
Bab 18 : Ada apa semalam?
Mereka berdua pun masuk ke kamar untuk tidur. Saat Tisa masuk kamar, Ia melihat tirai pembatas di atas ranjang mereka. Yang memisahkan tempat tidur keduanya.
"Apa itu?" Tanya Tisa pada Alex.
"Tentu saja ini tirai pembatas. Biar bagaimanapun aku pria baik-baik dan bukan pria sembarangan jatuh hati pada wanita, apalagi wanita modelan kamu!" Ucap Alex pada Tisa.
"Dari pada tidur satu ranjang, lebih aman seperti ini," ucap Tira langsung mengambil bantal dan juga selimut kemudian Ia menggelarkannya di atas lantai.
"Aku lebih suka tidur di bawah. Untuk berjaga-jaga saja," ucapnya pada Alex. Raut wajah Tisa memperlihatkan jika dirinya tak percaya jika Alex bukan pria hidug belang seperti apa yang Ia katakan.
Alex yang kesal, langsung menggulingkan tubuhnya di atas ranjang empuk kemudian menutup matanya dengan ekspresi kenyamanan. Tentu saja itu semua Ia lakukan agar Tisa iri padanya.
"Cih! Kekanak-kanakan!" Serunya langsung menutup.semua bagian tubuh dengan selimut yang sedari tadi Ia pegang.
Sebelum tidur, Ia menatap atap yang sama seperti kemarin. Harapan Ia panjatkan saat menatapnya. Harapan ingin segera keluar dari semua masalah yang membuatnya tak bebas melakukan apapun.
***
Saat pagi tiba, Tisa merasa jika pagi terlalu cepat menyambutnya karena dirinya masih sangat mengantuk. Lain dengan Alex yang sudah bangun pun sudah rapih. Ia membuka gorden dengan sengaja agar cahaya matahari menyinari wajah Tisa dan membuatnya terbangun.
"Apaan sih lo?! Bisa nggak sih nggak gangggu gue?!" Pekik Tisa dengan mata masih terpejam.
"Bangun! Lo cewek jadi-jadian ya? Tidur udah kayak kebo aja!" Ucap Alex yang kini duduk di atas sofa dengan posisi menunduk saat melihat Tisa yang masih tidur di bawah.
"Bisa nggak sih nggak ganggu gue?!" Lirihnya seolah tak ingin berdebat dan benar-benar lelah.
"Bangun! Kita tidur di jam yang sama. Dan bangun juga di jam yang sama!" Ucap Alex dengan nada tinggi pada Tisa.
Tisa bangkit dan matanya terbuka sangat lebar seolah ingin menerkam Alex. Ia gulungkan selimut yang Ia pakai kemudian Ia lemparkan pada Alex hingga Alex memekik kesakitan
"Apaan sih?" Kata Alex.
"Lo bilang kita tidur di jam yang sama? Lo bilang tidur gue kayak kebo? Ngaca! Lo inget nggak semalem lo ngapain aja, woi?!" Ucap Tisa kesal.
Alex mengingat kejadian semalam dan ia menutupi wajahnya dengan selimut yang Tisa lemparkan padanya. Ya, semalah Tisa tak bisa tidur akibat dengkuran Alex yang sangat keras dan membuatnya susah tidur. Belum lagi, Tisa tak biasa tidur dengan lampu yang menyala sedangkan Alex kebalikannya.
"Jangan senyum Lo!" Ucap Tisa dengan kesal pada Alex.
Tisa langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara itu, Alex menurunkan dua buah koper yang akan diisinya dengan pakaian karena mereka akan pergi ke Bali.
__ADS_1
Alex membuka lemari pakaian dan memilah beberapa baju. Setelah selesai, Ia menutup dan mengunci kopernya itu. Ia biarkan koper yang berwarna merah muda itu diisi oleh Tisa dan Ia memngemasi yang lainnya.
Tisa selesai dari kamar mandi dan melihat Alex yang tengah berkemas. Sontak saja Ia heran karena dirinya pun belum memberitahukan pada Pak Joni Wily untuk pergi ke Bali.
"Kenapa berkemas?" Tanya Tisa pada Alex.
Alex menoleh dan tangannya berhenti memasukan barangnya ke dalam tas kecil.
"Bukannya hari ini kita harus ke Bali?" Tanya Alex.
"Kau antusias sekali. Kenapa?"
"Tentu saja? Apanya yang tentu saja? Tentu saja aku antusias. Aku bersemangat ingin mencari Tira kekasihku bidadariku. Memang apa lagi? Aku sudah muak dengan kepura-puraan ini." Ucap Alex dengan kesal.
Tisa tak mengatakan apapun lagi saat Alex mengatakan kata muak. Ia langsung mengambil koper dan memasukan barang-,barangnya sembarangan pada koper dan Ia juga tak banyak bertanya.
'Lagian, siapa juga yang mau dalam situasi ini? Dia pikir aku diuntungkan? Aku yang rugi! Aku nggak bisa lakukan hal-hal yang aku mau. Dan malah melakukan hal-hal yang aku tak mau! Mengesalkan!' Batinnya dengan kesal, namun tak bisa Ia utarakan.
Alex pergi dengan koper di tangannya dan Ia pergi untuk turun sendiri ke lantai bawah menuju meja makan. Beberapa saat kemudian, Tisa tiba di meja makan dan semua pasang mata tertuju pada Tisa.
Anggun, cantik dan mempesona saat semua orang di meja makan melihat Tisa. Bahkan, Alex pun terlejut melihat keanggunannya walaupun semua itu bukan pribadi Tisa yang asli.
"Pagi, semuanya," sapa Tisa dengan sopan.
Tisa duduk dan mulai sarapan pagi, namun semua pasang mata masih tertuju pada Tisa seolah Tisa mempunyai magnet tersendiri.
"Kamu mau kemana? Kok rapih banget?" Tanya Bu Sani penasaran.
"Oh, ya. Semalam, aku sama Mas Alex dah putuskan jika kita berdua akan ke bali." Jelas Tisa menundukan kepalanya.
"Wooow? Kabar bagus. Ibu bahkan sudah punya hotel yang akan memanjakan kalian berdua. Ayo sana berangkat dan bawa oleh-oleh buat Ibu jangan lupa!" Tegas Bu Sani dengan antusias.
"Ibu mau apa?" Tanya Alex penasaran.
"Ibu mau cucu laki-laki dan perempuan. Mau kembar pokoknya." Celetuk Bu Sani.
Uhuk uhuk uhuk, Tisa sampai tersedak mendengarnya hingga Alex langsung sigap memberinya air putih. Tisa langsung meneguknya dan kembali mengatur nafas.
'Jangankan kembar, Bu. Aku aja belum unboxing.' Gumam Alex dalam hati.
"Iya, Bu. Makanya, doain kita dan Ayah juga jangan marah kalo aku di Bali lebih dari satu minggu. Ya?" Ucap Alex.
__ADS_1
"Pokoknya, kalian jangan kembali sebelum Tira hamil." Ucap Pak Joni Wily.
'Ya ampun! Amit-amit gue hamil sama dia! Ogah! Gue cuma mau disentuh sama Arisku!' Batin Tisa dalam angan.
Tisa hanya tersenyum memperlihatkan gigi kelincinya pada Bu Sani. Sementara Alex mencuri-curi pandanga Tisa dengan ujung matanya.
Setelah sesesai bersiap-siap, Tisa dan Alex menuju ke mobil dengan dibantu Bibi membawa barang bawaannya. Sementara itu, Ibu dan ayahnya mengantar sampai depan.
Mereka berdua memastikan jika Alex dan Tisa masuk ke dalam.
"Jangan lupa hubungi jika sudah sampai, ya?" Ucap Pak Joni Wily.
"Baik, Yah." Jawab Alex langsung mengendarai mobilnya meninggaalkan pelataran rumahnya.
"Jangan lupa pesanan kami!" Teriak kecil Bu Sani dari belakang membuat Alex menggelengkan kepalanya.
Tisa memakai kaca mata hitam dan hanya diam tanpa menyentuh apapun saat di mobil.
Alex tak berani menegurnya dan hanya melihatnya dari kaca sepion.
"Hei! Apa kau sudah punya rencana?" Tanya Alex.
Krik krik. Tak ada jawaban dari Tisa. Tisa seperti cuek pada Alex.
'Dia kenapa ya? Kok nggak jawab? Apa ini gara-gara ucapan Ibu soal anak kembar?' Gumamnya.
"Hei, Tisa. Maaf jika kata-kata Ibu membuatmu tak nyaman. Tapi, kau tak perlu khawatir jika aku nggak akan berbuat macam-macam walaupun Ibuku menginginkannya. Aku tau, jika pernikahan kita harusnya tak terjadi. Tapi, jujur aku ..." Alex menghentikan kata-katanya dan melihat ke arah Tisa.
"Huaaa ..." Tisa menguap hingga kaca mata hitamnya terbuka dengan sendirinya.
Sontak Alex geram melihat tingkahnya karena Tisa karea Ia malah tidur sedari tadi.
'Sial! Kenapa bisa gue ngomong manis kayak tadi? Untung aja si cewek jadi-jadiam ini nggak denger! Selamat! Tapi ngeselin!' Batinnya.
"Hei! Kenapa kau malah tidur?! Aku bicara denganmu! Kenapa kau memperlakukan aku seperti ini hah?!" Ucap Alex dengan emosi hingga Tisa terbangun.
"Lo ngomong apa? Ngomong sama gue?" Tanya Tisa lempeng.
"Kagak! Ada kebakaran tadi!"
"Hah? Mana kebakaran? ....
__ADS_1
***