Dinikahi Suami Kembaranku

Dinikahi Suami Kembaranku
Bab 17 : Bunglon Vs Hidung belang


__ADS_3

Bab 17 : Bunglon Vs Hidung belang


Hingga Tisa akhirnya menendang Alex hingga tubuh Alex terjatuh dan Ia memekik kesalitan. Tentu saja aksi Tisa itu mendapatkan banyak sorotan dari orang-orang di sekitaran caffe. Akhirnya, Tisa pun membantu Alex untuk berdiri dan duduk.


"Kau ini laki-laki atau perempuan? Main tendang sembarangan. Untung nggak kena punyaku!" Celetuk Alex sembari kesal. Ia juga memperhatikan kesekeliling dan meminta maaf atas kejadian tadi.


"Terserah Lo mau ngomong apa. Gue nggak perduli. Lagian, anggap itu peringatan karena lo berani pegang masker gue!" Tegas Tisa.


'Baru gue pegang maskernya, gimana kalo pegang tangannya. Ni cewek beda banget sama Tira. Beda seratus delapan puluh derajat!' Batinnya sembari tetap kesal karena ulah Tisa.


"Gue ngajakin Lo kemari cuma mau bilang, kalo gue tadi siang ngeliat Tisa. Di sepertinya menuju bandara dan seseorang membawanya. Dia benar-benar diculik."


"Kenapa nggak dari awal bilang? Kita bisa lapor polisi. Beser! Nggak bakal runyam gini kan masalahnya?" Jawab Alex yang seolah merasa paling dirugikan dalam hal ini.


"Kalo lo lapor polisi, lo bakal berhadapan sama gue! Lo mau, keluarga besar kita berdua tercemar? Lagian, semuanya juga dah terlambat. Yang harus kira lakukan adalah mencari Tira. Kita harus tau dimana dia," jelas Tisa.


"Iya juga sih. Perusahaan bokap bakal rada guncang kalo denger kabar miring ini. Secara bokap bakal nyalon sebagai anggota dewan perwakilan rakyat."


"Makanya, kita harus bersatu untuk cari Tira."


"Lalu, kita harus apa?"


"Kamu nanya?" Ucap Tisa dengan kesal.


"Mikir dong! Masa harus gue kuga yang mikir. Lo kan punya banyak koneksi dan pastinya juga punya orang kepercayaan. Lo bisa suruh diantara mereka cari tau di bandara. Atau apa gitu yang lainnya. Masa harus gue juga yang mikir sih!" Pekiknya dengan kesal pada Alex.


"Bisa nggak sih ngomongnya gak ngegas?! Lo kayak mak lampir kalo marah-marah."


"Lagian, Lo mah kagak punya otak apa? Bingung gue sama Tira. Masa suka sama Lo yang kagak ada otaknya. Coba mikir dong! Usaha! Itu calon istri Lo diculik dan Lo cuma berpangku tangan aja? Kasian banget si Tira. Kalo dia tau kelakuan Lo, pasti dia bakalan mutusin Lo!"


"Jangan sembarangan kalo bicara! Gue bahkan udah buat Tim yang akan mencari dimana Tira. Gue buktiin ya!" Ucap Alex.


Alex langsung merogoh saku jas kemudian menelepon seseorang. Ia juga mengaktipkan speker agar Tisa mendengarnya.


"Bos, kita melihat Tira di bandara. Sepertinya Tira dibawa ke luar kota dengan tujuan Bali," kata Rendi, tangan kanan Alex dari seberang telepon.


"Apa?! Kau yakin dengan hal itu? Apa kau mengikutinya?" Tanya Alex.


"Iya, Bos. Dia dibawa oleh seorang wanita juga pria paruh baya. Tapi, saya belum tau siapa mereka itu. Apa bos ada rencana untuk ke Bali? Kita harus selalu mengawasinya. Aku pikir jika Tira akan dipekerjakan," ucapnya.


"Maksudmu dipekrjakan apa?! Bicara yang jelas!"

__ADS_1


"Aku melihat jika wanita yang membawa Tira adalah ... seorang G*rm* yang sering aku lihat di sosial media."


"Kau pastikan Tira baik-baik saja! Jika tidak, kau aku pecat!" Pekik Alex bernada ancaman.


Dirasa ancaman Alex terlalu lembek, Tisa langsung merebut ponsel yang Alex pegangi kemudian Ia bicara pada Rendi.


"Hai kau dengar! Jika kau tidak bisa menjaga Tira dan terjadi sesuatu padanya, maka jangan harap kau bisa hidup dengan tenang!" Ucap Tisa langsung mematikan ponselnya.


Tisa langsung memberikan ponselnya pada Alex kemudian Alex meraihnya dan berpikir sejenak, 'Sumpah. Beberapa kali gue liat dari semua sudut, dia mirip Tira. Hanya saja nyalinya aja yang beda. Dia kayak cowok mana berani bun*h orang segala. Dasar! Kriminal.'


Tentu saja segala bentuk ucapan itu tak berani Alex katakan langsung pada Tisa. Ia hanya memendamnya dalam hati.


"Terus gimana?" tanya Tisa seolah meminta pendapat Alex.


"Kita harus ke Bali. Kita harus selidiki semua ini. Kita juga harus menangkap siapa yang berani membawa Tira pergi. Apa kau ikut?" Tanya Alex.


"Okay. Aku ikut," jawab Tisa sembari mengangguk.


"Oh ya, aku baru aja sehari kerja. Masa harus cuti lagi? Alasan cutinya apa?"


"Ya elah! ribet banget sih! Bilang aja kalo lo ada urusan. Lagian, ayahmu kan CEO nya? Toh perusahaan itu juga bakal jadi milik lo kan? Ngapain juga lo bingung?" Gerutu Tisa.


"Nggak bisa gitu dong! Ayah orang yang paling ketat dalam bekerja. Lo mau gue dipecat?!"


"Yaudah. Gue nggak usah bantu Lo nyari Tira sekalian." Celetuk Alex.


"Aish! Lagian, bukan gue yang dirugikan di sini! Ya udah, mau lo apa?" Tanya Tisa yang akhirnya memutuskan untuk mengalah.


"Lo bilang ke ayag kalo lo mau pergi ke Bali. Kalo Lo yang bilang, Ayah pasti ijinkan. Lo adalah orang pertama yang bisa taklukan hati bokap gue!"


"Gue ... gue nggak bisa bohong sama orang tua! Nggak biasa. Yah, walaupun pergaulan gue di jalanan, tapi gue nggak mau nyakitin mereka."


"Emang, apa yang lo lakuin ini nggak nyakitin orang tua gue?!" Tegas Alex.


"Pasti nyakitin. Makanya, kita harus segera temukan Tira dan semuanya akan kembali normal," ucap Tisa pada Alex dengan nada pelan. Ada rasa bersalah yang ditunjukan oleh Tisa pada Alex.


"Yaudah, kalo lo bilang mau ke bali, bilang aja. Lagian, anggap aja ini adalah bohong demi kebaikan. Lo ngerti kan, soal bohong demi kebaikan?" Tanya Alex pada Tisa.


"Hmm baiklah."


Tisa melihat arlojinya setelah menyepakati bersama Alex. Ia pun langsung meraih kunci motor dan langsung akan pergi saat itu juga.

__ADS_1


Namun, Alex mengehentikannya dengan menggenggam tangannya. "Tunggu! Kita pulang sama-sama!" Ucap Alex.


Tisa menyingkirkan tangan Alex dan menatap benci pada Alex.


"Gue pulang sendiri. Gue nggak bakal kabur. Gue punya tanggung jawab juga!" Ucap Tisa pada Alex.


"Ini dah jam sepuluh malam. Nggak baik!"


"Apanya? Lo khawatir gue diapa-apain sama orang?" Tisa tersenyum kecil.


"Memangnya kenapa? Kau juga wanita kan? Apa bedanya?!"


"Sebelum mereka menyentuhku, mereka akan melayang karena pukulanku! Karena mereka berani berurusan dengan Tisa. Ingat, namaku Tisa! Bye!"


Tisa langsung pergi meninggalkan Alex sendirian di caffe. Alex masih menatap kepergian Tisa dari belakang. Sungguh, Alex seolah mendapatkan titik terang walaupun tak menyangka jika Tira punya kembaran.


***


Tiba di rumah, Alex langsung keluar dari mobilnya kemudian menuju ke dalam. Tampak ayah sedang mengobrol dengan Tisa.


'Cepat sekali dia pulangnya! Udah ganti baju pula. Sok dimanis-manisin! Padahal dia kayak preman kalo di luar. Dasar, Bunglon!' Kata Alex membatin.


"Sini Lex." Ucap Pak Joni Wily pada Alex, putranya.


Alex langsung duduk di samping ayahnya dengan jas masih Ia tenteng di tangan kirinya.


"Mari, Mas. Aku bawakan jas nya," ucap Tisa pada Alex.


'Hmm! Dasar muka dua!' Batin Alex.


'Ini si hidung belang kemana aja sih, baru pulang? Harusnya kan duluan dia dari pada gue. Jadi kena sidak ayah kan?' Batin Tisa.


"Kamu abis dari mana? Tengah malam baru pulang?! Kamu nggak kasihan sama istrimu yang nunggu di rumah?" Ucap Pak Joni Wily pada putranya itu.


"Bukan gitu, Yah. Aku ...


"Jangan banyak alasan! Ayah lihat Tisa mundar mandir di luar. Untung saja Ayah belum tidur dan memutuskan untuk mengobrol. Mulai sekarang jangan pulang larut malam lagi. Ngerti?"


"Yah, semua ini nggak se ...


"Udah! Udah! Sana kalian pergi tidur!" Pak Joni Wily pun langsung pergi meninggalkan Tisa dan Alex.

__ADS_1


Setelah ayahnya pergi mereka berdua saling bertatapan penuh kekesalan satu sama lain hingga ....


***


__ADS_2