tira di rumah sakit.
"Gue nggak nyangka jika kita segampang ini temuin Tira," celetuk Alex sembari melambaikan tangannya pada pelayan.
Saat pelayan mendekat, mereka mulai memesan sesuatu. Kopi adalah pertama kali yang Tisa pesan. Hingga Rendy sedikit aneh melihat tingkah Tisa yang berbeda dengan perempuan kebanyakan.
"Bukannya bagus? Lo bisa lanjutin hidup Lo lagi. Ya kan?" Jawab Tisa pada Alex.
Alex hanya tersenyum, membenarkan apa yang Tisa katakan. Tiba-tiba saja, beberapa orang polisi tiba di caffe dan menggeledah dengan tiba-tiba.
Mereka kaget dan langsung berdiri, sementara polisi masih mengangkat senjata dan berapa orang dari mereka mencari keberadaan seseorang.
Mereka menghampiri Tisa dan memperlihatkan sebuah foto padanya.
"Apa kau pernah melihat orang yang ada di foto ini?" Tanya seorang polisi wanita pada Tisa.
Tisa terkejut saat melihat foto orang yang diperlihatkan padanya.
**
__ADS_1