Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 29 : Intimidasi di rumah


__ADS_3

Bab 29 : Intimidasi di rumah


Pak Arya yang tiba-tiba datang itu, langsung melangkah menuju ruang tamu dan mengatakan hal yang membuat semua orang yang ada di ruang tamu itu terbengong mendengarnya. Kemudian, Ia duduk tepat di samping Tira dan menunjukkan jika kenyataan dirinya, merasa bersyukur atas Tira yang selamat dari penculikan itu. Namun, berbeda dengan bu Mira, Ia merasa jika Pak Arya tak adil pada Tisa. Bu Mira merasa jika Pak Arya tak akan pernah bisa menerima jika Tisa kembali kepada keluarga Alex.


"Pak, mana bisa bapak bilang kalo Tisa yang gantikan aku? Aku yang pacarnya Alex, Pak." Protes Tira kepada Pak Arya sembari memohon di bawah kaki Pak Arya.


"Kamu ini cantik. Kau bisa dapatkan yang lebih dari Alex sekarang ini. Bahkan, kau harus mengganti nama kamu," ucap Pak Arya tanpa beban kala Ia menyuruh Tira menerima keputusannya.


"Mana bisa begitu? Aku nggak mau! Aku juga punya kehidupan sendiri. Aku nggak bisa terus-terusan jadi Tira. Nggak!" Pekik Tisa yang memang sedari awal tak mau menggantikan Tira.


"Kau diam saja! Biar Ayah yang mengatur hidupmu. Lagian, siapa pria yang mau padamu? Kau ini beruntung jika kau diterima oleh keluarga Alex walaupun mereka mengira jika kau adalah Tira kau harus bersyukur akan hal itu!


Jangan malah melawan kehendak bapak, " ucapan Arya yang tentu saja membuat relung hati Tisa sakit hati.


Mendengar ucapan dari Pak Arya yang seolah mengucilkan Tisa, bu Mira pun tak terima. Biar bagaimanapun kondisi Tisa, ia akan tetap menjadi putrinya, sama seperti Tira.


"Apa yang kau katakan?! Kau ini ayahnya bukan? Lantas kenapa ada diskriminasi di sini? Aku nggak akan ...


Belum selesai bu Mira bicara, Tisa sudah berdiri dari duduknya, kemudian pergi ke kamarnya. Tak ada yang menyusul Tisa karena mereka semua tahu jika Tisa marah, Ia hanya ingin menyendiri untuk memikirkan semuanya.

__ADS_1


Sementara itu, Tira berpikir bagaimana caranya supaya ayahnya itu luluh dan membiarkan dirinya membuka identitas di hadapan keluarga Alex. Karena ia sungguh-sungguh ingin menjadi menantu dari keluarga Andara.


"Bapak nggak bisa memutuskan sesuatu seperti ini! Ini soal perasaan, Pak. " ucap Tira berusaha menjelaskan situasi dan kondisi perasaannya dan juga Alex.


"Sekarang, Bapak tanya saja pada Alex. Apakah dia mau melanjutkan hubungan ini dengan Tira yang padahal adalah Tisa?" Ucap Tira, berharap ayahnya bisa mengubah keputusan yang baru saja ia buat.


Pak Arya menepukan telunjuk dan jari tengahnya pada sofa yang sedang ia duduki. Lalu ia memandangi wajah Alex dan juga Tira. Pak Arya juga terlihat berpikir dan Tira pikir sepertinya dia luluh akan kata-kata yang Tira ucapkan kepadanya barusan.


"Jadi kalian maunya apa? Mau hancurkan kehormatanku? Apa kata orang nanti? Jika semua orang tahu, aku tidak becus menjaga seorang anak? anak itu malah kembali dengan kondisi wajah orang lain? apa yang akan dipikirkan keluargamu Alex? "Tanya Pak Arya kepada Alex yang masih bungkam dari tadi.


Saat namanya dipanggil Pak Arya, Alex merasa jika dirinya harus mengungkapkan apa yang menjadi keinginan terbesarnya. Ia memang berhubungan dengan Tira sejak lama, namun Ia juga tidak mau ambil resiko jika ibunya tahu kalau yang Ia niahi dan Ia bawa ke rumah itu bukanlah Tira, namun adiknya yaitu Tisa. Alex takut jika ibunya akan terkena serangan jantung untuk yang ketiga kalinya. Yang kemungkinan besar, ibunya akan meninggal.


"Apa?! Apa aku tidak salah dengar?! Kamu nggak mau memperjuangkan hubungan kita?! Aku udah nunggu momen ini selama bertahun-tahun dan harus kandas hanya gara-gara permasalahan yang Aku pun tidak tahu, mengapa mereka menculikku? Aku di sini hanya korban, " jelas Tira yang jelas saja ia menolak apa yang dikatakan oleh Alex tadi.


" Maaf, Tira. Kamu kan tahu jika ibuku terkena serangga jantung untuk yang ketiga kalinya, mungkin aku tidak akan bisa melihatnya lagi. Aku sedih dengan semua keputusan yang aku buat ini. Tapi, aku tidak boleh egois. Mungkin ini sudah jalannya, " ucap Alex bernada lemas saat mengatakan jika dirinya harus menerima Tisa sebagai istrinya.


"Kamu bohong, Mas! Mana janjimu?! Aku nggak percaya Jika kamu melakukan hal ini sama aku, " jawab Tira dengan manik mata berkaca-kaca. Ia tak akan pernah bisa melepaskan Alex yang adalah suami impian baginya.


Mendengar apa yang Tira katakan, Alex hanya menunduk karena berat juga baginya untuk menjalani kehidupan berumah tangga dengan wanita yang baru saja beberapa hari ia kenal. Walaupun ada hal aneh dalam hatinya saat ini, saat ia berdekatan dengan Tisa.

__ADS_1


Sementara itu, ibu mendekat kepada Tira dan memeluknya dari samping. Ibu sangat mengerti bagaimana kesedihan Tira. Ibu langsung memeluknya dengan erat dan menggenggam kedua tangannya, kemudian ibu membawa Tira pergi ke kamar. Bu Mira tak mau jika anaknya itu terus memohon kepada Alex yang sudah memutuskan langkah apa yang akan ia ambil.


Sementara itu, Tisa yang sedang berada di kamar, mengambil tas berukuran besar yang ada di atas lemari pakaian miliknya. Ia terburu-buru membuka tas besar itu, kemudian membuka lemari pakaian dan memasukkan satu persatu pakaian miliknya dengan kasar. Tisa juga berjalan ke arah meja riasnya dan membawa beberapa benda yang menurutnya penting. Ya, Tisa memang akan pergi dari rumah.


" Selama ini, aku kurang sabar apa? Bapak selalu membeda-bedakan aku dengan Tira. Aku tahu aku tidak secantik Tira. kami sangat berbeda, namun Kami sama-sama mempunyai hati dan aku tidak mau menyakiti hati kakak kembarku sendiri."gumam Tisa saat ia melihat sebuah bingkai foto yang di sana terdapat foto keluarganya. Ia juga memasukkan foto itu ke dalam tas yang akan Ia bawa bersamanya.


Setelah semuanya masuk, Ia langsung merogoh ponsel dan menghubungi seseorang. Ia menghubungi temannya, agar segera menjemputnya di rumah. Tentu saja temannya itu sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Setelah semua barang-barang masuk, Tisa langsung berniat pergi dari rumah itu. Dia tak melewati pintu belakang, dia langsung melewati ruang tamu bahkan ia ingin menunjukkan jika dirinya bisa hidup mandiri tanpa bantuan ayahnya sama sekali.


Saat Tisa melewati ruang tamu, tentu saja Pak Arya sangat terkejut saat melihat jika putŕinya itu mwmbawa sebuah tas besar. Namun, pak Arya tak menghalanginya. Ia malah menegurnya biasa.


"Kau mau kemana? Kau tak akan pernah bisa pergi kemana-mana. karena kau tidak punya apa-apa Pergilah jika ingin kau ingin pergi," ucap Pak Arya enteng.


Tisa mengepalkan tangan dan ...


***


Jangan lupa like n komen juga sub

__ADS_1


__ADS_2